
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja dulu, kamu pasti lelah, setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh" ujar Sintia.
"Kamu mau disiapkan kamar sendiri, atau mau satu kamar bersama Nia?" tanya Sintia kemudian.
"Mela satu kamar saja bersama Nia, Tante" sahut Mela.
"Baiklah sekarang kamu istirahat saja di kamar Nia, jika tidak ingin disiapkan kamar sendiri" ujar Sintia.
"Bang, bawa naik kopernya Mela!" perintah Sintia pada Kenan.
"Tidak perlu Tante, Mela bisa membawanya sendiri, nanti merepotkan kak Kenan" ucap Mela sungkan.
"Kamu itu perempuan nak, disini diantara kita, ada lelaki, kopermu berat, jadi biar Kenan yang membawa koper mu ke atas" jelas Sintia.
"Ya sudah jika Tante memaksa, Mela bisa berbuat apa, maaf ya kak Kenan" ujar Mela tersenyum.
Kenan hanya membalas dengan senyuman menawannya, lalu Kenan melangkah pergi dengan membawa koper milik Mela menuju kamar adiknya.
Mela hendak menyusul Kenan namun langkahnya terhenti, karena dia teringat sesuatu.
"Tante, sebelum Mela berangkat ke Jakarta, ibu sempat menitip salam buat Tante dan keluarga disini" ujar Mela menyampaikan amanah dari ibunya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Sintia.
"Apakah ibu mu sehat?" tanya Sintia.
"Alhamdulillah Tante, ibu sehat" sahut Mela.
"Sekarang istirahatlah dulu, nanti setelah Nia datang baru kita makan siang bersama" ujar Sintia.
Mela mengangguk sopan, kemudian dia melenggangkan kakinya menaiki setiap anak tangga menuju kamar Rania.
Kenan yang telah tiba lebih dulu di kamar Rania, langsung meletakkan koper milik Mela. Setelah itu dia berbalik hendak keluar, namun naasnya Mela telah sampai di kamar dan berada tepat di belakangnya.
Tabrakan pun tak dapat dihindari, Kenan menabrak tubuh ramping milik Mela, hingga tubuhnya terdorong ke belakang. Kenan dengan sigap meraih tangan Mela agar tak terjatuh, tanpa terduga pandangan mata keduanya saling bertemu. Pandangan itu buyar ketika terdengar suara Rania yang mengejutkan keduanya.
"Maaf" ujar Kenan, sambil melepaskan genggaman tangannya.
Hanya kata itu yang lolos keluar dari bibirnya ketika hatinya didera rasa malu.
"Tidak apa-apa kak, Mela seharusnya yang minta maaf karna tidak bilang jika Mela berada di belakangnya kak Kenan" sahut Mela tersipu.
Kenan lalu pergi meninggalkan Mela sendiri di kamar adiknya. Jantung keduanya berdetak dua kali lebih cepat setelah terjadinya adegan yang tak terduga.
"Ya Tuhan perasaan apa ini?" ujar Kenan lirih sambil menyentuh dada bidangnya.
Sementara Mela yang berada di dalam kamar Rania, tidak dapat beristirahat dengan tenang. Detak jantungnya terus berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Bisa mati konyol aku, jika terus berada di rumah ini, jantungku menjadi tak sehat, jika terus bertemu dengan kak Kenan, sadar Mela kamu jangan ngimpi disiang bolong" ujar Mela sambil menepuk kedua pipinya.
__ADS_1
****
Tidak seperti biasanya, hari ini Rania pulang dari kampus tidak langsung ke kamarnya, melainkan pergi ke halaman belakang bersama keempat sahabatnya.
"Nia, aku ke toilet dulu ya!" ujar Nathan.
Rania dan sahabatnya yang lain, hanya menanggapi dengan anggukan kepala.
Setelah berada di halaman belakang, Rania melihat ibunya sedang duduk santai disebuah gazebo yang cukup luas, tempat ini sengaja disediakan untuk sekedar duduk santai, menghilangkan kepenatan karena seharian bekerja.
"Bunda ada disini!" seru Rania.
"Iya sayang, bunda sengaja menunggu kamu disini" sahut Sintia.
"Apa kamu belum naik ke kamar?" tanya Sintia heran.
"Belum bunda, adek sengaja langsung kesini, biar seger lihat sekeliling rumah, karna adek sama temen-temen mau bahas soal acara ulang tahun adek" jawab Rania.
"Kenapa bunda?" Rania balik bertanya.
"Apa adek sekarang sudah nyaman dengan penampilan seperti itu?" ujar Sintia yang menjawab pertanyaan putrinya dengan sebuah pertanyaaan.
