Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
51. KEPUTUSAN


__ADS_3

Tiga minggu sudah berlalu, sejak kejadian malam itu kini sikap Rania kepada abangnya melembut. Tidak pernah terpikrkan olehnya jika malam itu menjadi malam duka yang teramat mengerikan baginya.


Keadaan Kenan juga sudah mulai membaik, meski bekas luka ditelapak kakinya belum sepenuhnya mengering namun Kenan sudah mulai berjalan walaupun masih tertatih.


Barutan luka ditelapak kakinya tidak sebanding dengan luka kehilangan sosok yang begitu dicintai. Dari kejadian itu Kenan tak lagi mengelu-elukan cintanya, semuanya dibiarkan bagai air mengalir.


"Kak, boleh adek bertanya?" ujar Rania hati-hati.


"Mau tanya apa?" saut Kenan datar. "Apa kakak begitu mencintai Jena?".


"Mengapa kau tanyakan itu?". "Karena sejak kejadian malam itu sikap kakak berubah baik terhadap bunda maupun ke Nia, jika memang sikap kakak berubah karena itu maka pergilah kak, temui cintamu".


"Apa yang kau ucapkan itu benar?". "Ya, jika dengan itu kak Kenan ku yang dulu bisa kembali lagi, Nia hanya kasihan sama bunda jika kakak berubah hanya karena Jena".


Aku sudah kehilangan sahabat-sahabatku, akupun tidak mau jika harus kehilangan kamu kak Kenan, jika memang perbuatan Jena harus terkuak aku yakin cepat atau lambat Tuhan akan menunjukkannya padamu kak, semoga saja tidak terlambat. Rania.


"Makasih dek, karna udah ngertiin abang" Kenan senyum Bahagia.


Jika Jena membuatmu bahagia maka aku sanggup berkorban menahan luka seumur hidupku kak. Rania.


****


Tak terasa sudah empat bulan ayahnya pergi meninggalkannya, Rania merasa kesepian apalagi abangnya kini sudah kembali ke Jakarta, di rumah ini hanya dia dan ibunya serta para pelayan yang tinggal.


Sahabat-sahabatnya sudah mulai sibuk dengan kegiatan perkuliahannya, hanya sesekali saja mereka menghubunginya kecuali Nathan, akhir-akhir ini Nathan sering menghubunginya walau hanya sekedar menanyakan kabar.


Berbeda dengan Dafa yang hilang bagai ditelan bumi, sejak kejadian di rumah sakit itu Dafa taklagi pernah menghubunginya hingga hari ini, bahkan ketika dia ingin berangkat ke eropa pun tidak mengabarinya.


Aku merindukanmu wahai sahabatku, mengapa kau menghilang tanpa jejak. Apakah kau marah kepadaku? hingga sampai hati kau pergi tanpa kata. Tiada kabar berbulan-bulan, apa mungkin kau telah menemukan sahabat baru?. Rania. Sejenak dia merenung tentang keputusan yang ingin dia ambil untuk hidupnya.


"Lebih baik aku kuliah saja untuk mengisi waktu luangku" ucap Rania pada diri sendiri.


"Kamu sedang apa nak?" sapa Sintia yang melihat putrinya duduk sendiri.


"Gak ada bunda, adek hanya berpikir sepertinya sudah saatnya adek belajar lagi, menyambung studi yang pernah tertunda, bagaimana menurut bunda?".

__ADS_1


"Wah itu bagus nak, bunda setuju dengan kuliah dapat menambah wawasanmu".


"Baiklah jika bunda setuju, adek akan browsing jurusan yang cocok untuk adek, tapi adek kuliah dimana ya bun?".


"mmm... di luar negeri?". "gak ahh, adek gak mau jauh dari bunda" Rania menggelengkan kepala.


"Kalau di kota ini?". "Adek mau cari suasana baru bun, di kota ini terlalu banyak menyimpan kenangan pahit bunda".


"Bagaiman kalau di Jakarta, disana banyak kampus yang terbaik sesuai dengan jurusan yang kamu inginkan, lagi pula kamu tidak akan jauh dari bunda".


"Setuju, tapi bunda ikut adek ke Jakarta kita tinggal di rumah kak Kenan, bagaimana? bunda mau kan?". Sintia hanya tersenyum setuju. "Ye..." celetuk Rania berorasi.


