Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
59. SEBUAH ALASAN


__ADS_3

Jantung Rania berdentum setelah mendengar penuturan dari ibunya, alasan utama kekhawatiran wanita yang masih tampak cantik meskipun sudah tidak muda lagi. Wajah Rania berubah pasi mengingat bagaimana posesifnya Kenan.


Pikirannya langsung melayang membayangkan nasib supir yang baru diperkerjakan abangnya, supir yang ditugaskan untuk selalu mengantar kemanapun dia pergi tanpa terkecuali. Kejadian setahun lalu yang menimpa dirinya menjadi cambuk peringatan bagi Kenan.


Mengingat akan hal itu membuat Rania sulit sekali untuk menelan salivanya, ingin rasanya dia memilih untuk mengulang kembali waktu dan pulang bersama supir tepat waktu, dari pada harus berada disituasi sekarang ini.


"Bunda apa kak Kenan marah?". Tanya Rania berhati-hati.


"Masih bisa kamu bertanya seperti itu, setelah kamu tidak patuh terhadap peraturan yang abang buat untuk kamu?". Suara Kenan terdengar mengintimidasi seolah menguliti seluruh tubuh Rania.


Glekk.. Leher Rania tercekat tak mampu untuk berkata-kata.


"Dari mana saja kamu dek? jam segini baru pulang, tidak bisakah kamu sedikit menghargai orang lain, tidakkah kamu berfikir orang lain akan kehilangan pekerjaannya hanya karena sikapmu yang seenaknya, heh?". Suara Kenan penuh penekanan disetiap katanya.


"Maaf kak, tadi Adek..". "Assalamualaikum tante, hai bro apa kabar?". Sapa Kevin yang tiba-tiba muncul sebelum Rania dapat menjelaskan perihal keterlambatannya.


Sikap Kenan mereda saat milihat seseorang yang bersama adiknya. Sejenak dia menoleh Rania meminta penjelasan namun Rania hanya tertunduk tak menghiraukan maksud abangnya.


"Walaikumsalam nak Kevin, mari masuk". Saut Sintia yang sedikit heran atas kemunculan Kevin bersama putrinya, namun secepatnya dia bersikap normal kembali sebelum tamunya menyadarinya.


"Kedua orang tuamu apa kabarnya nak?". Tanya Sintia setelah mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Alhamdulilah tante, kabar mama dan papa baik". Jawab Kevin setelah duduk di ruang tamu.


"Adek masih ada hutang penjelasan sama abang". Bisik Kenan yang terdengar usil ditelinga Rania.


Kenan dengan sikap tengilnya melenggang pergi meninggalkan adiknya menuju ruang tamu. Rania menatap malas kearah abangnya, lalu melangkahkan kakinya ke kamar untuk segera membersihkan diri yang sudah lengket karena keringat.


"Sejak kapan lo ada di Indonesia?". Tanya Kenan malas.


"Hmm... sudah hampir empat bulan gue menetap disini". Saut Kevin santai.


"Sudah selama itu dan lo gak ngabarin gue, lo masih anggap gue gak, heh?". Ujar Kenan kesal.


"Sorry bro, gue sebenarnya ingin ngabarin lo, tapi gue sibuk ngurusin cabang perusahaan yang rencananya akan di bangun disini, mana papa belum bisa ke Indonesia, sibuk banget gue". Jelas Kevin.

__ADS_1


"Lalu kapan rencananya dimulai?". "Gue sendiri gak tahu Ken, mama gak mau diajak pindah, terlanjur betah katanya".


"Masalah pindah domisili itu gampang, yang penting mulai aja dulu dan yang tak kalah pentingnya lagi cari partner kerja dari perusahaan yang bisa saling menguntungkan".


"Kalau untuk partner perusahaan, gue udah dapat".


"Oya..! Perusahaan mana yang berhasil di gandeng oleh perusahaan ROYAL GROUP?".


"ATMAJA COMPANY".


"Serius lo mau join dengan perusahaan gue? beruntung banget gue".


"Jangan merendah lo Ken, justru perusahaan ROYAL GROUP merasa beruntung karena mendapat pertner kerja sebuah perusahaan penguasa Negeri ini. Semua para pebisnis negeri ini sudah tahu kali bro, sepak terjang CEO muda billionere ATMAJA COMPANY".


"Lo terlalu berlebihan Vin, tapi apapun alasannya gue dengan senang hati menyambut kerjasama ini".


