
#rumah sakit
sudah delapan jam rania tertidur, semua sahabatnya menjaganya dengan bergantian saat mela terjaga dari tidurnya dia melihat dafa masih duduk di samping ranjang tempat rania terbaring pulas. lalu mela melihat jam di tangannya menunjukkan pukul dua dini hari.
"lo belum tidur fa?" tanya mela dengan suara serak khas oarng bangun tidur dan dafa menggelengkan kepalanya.
"sekarang lo istirahat, biar gue yang jagain nia".
"lo tidur aja lagi, gue gak papa".
"gue tau lo khawatir dengan keadaan nia, tapi lo juga harus perhatikan kesehatan lo gak baik untuk memaksakan diri, tubuh lo juga perlu istirahat fa" jelas mela.
"ok, gue istirahat tapi kalau ada apa-apa bangunin gue ya?"
"pasti".
dafa pun merebahkan tubuhnya yang lelah di samping nathan lalu terlelap dalam tidurnya. sementara mela lalu beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. tidak lam kemudian dokter masuk untuk memeriksa keadaan rania karena setiap dua jam sekali. mendengar pintu kamar terbuka mela lalu keluar dari kamar mandi untuk melihat siapa yang datang.
"dokter bagaiman keadaan rania?" tanya mela.
"keadaannya baik-baik saja namun jika dalam dua puluh empat jam belum bangun, kami akan segera melakukan tindakan selanjutnya, namun untuk kondisi saat ini adik tidak perlu khawatir" jelas dokter.
"terima kasih dokter".
***
setelah sebelas jam tertidur rania belum juga terbangun dari tidurnya, saat itu sudah pukul lima pagi semua sahabat rania sudah bangun.
__ADS_1
"apakah nia sudah bangun?" tanya ayu
"belum, tapi dua jam yang lalu dokter bilang kalu nia dalam keadaan baik-baik saja, jadi kita tidak perlu khawatir".
"apa tidak ada yang di sampaikan lagi oleh dokter?" tanya nathan.
"sekitar empat jam yang lalu dokter bilang jika dalam dua puluh empat jam nia belum bangun baru diambil tindakan" jelas mela. "semoga sebelum dua puluh empat jam rania sudah bangun, dafa man kok gak ada? tanya ayu.
"dafa tadi keluar sebentar untuk menghirup udara segar karena semalaman dia hampir gak tidur" jawab mela.
kamu pasti sangat mengkhawatirkannya dafa, aku tahu kamu mencintai nia sampai kapan kamu akan menyimpan perasaanmu itu. bathin ayu.
tak lama kemudian dafa masuk dan mengabarkan bahwa orang tua rania akan datang menjenguk.
"nanti orang tua rania akan datang menjenguk tadi tante sintia nelphone gue" ujar dafa.
"memang om rudi sudah baikan" tanya mela, dafa menganggukkan kepala.
"eh jangan pulang dulu, tunggu sampai orang tuanya nia datang, gue gak enak kalau sendirian" dafa mencegah sahabatnya untuk pulang duluan. "ok kita tunggu samapi bonyoknya nia dateng" jawab ayu.
"kita mau mau keluar cari sarapan dulu buat kita ya?" pamit ayu lalu menarik tangan dafa dan nathan masuk kamar mandi untuk membasuh muka, saat mela duduk sendiri didekat ranjang rania, orang tua rania datang.
ceklek...pintu terbuka dan mela menoleh ke arah pintu.
"mela, kamu disini?". "iya tante, semalaman kami berlima jagain nia" jelas mela. "nia bagaimana sudah ada perkembangan?". "masih sama tante kita tunggu sampai tiga belas jam, jika belum bangun baru dokter mengambil tindakan" jelas mela dan sintia mngelus puncak kepala putrinya yang tidur dengan damai. "terimakasih nak karna sudah menjaga putri om lalu mana yang lainnya?". "sama-sama om, dafa sama ayu lagi cari sarapan sedangkan nathan di kamar mandi, om sendiri gimana sudah sehat?". "om sudah baikan, kamu bilang tadi nathan? siapa dia?" tanya rudi karena setahu dia putrinya tidak punya sahabat bernama nathan namun nama itu tidak asing banginya.
"dia sahabat baru kami, temen sekolahnya dafa dan ayu om, nah itu orangnya". jawab mela yang melihat nathan keluar dari kamar mandi. sintia dan rudi pun menoleh ke arah yang di maksud mela.
