Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
76. ANCAMAN RANIA


__ADS_3

"Ken, aku kemari hanya untuk pamitan, siang ini aku mau pulang ke Malaysia, salam buat Nia".


"Kamu gak mampir dulu ke rumah, bunda kangen loh sam kamu". Ucap Kenan.


"Kalau ada waktu sebelum berangkat, akan aku usahakan mampir".


"Hati-hati di jalan, salam buat om dan tante".


"Okey. aku pergi dulu ya".


"Mampir loh ke rumah". "Akan aku usahakan".


Kevin sekarang sudah berada di lobby kantor Kenan, bersiap untuk pulang ke apartemennya, dilihat jam ditangannya, masih ada waktu dua jam sebelum keberangkatannya.


"Lebih baik aku ke rumah Kenan aja, masih ada waktu untuk sekedar mampir". Ujar Kevin pada dirinya sendiri.


Dirogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih dan menghubungi seseorang.


"Hallo tente, apa kabar? tante sekarang ada dimana?".


"....."


"Baik, Kevin langsung ke rumah aja ya?"


"......"


"Makasih tante". Kevin segera menuju rumah Kenan, setelah menutup ponselnya.


*****


Di Kampus hari ini, Rania sudah mulai melaksanakan Ujian Akhir Semester Genap.


"Ran, setelah ujian hari ini selesai kamu mau kemana?". Tanya Chika.


"Aku langsung pulang aja". Saut Rania malas.


"Kamu kenapa Ran? sepertinya gak bersemangat gitu".


"Gak papa, mungkin aku sedikit lelah aja, karna belajar semalaman".


"Kamu harus tetap jaga kesehatan Ran, belajar sih boleh tapi janga terlalu diporsir, santuy aja, kamukan pinter pasti lulus deh gak bakal ngulang, percaya sama aku". Ujar Chika.


"Kamu bisa aja Chik".


"Hai girls". Sapa Rio dan Rasya berbarengan.


"Hai man". Saut Chika dan Rania hanya terdiam.


"Kamu kenapa Ran?". Tanya Rasya.


"Dia lelah katanya, semalaman belajar". Saut Chika.


"Ya jelaslah, belajar semalaman karna contekannya gak masuk hari ini". Celetuk Nadia sinis dari belakang mereka.

__ADS_1


"Heh, apa maksud lo". Chika nyolot.


"Lo gak usah ikut campur, ini urusan gue sama si culun".


"Siapapun yang mengusik dia berurusan sama gue". Saut Chika.


"Lo mau jadi tameng si culun? kenapa? kemana si culun yang sok jago itu? sampai dia harus berlindung di balik ketiak lo". Ujar Nadia memancing emosi.


"Lo tu ya...".


"Cukup Chik, jangan kamu ladenin orang stres seperti dia, mending kita ke kelas saja". Ajak Rania sambil menarik tangan sahabatnya.


"Heh culun, lo beraninya ngatain gue stres, lo mau cari masalah, dasar perempuan murahan".


"Apa Lo bilang? murahan!". Bentak Rania dan menghentikan langkahnya.


"Iya lo murahan, karna kalau lo gak pasang badan lo gak mungkin pak Kevin selalu ngnuntit kemana lo pergi dan si Nathan Cs deket sama Lo".


Plaakk.. Rania menampar pipi mulus Nadia hingga sudut bibirnya pecah dan mengeluarakan darah segar.


"Lo dan temen-temen lo, gue peringatin jangan pernah ganggu gue dan temen-temen gue, kalau lo sama temen-temen lo gak mau nyesel nantinya, ngerti gak lo". Ancam Rania yang tersulut emosi.


"Emang lo siapa culun, beraninya ngancam gue, lo gak tau kan siapa gue". Teriak Nadia yang tak terima dirinya diancam.


"Ceh, untungnya apa buat gue, mengetahui orang rendahan kayak lo, asal lo tahu ya, lo gak ada apa-apanya dibanding gue, bahkan hidup lo bisa gue beli".


"Kurang ajar". Nadia hendak menampar Rania namun keburu disambut oleh tangan Rania.


"Tangan kotor lo gak akan pernah gue izinin menyentuh wajah gue". Rania menghempaskan tangan Rania dengan kuat.


"Gue masih mau berbaik hati sama lo, jangan pernah ganggu gue lagi atau lo akan bener-bener nyesel udah pernah ganggu gue". Rania mengajak ketiga temannya untuk meninggalkan Nadia dan temen-temnanya.


Ancaman yang dilayangkan Rania kepada Nadia dan teman-temannya, terdengar oleh Chika dan kedua sahabat Nathan sangat mengerikan, karena sesungguhnya mereka sudah mengetahui siapa Rania sebenarnya.


