
"Oh.. Beraninya kau berteriak dirumahku heh?" Kenan meradang.
"Maaf sayang ak..". "Kau sudah kehilangan hak untuk menyebutkan kata itu kepadaku".
"Seperti apa yang kau katakan, masalahku adalah denganmu, dengar baik-baik mulai detik ini aku tidak sudi berbagi kasih lagi denganmu, kau sudah menikamku dari belakang, kesalahanmu tak termaafkan".
"Aku tidak akan mengirimmu ke penjara karena itu terlalu ringan untukmu, aku ingin kau menyaksikan kehancuran keluargamu sendiri didepan matamu agar kau selalu ingat kesalahanmu terhadap keluargaku dan dengan secara sadar telah berani mempermainkan KENAN CAHYA ATMAJA".
"Dan untukmu orang tua, aku akan menarik semua sahamku dari perusahaanmu dan kau harus membayar royalti setiap bulannya sebesar 85% ke perusahaan ATMAJA COMPANY dari setiap investor yang datang ke perusahaanmu sesuai perjanjian yang telah disepakati kita sebelumnya, karena kau telah mengecewakanku atas perbuatan perempuan ****** ini".
deg
Jantung Jena melemah serasa berhenti semua aliran darahnya membayangkan kehancuran perusahaan keluarganya yang sudah dibangun oleh ayahnya selama bertahun-tahun dengan susah payah kini harus hancur dalam sekejap mata karena kebodohannya.
"Tolong Kenan jangan hancurkan perusahaan ayahku, aku mohon... Aku siap melakukan apapun asal jangan kau hancurkan perusahaan ayahku Kenan, aku mohon". Jena bersimpuh dikaki Kenan sambil terus menangis.
"Baik, akan aku kabulkan permintaanmu aku tidak akan menghancurkan perusahaan ayahmu tapi dengan satu syarat". Kenan tersenyum culas.
"Apa syaratnya cepat katakan Kenan?" ujar Jena antusias.
"Ck..ck..ck.. Sabar Jena, syaratnya hidupkan kembali ayahku dan bawa kehadapanku sekarang, bisa? jika tidak, jangan bermimpi untuk melihat perusahaan keluargamu jaya seperti saat ini, jangankan untuk bangkit untuk memulainya lagi pun kau takkan mampu".
"Ku ingatkan kau sekali lagi jika ingin mempermainkan Kenan berpikirlah dulu untuk mencari jalan keluarnya karena jika sudah masuk dalam lingkaran labirin Kenan sulit untuk keluar bahkan mustahil untuk keluar hidup-hidup".
Mendengar penuturan Kenan membuat keluarga Jena bergidik ngeri, jika ancaman Kenan benar-benar terjadi. Keluarga Jena pun tak mampu untuk berbicara sekedar untuk membela diri karena kemarahan Kenan sangat mengerikan.
Mereka pun tidak menyadari jika Rania sedang terduduk menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya yang menangkup lututnya diatas rerumputan halus karena ketakutan melihat kemarahan abangnya.
__ADS_1
"Sekarang kalian keluar dari rumahku!" teriak Kenan. "Sampah seperti kalian hanya akan mengotori rumahku".
Sintia hanya tertegun melihat kemarahan Kenan, dia tidak menyangka balasan yang didapat oleh Jena akan seburuk ini, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena apa yang dilakukan Jena sungguh tidak dibenarkan untuk alasan apapun.
Dengan gontai Jena membawa orang tuanya pergi namun tangan lemah Jena di tepis oleh ibunya, tatapannya nanar menusuk hati Jena. Dia dan suaminya tidak pernah menyangka jika putrinya akan melakukan perbuatan sekeji itu dan mereka pun tidak pernah dipermalukan sehina malam ini.
Jantung ayah Jena serasa nyeri membayangkan kehancuran yang mengerikan terhadap perusahaannya yang susah payah dibangunnya, jangankan untuk memikirkan nasib para karyawannya memikirkan nasib keluarganya sendiri saja dia sudah sulit, karena sangat mustahil untuk bisa hidup normal seperti biasanya jika ancaman Kenan benar terjadi.
Belum jauh mereka melangkah, sudah terdengar kembali suara Kenan yang memerintahkan orangnya untuk menarik semua saham miliknya dari perusahaan milik keluarga Jena.
