Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
15. AMARAH RANIA


__ADS_3

saat kepanikan masih menyelimuti wajah sintia, rania datang bersama ratih dari pasar dengan membawa berbagai macam pernak-pernik sebagai oleh-oleh untuk sahabatnya di kalimantan. rania antusias sekali ingin segera masuk dan mengemas barang-barang yang akan menjadi buah tangannya.


"ayah!" pekik rania saat sudah masuk rumah dan melihat ayahnya tergeletak di lantai dalam pangkuan bundanya.


"bunda apa yang terjadi sama ayah? mana yang lain kenapa tidak ada yang menolong ayah? kak kenan sudah di kabari?" pertanyaan rania memberondong ibunya.


"abang sama pak syam ada di ruang kerja ayah, bunda tidak tahu apa yang sedang abangmu cari". jawab sintia masih terisak.


rania lalu merogoh saku celana ayahnya dan mendapatkan sesuatu yang dicari oleh kenan dan pak syam sejak tadi.


rania meminta bik sumi untuk mengambilkan air minum untuk ayahnya minum obat.


"bik sum ambilkan air minum untuk ayah?" perintah rania.


"baik nona?" jawab bik sum lalu pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


"obat apa itu nak dan itu obat siapa mengapa ada dikantong celana ayahmu?"


"ini obat vitaminnya ayah bunda, jadi kalau ayah terlalu letih ayah selalu minum obat ini, adek pernah lihat ayah minum vitamin ini, jadi bunda jangan khawatir ayah hanya kelelahan saja". jawab rania berbohong karena tidak ingin menambah kepanikan bundanya.


mendengar penuturan putrinya sintia merasa lebih tenang.


"ayahmu sebelumnya tadi bersitegang dengan abangmu"


"kenapa bunda?"


"karena abangmu tidak mau pergi ke kantor, dia kekeh ingin mengantarkan kita ke bandara padahal hari ini ada klien penting dari jepang yang ingin bekerjasama dengan perusahaan kita dan ini sudah ditunggu-tunggu oleh ayahmu sejak sebulan lalu dan abangmu ingin melewatkan begitu saja". jelas sintia, membuat rania meradang.


rania menahan emosinya ketika melihat bik sumi datng membawa segelas air.


"gerus obat ini sampai hancur bik". perintah rania, bik sumi menggerus obat tersebut hingga halus dan membubuhinya dengan sedikit air.


"ini nona, obatnya sudah jadi". bik sumi memberikan racikan obatnya.

__ADS_1


"apakah cara meminumnya seperti ini dek?" tanya bunda cemas.


"sebenarnya tidak bunda, tapi karena kondisi ayah yang sedang tidak sadarkan diri ini cara yang efektif agar obatnya bisa terminum oleh ayah" jelas rania.


setelah obat diminumkan rudi dibaringkan di atas sofa dengan bantuan pak syam dan kenan, karena ketika rania meminumkan obat ke mulut ayahnya, kenan bersama pak syam keluar dari ruang kerja ayahnya dengan tanpa membawa hasil apapun sebab benda yang mereka cari sudah ditemukan oleh rania.


"dari mana adek dapat obat ini?" selidik kenan.


rania tidak menjawab pertanyaan kenan. "pak syam jaga ayah disini, bunda kemasin barang yang akan kita bawa pulang, dan ratih bantu bik sumi untuk mengemasin barang-barang yang saya beli tadi". perintah rania pada semua orang. "dek kamu sudah gak waras, ayah belum sadarkan diri kamu malah mikir mau paulang". sentak kenan dengan amarahnya.


karena tidak ada yang bergeming satu pun rania semakin emosi.


"kalian tidak dengar perintah ku!" bentak rania, semua orang yang ada diruang tersebut terkejut dan takut dengan suara pekikan rania, karena selama ini yang mereka tahu nona mudanya adalah gadis yang lemah lembut, periang dan manja. mendengar kemarahan nona mudanya mereka bergegas mengerjakan apa yang di perintahkan.


"bunda sebaiknya bunda berkemas, ayah akan baik-baik saja percaya sama adek untuk kali ini saja" suara rania melembut pada ibunya.


