Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
87. BERKHIANAT


__ADS_3

Rania menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, kepalanya tertunduk lalu menggelengkan kepalanya.


"Maksudmu apa Nia, aku tidak mengerti", ucap Mela.


"Dia menolakku, dengan alasan dia telah menganggapku sebagai adik dan dia juga telah memiliki pilihannya sendiri, semua itu dia ungkapkan dihadapan keluargaku dan kedua orang tuanya", jelas Rania.


Rania mencoba untuk meneguhkan hatinya agar airmatanya tak jatuh, namun Rania adalah seorang gadis yang hatinya kini sedang rapuh, airmatanya pun berhasil meloloskan diri.


Mela yang mendapati sahabatnya tengah bersedih, berusaha merangkulnya mencoba menyalurkan kekuatannya untuk meneguhkan hatinya.


"Sabar Nia, aku yakin Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu, aku mohon Nia janganlah menangis, lelaki itu tidak pantas untuk kamu tangisi, meskipun aku belum tahu siapa lelaki itu", ujar Mela meneguhkan.


"Terimakasih Mela", aku beruntung memilikimu sebagai sahabatku.


"Lalu aku, apa alan kalian lupakan?", ucap seseorang dari belakang.


"Nathan!", ujar Rania dan Mela bersamaan. Nathan hanya menggidikkan kedua bahunya sebagai jawaban.


"Dari mana kamu mengetahui kami ada disini?", tanya Mela.


"Tadinya aku akan mengajak kalian jalan-jalan karena besok aku sudah ahrus kemabali ke Jakarta, tapi katanya kamu bersama Nia pergi ke sekolah, ya aku langsung kesini saja menyusul kalian, aku tidak mengganggukan?", jelas Nathan.


"Tentu saja tidak, kamu akan kembali besok, apakah kalian pergi berdua?", tanya Mela.


"Berdua dengan siapa?", Nathan balik tanya.


"Tentu dengan Nia, karena dia juga akan kembali besok", jelas Mela.


"Aku baru tahu jika Nia akan pulang besok, apakah itu benar Nia?", tanya Nathan memastikan.


"Iya, aku berangkat sore", saut Rania.


"oya, sama aku juga, semoga kita di pesawat yang sama LION AIR", ungkap Nathan.


"Kamu benar, kitaberada di pesawat yang sama", ujar Rania tersenyum.


"Aku tidak perlu khawatir lagi Nia, jika sudah ada Nathan yang menemanimu", ujar Mela.


"Kamu tidak perlu bersedih lagi Nia, karna kita berdua akan selalu ada untukmu", ucap Nathan sambil menghapus airmata sahabatnya.


"Kamu benar Than, kita akan selalu ada untuk Rania", ucap Mela.


"Buanglah jauh kenangan yang menyakitkan bagimu Nia, cinta pertamamu tak setia padamu, jangan kamu tangisi", ujar Nathan dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"Apakah kamu mengetahuinya Nathan?", selidik Mela.


"Bahkan Ayu pun tahu jika Dafa sangat mencintai Nia, tapi ntahlah apa yang terjadi diantara mereka, mengapa mereka bisa menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih dan menghianati Rania", jelas Nathan datar.


"Mereka tidak menghianatiku, karna aku belum menjalin hubungan kekasih bersama Dafa", bela Rania.


"Mereka berkhianat Nia, karena Ayu tahu Dafa sangat mencintaimu", tukas Mela.

__ADS_1


"Sudahlah jangan dibahas, lebih baik kita menikmati suasanan sore ini", ajak Nathan.


Merekapun menikmati suasana sore itu penuh dengan keceriaan.


*****


Keesokan harinya Rania telah mengemas segala apayang akan dia bawa ke Jakarta. Tentu yang dia bawa hanya sekedar oleh-oleh khas Kalimantan.


Rania telah menelpon Nathan, mengingatkan dia keberangkatan pesawatnya hari ini tinggal tiga jam lagi.


Mela pun berada di rumah Rania, dia sengaja menginap di rumah Rania untuk menemaninya sambil bercerita tentang kenangan-kenangan manis yang pernah mereka lalui bersama.


"Mel, kamu harus datang ke Jakarta saat ulang tahunku", ujar Rania saat berada diruang keluarga.


"Itu pasti, sebulan lagi dan aku masih lama berada di Indonesia, kamu mau kado apa dariku?", tanya Mela.


"Dengan hadirnya dirimu di pesta ulang tahunku, itu sudah menjadi kado terindah untukku Mel", saut Rania tulus.


"Baiklah aku akan datang, sahabat cantikku", ujar Mela.