Meskipun suara Kenan terdengar sangat jelas, ayah Jena berharap keajaiban datang menyelamatkan perusahaannya dari kehancuran.
Sejauh ini ayah Jena hanya sebatas mendengar jika sang penguasa negeri ini merasa dikecewakan maka tidak ada satu pun yang akan tersisa jika telah terbakar api kemarahannya dan itu dialaminya sekarang ini.
Ayah Jena hampir jatuh terjerembab ketika hendak naik mobil, begitu banyak beban yang menghimpitnya membuat jantungnya bekerja lebih cepat memacu peredahan darah yang mulai memanas dan akhirnya ayah Jena tak sanggup lagi bertahan saat itu juga ayah Jena jatuh pingsan didalam mobil.
"Lihat akibat dari ulahmu Jena, mama tidak akan pernah memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada papa" tutur ibu Jena ditengah kepanikannya.
Jena hanya terus menangis menyesali semua segala perbuatannya, akibat keegoisannya dia telah menghancurkan keluarganya sendiri.
Tuhan jangan hukum kedua orang tuaku atas perbuatanku sungguh aku tidak akan pernah sanggup melihat mereka terluka. Apakah rasanya sesakit ini? begitu sangat menderita melihat orang yang disayangi terluka? maafkan aku Rania kini aku tahu sakitnya hatimu tapi sungguh aku sangat terlambat". Sesal Jena dalam hati.
******
Rania yang masih ketakutan tak berani untuk beranjak dari tempatnya meski suara Kenan tak lagi terdengar, trauma yang pernah dialaminya terulang kembali.
Rania akan merasakan ketakutan yang sangat berlebihan jika mendengar teriakan Kenan yang bagai halilintar, saat remaja Rania pernah dimarahi Kenan hanya karena pergi nonton tidak mengabarinya, Kenan menjadi panik dan sejak saat itu Kenan menjadi posesif terhadap adiknya.
__ADS_1
Keringat dingin membanjiri tubuhnya, wajahnya masih sama diposisi semula tertunduk dan akhirnya Rania tidak sadarkan diri ditepi kolam renang yang terhalang kursi panjang. Tidak ada yang sadar akan keadaan Rania saat ini.
Setelah beberapa menit berlalu ketika Kenan sudah merasa tenang, dia berniat untuk menemui adiknya untuk meminta maaf atas semua sikapnya yang selalu menyalahkan Rania.
Diketuk pintu kamar Rania namun tidak ada jawaban, Kenan lalu membuka pintu kamar adiknya yang tidak terkunci.
Ceroboh sekali adek, pintu kamarnya tidak dikunci. Gumam hati Kenan.
"Dek, apa kamu di dalam?" wajah Kenan nongol dibalik pintu kamar Rania. Masih tidak ada jawaban Kenan pun masuk, cahaya lampu kamar adiknya masih menyala terang itu artinya Rania belum tidur pikirnya.
Kenan terus memanggil dan mencari menyisir seluruh ruang kamar adiknya yang luas, tidak ada tanda-tanda keberadaan adiknya.
"Bunda, apa adek bersama bunda?" saat melihat Sintia melintas di depan kamar Rania.
"Tidak, bunda belum melihat adikmu masuk" ujar Sintia.
"Bunda! apa mungkin adek masih diluar?" raut kecemasan diwajah Kenan. Mata sintia membulat sempurna mengingat putrinya trauma dengan suara teriakan Kenan.
"Abang, jangan-jangan adek...". Kenan langsung berlari menuruni tangga mengerti dengan maksud ibunya lalu disusul oleh Sintia yang juga panik terhadap keadaan putrinya.
Kenan menyisir seluruh halaman belakang berharap adiknya tetap baik-baik saja. Namun harapan Kenan sia-sia ketika melihat sosok tubuh kecil adiknya yang teronggok tak berdaya diatas rerumputan. .
"Adeeekk!" teriak Kenan dari kejauhan yang sudah melihat sosok Rania. Kenan mengangkat tubuh adiknya lalu membawanya ke dalam rumah. Kenan menyuruh salah satu pelayan untuk menelpon dokter.
Sintia menangis ketika melihat putrinya lemah tak berdaya wajahnya sangat pucat, keringatnya rembes keluar dari pori-pori kecil di wajahnya, sesekali terlihat cairan bening keluar dari sudut mata indah Rania yang terpejam.
***BERSAMBUNG***
__ADS_1