Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
42. SETELAH INI


__ADS_3

ponsel rania berdering membuyarkan lamunannya. rania segera pergi meninggalkan kamarnya khawatir kamarnya tersadap, karena sampai malam ini rania belum mendapatkan jawaban dari mana ayahnya bisa tahu kejadian yang sebenarnya setelah tadi sore sempat bertanya pada abangnya.


"hallo fa, ada apa kamu menghubungiku?" tanya rania setelah tersambung dalam panggilan telepon.


"kamu kenapa belum tidur?"


"dari mana kamu tahu kalau aku belum tidur?"


"cahaya lampu kamarmu masih menyala nona rania, ini sudah malam, istirahatlah besok kita masih ujian"


"aku gak bisa tidur fa". "kenapa?"


"ayahku tahu, kalau sebenarnya aku tertabrak mobil bukan karena jatuh".


"apa? jadi selama ini kamu bohong sama ayahmu?". "iya"


"lalu apa ayahmu tahu kalau dalangnya itu kekasih kak kenan?"


"ayah belum tahu kalau perempuan yang dicari kak kenan itu kekasihnya sendiri, kamu tahukan alasan aku merahasiakannya? aku sangat menjaga perasaan kakakku, aku bingung fa"


"kamu berdoa saja semoga semuanya akan ada jalan yang terbaik"


"aku juga berharap demikian, tapi aku gak yakin karena ayah pasti akan tahu dengan caranya sendiri, bagaimana kalau ayahku tahu jenahara sumaki adalah orang yang mencelakaiku, kamu bisa bayangkan apa yang akan terjadi dengan kak kenan?".


"nia, cukup ya jangan kamu bahas dulu masalah ini sekarang fokus pada ujian dan cita-citamu, bukankah kamu sudah membuat pilihan mau kuliah ke mana dan di mana".


"kamu selalu tahu cara untuk menenangkanku fa" rania tersenyum.


"sekarang kamu istirahat ya?". "baiklah, kamu juga istirahat ya". rania memutus sambungan teleponnya.


rania melangkah pergi menuju kamarnya, namun tanpa disadari olehnya pembicaraannya telah terekam jelas oleh seseorang yang mendengarkan sejak tadi dibalik pintu.


pembicaraan rania ditelepon didengar jelas oleh rudi, yang sebelumnya sempat turun ke lantai dasar untuk mengambil file yang dikirim oleh orang kepercayaannya.


ketika dia hendak keluar dari ruang kerjanya ternyata di depan pintunya rania sedang menerima telepon dengan mengendap-endap sangat mencurigakan.


agar terdengar lebih jelas lagi, rudi sengaja membuka pintu supaya ada celah untuk mendengar dan lampu ruangan kerjanya sengaja dimatikan.


setelah mendengarkan fakta yang sebenarnya rudi menangis, sungguh diluar dugaannya yang dia anggap rania masih seperti gadis manja ternyata dia salah putrinya telah tumbuh menjadi gadis yang dewasa.


putrinya sanggup menahan luka hati demi kebahagiaan putranya yang lain.


sungguh kamu gadis yang kuat nak, tapi ayah janji perempuan itu tidak akan lama berada disamping abangmu. rudi.


***


hari kedua ujian nasional tidak sepenat hari sebelumnya yang menguras otak, hari ini semua siswa tampak happy.


"hari ini kita pergi ke mana lagi?" tanya mela pada rania.

__ADS_1


"ntahlah, tapi gue ingin duduk santai di rooftop sambil menikmati indahnya sekeliling sekolah kita yang sebentar lagi akan kita tinggalkan" saut rania.


"let's go nona muda, gue baru tahu ternyata sekolah kita ini milik keluarga lo nia, seberapa kayanya sih sahabat gue ini?" mela memeluk rania.


"cukup mel gue gak mau sampai ada orang lain yang mendengarnya, sekarang gue akan izin dulu sama penjaga sekolah kalau sampai dia gak tahu, kita akan terkunci di sekolah ini sampai besok".


setelah mendapatkan izin dan mengabari orang rumah bahwa hari ini dia pulang telat lagi, rania dan mela berjalan beriringan menuju rooftop.


"ternyata lo benar nia, disini indah banget"


"gue biasa disini mela saat gue merasa sendiri, ketika gue belum kenal lo"


"apakah setelah itu kamu tidak pernah kemari lagi?"


"tentu saja tidak, untuk apa aku kemari? aku sudah punya sahabat yang terbaik seperti kalian jadi aku tidak merasa sendiri lagi".


