Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
33. TELEDOR...


__ADS_3

"apa nona baik-baik saja?" tanya suster yang baru datang sambil memeriksa detak nadi rania yang berpacu marathon.


rania yang masih tersengal hanya menjawab dengan anggukan kepala.


sekarang istirahatlah dengan baik nona, dokter akan memantau nona, setiap tiga puluh menit kedepan. wajah rania masih terlihat pucat, ada ketakutan tergambar di wajah cantiknya.


"apa suster bisa menemaniku sampai sahabat saya da....". tiba-tiba mela sahabat rania datang.


"nia lo gak apa-apa kan? kenapa wajah lo pucat sekali? apa yang terjadi dan apa yang sakit?" pertanyaan mela memberondong dengan suara yang masih tergopoh-gopoh tanpa memperdulikan bajunya yang belepotan seperti noda saus.


"suster apa sahabat saya baik-baik saja?" kali ini mela bertanya pada suster yang ada di dekatnya.


"nona baik-baik saja, dia hanya perlu istirahat, jika nanti ada yang diperlukan panggil saya saja". ucap suster yang berlalu bergi dan diangguki mela.


"nia lo beneran gak apa-apa?" tanya mela lagi.


"i'm okay mela, lalu kenapa baju lo?"


"oh.. siith, ini pasti makanan perempuan yang tabrakan sama gue tadi" umpat mela kesal.


"apakah perempuan itu menggunakan blezer hitam dan membawa rantang berisi bubur ayam?" selidik rania.


"ya.. tapi dari mana lo tahu?" tampak wajah mela yang heran makin serius.


"perempuan itu tadi yang datang ke kamarku dan hampir membunuhku, wanita itu juga yang mencelakai gue sampai berakhir di rumah sakit ini". ujar rania dengan sisa ketakutan diwajahnya saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


"jadi maksud lo, perempuan yang nabrak gue itu dalang dari semua kekacauan ini" sambil mela merentangkan tangan.


"apa dek, datang kesini? apa kalian tidak menjaga nia dengan baik? lalu mana yang lainnya?" bentak kenan yang datang tiba-tiba.


seketika wajah keduanya menjadi pucat pasi melihat kemarahan di wajah kenan tanpa ampun. rania yang tidak ingin terjadi sesuatu terhadap sahabat-sahabatnya berusaha menenangkan abangnya.


"kak adek okay, kakak gak boleh marah sama mereka, mereka gak salah. mereka sama khawatirnya seperti kakak, apa kakak tidak ingat ketika adek sakit, adek sendiri, adek sedih, ketika kakak gak ada, siapa lagi yang ada di dekat adek selain mereka?" jelas rania berkaca-kaca.


seketika amarah kenan lenyap menguap begitu saja, mencerna semua kata demi kata yang terucap dari bibir rania yang memucat. kenan merutuki diri sendiri mengingat kejadian demi kejadian yang terjadi menimpa adiknya.

__ADS_1


ya allah, aku telah gagal menjadi abang yang baik untuk adikku, bagaiman mungkin aku bisa melewatkan semua kejadian kejadian yang menimpanya. kenan.


kenan menghampiri adiknya dan memeluknya penuh kasih sayang, hati kenan menghangat.


"maafkan abang tidak bisa menjagamu dengan baik dan sejak kapan adik manja abang menjadi gadis yang sekuat ini?" sambil mengusap puncak kepala rania.


"adek memang kuat bang, hanya abang saja yang gak tahu" celetuk rania sambil tersenyum. rania ingin melepaskan pelukan abangnya karena malu dilihat mela sahabatnya.


"biarkan abang memelukmu dek, abang rindu dengan adik abang yang manja yang selalu memeluk abang yang sekarang telah pergi entah kemana". hati rania bergetar seperti teraliri sengatan listrik.


"adek masih rania yang dulu kak, adik kak kenan yang manja hanya ada kalanya adek bersikap dewasa agar tidak selalu mudah bergantung sama kakak".


"apa maksudmu dek!" suara kenan meninggi tidak terima jika adiknya tak lagi bergantung padanya.


