Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
77. KEINGINAN RANIA


__ADS_3

"Please Nia, kamu jangan nangis, aku jadi ikutan sedih".


"Maaf jika aku terlalu berlebihan".


"It's ok Nia, itu hal yang wajar, Nia apakah kamu sudah tahu keberadaan Dafa dan Ayu?".


"Belum, memangnya mereka dimana?".


"Mereka kuliah di Charles University, Praha".


"Di Praha?".


"Iya, dan kamu tahu Nia, mereka sekarang sudah jadian, saat awal musim panas tahun ini".


"Owh.. Syukurlah, aku ikut seneng".


"Iya, gak nyangka ya mereka bisa jadian, kamu sudah punya pacar belum? jangan bilang kak Kenan masih posesif".


"Seperti itulah kak Kenan".


"Ya ampun Nia, bener-bener ya abang mu itu".


"Ya sudah, aku tutup dulu ya, besok kita lanjutin kembali, aku mau mandi".


"Ok Nia, bye".


"Bye Mela". Rania menutup teleponnya tanpa terasa airmatanya keluar tanpa pamit, sesak didadanya terasa menghimpit.


Kau bahkan sudah dapat penggantiku begitu cepat, meskipun awalnya kita tidak pernah tahu perasaan satu sama lain, tapi aku tahu kalau kau pernah mencintaiku meskipun aku mengetahuinya sudah terlambat, setidaknya kamu berjuang demi cinta kita, atau memang aku yang tak pantas untuk diperjuangkan? Ya Allah takdir apa ini? sungguh aku lelah menangisi perjalanan hidupku yang menyedihkan, apakah aku tak pantas untuk bahagia? maafkan aku ya Allah jika aku kurang bersyukur. Bathin Rania menangis.


"Dek". Sapa Kenan saat berada tepat di belakang Rania.


Rania segera beranjak dari duduknya dan mengusap cepat airmatanya.


"Kak Kenan, tumben jam segini sudah ada di rumah, biasanya kakak pulang kalau adek sudah tidur".


"Abang hanya ingin cepat pulang dan bertemu denganmu".


"Kenapa?".


"Gak papa, gimana ujiannya hari ini?".


"Alhamdulilah lancar".

__ADS_1


"Adek gak kenapa-napa kan?". Selidik Kenan. Rania menggeleng pelan.


"Syukurlah kalau adek baik-baik saja, sekarang masuk gih, mandi badannya sudah bau asem". Kenan lalu menutup hidungnya, meledek adiknya yang sebenarnya tidak bau.


"Ish.. Kak Kenan, jahat". Rania kesal. Kemudian Rania berlalu meninggalkan abangnya di halaman belakang sendirian.


****


Waktu yang dinantikan sudah tiba, sepekan telah berlalu. Rania telah menyelesaikan Ujian Akhir Semester Genap. Libur semester akhir telah diumumkan, selama satu bulan ke depan kamapus diliburkan. Tiga hari mendatang adalah hari pertemuan keluarga Rania dan keluarga Kevin, dan keduanya pun belum mengetahui jika mereka dijodohkan.


Seharian ini Rania hanya berada di rumah tanpa pergi kemanapun, berbeda dengan teman-temanya, Chika pergi berlibur ke Bandung sementara Nathan dan kedua temannya pergi traveling, tour ke beberapa kota yang ada di pulau jawa.


"Kak Kenan, sebenarnya siapa sih cowok yang akan dijodohkan dengan adek, ganteng gak?". Tanya Rania sambil nonton acara kesayangannya.


"Sabar dong, memang kenapa tanya ganteng atau gak nya?". Saut Kenan yang ikut menikmati acara televisi.


"Ya secara adek gak kenal siapa tuh orang, kalau wajahnya ganteng walaupun adek gak kenal, masih lumayanlah".


"Kalau misalnya jelek?".


"Idih ogah".


"Sekalipun adek harus ingkar janji?". Selidik Kenan. Rania hanya terdiam.


Rania mengunci kamarnya, diapun menangis sejadi-jadinya.


"Bodoh kamu Rania, kamu punya hak apa? bahkan untuk memilih kebahagiaanmu sendiripun kamu sudah tidak punya hak, ya Allah rencana apa yang sedang kau siapkan untukku, Aaarrrggggghhhh.....". Teriak Rania melepaskan sesak yang menghimpit dadanya.


"Adek, adek, kamu kenapa nak?". Tanya Sintia panik, sambil mengetuk pintu kamar Rania yang terkunci.


