
Setelah makan dafa dan rania pun pulang, tidak seperti biasanya rania yang selalu banyak bicara kali ini dia diam seribu bahasa, merasa aneh dafa pun menghentikan laju kendaraannya dan menepi, untuk memastikan bahwa sahabatnya tetap baik-baik saja.
"nia ada apa? hari ini kamu aneh sekali". tegur dafa
"aneh gimana maksudmu, aku baik-baik saja dafa".
"ya menurutku aneh saja, karena dengan tiba-tiba kamu ingin belajar bela diri, ini bukan kamu nia aku kenal kamu sudah lama bahkan kita bersahabat sejak kecil, apa kamu sudah tidak percaya lagi sama aku? sampai kamu harus menyimpan beban sendirian tak mau berbagi kisah denganku".
"bisa kita pergi ke taman sekitar kompleks, aku belum ingin pulang dafa?" pinta rania mengalihkan pembicaraan
"tapi nia..". kalimat dafa terpotong karena rania sudah memohon. "please dafa". "baiklah, asalkan kamu mau cerita tentang alasanmu hari ini" ucap dafa dan rania mengangguk.
merekapun pergi ke taman yang ada di sekitar komplek perumahan yang di huni oleh keluarga mereka.
setelah sampai di taman, rania duduk disalah satu ayunan panjang cukup untuk ditempati berdua di bawah pohon yang rindang. sore itu matahari bersinar cerah terasa hangat menyentuh kulit rania, sinar keemasannya menyilaukan jatuh diatas permukaan kolam kecil disekitar taman.
melihat rania yang sudah duduk, dafa pun menghampiri sahabatnya, seolah mengerti kegundahan hati sahabatnya dafa langsung duduk di samping rania tanpa mengucapkan sepatah katapun. dafa hanya akan bicara ketika sahabatnya yang memulainya, bukan dafa tidak perduli namun dia memberikan ruang kepada sahabatnya untuk mempersiapkan hatinya ketika dia ingin berbagi kisah.
cukup lama keduanya saling diam tanpa bicara, hingga akhirnya rania pun memberanikan diri untuk memulainya.
"apa menurutmu aku menjadi beban ketika aku bersahabat denganmu". tutur rania tanpa menoleh.
"apa maksudmu nia, mana mungkin kamu menjadi beban buatku, aku mengenalmu dengan baik kamu gadis yang periang walaupun sedikit manja tapi aku suka". jawab dafa tersenyum ke arah sahabatnya.
"dafa, aku tidak sedang baik-baik saja, hatiku hancur..." rania menangis tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
dafa yang melihat kesedihan begitu dalam di mata sahabatnya, memutuskan untuk memberikan dada bidangnya sebagai sandaran.
"menangislah nia, jika itu membuatmu kembali tenang". dafa menarik lembut bahu sahabatnya dan membawanya kedalam pelukannya.
rania yang mendapat perlakuan lembut dari sahabatnya menangis sejadi-jadinya meluapkan segala kesedihannya.
__ADS_1
"ayahku sakit parah dafa, ayah mengidap penyakit sirosis dan hanya akan sembuh jika ada yang mau menjadi pendonor buat ayah, aku takut dafa ayah akan pergi meninggalkanku sedangkan kak kenan, besok dia akan pergi ke jakarta untuk waktu yang lama atau mungkin akan menetap di sana, aku sendiri dafa". tangis rania pecah membelah kesunyian taman sore itu.
"jangan takut nia, ada aku yang akan selalu menjagamu percayakan aku untuk selalu ada untukmu nia dan berdoalah agar ayahmu cepat sembuh". mencium puncak kepala sahabatnya.
"terimakasih, dafa kamu memang sahabatku yang baik".
"nia, segala kehidupan kita ini sudah diatur sama sutradara kehidupan, kita tinggal menjalaninya percayalah setiap kesulitan yang kamu alami akan ada kemudahan setelahnya, seperti adanya pelangi setelah hujan turun".
aku beruntung memilikimu sebagai sahabatku dafa, aku tidak tahu apakah persahabatan ini akan berubah rasa menjadi cinta jika waktu itu tiba aku ingin tetap kamu menjadi sahabatku. gumam rania dalam hati.
