Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
82. PERGI BERLIBUR part 2


__ADS_3

Tiga puluh menit perjalanan dari rumah Kenan menuju bandara, kini Rania telah sampai. Dua puluh menit lagi pesawat yang akan membawanya ke Kalimantan berangkat, kali ini Rania tidak menggunakan pesawat pribadi milik keluarganya.


Rania ingin perjalanan liburannya kali ini berbaur dengan masyarakat umum, dia memilih naik pesawat komersil. Setelah turun dari mobil, Rania menyuruh mang Ujang langsung pulang tidak perlu menunggunya hingga berangkat.


"Mang Ujang langsung pulang aja, gak usah nungguin saya sampai berangkat!", perintah Rania pada sopirnya.


"Tapi nona muda, perintah tuan..", kata-katanya terpangkas.


"Disini!, saya yang memberi perintah dan aturan, paham!", sergah Rania.


"Baik nona muda, saya akan langsung pulang", saut sopir kemudian.


"Makasih ya mang sudah mengantarkan saya dengan selamat", ujar Rania.


"Sama-sama nona muda, itu sudah menjadi kewajiban saya", saut mang Ujang sopan.


Rania kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang keberangkatan, tersisa waktu sepuluh menit sebelum akhirnya pesawatnya lepas landas meninggalkan landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta.


Rania masih sempat menghubungi Kenan, abangnya.


"Assalamu'alaikum kak, sekarang adek sudah ada di Bandara", ujar Rania.


"Wa'alaikumsalam dek, hati-hati di Jalan, bunda sudah dikabari jika adek akan pergi ke Kalimantan?", tanya Kenan.


"Sudah, tapi gak mulus seperti jalan tol, nanti siap-siap aja kak Kenan kena semprot Bunda", Rania tertawa.


"Apakah Bunda sudah di rumah waktu adek berangkat?".


"Ya! tapi ketika adek berangkat, ada orang tua Kevin ke rumah".


"Mau ngapain?", tanya Kenan heran .

__ADS_1


"Tau, kak udah ya!, pesawat adek udah mau berangkat, jaga Bunda selama adek tidak ada, bye".


"Siap tuan putri, cepat kabari ketika sudah sampai Kalimantan, bye cantik", Kenan menutup telponnya.


Selang beberapa menit kemudian, Rania kini sudah berada di dalam pesawat, menikmati pemandangan atas awan dari balik jendela pesawat. Tubuhnya yang lelah, posisi duduknya yang nyaman, membuat kelopak matanya perlahan meredup, Rania pun terlelap bersama penumpang yang lain.


Satu jam terbang di atas awan bersama burung besi, akhirnya Rania samapai di Bandara Kalimantan, jiwanya yang sudah tidak sabar untuk menghirup atmosfir pulau Borneo, bergegas keluar dari bandara. Selain itu juga dia sudah sangat rindu dengan sahabatnya Mela, hingga dia lupa pesan abangnya untuk menghubunginya segera jika sudah sampai di Bandara Kalimantan.


*****


Sementara di Jakarta, tepatnya di rumah Kenan, kedua orang tua Kevin datang berkunjung berniat untuk meminta maaf atas penolakan putra mereka terhadap seorang gadis, yang notabennya adik seorang CEO pengusaha muda, billionere, sang penguasa negeri ini.


Hampir dua jam, orang tua Kevin berada di rumah Kenan, mereka duduk santai diruang keluarga, sebelum akhirnya mereka menyampaikan niat tujuan mereka berkunjung.


"Sintia, aku mau minta maaf atas sikap putraku tempo hari, sungguh aku gak menyangka Kevin akan berbuat seperti itu, sebelumnya dia tidak pernah seperti ini", ungkap Hanum.


"Selain itu, tujuan kami kemari, meminta agar kamu tetap meyakinkan Nia putrimu, menerima Kevin, kali ini akan kami pastikan dia menerima perjodohan ini", timpal Ounur.


"Sebenarnya aku juga inginnya seperti itu, Nia tetap berjodoh dengan Kevin", ucap Sintia. Tanpa sepengetahuan mereka ternyata pembicaraan mereka terekam oleh indra pendengar Kenan yang sejak tadi berdiri mematung dibalik tembok pembatas anatara ruang tamu dan ruang keluarga.