Kedua sahabat itu pun akhirnya tertawa bersama dan dilanjutkan dengan obrolan santai. Menjelang sore Kevin pun pamit undur diri karena masih ada tugas yang belum terselesaikan.


*****


Perasaanya masih belum bisa tenang, karena dia belum tahu bagaimana nasib supirnya yang baru bekerja belum genap sebulan.


Menurut informasi dari ibunya, supirnya dipanggil ke ruang kerja abangnya. Setahu Rania setiap orang yang masuk ruang kerja abangnya, jika itu para maid maka akan berakhir dengan pemberhentian kerja.


Pikirannya terus bekerja keras, tanpa dia sadari Kenan sudah duduk disampingnya.


"Apa dia semempesona itu, sampai abang duduk disini pun dicuekin?". Suara Kenan membuyarkan lamunannya.


"Kak Kenan, sejak kapan duduk disitu?". Rania balik tanya.


"Ceh, bahkan adek pun tidak mau menjawab pertanyaan abang".


"Apa sih kak, memangnya apa yang kakak harapkan?". Saut Rania seolah tahu tujuan abangnya datang menghampirinya.


"Adek belum menjelaskan kepada abang perihal keterlambatan adek pulang ke rumah".

__ADS_1


"Kak Kenan mau penjelasan seperti apa lagi sih?".


"Ok, kalau memang adek gak mau jelasin sama abang, tapi adek jangan menolak jika abang...".


"Baiklah, baiklah, adek akan jelasin, puas? tapi kak Kenan harus janji, tidak akan ada bodyguard ". Kenan menyetujuinya, namun tanpa sepengetahuan Rania, dia akan tetap mengirimkan bodyguard untuk mengawasi dan melindungi adiknya.


"Tadi pagi waktu di kampus, adek gak sengaja nabrak seseorang waktu mencari ruang administrasi, ternyata orang itu kak Kevin, dia salah satu dosen yang mengajar di kampus tersebut, kak Kevin juga yang menujukkan adek ruang administrasi, setelah semuanya beres adek mau pulang tapi pak supirnya sudah gak ada, kak Kevin yang nyuruh pak supir pulang, dia bilang sudah izin sama kak Kenan". Ungkap Rania.


"Terus?". "Terus? maksudnya?". Rania heran.


"Kenapa bisa terlambat? jika benar, setelah urusan beres adek pulang, alasannya apa?". Tanya Kenan dingin.


"Apakah harus ada sebuah alasan untuk itu?". "Harus!". Saut Kenan tegas.


"Kak Kevin ngajak adek makan siang dan shopping dulu di Mall, katanya kak Kenan gak akan marah". Ujar Rania hati-hati.


"Dek, lain kali jika adek belum memastikannya sendiri, jangan pernah mau menuruti ajakan orang lain, sekalipun orang itu kenal dekat dengan keluarga kita, kita tidak pernah tahu isi hati orang dan satu lagi adek bukan muhrimnya Kevin jadi tidak baik jika jalan hanya berdua saja".


"Adek mau bilang abang egois atau posesif sekalipun terserah, abang tidak perduli, selama abang belum menemukan imam yang baik buat adek, inilah cara abang untuk melindungi adek, abang harap setelah ini jangan pernah lagi merusak kepercayaan dan aturan yang sudah abang buat, jika adek tidak mau menyesal nantinya, paham?". Lanjut Kenan penuh penekanan disetiap kata-katanya.


"Iya kak, adek paham, maafin adek jika sudah membuat kak Kenan khawatir". Saut Rania merasa takut.


Kenan yang menyadari adiknya ketakutan, lalu memeluknya penuh kehangatan dan mencium puncak kepala Rania dengan lembut.


"Abang sayang sama adek dan abang tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadap adek". Ujar Kenan lalu mendekap erat adiknya. Dari kejauhan, Sintia yang melihat kasih sayang Kenan terhadap adiknya, hatinya merasa haru biru.


Ya Tuhan, sesungguhnya mereka adalah anak-anak yang baik, berikanlah mereka kebahagiaan, limpahkanlah kasih sayang diantara mereka agar mereka dapat saling menjaga satu sama lain. Doa Sintia untuk keduanya.


"Kak, apakah adek boleh bertanya?".


***BERSAMBUNG***


Maafkan author jika sudah lama tidak up, dikarenakan suatu kondisi yang tidak memungkinkan author untuk menulis.


Tetap selalu dukung author, jangan lupa vote, like dan ramaikan komentar kalian.

__ADS_1


HAPPY READING...


__ADS_2