__ADS_1
"om didi, tante aya!" seru nathan, rudi dan sintia menautkan kedua lisnya mencoba mengingat sesuatu.
"jonathan!" seru sintia yang sudah mengingat kejadian empat tahun lalu. "iya tante ini jonathan" lalu menyalami kedua tangan rudi dan sintia. "kamu anak itu kah?" tanya rudi dan nathan mengangguk lalu rudi memeluknya.
"apa kabarmu nak?". "baik om, apakah om didi dan tante aya orang tua rania?" dan merekapun mengangguk.
"dan kamu sahabat barunya putri tante?". "iya tante, persahabatan kami masih baru tante, itupun karena dafa sahabat saya dan rania sahabat dafa". "ternyata kamu orangnya sahabat baru yang sering di ceritakan nia". ujar sintia.
"om, tante sudah lama datangnya?" tanya dafa. "belum" jawab sintia. "tante sama om kenal dengan nathan?" tanya ayu heran. "mereka inilah orang yang menolongku ketika dalam masa sulitku". jelas nathan "jadi om baik hati yang sering kamu ceritakan sama aku itu om rudi, yang kamu panggil om didi?" tanya dafa, nathan tersenyum lalu mengangguk.
"aku bersyukur bisa bertemu kembali dengan om baik hati berkat kamu fa, kalau kamu tidak bersahabat dengan rania dan tidak ada kejadian ini, mungkin sampai sekarang aku masih terus mencarinya untuk sekedar mengucapkan banyak terimakasih karena sudah menolongku, terimakasih om, tante, jonathan tidak dapat membalas kebaikan om" tutur nathan sambil berkaca-kaca menahan haru.
"om dan tante ikhlas menolongmu nak, dengan menjadi sahabat baik putri om itu sudah cukup" jawab rudi. "pasti om" jawab rudi. suasana haru pertemuan antara nathan dan kedua orang tua rania membuat dafa dan ayu menitikkan air mata, karena mereka turut merasakan kabahagian yang sahabatnya rasakan.
***
ponsel rania yang dibawa oleh dafa berdering, dafa melihat nama yang tertera di ponsel rania bertuliskan 'someone' "siapa dia?" gumam dafa. ponsel rania berdering kembali, dafa mengangkatnya. "hallo... dek kenapa lama sekali jawabnya?" sapa seberang telphone. "maaf ini siapa?" tanya dafa. "kamu siapa kemana pemilik ponselnya?" dengus kevin karena yang menjawab suara laki-laki. "berikan pada pemilik ponselnya katakan kekasihnya menelphone" ujar kevin lagi karena tidak ada jawaban.
degg... jantung dafa seakan berhenti berdetak, sesak memburu nafasnya mendengar suara pengakuan dari seberang telphone. "maaf, nia sedang berada di rumah sakit, saya sahabatnya nia". jelas dafa. "nia sakit? kenapa kenan tidak mengabariku, ssshhiitt". umpat kevin. "ya sudah kalau begitu berikan ponselnya pada om rudi ataupun tante sintia" ucap kevin, dafa pun memberikan ponsel rania pada rudi.
"om ada telphone untuk om". ucap dafa, rudi menerima panggilan tersebut. "hallo" sapa rudi. "om, ini kevin". "oh nak kevin, apa kabarmu dan orang tuamu?" "kabarnya baik om, oya om kenapa nia sakit kami tidak di kabari?". "maaf nak kami panik jadi lupa mengabari" sesal rudi. "nia sakit apa om, apakah kenan sudah tahu?" selidik kevin karena jika sahabatnya itu mengetahuinya kevin akan memarahinya sebab tidak memberitahunya. "sejak kemarin nia pingsan dan belum sadarkan diri akibat dehidrasi karena kelelahan dan kenan belum mengetahuinya". jawab rudi.
"kenapa om?" rudi menjelaskan duduk permasalahan antara kedua anaknya itu dan kevin sangat menyayangkan kelakuan kenan yang karena ulahnya rania harus sampai masuk rumah sakit.
apa sudah sedekat itu om rudi dengan lelaki yang sedang menelphonenya sehingga om rudi menceritakan semua masalah yang dialami rania, lalu mengapa rania tidak menceritakan tentang lelaki itu. bathin dafa cemburu,
"baiklah om, semoga nia cepat sembuh dan jaga diri om dengan baik" kevin lalu memutuskan panggilan telphonenya.
__ADS_1
***
**BERSAMBUNG**