"jangan sok tahu kamu dek, kamu tidak tahu apa-apa tentang ayah" suara kenan menggeram.


rania sudah tidak dapat lagi menahan emosinya, lalu beranjak menarik tangan abangnya menuju ruang kerja ayahnya, setelah berada di dalam ruang kerja ayahnya rania melepas tangan abangnya lalu dia menuju meja kerja ayahnya dan menelphone seseorang.


"hallo pak rizal, saya rania"


"oh.. maaf nona muda, apa yang membuat nona menghubungi saya?"


"pukul berapa klien dari jepang akan tiba di perusahaan?"


"setelah jam makan siang nona?" jawab rizal heran.


"sebelum itu apa tugas kak kenan?".


"setengah jam lagi tuan muda rapat dengan dewan direksi nona". jawab rizal masih heran.


rania melihat arah dinding sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh, kenan yang tidak paham semakin di buat berang oleh adiknya.

__ADS_1


"kamu mau apa heh?" amarah kenan membuncah dengan suara yang tak bersahabat, dan seseorang di seberang telphone samar mendengar suara amaraha bossnya, ya suara tegas itu milik bossnya tidak salah lagi. rania tidak menggubris dia berusaha tetap tenang walau emosinya hampir meletup.


"dengar saya pak rizal, mundurkan satu jam dari sekarang rapat dengan dewan direksinya, jangan banyak bertanya lakukan perintah saya". tutur rania penuh penekanan membuat yang mendengar menuruti tanpa bertanya.


setelah menutup telphone nya rania menghampiri abangnya.


"beraninya kamu.." kenan tak melnjutkan kata-katanya karena terpotong oleh rania.


"apa heh, kakak pikir selama ini aku tidak tahu tentang kondisi ayah, aku tahu! ucap rania marah dan kenan terkejut.


"kakak terkejut, aku tahu kalau ayah sekarang sedang sakit parah, aku hanya berusaha tegar dan kuat untuk tidak melihatkan kesedihanku agar ayahku tidak terluka". rania menangis dan kenan terdiam.


"apa kakak tahu dimana ayah menyimpan obatnya selama ini? apa kakak tahu kapan ayah cek kesehatannya? dan apakah kakak tahu kapan obat ayah habis? tidak kan kak?" rania makin menunduk sedih dalam amarahnya.


"sekarang kakak puas melihat ayah seperti itu? sementara kakak sendiri tidak tahu apa-apa tentang kondisi ayah". ucap rania semakin marah.


"tapi kenapa, ayah harus cerita sama kakak tentang penyakitnya bukan sama aku, padahal selama ini aku yang tahu semuanya tenyang ayah bukan kakak, kalau tidak takut membuat ayah terluka aku pasti sudah melihatkan kesedihanku".


"kamu tidak perduli kenan pada ayahku". kata-kata rania membuat emosi kenan semakin meluap, kenan merasa rania sudah tidak menganggap abangnya lagi.


"ingat batasanmu rania, aku ini abangmu tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu".


"abang macam apa yang tidak peka dengan keadaan sekelilingnya hah!" suara rania meninggi dan tanpa sadar kenan melayangkan tangannya menampar pipi adiknya.


plak! suara tamparan keras mendarat di pipi putih nan mulus milik rania. wajah yang penuh amarah itu kini berderai air mata dengan tatapan tajam membunuh.


"bagaimana mungkin ayah menggantungkan kebahagiaan adek di tangan kak kenan sedangkan tangan itu sendiri sudah menyakiti adek". suara rania melembut, namun perih terdengar oleh kenan.


"dengarkan adek kak, mulai saat ini adek tidak akan menggantungkan kebahagiaan adek di tangan kak kenan, sebisa dan semampu adek sendiri, adek akan membuat diri adek bahagia dengan cara adek sendiri, sekalipun ayah sudah meninggalkan adek.


"adek tidak percaya lagi sama kakak" dengar itu kak, rania pergi meninggalkan kenan yang terdiam.


****

__ADS_1


**BERSAMBUNG**


ikuti terus kisahnya ya readers, jangan lupa vote dan like ya, bagi yang sudah mendukung novel ini author ucapkan terima kasih, love you all.. emmmuacchh...


__ADS_2