
Satu jam lebih perjalanan membuat kaki Rania yang belum pulih sepenuhnya terasa penat dan sedikit nyeri.
"Aaww" Rania meringis kesakitan.
"Kenapa nak, kakinya sakit? kita ke rumah sakit dulu sebelum ke abangmu". Rania hanya mengangguk karena sakit dibetisnya sudah tidak tertahan.
Sintia lalu menelpon Rizal untuk segera menjemput mereka di bandara.
"Rizal, cepat jemput kami di bandara" ujar Sintia cemas saat sambungan telepon terhubung.
"Baik nyonya" Rizal segera melajukan kendaraannya di atas rata-rata saat mendengar kecemasan dari suara wanita yang sangat dihormati tuan mudanya.
Tidak perlu waktu lama Rizal tiba di bandara dan menghampiri keduanya setelah melihat keberadaan nyonya dan nona mudanya.
"Apa yang terjadi nona?" tanya Rizal yang ikut cemas.
"Cepat antarkan kami ke rumah sakit, karena cidera di kaki Rania terasa nyeri sekali" ujar Sintia karena Rania tidak menjawab.
"Apa nona masih mampu untuk berjalan sendiri?". Rania menggeleng.
"Baik, mari saya bantu nona tapi saya mohon izin dulu, apa boleh saya mengangkat tubuh nona?". Rania mengangguk. Rizalpun mengangkat tubuh Rania ke dalam mobil ala bridal.
Lalu Rizal melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat, beruntung jalanan ibu kota hari ini cukup lengang tidak macet seperti biasanya jadi mobil yang dikemudikan Rizal bisa melaju cukup kencang.
Sampai di rumah sakit Rania langsung di baringkan di atas bankar dan didorong menuju ruang IGD. Dokter lalu memeriksa kaki Rania yang cidera.
Setelah beberapa menit melakukan pemeriksaan, dokter hanya menyarankan Rania hanya untuk banyak istirahat dan minum obat yang mengandung kalsium agar pemulihan tulangnya cepat.
"Kaki putri saya kenapa dokter? apa ada yang berbahaya?" tanya Sintia saat melihat dokter keluar dari ruang IGD.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, kaki nona baik-baik saja hanya mengalami sedikit kram pada tulang bisa jadi karena disebabkan perjalanan jauh atau kegiatan yang banyak bertumpu pada kaki" jelas dokter.
"Iya dok, kami baru saja melakukan perjalanan yang cukup jauh kami baru saja tiba dari Kalimantan" saut Sintia.
Setelah Rania keluar dari ruang IGD dengan dibantu suster, akhirnya mereka pukang menuju rumah Kenan.
Rania dan ibunya sampai di rumah Kenan, betapa senangnya hati Rania karena dalam waktu yang lama dia akan tinggal bersama abangnya kembali.
__ADS_1
Kedatangan mereka disambut oleh para pelayan, senyum kebahagiaan pun terpancar dari wajah para pelayan yang menyambut nona mudanya dan nyonya besar di rumah ini.
"Selamat datang kembali nona muda dan nyonya besar" sapa para pelayan sopan dan disambut senyuman ramah dari keduanya.
Sakit dikaki Rania sudah sedikit berkurang jadi dia bisa sendiri turun dari mobil.
Rania terpesona dengan taman bunga yang ada di halaman rumah abangnya, sangat indah penuh warna dari bunga-bunga yang bermekaran karena waktu pertama kalinya dia datang bersama sahabatnya taman bunga itu baru dibuat.
Setelah puas menikmati segarnya taman bunga, rania beranjak masuk ke rumah dan menuju kamarnya. Penataan ruang kamarnya masih sama seperti saat dia tinggalkan dulu tidak ada yang berubah.
Rania merebahkan tubuhnya diatas kasur size kingnya meregangkan seluruh ototnya yang tersa pegal, setelah itu baru dia mandi agar tubuhnya kembali fresh.
****
Malam Kenan pulang dari Singapore sudah sangat larut setelah sebelumnya mengantarkan Jena pulang ke rumahnya. Pada saat Kenan tiba di rumahnya semua para pelayan sudah tertidur lelap kecuali pak Mul yang sengaja menunggu tuan mudanya datang.
"Selamat malam tuan muda, anda mau saya bawakan apa tuan?" Sapa pak Mul saat Kenan tiba di rumah.
lalu meraih tas tuannya.
