Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
67. RINDU AYAH


__ADS_3

Gubrakk.. Terdengar seperti suara benda jatuh berasal dari dalam toilet. Kenan segera menghambur mengahampiri toilet khusus yang berada di ruangannya.


"Dek, kamu gak apa-apa?". Tanya Kenan sambil mengetuk-ngetuk pintu toilet.


"Kak adek jatuh, baju adek basah,adek gak punya baju ganti, gimana dong? adek malu mau keluar".


"Ya sudah tunggu dulu disitu".


Rania sengaja menjatuhkan benda-benda yang ada di toilet dan membasahi bajunya, agar ada alasan baginya untuk mendapatkan baju ganti. Setelah beberapa menit kemudian, Kenan datang dengan baju ganti untuk adiknya.


"Dek, nih bajunya". Kenan memberikan baju ganti untuknya. Rania mengambil baju itu dengan tangan kirinya dari balik pintu. "Makasih kak". Ucap Rania dan lukanya sudah tertutup rapi.


Setelah selesai mengganti bajunya, Rania keluar dari toilet dan melihat sudah ada banyak makanan di meja sofa.


"Kak, kita makan siangnya disini?". Tanya Rania.


"Hmm". Saut Kenan malas. "Kenapa gak diluar aja sih kak?". Pinta Rania.


"Kelamaan, di Cafe seberang kantor kalau jam segini antriannya panjang, jadi kita makan siang disini aja, gak apa-apa kan?". Tanya Kenan.


"Ini bukan alasan kakak kan?". "Alasan? alasan apa?".


"Ya, siapa tahu ini alasan kakak untuk menghindar makan siang bareng adek di luar, karena penampilan culun adek". Tebak Rania.


"Adek, ini gak ada hubungannya dengan penampilan adek, tapi kalau adek masih kekeh mau makan siang di luar, yuk kita berangkat sekarang, tapi kalau sampai sana kita mengantri, adek jangan marah".


"Gak perlu kak, kita makan siang disini saja, tapi kak Kenan suapin adek". Pinta Rania karena sangat tidak mungkin Rania makan menggunakan tangan kiri sementara tangan kanannya masih sangat sakit untuk digerakkan.


"Jangan manja dek". Ucap Kenan dingin.


Kenan memakan dengan lahap menu makan siangnya, karena rasa lapar sudah mendera perutnya sejak tadi. Rania hanya terdiam tak bergeming, dia lebih baik menahan rasa laparnya dari pada lukanya harus ketahuan abangnya.


Rania kesal dengan sikap abangnya yang cuek, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari ruangan abangnya, jujur Rania juga sangat lapar. Kepergian Rania tidak diketahui oleh Kenan karena dia sedang asyik dengan makanannya.


Saat diluar ruangan abangnya, Rania memesan makanan melalui layanan aplikasi. Tidak terlalu lama pesanannya pun datang. Rania mencari ruang yang cukup sepi untuk menyantap menu makan siangnya, karena dia tidak ingin ada yang melihat cara makannya yang menyedihkan.


Rania duduk disalah satu kursi yang tersedia, dari tempat ini Rania bisa melihat hamparan kota Jakarta. Angin lembut menyapu wajah letihnya, dibukanya menu makan siangnya, meski kesulitan Rania tetap makan menggunakan tangan kanannya.


Airmatanya berguguran saat suap demi suap masuk dalam mulutnya, rasa sakit ditangannya sungguh menyakitkan.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Rania teringat akan kenangannya bersama mendiang ayahnya. Ketika dia sakit, tanpa diminta olehnya, ayahnya menyuapinya makan dengan penuh ketelatenan.


Ayah, adek rindu dengan ayah, mengapa ayah meninggalkan adek sendiri? coba ayah lihat, sejak kepergian ayah adek merasa sepi. Gumam hati Rania. Lalu sayup-sayup terdengar sebuah lantunan lagu, yang sering Rania dengarkan, namun dia tidak tahu siapa pemilik lagu itu.


*Ayah... Kukirimkan doa


S'moga engkau tenang dialam syurga


Ayah... Kanku ingat s'lalu


Pengorbanan yang telah engkau berikan


Ayah... Terlalu cepat Kau pergi


Meninggalkan aku sendiri


Ayah... Tak bisa ku ingkari


Tanpa Engkau hidupku terasa sunyi


Ayah dengarkanlah...


