Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
62. SIAPA MAHASISWI ITU


__ADS_3

Tidak sampai dua jam, mata kuliah Statistik telah selesai karena hanya 2 SKS saja. Semua mahasiswa berhamburan keluar ada yang langsung ke kantin, ada yang langsung merokok, dan masih banyak lagi tingkah mahasiswa lainnya.


"Ran, kita ke kantin yuk?". Ajak Chika.


"Hmm, gimana yah, sebenarnya aku mau ke perpustakaan". Saut Rania bimbang.


"Gimana kalau kita ke kantin dulu baru ke perpustakaan". Ujar Chika memberi pilihan.


"Ok, tapi gak usah lama ya? karna aku gak yakin langsung bakal nemuin buku yang aku cari, limited edision". Saut Rania.


"Halah gayamu Ran, kayak anak konglomerat aja, pake bahasa bule segala, bilang aja edisi terbatas gitu loh". Celetuk Chika dan itu membuat Rania tertawa.


Bagaimana kalau kamu tahu, aku ini memang anak konglomerat, adik satu-satunya penguasa negeri ini, tempat dimana pamanmu bekerja. Aku gak bisa bayangin terkejutnya kamu. Rania.


"Ran... Kamu ngapa senyum-senyum sendiri, ngeri aku jadinya".


"Habisnya kamu lucu, udah yuk kita ke kantin nanti keburu masuk".


"Tapi beli minum aja ya? soalnya aku gak laper". Rania mengangguk setuju.


Tiba di Kantin, mata Rania menangkap satu sosok yang seperti dia kenal, tapi Rania belum merasa yakin jika sosok itu dia kenal. Akhirnya Rania memilih mengabaikannya dan membeli dua botol minuman lalu segera pergi dari kantin tersebut.


"Nih buat kamu, tapi maaf aku gak tahu selera minumanmu, jadi aku belikan minuman rasa jeruk". Ujar Rania.


"Makasih Ran, udah ngerepotin kamu". Saut Chika yang baru keluar dari toilet.


Saat menuju ruang perpustakaan, mereka melewati gedung sekretariat yang dipadati oleh mahasiswa. Ada yang mengurus pengambilan LHS atau pun LRS, ada juga yang hanya sekedar nongkrong lihatin dosen ganteng ataupun mengurus registrasi semester selanjutnya.


Ketika melintasi gedung tersebut, mereka berpapasan dengan Kevin seorang dosen ganteng yang selalu dielu-elukan para mahasiswi. Chika langsung meleleh hatinya melihat ketampanan dosennya itu.


Sementara Rania lebih memilih memalingkan wajahnya ke arah lain, perasaan kesalnya masih saja menyelimuti hatinya.


Hal ini membuat Kevin di buat penasaran dengan sikap mahasiswinya itu.


Siapa mahasiswi itu, mengapa dia sama sekali tidak melirikku? apa dia tidak tertarik kepadaku, mana ada mahasiswi yang tidak tertarik padaku. Apa dia malu karena penampilannya? tapi kalau diperhatikan, gadis itu cukup cantik, yang membuat aku penasaran itu matanya, sepertinya aku pernah melihat manik mata seperti itu tapi dimana? arrghh aku lupa atau mungkin hanya perasaanku saja**. Kevin.


Andai saja kamu gak sombong, mungkin aku akan memberikan senyum termanisku untukmu tapi sayangnya kamu sombong. Apa ini watak aslimu? melihat orang hanya dari tampilan luarnya saja, menyesal aku pernah mengenalimu kak Vin. Rania.


"Ran, kayaknya pak Kevin suka deh sama kamu". Celetuk Chika ketika sudah berada di perpustakaan.

__ADS_1


Uhuk uhuk.. Rania tersedak.


"Pelan-pelan Ran minumnya". Chika mengingatkan.


"Kamu sih, ngomongnya ngaco, mana mungkin pak Kevin suka sama aku, lagi pula aku cukup tahu diri, kaca di rumahku gede, jadi aku gak mudah GeEr". Saut Rania.


"Habisnya sejak masuk kelas sampai ini tadi, itu dosen ngeliatin kamu terus, apa coba namanya kalau bukan suka?". Sungut Chika.


"Bisa jadikan itu dosen ngeliatin penampilan anehku ini". Jawab Rania asal.


"Lihat aja kalau dia berani memandang remeh kamu Ran, tak hajar itu dosen, meskipun dia ganteng tapi kalau dia merendahkan dirimu hanya karena penampilanmu, awas aja tak bikin dia klenger". Rutuk Chika.