"sudah sore nia, sebaiknya kita pulang" ajak dafa
"baiklah" jawab rania singkat.
****
ketika rania sampai di halaman rumahnya yang luas, dia melihat sosok yang masih terlihat tampan dan gagah meskipun usianya tak lagi muda, langkahnya terhenti karena sesaat airmatanya berlinang melintasi lintas batas garis kelopak matanya.
"apakah adek akan sanggup kehilangan ayah? cinta ayah buat kami begitu besar, hingga ayah tidak ingin melihat kami bersedih meskipun ayah sedang rapuh, adek akan membuat pengorbanan ayah tidak sia-sia, adek harus kuat demi ayah". gumamnya lirih. rania pun melanjutkan langkahnya dan berusaha tersenyum.
"waalaikumsalam, kamu baru pulang nak". jawab ayah tersenyum dan rania mengangguk.
"matamu kenapa sembab nak" tanya rudi gusar
"adek habis nangis, karena bertengkar dengan dafa" jawab rania berbohong.
rudi hanya tersenyum, karena pertengkaran putrinya dengan sahabatnya itu sudah biasa.
"kamu masih saja suka bertengkar rupanya dengan sahabatmu itu, sekarang apalagi yang kalian ributkan" tanya rudi.
"sudahlah ayah jangan dibahas" jawab rania manja. "ayah kenapa duduk di luar, bunda ke mana?" tanya rania.
__ADS_1
"ayah sengaja duduk disini hanya untuk memastikan kalau putri ayah yang cantik ini pulang dengan selamat, karena putri ayah kalau sudah pulang tidak langsung menemui ayah dan bundamu ada di dalam" jelas rudi, mencubit hidung mancung putrinya.
"maafkan adek yah, telah mengabaikan ayah" tangis rania ambyar, mengingat kondisi ayahnya.
"jangan menangis nak, ayah tidak marah" pinta rudi.
"kita masuk yah sebentar lagi maghrib, adek juga belum mandi badan adek bau keringat".
ayah dan anak itupun masuk ke rumah.
***
makan malam di keluarga atmaja seperti malam-malam biasanya hanya diselingi percakapan yang remeh temeh.
"kak, gimana di kantor seru gak, sudah siap belum jadi CEO ganteng, kalau adek sudah siap jadi adik CEO" celetuk rania mengangkatkan kedua alisnya dan disambut senyuman oleh kenan.
"ok kalau adek sudah siap, berarti adek harus siap juga kalau abang jadi posesif ke adek" saut kenan santai
"ihh.. apaan, gak mau ah. kak kenan itu kayak es batu dingin, ntar yang ada cowok-cowok gak ada yang mau sama adek" gerutu rania.
"siapa bilang adek boleh pacaran, ingat ya mulai sekarang adek gak boleh pacaran kalau gak nurut abang akan hukum adek gak boleh keluar rumah dan sekolahnya home schooling aja". tegas kenan pada adiknya.
"apa kak kenan sedang ngancam adek, ok mulai dari sekarang adek gak akan bergantung sama kak kenan, gak ada yang bisa ngelarang adek, kak kenan juga besok akan pergi dan gak akan ikut" rajuk rania dan meninggalkan meja makan begitu saja.
"abang kamu jangan terlalu posesif sama adikmu" tegur sintia
"ini cara abang melindungi adek". jawab kenan singkat.
"urus saja perusahaan dengan baik, kalau masalah adikmu masih ada ayah dan bunda yang akan menjaganya". ucap rudi.
"keterlaluan sekali kak kenan, apa selama ini adek pernah melakukan sesuatu yang tidak baik, bahkan mereka di luar sana banyak yang tidak tahu kalau adek ini anak konglomerat" ketus rania setelah sampai di kamarnya dan tanpa di sadari olehnya abangnya sudah berada di kamarnya juga.
__ADS_1
"sudah ngomelnya?" kenan mendekat dan duduk di tepi ranjang tempat tidur adiknya.
****