"kak cepat atau lambat kita pasti akan menjalani hidup kita masing-masing, kakak punya kehidupan sendiri yang harus mulai dibangun dari sekarang seperti menikah begitu juga dengan adek, bukankah kakak sudah punya kekasih?" goda rania manja.


kamu memang adik manjaku yang telah beranjak dewasa, semoga kelak akan ada lelaki yang dapat menjagamu lebih baik dari abang. kenan. lalu kenan pun mengeratkan pelukannya.


"apakah kami melewatkan moment yang mengharukan ini?" celetuk ayu yang datang bersama kedua sahabatnya.


mela berbalik menghadap ketiga sahabatnya lalu mengangkat jari telunjuk ke arah mulutnya, mengisyaratkan agar sahabatnya untuk diam.


***


aku pasti akan menemukanmu, siapa kamu sebenarnya? apa masalahmu mengganggu adik kesayanganku?. kenan.


kenan berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan wajah yang sudah tersulut emosi, tidak ada satu pun staf rumah sakit yang berani menyapanya ketika berpapasan semuanya hanya tertunduk takut.


sepertinya akan terjadi perang di rumah sakit ini. resepsionis.


"kenapa kalian begitu teledor, bagaimana jika terjadi sesuatu kepada nona rania? apa kalian lupa siapa nona rania?" tegur dokter kepala rumah sakit kepada suster yang bertugas menjaga rania, ketika sudah berada dalam ruangannya.


"maafkan kami dok". saut salah satu suster diantara mereka.


"kalian tahu keteledoran kalian akan menyulitkanku" ucap dokter tampan melemah.

__ADS_1


pintu terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu memperlihatkan sosok yang siap menerkam mangsanya dengan sorotan tajam menghunus.


"apa yang kalian kerjakan heh, aku membayar kalian untuk bekerja bukan untuk bersantai, bagaimana bisa kalian meninggalkan adikku sendiri tanpa pengawasan dari kalian heh" bentak kenan pada suster yang di tugaskan menjaga adiknya.


jadi nona rania adalah adik pak kenan pemilik rumah sakit ini, pantas saja dokter tampan itu memarahi kami habis-habisan. gumam hati suster junior yang terlambat mengetahui status pasiennya di rumah sakit ini.


"maafkan aku kenan, aku kira.."


"aku kira apa.. heh? kamu memang tidak bisa diandalkan, aku salah telah mempercayakan adikku padamu" tukas kenan kepada dokter yang sudah dikenalnya.


dokter tampan itu tidak menjawab karena jawabannya hanya akan membuat situasi lebih runyam.


"jika terulang kembali kejadian seperti ini, aku pastikan kalian tidak akan bisa berbagi udara di kota yang sama, saat ini aku bisa melepaskan kalian karena kebaikan hati adikku" sungut kenan yang pergi dengan membanting pintu karena emosi.


"sekarang kalian mengerti...? beruntung nona rania sangat berbaik hati jika tidak nasib kita sekarang sudah jadi gembel jalanan" ujar dokter tampan dengan kesal.


***


"sayang kamu dimana? bisakah kita bertemu?" tanya kenan ketika sambungan teleponnya terjawab.


jena gugup, bingung mau menjawab apa karena takut jika kenan sudah mengetahui perbuatannya.


apa kenan sudah mengetahuinya? tapi jika iya, apa mungkin dia akan bisa bicara tenang dan selembut ini, shit..


kenapa aku harus membekap mulut gadis itu, jadi runyam ginikan. rutuk hati jena.


"sayang maaf aku tidak bisa membawakan bubur kesukaan adikmu, karna aku ada kerjaan diluar kantor" jena berbohong.


"apa kita bisa bertemu setelah itu?" tanya kenan memelas.


jena yang memang tulus mencintai kenan tidak tega melihatnya terluka seperti sekarang ini.


maafkan aku sayang telah membuatmu terluka. jena.


**BERSAMBUNG**

__ADS_1


ayo vote, like dan komentarnya ya...


aku tunggu...


__ADS_2