Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
45. TAMU FROM MALAYSIA


__ADS_3

"Adek ikut kak, adek juga ingin tahu kondisi ayah saat ini" pinta Rania.


"Adek ini sudah siang, lebih baik adek ajak temen-temennya makan siang dulu siapa tahu mereka belum sempat makan karena khawatir dengan adek" rayu Kenan sambil melihat kearah Dafa untuk membantunya membujuk Rania.


"Iya Nia aku juga udah laper makanya aku balik lagi kemari untuk mengajak kalian semua" ucap Dafa yang mengerti maksud Kenan.


"Tapi aku gak laper Fa" saut Rania.


"Mulutmu gak laper tapi tubuhmu tetap perlu nutrisi apalagi kalsium untuk kesembuhan kakimu, ayahmu juga akan sedih kalau kamu seperti ini Nia" bujuk Dafa.


Rania terenyuh hatinya saat Dafa mengingatkannya perihal ayahnya, iya Rudi akan merasa sedih jika Rania dalam kondisi yang buruk.


"Baiklah, tapi kakak janji ngabarin adek kalau ada perkembangan tentang ayah".


"Iya abang janji". Akhirnya rania bersama sahabatnya meninggalkan ruang tunggu ICU.


Setelah rania sudah tidak terlihat lagi, Kenan masuk ke ruangan ayahnya di rawat.


"Bagaimana kondisi ayah sekarang bunda, apa ada perubahan?" tanya Kenan setelah masuk ruangan.


"Belum nak, ayahmu masih tetap tertidur". "Apa adek ada diluar?" tanya sintia balik.


"Gak bun, adek sama temen-temennya berada di kantin".


"Bun, tadi abang nelpon Kevin mengabari kondisi ayah dan katanya sore ini mereka akan datang ke Indonesia". imbuh Kenan. Sintia mengangguk malas.


Bagi keluarga Ounur Bayezid untuk bepergian keluar negeri seperti halnya bepergian ke luar kota, semuanya mudah tidak perlu menunggu waktu lama. (horang kaya mah bebas).


"Nak apa tidak sebaiknya adek diberitahu tentang kondisi ayah yang sebenarnya? karena ketika bunda menceritakan tentang adek ayah merespon dengan gerakan lambat dijarinya". jelas Sintia.


"Benarkah bun, kenapa bunda tidak bilang dari tadi?"


"Bunda sudah ingin keluar memberitahu tapi abang tidak ada dan hanya ada adek bersama teman-temannya jadi bunda urungkan saja" ungkap Sintia.


"Bunda apa ayah rindu dengan adek dan ingin mendengar suara adek?".


"Mungkin saja nak, abang tahu sendirikan sayangnya ayah sama adek, bagaimanapun juga adek lah yang sudah menemukan ayah saat kondisi terburuknya sehingga kita tidak terlambat membawanya ke rumah sakit meskipun sekarang ayah koma".


"Tapi bagaimana caranya kita memberitahukannya bun, abang takut adek akan syok".


"Bunda juga tahu , tapi mau sampai kapan kita merahasiakan kondisi ayah? adek pasti akan terus bertanya tentang kondisi ayah dan kita juga tidak tahu kapan ayah akan bangun dari komanya".

__ADS_1


"Baiklah abang akan coba tapi sebelumnya abang akan konsultasi dulu sama dokter yang menangani adek". Sintia mengangguk setuju.


Rania dan sahabatnya sudah berada di cafe cepat saji sekitar rumah sakit. satu per satu mereka mulai memesan makanan untuk mengganjal perut mereka yang sudah mulai berdemo beberapa menit yang lalu.


"Nia kamu mau pesan apa?" tanya Ayu.


"Kalian makan aja, aku gak laper".


"Nia, kamu harus jaga kesehatanmu kamu gak mau kan nambahin beban bundamu dengan kamu sakit" tutur Mela.


"Iya, kasihan bundamu Nia, setidaknya jika kamu sehat bundamu akan sedikit lebih tenang" timpal Nathan.


"Sekarang makanlah, buka mulutmu" Dafa menyuapi Rania setelah pesanan mereka tersaji di atas meja.


Kepedulian Dafa terhadap Rania, membuat iri para pengunjung cafe. Mela menyenggol siku Ayu yang sedang fokus menyantap makanannya lalu menunjuk dengan dagunya ke arah dua insan yang menjadi pusat perhatian pengunjung cafe.


Aku tahu Fa, kepedulianmu ini kamu tujukan bukan untuk seorang sahabat tapi untuk orang yang kamu cintai. Gumam hati nathan yang juga memperhatikan.