*****


Sore harinya Kenan pulang dari kantor lebih awal dari biasanya, setibanya dirumah dia langsung masuk ke dalam ruang kerjanya untuk merehatkan tubuhnya sejenak.


Hari ini, sungguh melelahkan bagi Kenan, selain masalah di kantor, maslah perjodohan adiknya pun menyita perhatiannya. Bagaimanapun juga Kenan tahu betul sifat sahabatnya yang tidak akan mudah menyerah pada keadaan kecuali terpaksa.


Saat Kenan masih larut dalam pikirannya sendiri, Sintia masuk ke ruangan kerja putranya setelah sebelumnya mengetuk pintu. Dia melihat putranya duduk di meja kerjanya, sedang memijat kedua pelipisnya dengan mata terpejam dan posisi kepalanya menengadah ke langit-langit rumah.


"Apa kamu sakit nak? sampai tidak mendengar Bunda mengetuk pintu". Tanya Sintia setelah duduk di sofa. Masih belum ada jawaban dari putranya.


"Kenan, Apa kamu mendengar bunda?". Ujar Sintia meninggi.


"Hmm.. Bunda, maaf abang tidak tahu bunda masuk". Kenan terperanjat saat mendengar suara Sintia yang meninggi.


"Kamu kenapa nak, apa kamu sakit atau ada masalah di kantor?".


"Tidak ada apa-apa Bunda, apa adek sudah pulang bunda?".


"Sudah, dan bunda lihat tadi dia ada di halaman belakang".

__ADS_1


"Apa ada hal penting bunda? sampai bunda harus menemui abang disini".


"Tadi siang, Kevin kemari nak, dia berpamitan pada bunda mau pulang ke Malaysia".


"Iya juga mampir ke kantor untuk berpamitan, apa dia bertemu dengan adek?".


"Tidak, adek tiba di rumah setelah dia pulang".


"Apa adek masih terlihat murung seperti sebelumnya bunda?". Sintia menggelengkan kepalanya.


"Dia terlihat biasa saja, setelah abang menemuinya waktu itu".


"Bunda, apa bunda yakin dengan rencana perjodohan ini?".


"Tentu bunda yakin, karena bunda tahu betul keluarga Kevin itu seperti apa, mereka sahabat-sahabat bunda".


"Abang percaya sama bunda, tapi kalau Kevin apa bunda tahu?".


"Kevin anaknya baik".


"Itu yang bunda tahu, tapi bunda tidak tahukan keinginan dia seperti apa?".


"Sama halnya seperti adikmu, bunda tahu dia sedih atas perjodohan ini, itu karena dia belum tahu siapa orang yang akan dijodohkannya, coba kalau dia tahu pasti dia akan bahagia, begitu juga dengan Kevin". Jelas Siantia.


"Semoga saja dugaan bunda benar".


"Apa kamu tidak yakin dengan rencana perjodohan ini nak?".


"Abang hanya ragu bunda, takut keputusan kita menjodohkan adek membuat hidupnya tidak bahagia".


"Itu tidak akan terjadi nak, kali ini percaya sama bunda, buang perasaan ragumu". Kenan mengangguk pelan.


"Oh.. ya, Bunda tadi sudah ngobrol via telepon dengan tante Hanum, kami sepakat acara pertemuan keluarga setelah adek selesai ujian dan pertunangannya dilaksanakan saat adek ulang tahun satu bulan setelah pertemuan keluarga". Ungkap Sintia.


"Semoga rencananya berjalan lancar seperti apa yang kita inginkan bunda". Saut Kenan dan Sintia hanya mengaminkannya.


*****


Di halaman belakang Rania sedang sibuk memainkan ponselnya, dia sedang video call dengan Mela sahabatnya.


"Hai Mela, apa kabarmu?".


"Aku baik Nia, kamu terlihat lebih kurus sekarang, apa kamu sakit?".


"Tidak, aku baik-baik saja, disana musim apa sekarang? apa kamu tidak merindukanku dan tidak ingin pulang ke Indonesia?".


"Disini musim panas Nia, orang-orang bule pada berjemur di pantai seperti ikan asin, tentu aku rindu padamu dan ingin pulang Nia, tapi sepertinya tidak dalam waktu dekat, hey.. Kamu kenapa menangis Nia?".


"Aku hanya rindu padamu Mela, Ayu dan juga Dafa".


****BERSAMBUNG****


Dukung terus Author dengan like, comment dan votenya.

__ADS_1


Terimakasih untuk temen-temen yang sudah memberi dukungannya.


HAPPY READING


__ADS_2