"Tapi aku rasa kamu tidak akan menemui wajah cantikku ini", ungkap Rania.


"Mengapa?", tanya Mela heran.


"Kalau kamu mau tahu jawabannya, makanya kamu hadir dipestaku, maka pertanyaanmu akan terjawab", saut Rania.


"Jadi ini rahasia pesta kejutan?", selidik Mela.


"Baiklah aku akan menunggunya dengan sabar", saut Mela lalu beranjak menuju dapur untuk mengambil air minum.


Rania kembali asyik dengan camilan dan menonton tv acara kesayangannya. Hari terakhir tepatnya dua jam sebelum keberangkatannya ke Jakarta, Rania menghabiskan waktunya bercengkrama bersama Mela. Tawa Rania begitu lepas seolah tak pernah ada beban berat dalam hidupnya.


"Nia, nanti kalau sudah sampai di Jakarta, sampaikan salam rinduku buat tante Sin dan kak Kenan ya?", ujar Mela.


"Cie, kamu rindu pada kak Kenan?", goda Rania.


"Kenapa? apa aku salah? toh kak Kenan belum ada yang punya kan?", saut Mela.


"Wah, kamu ngelunjak ya", Rania tertawa.


Saat mereka tengah seru-seruan, Nathan datang satu jam lebih awal, dengan alasan agar tidak saling menunggu.


"Assalamu'alaikum". sapa Nathan.


"Wa'alaikumsalam", saut Rania dan Mela bersamaan.


"Awal sekali kamu jemput", ujar Mela.


"Palingan dia mau numpang makan siang disini", celetuk Rania.


"Kamu tahu aja Nia, kalau aku sedang butuh asupan gizi", timpal Nathan.

__ADS_1


Lalu semuanya tertawa melihat tingkah lucu Nathan, dan siang itupun menjadi moment makan siang bersama sahabat dirumah Rania.


Tak lupa setiap ada kejadian apapun disekitar mereka selalu diabadikan dalam jepretan kamera.


****


Menjelang sore, Rania dan Nathan sudah berada di Bandara Kalimantan, siap untuk meninggalkan kota kelahiran mereka menuju kota metropolitan.


Lima belas menit kemudian mereka naik pesawat dan pesawatpun take off meninggalkan landasan pacu terbang tinggi menyeruak angkasa.


Rania duduk berdampingan dengan Nathan, setelah tiket Nathan ditukar dengan tiket kelas bisnis agar keduanya berdekatan.


Satu jam mengarungi angkasa dari Kalimantan ke Jakarta, akhirnya mereka sampai di kota tujuan. Jakarta merupakan Ibu kota negara Indonesia kota terpadat seindonesia hingar bingar kehidupan jakarta, serta gemerlapnya kota saat malam.


Rania turun, terlihat dia seperti menghempasakan nafas kasarnya seolah membuang beban yang menghimpit.


"Kamu harus siap Nia, kamu gadis kuat jangan cengeng cukup kesedihanmu sampai kemarin saja dan hati ini kamu harus bangkit menjadi Rania yang baru", Bathin Rania memotivasi.


Langkah Rania mantap meninggalkan Bandara dan meninggalkan segala kenangan yang menyedihkan.


"Ayo Than, kita segera pergi dari tempat ini", ajak Rania.


"Nia, boleh aku bertanya?", ujar Nathan sambil berlalu.


"Tentu, kenapa harus minta izin dulu", saut Rania santai.


"Karna, yang akan aku tanya bersifat pribadi", ujar Nathan.


Rania terdiam dan tak menanggapi perkataan sahabatnya.


"Maaf, jika aku lancang Nia", lanjut Nathan.


"Tidak apa-apa Than, kamu boleh bertanya tentang apapun, sungguh", saut Rania meyekinkan.


"Kamu pernah bilang kalau kamu telah dijodohkan, lalu bagaimana kelanjutannya?", tanya Nathan hati-hati.


"Perjodohan itu batal, dia menolakku karena dia telah memiliki pilihan lain dan aku hanya dianggapnya sebagai adik", ungkap Rania.


"Adik? apakah kalian sebelumnya saling mengenal?", tanya Nathan semakin penasaran.


"Iya, karena dia adalah sahabat kak Kenan, dan kedua orang tuanya, sahabat kedua orang tuaku", jelas Rania.


"Kamu yang sabar Nia, pasti Tuhan punya rencana baik untukmu", ujar Nathan.


"Santai aja, aku sudah melupakannya", saut Rania santai.


Lalu keduanya naik mobil taksi yang sudah terparkir menunggu mereka di depan lobby Bandara.


*****


***BERSAMBUNG****

__ADS_1


HAPPY READING


__ADS_2