"Siapkan air untuk saya mandi pak Mul" ujar Kenan tanpa menoleh.
Rania sengaja melarang para pelayan untuk tidak mengatakan pada Kenan perihal kedatangannya bersama ibunya hari ini, sebab Rania ingin memberikan kejutan untuk abangnya.
Kondisi tubuh Kenan yang letih membuatnya tidak peka dengan cahaya lampu yang masih menyala di dalam kamar adiknya. Kenan memang benar-benar tidak mengetahui jika ibu dan adiknya ada di rumahnya.
Keesokan harinya ketika Kenan bangun pagi terkejut saat membuka matanya ada sebuah lilin yang tertancap di atas kue tart ulang tahun.
"Happy birthday kak Kenan" teriak Rania mengejutkan.
"Adek, benarkah ini adek?" Kenan masih tidak percaya adiknya ada di dalam kamarnya sepagi ini sambil mengucek kedua matanya.
"Iya kak, ini adek, suprise" ucap Rania. Kenan tersenyum bahagia karena adiknya ada disini bersamanya.
"Kapan adek datang? apakah bunda juga ikut bersamamu?" tanya Kenan mengelus puncak kepala adiknya.
"Tiup dulu lilinnya, baru adek kasih tahu" ucap Rania manja. Kenan pun menuruti keinginan adiknya.
__ADS_1
"Sekarang jawab pertanyaan abang?".
"Ceh, gak sabaran banget sih, adek datangnya kemarin siang bersama bunda dan rencananya tahun ini aqdek mau masuk kuliah" ungkap Rania.
"Benarkah? eits tunggu dulu, tadi adek bilang datangnya kemarin siang lalu kenapa pak Mul tidak memberitahu abang?".
"Sengaja adek yang nyuruh jangan kasih tahu kakak, karena adek mau kasih surprise".
" Udah gede usilnya belum juga hilang" Kenan geleng-geleng kepala.
"Semoga kakak sehat selalu, dilimpahkan kebahagiaan dan tetep sayang sama adek serta bunda" seuntai doa Rania panjatkan di hari ulang tahun Kenan yang ke dua pulum enam tahun.
"Amiin dan sampai kapanpun abang akan selalu sayang sama adek dan bunda, maaf sampai saat ini abang belum bisa menjaga adek dengan baik" Kenan lalu memeluk adik kesayangannya.
"Abang sangat sayang sama adek, apaun yang abang usahakan semuanya untuk kebahagiaan adek" katanya lagi.
"Apa kak Kenan bahagia?" tanya Rania antusias. "Iya abang bahagia karena punya adek, bunda dan sebentar lagi abang akan punya Jena".
"Kak bagaimana jika seandainya Jena tidak sebaik yang kakak kira?" tanya rania hati-hati.
"Itu tidak mungkin karena dia wanita yang lembut dan baik budinya, cobalah adek mengenalnya lebih dekat pasti adek juga akan suka sama dia sama seperti bunda padahal bunda belum bertemu".
Adek tidak tahu kak, apakah perasaan bunda masih sama seperti dulu terhadap Jena karena sekarang bunda sudah tahu kalau kekasih kakak adalah orang yang berencana membunuh adek. Rania.
"Semoga saja ucapan kak Kenan benar adanya" saut Rania malas.
Kenan beringsut ke sisi ranjangnya untuk meraih ponselnya di atas nakas.
"Kakak mau ngapain?" tanya rania saat melihat benda pipih milik abangnya ada ditangan.
"Abang mau ngabarin Jena untuk mengajak kedua orang tuanya makan malam disini kebetulan orang tuanya ada disini, abang berencana mau mengenalkan Jena dan keluarganya kepada bunda" ungkap Kenan bahagia.
"Jangan kak, emm ma..maksud adek jangan kasih tahu kalau adek dan bunda ada disini, tapi untuk undangan makan malamnya kabarin aja" saut Rania sedikit gugup.
Terus terang untuk bertemu dengan Jena kembali Rania merasa sedikit takut karena kejadian yang hampir lima bulan lalu menyisakan sedikit trauma bagi rania.
"Apa adek mau membuat suprise lagi?". "May be" ujar Rania malas.
__ADS_1
***BERSAMBUNG***
Ayo berikan jempolmu dan vote ya..