"Biarin aja yang penting Nia mau makan, kasihan kalau perutnya kosong" bisik Ayu lirih dan Mela mengerti.


Hampir aku salah paham, aku mengira Dafa mencintai Rania karena tatapannya yang begitu berbeda. Seperti tatapan seorang kekasih kepada gadisnya. Andai saja mereka sepasang kekasih beneran bukan sahabat, aku orang pertama yang mendukung kalian. Gumam hati Mela.


****


"Selamat siang dokter?" sapa Kenan setelah sebelumnya dia mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk.


"Selamat siang tuan Kenan, ada yang bisa saya bantu?" saut dokter ramah.


"Begini dok, ayah saya sekarang ini sedang mengalami koma sementara Rania bertanya terus tentang kondisi ayah karena dia belum diberitahu tentang kondisi ayah sebenarnya. Seperti yang dokter ketahui adik saya mengalami cidera kaki yang cukup parah jadi saya mohon saran dari dokter" ungkap Kenan.


"Saya sarankan jangan diberitahukan, tapi jika memang terdesak anda silahkan ceritakan yang sebenarnya bawa dia ditempat yang santai bisa di rumah atau dimana saja yang menurut anda nyaman untuk mengungkapkannya" jelas dokter.


"Terima kasih dok atas sarannya, sekarang saya permisi dulu" ucap Kenan lalu undur diri dari hadapan dokter. Kemudian dokter hanya mengangguk mempersilahkan.


Ketika Kenan keluar dari ruangan dokter yang menangani adiknya, dia melihat Rania bersama teman-temannya sudah kembali dari kantin.


"Kak bagaimana kondisi ayah? ada perubahan?" tanya Rania yang sudah melihat abangnya.


"Kondisi ayah masih sama belum siuman tapi tadi sudah ada respon yang baik dari ayah walaupun belum secara keseluruhan" saut Kenan menenangkan.


"Ayah kok lama sekali ya kak siumannya? apa...." kata-kata Rania menggantung.

__ADS_1


"Lebih baik kamu berdoa saja Nia jangan berprasangka buruk, kebiasaan deh" potong Mela.


"Maaf, gue cuma heran aja kenapa ayah bisa pingsan selama itu" kilah Rania.


"Lebih baik kita semua pulang dulu, karena kak Kenan juga mau pulang sebentar ada yang mau diambil ke rumah" ajak Kenan.


para sahabat Rania mengiyakan ajakan Kenan begitu juga dengan Rania yang merasa tubuhnya sudah sangat letih.


"Apa bunda tahu kalau kita mau pulang kak?. "Tahu dek".


"Apa gak boleh adek sebentar aja masuk untuk bertemu ayah?".


"Nanti saja karena sekarang belum boleh bukan waktu jam besuk". Rania pun mengangguk mengerti karena memang sekarang sudah sangat siang waktunya istirahat bagi pasien.


Dalam perjalanan pulang Rania merasa gelisah seperti ada yang coba disembunyikan darinya perihal kondisi ayahnya. Namun Rania tidak berani untuk bertanya langsung dan mencoba positive thinking untuk setiap kejadian.


Tiba-tiba ponsel Kenan berdering tanda notifikasi WA.


Jena


Sayang kapan kamu ke Jakarta aku kangen?


Kenan diam tidak membalasnya, jangankan untuk membalasnya membacanya saja belum.


"Kenapa gak dibaca dulu kak? siapa tahu penting".


"Gak ada yang lebih penting dari keselamatan kita terutama kamu dek, kita sekarang ada di jalan raya" jelas Kenan.


Rania kembali terdiam setelah mendengar jawaban riil dari abangnya. Keduanya pun sampai di rumah, Rania langsung mohon diri pada abangnya.


"Kak, adek langsung ke kamar ya, mau mandi gerah rasanya".


"Ya sudah kamu istirhat sana". Lalu Rania masuk ke kamarnya begitu juga dengan kenan dia pun masuk ke kamarnya.


Sampai di kamar Rania langsung meraih handuknya dan menuju kamar mandi mau memanjakan tubuhnya yang letih berendam di Bathup.


Sementara Kenan berpikir keras mencari cara yang baik untuk menyampaikan kondisi Rudi kepada adiknya.


"Apa setelah makan malam aja? kan suasananya santai tuh, bunda juga sudah ada temannya karena tante Hanum sudah tiba di Jakarta dan langsung terbang ke Kalimantan, jadi gak masalah kalau ke rumah sakitnya agak malam dikit" gumam Kenan.


***BERSAMBUNG***

__ADS_1


semangat ya bacanya ikutin terus.


__ADS_2