"Memangnya kamu bisa bela diri?". Selidik Rania.


"Eeee... Gini-gini aku ini warga PSHT asal Jombang". Bisik Chika khawatir ada yang mendengar.


Ternyata aku bertemu dengan teman seperguruanku. Rania.


"Sudah kamu jangan ngelamun, urusan dosen itu biar aku aja yang ngadepin kalau dia macem-macem sama kamu, ok!". Rania hanya tersenyum melihat tingkah konyol temannya itu.


Pencarian buku pun selesai namun tidak ada buku yang dia cari. Keduanya lalu pergi menuju kelas karena sudah waktunya masuk.


"Ngemall dulu yuk?". Ajak Chika.


"Maaf Chik. untuk hari ini aku gak bisa, karena aku belum izin sama kakak dan bundaku".


"Ceh, anak mami banget sih kamu Ran".


"Aku hanya mencoba untuk membuat kakak dan bundaku tidak khawatir".


"Yaahh.. Gak seru kalau gak ada kamu Ran".


"Lain kali aja ya, aku janji".


"Baiklah, sampai jumpa besok". "Bye Chika". Keduanya pun berpisah di parkiran mobil.


******


Sesamapainya di rumah, Rania lansung membersihkan diri, kemudian istirahat karena hari ini cukup melelahkan baginya. Sampai dia melewatkan makan siangnya.

__ADS_1


"Bik may, apa adek sudah pulang?". Tanya Sintia yang baru pulang arisan dengan ibu-ibu komplek.


"Sudah nyonya, tapi nona belum ada makan siang".


"Biar nanti saja, mungkin dia kelelahan, ya sudah bik, lanjutin aja kerjanya, saya mau ke kamar dulu".


"Baik Nya".


Sintia berlalu meninggalkan maidnya, saat melintasi kamar putrinya Sintia berhenti sejenak, dibukanya pintu kamar Rania yang tak dikunci. Sintia masuk dilihatnya wajah cantik putrinya yang lelah, dielusnya puncak kepala Rania, sedikitpun rania tidak terusik malahan tidur Rania semakin damai.


"Tidurlah sayang, bunda tahu, adek pasti sangat lelah, begitu banyak kejadian buruk yang menimpamu nak, tapi bunda yakin adek anak yang kuat, setelah ini kamu tidak akan merasa sedih lagi, karena kamu akan hidup bersama keluarga yang akan menyayangi mu". Ucap Sintia lirih.


Setelah puas menatap putrinya yang sedang tertidur, Sintia pun pergi ke kamarnya sendiri untuk merehatkan tubuhnya sejenak.


Ponselnya berdering, dilihatnya nama sahabatnya dalam panggilan tersebut.


"Hallo, hanum apa kabar?".


"Kabarku baik, Sin kapan kita resmikan perjodohan anak-anak kita? aku sudah gak sabar ingin memboyong putriku".


"Sabarlah Hanum, Nia juga masih kuliah bahkan baru masuk tahun ini".


"Aku gak peduli, mau kamu jadikan apa putriku? dia hanya cukup melayani suaminya saja tidak perlu bekerja".


"Ya..ya..ya.. Dia itu putrimu, aku hanya melahirkannya saja".


"Terus terang aku khawatir Sin, akhir-akhir ini Kevin sering menceritakan ketertarikannya pada mahasiswinya. terlebih lagi, katanya mahasiswinya ini biasa-biasa saja, kan gak lucu kalau Nia harus kalah sama mahsiswinya Kevin, yang biasa-biasa saja itu".


"Hanum.. kalau memang Nia itu berjodoh dengan Kevin pasti mereka akan dipertemukan dalam satu ikatan perkawinan".


"Aku gak mau ambil resiko, pokoknya perjodohan ini harus segera dilaksanakan, lebih cepat lebih baik, sebelum semuanya terlambat, aku gak mau Nia menjadi menatu orang lain".


"Terserah kamu saja Hanum, aku ikut saja dengan keinginanmu, alangkah baiknya jika kamu bicarakan hal ini pada Kenan karena dia wali bagi Nia".


"Itu sudah pasti, Kenan secepatnya akan segera aku hubungi, ok Sin, aku rasa cukup sampai disini dulu ya, lain waktu kita bicarakan kembali. Bye".


"Bye Hanum". Sintia langsung memutuskan sambungan teleponnya.


***BERSAMBUNG***

__ADS_1


__ADS_2