Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
57. KEHANCURAN KELUARGA JENA


__ADS_3

Setelah ayahnya beristirahat dengan nyaman, Jena pun pergi menuju dapur untuk memasak sendiri menu makan siang buat keluarganya. Para maidnya sudah diberhentikannya beberapa hari yang lalu untuk meminimalisir pengeluaran.


"Kemana para maid di rumah ini?" tanya ibunya ketus.


"para maid, sudah Jena berhentikan saat papa masih dirumah sakit ma, tapi mama jangan khawatir semua pekerjaan para maid Jena sendiri yang akan melakukannya".


"Lihat apa yang sudah kau lakukan, kau mengacaukan semuanya Jena, semua ini karena kebodohanmu" sungut ibunya penuh kebencian.


"Cukup ma, Jena tahu jena salah, tapi please ma dukung jena untuk mempertahankan kejayaan perusahaan keluarga kita".


"Apa katamu mempertahankan kejayaan perusahaan kita? apa kamu buta? apa kamu tuli heh? jangan kau kira aku tidak tahu keadaan di perusahaan yang sedang diambang kebangkrutan".


"Jena tahu ma, tapi setidaknya bantu Jena agar keluarga kita tetap bisa bertahan" isak jena.


"huh, hard to believe, my family was destroyed in the hands of my own daughter". Ibu Jena lalu pergi meninggalkan putrinya sendirian di dapaur.


"Maafkan Jena ma, sungguh Jena menyesal" ujarnya setelah mendengar umpatan dari ibunya.


Jena melanjutkan aktifitas memasaknya dan ibunya pergi menuju ruang baca untuk sekedar menenangkan pikirannya.


Sementara di dalam kamar ayah Jena sudah merasa bosan, karena tidak ada yang bisa dilakukannya semua fasilitas yang menghubungkannya dengan dunia luar tidak ditemukannya.


Alih-alih untuk menghilangkan kejenuhannya, ayah Jena keluar dari kamar untuk menghirup udara segar, sesampainya di ruang keluarga langkahnya terhenti saat melihat remote TV ada diatas meja sofa, ayah Jena pun meraih remote itu dan menyalakan TV mencari stasiun televisi yang mewartakan berita terkini.


Ayah Jena terkejut saat melihat dan mendengar tentang kehancuran perusahaannya yang kini sedang menjadi trending topik teratas di kalangan pebisnis, kejutan akut dijantungnya merenggut nyawanya seketika.


Saat kejadian itu tidak ada yang mengetahui baik Jena ataupun ibu Jena. Setelah beberapa saat kemudian Jena pun selesai dengan aktifitas memasaknya. Lalu dia bergegas keluar dapur untuk mengajak ayah dan ibunya makan siang.


Ketika melintasi ruang keluarga Jena mendapati ayahnya terduduk di sofa dengan wajah menengadah ke langit-langit rumah dan mulut yang sedikit terbuka, untuk sesaat Jena terkejut lalu mendekati ayahnya memeriksa detak jantung dan urat nadinya, sapuan nafas halusnyapun sudah tak terasa.


"Pa, papa bangun pa" Jena berusaha meyakinkan diri jika ayahnya masih hidup namun tidak ada reaksi apapun dari ayahnya.


"Papaaaaa!" jerit Jena memecah kesunyian. Ibunya lalu keluar ruangan.

__ADS_1


"Ada apa Jena, mengapa kau berteriak, belum puas kamu membuat kehebohan heh? sungut ibunya murka.


"Ma.. Papa ma, papa sudah gak ada, papa meninggal ma" isak Jena pecah.


"Apa? gak mungkin suamiku meninggal, cepat panggilkan dokter, cepaaattt" teriak ibu Jena saat melihat suaminya tak lagi bereaksi. Jena pun menuruti perinyah ibunya. Tidak lama kemudian dokterpun datang dan memeriksa keadaan ayah Jena.


"Dokter bagaimana?".


"Maaf nona, saya tidak bisa menyelamatkan nyawa ayah anda, beliau sudah meninggal setengah jam yang lalu" ungkap dokter.


"Tidak dokter, suamiku tidak boleh meninggal, bagaimana mungkin dia meninggalkanku sendirian, tolong dokter periksa kembali suamiku" tangis ibu Jena pecah.


"Tapi maaf nyonya, suami anda memang sudah meninggal" jelas dokter yang kemudian pamit undur diri karena ada pasien lain yang sedang menunggunya.


"Ma.. Jena tahu ini sangat menyakitkan buat kita, tapi mama harus kuat menghadapi takdir dari Tuhan" bujuk Jena.


"Apa katamu, takdir Tuhan, kamulah yang sudah membunuh suamiku, kamu pembunuh, kenapa harus suamiku yang meninggal kenapa bukan kamu saja heh" tangis ibu jena membahana penuh kebencian.