Dan teringat saat kepergianmu


Dan berdoa untuk melepaskanmu


Ayah berlinang airmataku*


Rania semakin terisak sendiri dan menyepi di teras belakang ruangan kerja Kenan. Sedangkan Kenan sibuk mencari Rania karena kehilangan jejaknya, dia pun bertanya pada karyawannya.


"Kalian ada yang melihat adikku?". "Saya melihat nona pergi menuju teras belakang tuan?". "Terimakasih".


Kenan pergi menuju balkon belakang ruangannya.


Dia melihat adiknya duduk menyendiri, dia melihat bahu adiknya bergerak melambat seperti gerak ayunan isak tangis. Satu kotak berisi makanan digenggamnya, dahi Kenan berkerut karena kotak makanan yang dipegang adiknya tidak sama dengan makanan yang dia pesan.


"Apa adek tidak suka dengan makanan yang di dalam?". Tanya Kenan mengejutkan Rania, cepat-cepat dihapusnya airmata yang sedari tadi menemani kesendiriannya.


"Hmm, maksud kakak?". "Itu". Kenan menunujuk dengan ujung dagunya kotak makanan yang di tangan Rania.

__ADS_1


"Oh.. Ini adek pesan sendiri, karena tadi adek lihat kakak makannya begitu lahap, jadi adek pesan lagi". Saut Rania asal.


"Selahap-lahapnya abang makan, gak mungkin abang mampu menghabiskan sendiri makanan sebanyak itu".


"Lalu kenapa makanannya gak dimakan?". Tanya Kenan karena makanannya baru sedikit yang termakan.


"Udah kenyang kak". Saut Rania malas, nafsu makannya hilang karena sakit dilengan atasnya. Kenan mengambil alih kotak makanan itu lalu menyuapi adiknya.


"Bukalah mulutnya, adek tidak boleh telat makan nanti sakit". Rania melihat kearah abangnya.


"Kenapa melihat abang seperti itu, ayo sekarang adek makan, bukankah tadi adek meminta abang untuk menyuapi adek makan?". Sambil menyodorkan tangan yang berisi makanan ke mulut Rania.


Bukannya membuka mulut, Rania malah memeluk abangnya dan menangis di dada bidang milik abangnya.


"Adek kenapa menangis?". Tanya Kenan lembut karena tahu hati adiknya sedang sensitive.


"Adek rindu sama Ayah kak, ingin rasanya adek ikut bersama Ayah, Adek capek kak dengan kehidupan ini". Ungkap Rania sendu.


"Adek gak boleh ngomong seperti itu, apa yang membuat adek lemah seperti ini? mana adik abang yang selalu ingin dibilang kuat dan mandiri". Suara Kenan bergetar. Pikirnya tidak mungkin adiknya akan selemah ini jika tidak ada masalah yang menghimpitnya.


Kenan terus berpikir sambil menyalurkan energi positifnya kepada adiknya yang tengah bersedih.


Sejak pulang dari kampus sikap Rania sedikit berubah, bahkan moodnya sangat buruk hari ini, Apa ada masalah di kampusnya? aku harus selidiki".


"Apa ada yang mengganggumu di Kampus?". Lanjutnya.


"Ahh... tidak, semua mahasiswa-mahasiswi di Kampus baik semua sama adek".


"Ya sudah, sekarang lanjutin lagi ya makannya, abang suapin".


Rania akhirnya makan, meski perutnya sudah tak lagi merasa lapar, namun suapan dari tangan abangnya menjadi daya tariknya untuk melahap habis makanan itu.


Karena tangannya masih sakit, Rania punya ide cemerlang untuk tetap menutup rapat kejadian siang ini, karena dia tidak ingin kejadian setahun silam terulang kembali.


"Mulai hari ini, adek mau makan kalau kakak mau menyuapi adek". Celetuk Rania. Mata Kenan membulat sempurna, mendengar ucapan adiknya.


"Kalau abang tidak mau?".


"Adek tidak akan makan dan kakak pasti gak akan tega melihat adek gak makan seharian, jangankan seharian melewatkan satu waktu aja, kakak sudah gak tega". Saut Rania percaya diri.

__ADS_1


"Kamu terlalu percaya diri nona muda". "Harus dong". Saut Rania membusungkan dada. Keduanya pun tertawa.


***BERSAMBUNG***


__ADS_2