"Adek kenapa bunda?". Tanya Kenan yang terkejut karena mendengar Sintia panik di depan kamar adiknya.


"Bunda tidak tahu, waktu bunda lewat depan kamarnya, bunda mendengar adek berteriak". Jelas Kenan.


"Apa adek tersinggung dengan ucapanku". Gumam Kenan lirih namun masih terdengar oleh Sintia.


"Apa! tersinggung, kamu ngomong apa sama adikmu? jangan berulah Kenan, sampai saat ini bunda sendiripun, belum tahu suasana hati adikmu". Bentak Sintia.


"Dek, abang mohon buka pintunya".


"Pergi kalian semua! Tinggalin adek sendiri, kalau tidak mau pergi, maka besok pagi dirumah ini akan ada pesta kematian untukku, pergiiiii!". Teriak Rania.


"Tapi nak". "Bunda, adek mohon biarkan adek sendiri, jika bunda ingin melihat adek tetap hidup, setidaknya untuk tiga hari ke depan biarlah adek, menjalani hidup sesuai keinginan adek, setelah itu terserah kalian, adek pasrah". Isak Rania.

__ADS_1


Kenan merasa frustasi, dia tidak menyangka candaannya begitu melukai adik kesayangannya.


"Adek, maafin abang, jika adek tidak menginginkan perjodohan ini, abang bisa membatalkannya, abang sudah pernah bilangkan sama adek".


"Pergilah kak, saat ini adek tidak membutuhkan apapun, tolong hargai keputusan adek, hanya tiga hari bukan waktu yang lama". Kenan dan Sintia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain menuruti keinginan Rania, mereka pun pergi meninggalkan Rania sendiri di kamarnya.


"Bunda, apa tidak sebaiknya kita batalkan saja perjodohan ini, abang kasihan sama adek". Ujar Kenan setelah berada dilantai bawah.


"Tidak perlu, karena mereka belum bertemu, coba kamu ingat-ingat bukannya mereka akhir-akhir ini sudah semakin dekat dan saling mengenal satu sama lain, Iyakan?". Saut Sintia.


"Iya sih bun, tapi...". "Sudah, gak ada tapi-tapian, percaya sama bunda". Tukas Sintia.


"Baiklah, abang mau istirahat dulu, selamat malam bunda".


"Selamat malam nak".


Akhirnya para penghuni rumah mewah itu pun istirahat di peraduannya masing-masing, terkecuali rania yang masih tetap terjaga hingga dini hari menjelang.


****


Selama tiga hari Rania mengurung diri di kamar, dan selama itu pula dia tidak makan dan tidak minum, setiap makanan yang diantar ke kamarnya selalu dibuangnya ke dalam toilet. Selama tiga hari pula abang dan ibunya tidak boleh melihatnya ke kamar, kecuali para maid yang mengantar makanan dan bertugas membersihkan kamarnya.


Para maid diancam oleh Rania, untuk tidak memberitahukan kondisi dia yang sebenarnya kepada abang dan ibunya. Para maid pun menurutinya dan mengatakan jika nona mudanya selalu menghabiskan makanannya.


Tibalah saatnya untuk pertemuan dua keluarga, namun untuk menuju acara makan malamnya masih ada waktu beberapa jam. Sintia mengetuk pintu kamar Rania.


"Nak, ini sudah tiga hari dan malam ini acara pertemuannya, bunda ingin kamu terlihat rapi dan cantik, jadi kita masih memiliki waktu untuk pergi ke Salon tempat langganan bunda". Ungkap Sintia sambil mengetuk pintu.


"Iya bunda". Saut Rania lemah. Tampilan Rania sangat memprihatinkan, tubuhnya tidak terawat dengan baik selama tiga hari ini. Rania membuka pintu kamarnya. Mata Sintia terbelalak melihat penampilan Rania yang berantakan dan lemah.


"Apa yang kamu lakukan terhadap dirimu nak? mengapa kamu jadi begini?". Sintia menangis dan tertunduk.


"Ada apa bunda?". Tanya Kenan dan belum melihat adiknya. Sintia hanya menunjuk ke arah Rania tanpa melihat.


"Adek!". "Kenapa? tenang saja adek baik-baik saja". Ujar Rania lemah.


***BERSAMBUNG***


Jangan lupa dukung selalu Author, like, comment, dan votenya.


Selalu tinggalkan jejak, Terimakasih atas dukungannya.


HAPPY READING

__ADS_1


__ADS_2