"Bunda, ada yang mau Rania ceritakan ke bunda tapi bunda jangan marah" ucap Rania hati-hati.


"Cerita saja nak, bunda akan mendengarkannya".


"Bunda sebenarnya adek cidera kaki bukan karena jatuh tapi ditabrak orang yang nabrak sudah dipenjarakan, sementara dalangnya belum terjerat hukum".


"Lalu?" potong Sintia.


"Bunda sudah tahu" saut Sintia datar. "Bunda tahu dari mana? adek tidak pernah cerita sama siapa pun bahkan sama kak Kenan" tanya Rania heran.


"Mendiang ayah yang memberitahu bunda, waktu itu ayah tidak sengaja mendengar obrolan adek ditelepon saat ayah ada di ruang kerjanya" ungkap Sintia.


"Apa? jadi mendiang ayah sudah tahu?" Rania terkejut.


Apa penyakit ayah semakin parah karena tahu akan hal ini? Jena lihat saja sudah cukup ya kamu mengacaukan keluargaku lihat saja nanti, kamu akan merasakan hal yang lebih dari ini. Rania.


"Iya, sikap bunda pada Kenan pada waktu itu penyebabnya karena masalah ini, bunda marah karena Kenan buta mata hatinya, bunda tidak rela jika Jena menjadi menantu di keluarga kita" ungkap Sintia.


"Bunda sabar, semua ada waktunya".


****


Hari yang ditentukan telah tiba setelah pekan lalu Rania mengutarakan keinginannya untuk kuliah lagi. Hari ini Rania bersama ibunya memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan meninggalkan rumah di Kalimantan.

__ADS_1


Para pelayannya tetap dipekerjakan untuk merawat rumah besar itu, agar setiap kenangan yang ada di rumah besar itu tetap terjaga.


Sengaja Rania memilih hari ini untuk berangkat ke Jakarta karena besok adalah hari ulang tahun abangnya rencananya Rania ingin memberi kejutan.


Kedatangan Rania ke Jakarta tidak diketahui oleh Kenan, karena sekarang ini dia sedang berada di Singapore besok baru kembali ke Jakarta.


"Bik, kami berangkat ya, titip rumah ini jaga dan rawatlah rumah ini seperti rumah sendiri, mungkin dalam waktu yang sangat lama baru saya bisa berkunjung kemari, karena nona muda mau melanjutkan studinya di Jakarta" ungkap Sintia.


"Selamat jalan nyonya besar, semoga selamat sampai tujuan dan nona muda studinya lancar" saut bik Ijah.


"Amiinn". "Susi kamu jaga ibumu dengan baik ya, bantu beliau merawat rumah ini" ujar Rania.


"Baik mba Nia" saut Susi sambil berjalan beriringan menuruni anak tangga.


"Sudah siap bunda?" tanya Rania setelah sampai di bawah.


"Bunda sudah siap nak". "Ayo kita berangkat sekarang, takutnya nanti kita telat ketinggalan pesawat jadinya".


"Apa kita naik pesawat pribadi?" tanya Sintia karena yang menyiapkan semua akomodasinya Rania.


"Kali ini kita naik pesawat komersial, karena pesawatnya dibawa kak Kenan ke Singapore".


"Jadi Kenan gak ada di rumah?" tanya Sintia saat dalam perjalanan menuju bandara. "Kita mau ngasih kejutan buat kak Kenan bunda".


"Apa perihal adek mau kuliah lagi abangmu juga belum tahu?". "emm... belum karena masih lama bunda ke tahun ajaran barunya".


"Lalu kenapa kita pindahnya sekarang?". "Adek mau mengenal lingkungannya dulu bunda, biar insiden yang lalu tidak terulang lagi" saut Rania sekenanya.


"Jangan aneh-aneh dek". "Adek berkata bener bunda, apa bunda lupa siapa kita? pamor mendiang ayah belum pudar bunda, mereka tetap akan mencari tahu tentang kehidupan kita setelah ayah gak ada, bisa jadi diantaranya ada yang ingin mencelakai kita" jelas Rania lirih, saat mobil yang ditumpanginya tiba di bandara.


"Ayo bunda cepat, penerbangannya tinggal lima belas menit lagi" seru Rania pada ibunya.


***BERSAMBUNG***


jangan lupa tinggalin jejak, Ayo dong vote dan like nya biar authornya semangat.

__ADS_1


Komentarnya juga...


__ADS_2