"apa yang lain tahu, sekolah ini indah banget kalau dilihat dari rooftop?"


"maybe no, karena siswa tidak diizinkan untuk sampai kesini, bahaya".


"terus kenapa lo bisa diizinkan kesini?"


"lo gak inget siapa gue di sekolah ini, yang gak tahu siapa gue hanya siswa-siswa disini tapi kalau guru-gurunya pada tahu semua, mela". sahabatnya itupun mengangguk paham.


"jika memang begitu, lalu mengapa hari ini lo ngajak gue kemari? apa lo merasa sepi? biar gue hubungin temen-temen supaya kesini ya?"


"jangan mel, ada saatnya gue pengen sendiri atau hanya sekedar duduk berdua seperti kita sekarang ini".


"gue mau sekolah design ke new york, kalau lo?"


"gue gak tahu mel, karena gue gak mungkin ninggalin ayah dalam keadaan sakit" wajah rania sendu.


"lo yang sabar nia, gue yakin tuhan sedang merencanakan takdir baik untuk lo" mata mela berkaca-kaca.


"mel, banyak kenangan manis dan pahit yang kita lalui bersama di sekolah ini selama kita bersahabat, tapi setelah ini kita akan memiliki kesibukan masing-masing yang membuat waktu untuk berkumpul seperti sekarang akan jarang terjadi". rania memeluk mela.


"apapun yang akan terjadi nanti, gue harap lo gak akan pernah lupa sama gue nia" airmata mela jatuh tak dapat terbendung lagi.


"sampai kapanpun lo tetp sahabat gue, andai gue punya dua saudara laki-laki pasti yang satunya gue jodohin sama lo" rania tergelak.


"gue pasti akan merindukan hari ini diwaktu yang akan datang". "gue juga"


"makasih nia lo udah bawa gue kemari, jadi gue punya kenangan yang paling indah dengan lo, sahabat baik gue".


"udahan dong nangisnya, ntar gue gak cantik kalau mata gue sembab" canda rania.


"lo tu yah. paling bisa deh buat orang kesel" mela tergelak.


"mel, sebenarnya gue udah lama..." ucapan rania menggantung ada keraguan di hatinya.

__ADS_1


"lama apa maksud lo?". "udah lama mau kesini" rania tersenyum. "oh.. gue kira apa".


"kita pulang yuk dah panas banget nih" ajak rania, mela pun setuju.


****


saat rania sampai rumah dilihatnya ibunya tertawa bahagia bersama abangnya, rania tidak pernah melihat ibunya sebahagia ini saat duduk bersama kenan. sejenak rania menghentikan langkahnya.


jika bunda tahu kalau calon menantu bunda adalah orang yang mencelakai anak kesayangan bunda masihkah bunda dapat tertawa sebahagia ini? sanggupkah aku merenggut tawa di wajah bunda? gumam rania.


raniapun meneruskan langkahnya tanpa dia tahu ayahnya memperhatikannya dari balkon rumahnya.


"assalamualaikum bunda".


"walaikumsalam"


"kak kenan kapan datang?"


"sudah dari pagi tadi dek, kenapa telat pulangnya?"


"adek masih nongkrong bareng temen-temen, karena sebentar lagi kita akan punya kesibukkan masing-masing".


"adek mau kuliah ke mana?"


"adek belum kepikiran mau kuliah kemana, adek lagi menikmati masa-masa terakhir adek jadi siswa SMA"


"adek masuk dulu kak". "bagaimana dengan kakimu dek?"


"masih sakit selama perempuan itu belum kak kenan temukan atau jangan-jangan kak kenan tidak pernah mencarinya?" sungut rania.


"jangan mulai lagi dek, abang pun pusing karena bukti yang memberatkan perempuan itu hilang".


"usaha kak kenan belum maksimal".


"udah ya dek abang capek". "kak kenan memang gak pernah peduli dengan perasaan adek, urusin aja tu perempuan".


"jaga batasan ya dek, perempuan yang tidak kamu sukai itu akan menjadi iparmu" geram kenan.


"kita lihat aja, kak kenan jangan pernah menyesal nyakitin adek".


"kamu yang harus tahu dek, tidak semua keinginanmu itu bisa kamu dapat sesuai harapan".


"apa kakak sedang mengancamku?"


"kalau iya kenapa". "kenan!" teriak rudi.


suara teriakan rudi membuat semuanya terlonjak kaget.


***BERSAMBUNG***

__ADS_1


ayo vote, like, dan komen ya?


__ADS_2