
"Ran kamu belum menjawab pertanyaanku loh?". Desak Nathan dan Rania mendekat.
"Liburan kali ini, keluargaku akan menjamu datangnya keluarga yang dijodohkan denganku". Bisik Rania tak bersemangat.
"Tepatnya kapan?".
"Pekan depan".
Apa yang dibisikkan mereka? Kelihatannya penting sekali. Kevin kesal.
Chika yang melihat kedekatan antara Rania dan Nathan, membuatnya sedikit gusar, karena sejak masuk kuliah tepatnya saat OSPEK, Chika sudah menaruh perhatian pada Nathan.
"Kalian berdua ngomongin apa sih?". Tanya Rasya.
"Apa kalian berencana liburan berdua?".
"Tidak!' Jawab keduanya kompak.
"Wuih, jawab aja mesti bareng, jodoh tuh". Uhuk.. uhuk.., Chika terbatuk, keselek salivanya.
"Kamu kenapa Chik?". Tanya Rio. Chika hanya geleng-geleng menahan rasa sakit di tenggorokkannya.
Rania yang melihat perubahan diraut wajah sahabatnya, menjadi paham bahwa sesungguhnya sahabatnya itu menyukai Nathan dan dia sekarang tengah cemburu.
Rania yang tak ingin menyakiti sahabatnya sedikit menjauh dari Nathan.
****
Sepulang dari kampus, seperti biasa Rania langsung masuk kamar dan mengurung diri. Perjodohan yang terjadi pada dirinya, membuatnya sangat terbebani, tak jarang Rania sering menangis meratapi nasibnya.
Seperti saat ini, dia terbaring lemah tak berdaya sambil menangkup kedua lututnya. Derai airmatanya pun sudah tak terbendung lagi. Dengan lembut Rania meraih foto ayahnya di atas Nakas.
"Ayah mengapa hidup adek menjadi seperti ini? mengapa ayah tega meninggalkan adek sendiri?". Ujar Rania kepada foto ayahnya.
Kesedihan yang mendalam membuat hati dan otak Rania lelah hingga dia pun terlelap dalam tidur siangnya.
Di halaman depan, terlihat Sintia yang baru pulang dari Boutique miliknya yang baru berjalan selama Rania masuk kuliah. Tujuannya membuat usaha ini, hanya untuk mengisi waktu luangnya ketika anak-anaknya sibuk dengan urusannya masing-masing. Tak lama kemudian, klakson dari mobil Kenan terdengar memasuki halaman depan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum bunda". Sapa Kenan saat melihat Sintia diruang keluarga.
"Wa'alaikumsalam nak, tumben jam segini kamu sudah pulang, ini belum jam makan siang loh". Tanya Sintia heran.
"Abang dapat kabar dari kampusnya adek, katanya hari ini adek tidak mengikuti satu mata kuliah, apalagi mata kuliahnya ini khusus jurusannya, kebetulan dosen yang mengampu mata kuliahnya itu Kevin Bayezid Ounur".
"Apa! Kevin, apa dia tahu penyamaran adek?".
"Ntahlah bunda, ini abang mau tanya sama adek, apa alasannya adek tidak kuliah hari ini". Ujar Kenan.
"Kamu jangan marahi dia nak, bunda mohon". Pinta Sintia.
"Abang ingin mendengar penjelasannya dulu bunda, jika masuk akal abang tidak akan menegurnya, sebagai mahasiswa dia harus disiplin dan profesional bunda, bukankah dia sendiri yang memohon dulu untuk kuliah, sekarang setelah dia kuliah, lalu dia seenaknya ingin malas-malasan, tidak bunda, abang tidak akan membiarkan dia malas-malasan dalam menuntut ilmu". Jelas Kenan tegas.
Dalam hal pendidikan Kenan memang selalu giat dan rajin, makanya ketika dia mendapat kabar jika adiknya bolos kuliah, dia langsung meninggalkan pekerjaannya, dia tidak mau kecolongan lagi seperti waktu itu.
"Bunda percaya padamu nak".
"Apa bunda melihat adek?".
"Baiklah, abang sekarang mau lihat adek ke kamarnya. Oh ya bunda, bagaimana bisnis Boutiquenya lancar?". Tanya kenan sambil menghentikan langkahnya.
"Alhamdulilah nak, pelanggannya semakin banyak dan bunda semakin terhibur tidak merasa kesepian lagi". Jawab Sintia.
"Maaf bunda sampai sekarang , abang belum bisa mencarikan teman untuk bunda di rumah".
