Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
63. CEWEK BENGIS


__ADS_3

Pagi ini saat Rania berjalan menyusuri koridor kampus, dia merasakan ada sesuatu yang berbeda, seperti ada yang sedang mengawasinya.


Kampus masih tampak sepi, Rania meningkatkan kewaspadaannya, langkahnya dipercepat, ketika sampai diujung koridor kampus, Rania bersembunyi dibalik ruangan kosong.


Dia mengambil cermin dari dalam tasnya, digunakannya cermin itu untuk melihat situasi di luar, betapa terkejutnya Rania saat melihat seseorang yang mengikutinya, ternyata Kevin.


Mau apa kak Kevin mengikutiku? apa dia sudah tahu siapa aku sebenarnya? tapi siapa yang memberitahunya? bahkan identitasku di kampus ini sudah aku samarkan, apa mungkin kak Kenan yang memberitahunya? kemarinkan dia memang ada main ke rumah, kalau memang kak Kenan yang memberitahunya awas saja. Ancam hati Rania.


Setelah dirasa cukup aman, Rania pun keluar dari persembunyiannya, sayangnya gerak-geriknya tertangkap oleh mata teman barunya.


"Hayyoo.. Ngapain kamu Ran ada disini?". Curiga Chika.


"Yey... Kamu pikir aku mau ngapain disini?". Rania balik tanya.


"Tau... Kan kamu sendiri yang baru keluar dari ruangan kosong itu, jadi ya hanya kamu sendiri yang tahu".


"Aku tadi cuma sekedar lihat-lihat ruangan itu, aku kira itu ruangan apa, gak tahunya hanya ruangan kosong yang sudah lama tidak terpakai". Jelas Rania berbohong.


Sesampainya di kelas, ponsel Rania berdering. Rania keluar untuk menerima panggilan telepon.


"Hallo, kak ada apa?".


"Nanti sepulang dari kampus, adek langsung ke kantor ya?".


"Mau ngapain kak? males ah, kalau kakak ada perlu sama adek mending kita bicarakan di rumah".


"Gak bisa, abang malam ini ada lembur di kantor, jadi pulangnya larut malam".


"Baiklah, tapi ada syaratnya".


"Tanpa sayarat!".


"Kalau gak mau ya sudah, gak masalah buat adek, kan yang perlu kakak bukan adek, mendingan adek pulang bobo manis di rumah".


"Ok.. ok.. Tapi syaratnya jangan yang sulit".


"Gak sulit kok kak, hanya temenin adek makan siang dan anterin adek pulang, gak sulitkan?".


"Dengan penampilan adek yang seperti itu? No, abang gak mau".


"Ya sudah kalau gak mau, dari tadi juga adek gak tertarik dengan apa yang mau kakak omongin".


"Ya... Ok!, abang setuju dengan syarat adek".

__ADS_1


"Nah gitu dong, culun gini juga aslinya cantik kakak, oya kak bilangin supir adek, jangan jemput karena adek pergi ke kantor kakak naik taksi".


"Gak, adek tetep harus diantar supir atau gak sama sekali".


"Baiklah, kalau tidak mau adek pulang saja".


"Iya nanti abang hubungin tu supir supaya gak jemput adek".


"Terimakasih kak Kenan sayang, emmuuacchh, adek makin sayang sama kakak, dah dulu ya, adek ada kelas, bye".


Sambungan telepon terputus secara sepihak, sementara Kenan di kantornya uring-uringan karena tidak pernah menang adu argumen sama adiknya.


Rania langsung masuk kelas, namun tanpa sepengetahuan Rania ada sepasang mata yang melihatnya dari kejauhan.


Siapa yang menghubunginya? mengapa dia sebahagia itu?, arrgghh... ada apa denganku ini, apa mungkin aku suka sama gadis culun itu?. Kevin.


Kevin pun tidak menyadari sedari tadi ada yang memperhatikan tingkahnya.


"gue yakin pak Kevin demen ama si culun". Ujar salah satu gadis yang dari tadi memperhatikan tingkah dosennya.


"Apa lo kata? demen, yang bener aje lo, masa iye noh, sohib kite kalah ma tuh cewek culun". Celetuk gadis lainnya membuat gadis yang di gibahin menjadi berang.


"Gue gakkan kalah ma tuh cewek culun, dia akan menyesal karena berani menggoda calon imam gue". Gadis itu pun lalu menghubungi seseorang.