"Anggap saja seperti itu bunda" celetuk Rania santai.
"Bunda kenalin ini temen-temen adek di kampus" lanjut Rania memperkenalkan para sahabatnya kepada ibunya.
"Dia tadi pamit ke toilet, Tante" sahut Chika.
Ehem ...
Terdengar suara deheman dari arah belakang, semuanya lalu mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.
"Teman-teman kenalkan, ini kak Kenan, abangku satu-satunya" ujar Rania sambil menghampiri dan merangkul pinggang abangnya.
"tampan" ujar Chika spontan tanpa sadar.
"Tentu! Sehingga ketampanannya membuat abangku banyak digandrungi oleh kaum hawa, salah satunya kamu Chik yang sudah mengakui ketampanannya" jelas Rania.
Seketika wajah Chika berubah menjadi Semerah tomat, dia tidak mengira ungkapan hatinya terdengar begitu saja oleh yang lainnya.
Heh hati, kamu mengapa berkhianat! Aku kan hanya sebatas mengaguminya dalam hati saja, lalu mengapa kamu mengungkapkannya, sungguh ini aib bagiku mau taruh dimana mukaku!" rutuk Chika dalam hati.
Setelah dikenalkan kepada para sahabat adiknya, Kenan lalu melenggangkan kakinya menuju gazebo tempat dimana ibunya duduk santai.
Suasana di rumah Rania siang itu sangat riuh sekali, hari ini untuk pertama kalinya teman-teman Rania bertamu ke rumahnya. Sesekali terdengar gelak tawa dari mereka.
****
Sementara Mela yang berada di kamar Rania tidak dapat memejamkan matanya, pikirannya masih tertuju pada kejadian yang baru saja dialaminya.
__ADS_1
Mela mendekati balkon kamar yang mengarah ke halaman belakang, sesekali terdengar olehnya suara teriakan-teriakan canda tawa di bawah sana. Rasa penasaran bergelayut di hatinya, Matanya lalu melihat kearah halaman belakang, lalu tertuju langsung pada kedua sahabatnya, Rania dan Nathan.
Rasa rindu yang teramat sangat, membuatnya enggan lagi untuk beristirahat, akhirnya dia memutuskan untuk turun ikut bergabung dengan mereka.
Ditengah gelak tawa yang riang, wajah Rania tampak murung, seperti ada yang dia pikirkan.
"Kamu kenapa dek?" tanya Kenan yang dapat membaca perubahan diwajah adiknya.
"Andai saja mereka ada disini, pasti semuanya akan terasa lebih menyenangkan" sahut Rania.
"Siapa yang kamu maksud Ran?" tanya Rio heran.
"Sahabat-sahabat ku yang lainnya, Mela, Ayu dan Dafa" jawab Rania.
"Siapa mereka?" tanya Rasya.
"Mereka sahabat SMA ku" jawab Rania.
"Dimana mereka sekarang?" tanya Rasya lagi.
"Mereka sekarang kuliah di luar negeri, tapi salah satu diantara mereka, ketika ulang tahun Nia nanti akan datang" sahut Nathan.
"Nia? Siapa lagi itu?" tanya Rio bingung.
"Itu namaku Rio, sedangkan Ran itu nama untuk menutupi identitas asliku saja, agar tidak banyak yang tahu siapa aku sebenarnya" ungkap Rania.
"Kalian bahas apa? Kelihatannya seru banget" ujar Mela setelah berada di luar rumah.
"Mela!" seru Rania setelah melihat ke belakang.
Rania berlari menghampiri sahabatnya yang selama ini di rindukan kehadirannya, mereka saling mendekap erat melepas rindu.
"Kamu kapan datangnya? Kenapa tidak memberitahukan ku, kalau kamu mau datang hari ini!" tanya Rania beruntun.
"Aku sengaja ingin memberimu kejutan" sahut Mela.
"Ya, dan kamu berhasil membuatku terkejut" ujar Rania.
Nathan bersama teman-temannya yang lain turut menghampiri, kecuali Kenan dan Sintia, keduanya hanya menyaksikan dari gazebo.
"Hai Mela, apa kabarmu?" sapa Nathan.
"Kabarku baik Nathan, aku rindu padamu" sahut Mela sambil merangkul tubuh sahabatnya yang memang sangat dirindukan olehnya.
Melihat adegan yang dipertontonkan oleh Mela dan Nathan, membuat dua hati yang lain terasa sesak oleh rasa yang tidak dipahami sang pemilik hati.
Kenan dan Chika tampak gusar dengan apa yang mereka lihat.
****BERSAMBUNG****
__ADS_1