
"maafkan adek kak, gak seharusnya adek bersikap kekanak-kanakan. adek hanya takut suatu hari nanti ketika ayah gak ada kakak akan mengabaikan adek, kedengarannya konyol sih tapi...". "abang janji..."
"jangan mudah mengucap janji kak, apa kakak lupa masalah diantara kita? semua hanya berawal dari kata janji sampai kita harus saling berjauhan, tersika menahan rindu, sakit kak rasanya". potong rania dengan suara parau.
"maafkan abang juga dek yang sudah sangat egois mementingkan diri abang sendiri".
"sudahlah kak, kita lupain saja semua masalah ini, sekarang ceritakan apa yang kak kenan lakukan ketika kita saling menjauh?" selidik rania, kenan ragu untuk menjawab karena selama ini dia sedang bahagia merajut tali asmara.
"kak, kak kenan, hallo". "iya abang denger dek". "jawab donk". kenan tersenyum mengingat semua kisahnya bersama jena. "kakak mempunyai partner kerja seorang gadis, orangnya baik, lembut, smart, dan cantik tentunya gadis pertama yang bisa membuat abang merasa nyaman hingga akhirnya kami memutuskan untuk menjalin suatu hubungan" oceh kenan dengan penuh bahagia.
sekarang apa yang bisa aku harapkan kak, disaat kita bertengkar kakak bukannya membujukku tapi malah mengabaikanku dengan mengenal gadis lain, bukan aku egois tapi setidaknya kabari adikmu ini kak, karena disini aku sakit, aku bingung harus bagaimana menghadapi kakak, tapi kakak... bathin rania menangis.
"adek bahagia kalau kakak sekarang bahagia, sekedar untuk kak kenan ketahui di saat kakak bahagia disini adek berjuang untuk hidup dengan harapan esok hari adek bisa terbangun" saut rania sinis, dan kenan menyesali saat di mana adiknya sakit justru dia bahagia dengan kekasihnya.
"maafkan kesalahan abang dek" ucap kenan penuh penyesalan. "sudahlah kak lupakan, disini juga banyak orang yang sayang dan peduli sama adek, bahkan sahabat kak kenan sendiri juga ada buat adek meskipun dia ada di negara lain" ucap rania sarkas membuat kenan merasa tidak berguna sebagai seorang abang. "apa sekarang kita berdamai?" celetuk rania kemudian dan kenan mengiyakan.
setelah hari itu hubungan kenan dan adiknya semakin terjalin harmonis, tak ada lagi sifat kekanak-kanakan lagi dalam diri rania. hubungan kenan dengan kekasihnya semakin mesra setelah jena memutuskan untuk resaign dari perusahaannya dan memilih menjadi sekretaris pribadi kekasihnya.
***
#SMA TUNAS BANGSA
__ADS_1
"nia, sebentar lagi kita akan menghadapi ujian nasional, kita akan diberi waktu sepekan untuk refreshing apa yang udah lo rencanain?" tanya mela.
"gue belum tahu tapi yang pasti gue akan belajar mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian nasional" jawab rania enteng.
"yey, itu mah pasti, kita harus belajar biar mendapatkan nilai yang sempurna agar bisa masuk universitas yang kita impikan" ujar mela semangat.
"elo mau kuliah dimana mel" tanya rania lirih. "gue mau ke new york sekolah desainer" jawab mela pasti. "kalau elo sendiri mau kemana?" tanya mela.
"gue gak tahu mel, apa gue lanjut kuliah atau gak lo tahukan kalau ayah..." rania menangis mengingat kondisi ayahnya yang semakin memburuk.
"nia, percayalah ayah lo pasti sembuh, lo harus tetap semangat ingat impian lo waktu kita ke danau lembah waktu itu kita berempat mempunyai impian untuk masa depan kita" tutur mela memberi motivasi pada sahabatnya.
"maafin gue nia, yang gak mengerti perasaan lo" mela menyesal.
"gue ingin mel, menggapai impian gue tap gak sekarang mungkin suatu hari nanti saat ayah gue sembuh ataupun...". "jangan mendahului takdir nia, kita gak tahu apa yang akan terjadi ke depannya". "gue hanya realistis saja mel" ucap rania lirih.
***
#SMA PELITA BANGSA
"apa lo yakin dengan keputusan lo itu fa?" tanya ayu ragu. "aku gak pernah seyakin ini dalam mengambil keputusan yu" jawab dafa.
__ADS_1
"apa nia tahu tentang keputusan lo ini?". dafa menggelengkan kepala. "apa yang terjadi di antara kalian?" selidik ayu. "memangnya apa yu yang terjadi di antara kita, heh?". "aku tahu fa, sudah hampir lima bulan tepatnya semenjak nia keluar dari rumah sakit sikap lo ke nia sedikit berubah, mungkin nia atau sahabat kita yang lain gak sadar perubahan sikap lo tapi gue kenal lo deket fa, pasti terjadi sesuatu iya kan?".
ayu benar, karena setelah kejadian waktu itu disaat dafa menerima telphone dari cowok yang mengaku sebagai kekasih rania sikap dafa sedikit berubah ditambah lagi ke akraban ayah rania yang begitu hangat menerima lelaki itu yang tak lain adalah kevin anak dari sahabat ayah rania yang digadang-gadang akan menjadi calon suami rania menurut rencana perjodohan orang tua mereka tanpa mereka ketahui.
"sudahlah yu, tidak terjadi apa-apa dan tidak akan pernah terjadi apa-apa, ok?" tegas dafa.
"kenapa gak lo bilang aja sih fa, kalau lo mencintai nia, kalau gak lo ungkapin gimana nia tahu perasaan lo yang sebenarnya". ujar ayu yang sedikit kesal.
"bener fa, apa yang dikatan ayu" celetuk nathan yang tiba-tiba hadir diantara mereka membuat keduanya terkejut. "nathan! kapan lo ada disini?" tanya ayu. "sejak kalian serius ngoceh dan ngabaikan panggilan gue, puas" nathan gedek.
"kalau lo beneran cinta sama nia, dapatkan hatinya fa sebelum dihatinya dicuri sama orang lain" sambung nathan. "gue bahkan sudah gak punya kempatan lagi karena nia sudah punya kekasih" gumam dafa lirih namun tetap terdengar oleh kedua sahabatnya. "apa! jadi nia sudah punya cowok" nathan dan ayu hampir bersamaan. dafa yang terkejut karena gumaman hatinya terdengar hanya bisa mengangguk.
"siapa fa, kok kita gak tahu?" tanya ayu penasaran. "aku juga gak tahu siapa karena nia gak pernah cerita tapi sepertinya mereka sudah sangat dekat sebab ayah nia akrab banget dengan cowok itu padahal hanya ngobrol lewat ponsel". jelas dafa lirih.
"apa karena ini lo mau kuliah di university of economics, praha?" selidik ayu namun yang ditanya diam membisu. diamnya dafa menjawab semua rasa penasaran dibenak ayu. "fa, lo beneran yakin mau kuliah ke eropa karena ini gak main-main fa, jangan hanya...?". "aku gak selemah itu than, aku sudah sangat yakin dengan keputusanku" jelas dafa memotong ucapan natahan.
"syukurlah kalau memang ini keputusan bijak lo" ujar nathan. "aku harap kalian bisa merahasiakan semua ini dari nia dan mela mengenai perasaanku ke nia dan rencana kuliahku ke eropa". dan kedua sahabat itupun mengangguk.
***
**BERSAMBUNG**
__ADS_1