"Tidak apa-apa nak, bunda mengerti, tapi bukan berarti bunda tidak menginginkannya". Kenan lalu tersenyum dan hanya menggelengkan kepalanya.
Kenan menapaki setiapa anak tangga, meninggalkan Sintia sendirian di ruang keluarga. Setelah Kenan sampai di depan kamar Rania, diketuknya pintu kamar adiknya namun tidak ada jawaban dari dalam.
Kenan lalu membuka pintu kamar Rania ternyata tidak dikunci, diapun masuk dan mendapati adiknya sedang tertidur pulas dengan memeluk sebuah pigura. Sejenak ditatapnya wajah teduh adik kesayangannya, kecantikannya begitu natural membawa damai bagi yang melihatnya.
Disisirnya setiap inchi wajah adiknya, matanya terbelalak kala melihat sisa-sisa airmata yang membasahi pipi mulus adiknya.
"Apa adek habis menangis lagi?". Gumam Kenan lirih. Lalu diambilnya pigura yang dipeluk Rania.
"Ayah!". Ucap Kenan saat melihat pigura itu.
__ADS_1
"Apa kali ini adek hanya rindu pada ayah atau adek mengadu pada ayah? adek mengadu jika sebenarnya adek merasa terbebani dengan perjodohan ini?". Sambil terus menatap adiknya yang sedang tertidur.
"Dek, apa abang salah, jika tetap melanjutkan perjodohan ini atasmu? karna abang melihat akhir-akhir ini, adek banyak mengurung diri di kamar. Abang bisa saja membatalkan perjodohan ini jika memang adek tidak menginginkannya, karna yang terpenting buat abang adalah kebahagiaan adek, meskipun orang yang dijodohkan dengan adek adalah sahabat abang sendiri". Ucap Kenan.
Kenan terduduk di lantai tepi ranjang Rania, dengan posisi membelakanginya sambil menangkup kedua lututnya dan membenamkan wajahnya.
"Ayah, salahkah abang, jika menolak perjodohan adek? karna abang melihat adek tidak bahagia yah, maaf jika pertanyaan abang mengecewakan ayah, tapi abang merasa perjodohan ini tidak baik untuk adek nantinya Yah".
Airmata Kenan menetesi pigura yang sedang ditatapnya.
"Abang juga tidak tahu kenapa yah, tapi semakin kesininya, abang semakin tidak yakin dengan rencana perjodohan ini, abang takut adek tidak bahagia yah, abang sangat menyayangi adek, ayah tahukan kalau adek itu anak yang baik, dia tidak akan pernah membantah atau menolak keinginan ayah meskipun hatinya terluka". Tangis Kenan semakin sesenggukan.
Tubuh Rania menggeliat, saat pendengarannya menangkap sayup-sayup suara tangis, matanya perlahan terbuka dan sayup-sayup suara tangis itu semakin jelas terdengar, pandangannya dialihkan kearah sumber suara. Rania terperanjat saat melihat ada pria berada di dalam kamarnya.
Rania hendak menendangnya, namun dia segera tersadar jika pria itu adalah abangnya.
Kak Kenan menangis, apa aku tidak salah mendengar? eits, tapi aku belum tuli, pendengaranku masih normal, kenapa kak Kenan menangis ya?. Tanya Rania membathin.
"Kak Kenan". Panggil Rania hati-hati.
Kenan yang tertunduk segera mendongakkan kepalanya dan menghapus airmatanya segera saat mendengar adiknya memanggil.
"Kak Kenan kenapa menangis?". Tanya Rania, manik matanya mengarah pada pigura yang dipegang abangnya.
Apa kak Kenan menangis karena rindu pada ayah?. Bathin Rania.
"Tidak, abang tidak menangis". Elak Kenan.
"Kak Kenan tidak bisa bohong sama adek, kalaupun lidah abang berbohong, tapi mata sembab itu mengatakan yang sejujurnya". Rania menunjuk dengan dagunya.
"Ada apa kak?". Kenan tertunduk dihadapan adiknya, dia tidak sanggup untuk melihat kesedihan dimata adiknya. Perlahan airmatanya meloloskan diri kembali.
"Kak...". Suara Rania melembut dengan tangan yang menyentuh bahu abangnya. Kenan langsung memeluk tubuh adiknya dan meincium puncak kepalanya penuh kasih.
"Maafkan abang dek, jika perjodohan ini membuat adek tidak bahagia, adek boleh menolaknya". Ujar Kenan memeluk erat tubuh adiknya.
***BERSAMBUNG***
__ADS_1