"Perkara mereka jodoh atau tidak, biarlah kali ini tangan Tuhan yang bekerja, jujur aku juga sangat kecewa merasa dipermalukan, sebelumnya juga berkali-kali aku diperingatkan oleh Kenan agar membatalkan perjodohan ini, tapi aku mencoba meyakini janjimu, bahwa kamu akan selalu mengawasi putramu agar tidak tertarik dengan gadis lain, tapi ternyata aku salah", jelas Sintia.


"Maafkan aku akan hal itu Sin, itu sebabnya aku ingin tetap melanjutkan perjodohan ini, aku ingin menebus semua janjiku padamu", Hanum menghiba.


"Sudahlah, urusan anak-anak kita serahkan saja pada mereka kita jangan ikut campaur, siapa tahu setelah kejadian ini ada kemajuan dalam hubungan mereka, jika itu terjadi kita tinggal merestuinya saja", ujar Sintia. Lalu ponsel Kenan berbunyi. Mereka yang ada diruang keluarga menoleh ke sumber suara dibalik tembok.


"...."


"Wa'alaikumsalam, kebiasaan kamu dek, ok havefun ya selama disana", jawab Kenan yang seolah baru pulang dari kantor. Kenan menutup sambungan teleponnya.


"Assalamu'alaikum Om,Tante, sudah lama?', tanya Kenan seolah-olah dia belum tahu keberadaan tamunya.

__ADS_1


"Sudah lama kami disini, oh ya Sin, sekalian saja kami berdua pamit undur diri dulu", ujar Ounur.


"Loh Om, kok sudah mau pulang aja nih, kita bisa ngobrol santai dulu Om", ajak Kenan.


"Lain waktu saja nak, Om ada keperluan lagi ditempat lain", saut Ounur.


"Baiklah Om, jika itu keadaannya". Orang tua Kevin pun segera meninggalkan rumah Kenan. Lalu Kenan pun melenggang pergi menuju kamarnya, sementara Sintia heran kepada putranya tidak seperti biasanya putranya itu cuek, jika ada tamu yang datang.


Pasti dia akan langsung bertanya apa tujuan tamunya datang, jika dia belum mengetahuinya. Namun Sintai tak ingin ambil pusing, persoalan dengan putrinya saja sudah membuatnya pusing.


****


Rania mengabari abangnya , setelah setengah jam kedatangannya dari Jakarta, waktu sudah sore, terik matahari mulai terasa menghangat.


Rania berbaring di atas kasur king sizenya yang sudah lama tidak ditidurinya, matanya menelisik ke setiap sudut penjuru ruangan, tidak ada yang berubah satupun, semua masih sama persis saat dia tinggalkan dua tahun yang lalu.


Sebelum dia larut dalam kantuknya, dia menyempatkan diri untuk menghubungi sahabatnya.


"Hallo, Nia", sapa Mela dalam panggilan video.


" Hai Mela, kamu dimana?".


"Aku ada di rumah, kenapa? eits.. tunggu dulu, baground kamar kamu! seperti kamarmu yang di... jangan-jangan kamu udah ada di Kalimantan ya?'.


"Iya Mel, aku sudah di Kalimantan, besok kita ketemuannya, sekarang aku capek, mau istirahat, gak papa ya?".


"Iya gak papa Nia, kamu memang harus istirahat setelah melakukan perjalanan jauh, kan gak lucu kalau kamunya sakit, besok setelah fresh baru kita mengenang semua tempat-tempat yang pernah menjadi kenangan kita semasa SMA".


"Iya aku juga rindu dengan tanah kelahiran kita, udah lama juga aku meninggalkan tanah kelahiranku, tanah Borneo, disini banyak sekali kenangan yang sulit untuk kulupakan".


"Iya samapai besok ya nia?".

__ADS_1


"Ok, bye Mela". Rania lalu menutup panggilan videonya. Mata Rania kemudian ditawan kantuk, angin sepoi-sepoi yang masuk melalui jendela kamar menambah kesejukan kamar Rania. Dia pun semakin larut dalam kantuknya meski hari merangkak senja.


***BERSAMBUNG***


__ADS_2