"....."


"Gue mau, lo bikin dia nyesel seumur hidup karena udah berani berurusan sama gue, terserah mau lo apain, gue mau tahu semuanya beres".


".....".


"Masalah itu gampang, lo kayak gak kenal siapa gue, gue akan bayar separuh dulu, sisanya setelah kerjaan lo beres".


"....."


"Ok, jangan buat gue kecewa". Lalu gadis itu menutup teleponnya.


"Wah, gile lu Nad, kriminal itu, gue kagak mau ikutan ye, kalau lo kesandung masalah ama si culun".


"Iya, gue juga, gak mau ikutan, serem, takut nasib gue sama seperti kasus cewek yg mati bunuh diri setahun lalu".


"Eh.. Sinting lo ya, tuh cewek mati bunuh diri karna dia berani ngusik keluarga penguasa negeri ini, lah tuh culun siapa? emang bisa bikin kita bangkrut, nyentuh kita aja belum tentu berani".


"Dah nyok, kite masuk kelas".

__ADS_1


Mereka pun pergi, gadis yang diketahui bernama Nadia, Jessie, dan Karel memang terkenal badung, apalagi sama mahasiswi yang terlihat lemah, akan menjadi bahan bullyan mereka setiap hari.


"Mereka mau berbuat ulah apalagi lagi kali ini?". Tanya seorang cowok yang sempat mendengar obrolan dari ketiga gadis bengis itu.


"Kelihatannya mereka mau ngerjain mahasiswi baru yang culun itu deh". Saut seorang lagi.


"Eh.. mau kemana Than".


"Gue mau nyamperin tu cewek resek". Sautnya.


"Jangan gegabah Than, kita harus cari bukti yang akurat dulu".


"Iya, nanti kita ikutin aja tuh cewek culun, untuk memastikan dia aman".


"Bener juga, kita akan awasi gerak-gerik mereka dari jauh".


Ketiga cowok itu adalah Rio, Rasya dan Nathan. Yang ternyata salah satu diantara mereka adalah sahabat baik Rania. Namun Nathan belum tahu jika, cewek culun adik tingkat mereka adalah Rania sahabatnya waktu di Kalimantan.


****


Ditempat lain, kevin sedang sibuk di ruang kearsipan mahasiswa, dia mencari data tentang identitas cewek yang selama ini sudah mengusik pikirannya.


Akhirnya ketemu juga. Gumam Kevin saat mendapatkan map tentang biografi gadis culun itu.


Rania, namanya seperti familiar tapi disini tidak ada nama keluarganya ataupun fotonya, sedikit sekali dia menuliskan data pribadinya. Apa memang seperti itu kenyataannya. Senyumnya juga sangat familiar tapi apa iya, sepertinya tidak mungkin. Kevin ngoceh sendiri.


Kevin sengaja tidak masuk kelas Rania hari ini, Dia hanya memberikan tugas membuat makalah karena dia sedang berkutat di ruang kearsipan mencari informasi yang akurat tentang siapa Ran sebenarnya. Sebab Kevin merasa yakin pernah melihat Ran sebelumnya.


Selama ini Kevin tidak mengetahui nama sebenarnya Rania, yang dia tahu hanyalah Nia adik sahabatnya. Kevin memang acuh soal perempuan, dalam hidupnya hanya ada empat nama perempuan yang dikenallnya dengan baik.


Mereka adalah Hanum ibunya sendiri, tante Sintia ibu sahabatnya, Amanda mantan kekasihnya, dan Nia adik sahabatnya.


Namun di kelas yang ditinggalkannya terjadi kericuhan, tiga cewek Bengis yang tanpa ampun membully mangsanya, kini ada di kelas Rania.


"Mana si Culun?". Teriak Nadin yang merupakan kepala geng mereka.


"Eh, kalau manggil orang yang sopan dong kak, culun-culun gitu kan dia punya nama". Saut salah satu mahasiswa.


"Diem bacot lo ya, gue gak cari lo, gue cari si Culun, kecuali lo mau mati juga". Rutuknya lagi. Mahasiswa itupun akhirnya terdiam karena ancaman Nadia.


"Ran, kamu dicariin tuh". Senggol Chika sambil meningkatkan kewaspadaan khawatir terjadi baku hantam.


****BERSAMBUNG***

__ADS_1


__ADS_2