Sakit hati Jena saat mendapat perlakuan dan ujaran kebencian dari ibunya namun dia harus tetap tenang untuk menghadapi ibunya yang belum terima dengan keadaan mereka.


Jena mengurusi jenazah ayahnya dibantu dengan para tetangga sementara ibunya masih terus saja bersedih atas kepergian suaminya. Hingga menjelang sore pemakaman ayah Jena telah selesai para pelayat kembali ke rumah masing-masing begitu pula dengan Jena dan ibunya.


Malam hari terasa sunyi dan sepi hanya terdengar suara isak tangis dari kamar masing-masing ibu dan anak. sesekali terdengar suara teriakan-teriakan pilu dari kamar ibu Jena.


Maafkan jena pa, sungguh Jena sangat menyesal. Gumam pilu hati Jena.


****


Dua bulan sudah ayah Jena pergi meninggalkan Jena dan ibunya. Kini hidup Jena semakin terpuruk, keadaannya yang tidak bekerja membuat penampilan Jena terkesan biasa-biasa saja bahkan wajah anggun dan cantik yang selalu ditampilkannnya hilang tergerus oleh wajah kusam yang menghiasi dirinya.


Keadaan ini diperburuk setelah sebulan yang lalu dia terpaksa harus melelang perusahaannya untuk memenuhi tuntutan pesangon para karyawan dan membayar royalti ke peruasahaan Kenan sesuai janji yang telah disepakati.


Hidup Jena kini jauh dari kesan mewah, penyesalannya pun semakin menjadi ketika harus menghadapi kenyataan bahwa ibunya harus di rawat di rumah sakit jiwa karena depresi yang dialaminya.

__ADS_1


Lagi dan lagi Jena harus kembali terpuruk saat harus melelang rumahnya untuk biaya pengobatan ibunya. Padahal rumah itu adalah harta satu-satunya yang masih dia miliki kini dia sudah tidak punya apa-apa lagi.


Jena terpuruk sangat dalam, kejadian yang menimpa dirinya sungguh mengerikan semua karena ancaman Kenan yang tidak pernah main-main.


Jena sayang mama, maaf jika Jena sudah membuat mama menderita. Jena.


Hingga pada satu titik kelemahannya, dia sudah tidak sanggup lagi menjalani hidupnya. Tatapannya yang kosong menuntunnya terus berjalan tanpa henti dan akhirnya.


BRUUKKK


Terdengar patahan-patahan tulang dari tubuh Jena yang kurus jatuh dari ketinggian dua puluh meter. Darah segar mengaliri dari bawah tubuhnya yang sudah tak bernyawa. Begitulah cara Jena mengakhiri hidupnya meninggalkan segala kenangan pahit kehancuaran keluarganya.


****


Berita tentang kematian JENAHARA SUMAKI telah sampai ditelinga Kenan ada senyum kepuasan dibalik bibirnya yang seksi. Jasadnya sudah hampir membusuk karena sudah tiga hari yang lalu dan baru ditemukan jasadnya di sekitar gedung kosong pinggiran kota.


"Apa kak Kenan yang membunuh Jena?" selidik Rania.


"Pertanyaan konyol macam apa yang adek ajukan sama abang, mana mungkin abang akan mengotori tangan abang, itu pilihannya sendiri mungkin sudah tidak sanggup untuk bertahan hidup" saut Kenan santai.


"Iya, kak Kenan tidak akan membunuhnya tapi bisa sajakan orang suruhan kakak yang melakukannya, seperti perbuatannya dulu ke adek".


"Adek, semarah apapun abang mana mungkin abang akan menjerumuskan diri abang ke jeruji besi, sudahlah jangan dibahas ok?".


"Tapi bagaimana mungkin seorang wanita yang berpendidikan bisa memilih jalan kematian untuk dirinya?".


"Bisa saja jika dalam keputus asaan, ayahnya meninggal, ibunya gila, hartanya habis hanya karena cemburu buta, apa itu masuk akal? dan itu harga mahal yang harus dibayar Jena terhadap apa yang sudah dilakukannya kepada kita".


Mendengar jawaban dari abangnya membuat Rania bergidik ngeri, mengetahui sisi kekejaman abangnya. Pelajaran yang diberikan Kenan terhadap keluarga Jena sungguh mahal, bila dibandingkan dengan perbuatannya.


****BERSAMBUNG****


Bantu votenya ya readers... like dan komentarnya.

__ADS_1


Maaf untuk beberapa hari kemarin author tidak up karena kondisi yang sangat mendesak, semoga up kali ini mengobati kerinduan para readers.


HAPPY READING...


__ADS_2