
Tanpa rania sadari dengan jarak tempuh beratus-ratus mil jauhnya, disini di rumah besar yang peralatannya serba mewah ada seorang lelaki tampan yang juga merindukan masa kecil mereka.
"abang rindu dek dengan masa lalu kita, adek ingat gak dulu waktu kita masih kecil? ketika kita sering bertengkar, lalu kemudian kita bermain bersama lagi" ujar kenan sambil menatap foto rania.
"walaupun abang sering memarahi adek, tapi abang tidak akan pernah sudi jika ada orang lain yang mencoba mencelakai adek, maafkan abang karena sampai sekarang abang belum bisa menemukan perempuan itu". imbuh kenan yang masih menatap wajah cantik adiknya dibalik foto.
pikiran kenan yang masing melayang ke dunia antah berantah seketika lenyap terbawa suara deringan ponsel kenan. wajah tampan itu menautkan kedua alisnya.
"assalamualaikum bunda" sapa kenan dalam video call setelah melihat wajah ibunya dibalik layar ponsel.
"walaikumsalam, kamu sehat nak?".
"alhamdulilah bunda, abang sehat. bunda sama ayah sehat?"
"alhamdulilah bunda sehat nak, apa kamu tidak ke kantor hari ini?" tanya sintia yang hafal dengan warna dinding kamar putranya.
"belum bun, sengaja abang berangkat siang, karena tadi pagi harus mengantarkan adek dulu ke bandara, apa adek sudah sampai bunda?"
"sudah, sekarang dia sedang istirahat di kamarnya".
"bunda ada apa? tidak biasanya bunda menghubungi abang di jam kerja"
"apakah kamu bisa datang untuk menjenguk ayahmu nak?"
"apakah ayah sakit bunda?"
"iya, kata dokter harapan ayah untuk sembuh itu mustahil karena kondisi ayah yang semakin memburuk" ungkap sintia lirih.
"hari ini juga abang akan pulang bunda, maaf abang harus tutup teleponnya".
kenan lalu meminta pelayan untuk menyiapkan segala pakaiannya karena siang ini dia akan pergi ke kalimantan.
kenan menghubungi asisten pribadinya.
"ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya rizal setelah tiba di rumah kenan.
"atur ulang keberangkatan saya ke luar negeri, karena siang ini saya akan pergi ke kalimantan untuk beberapa hari ke depan".
"baik tuan, apa ada yang tuan perlukan lagi?"
"untuk urusan kantor selama saya tidak ada kamu yang handle".
"baik tuan, jika tidak ada lagi saya permisi" ucap rizal sopan.
kamu memang bisa diandalkan rizal. gumam kenan lirih.
****
sore ini rania ada janji untuk bertemu dokter di rumah sakit. rania segera membersihkan diri agar terlihat lebih fresh. mini dress selutut dengan pola huruf A berwarna army membuat tampilan rania lebih cantik dan gerly.
"bunda, apakah ayah sudah bangun?" tanya rania ketika berpapasan dengan ibunya.
__ADS_1
"iya dan sekarang sudah waktunya untuk ayah makan".
"biar adek saja bunda yang membawakan makanan untuk ayah".
"gak usah nak, nanti kaki mu tambah sakit"
"hanya nampan bunda, ini gak berat"
"bukannya adek ada janji sama dokter?"
"masih ada waktu tiga puluh menit bunda, adek mau ketemu ayah"
"selamat sore ayah, sekarang waktunya ayah makan" rania mendekati ayahnya dengan kaki sedikit di seret.
"apa kakimu masih sakit nak? ayah dengar dari bunda kamu terjatuh".
"masih sedikit sakit sih yah, iya adek jatuh karena kurang hati-hati".
"sekarang ayah makan dulu ya, nanti buburnya keburu dingin. adek suapin ayah ya?"
"biar bunda saja yang nyuapin ayah, nak kamu tidak sedang membohongi ayahkan?" rania terperanjat.
"emm.. tidak yah, mana mungkin adek berani bohong sama ayah" rania memaksakan untuk tersenyum.
"bunda, ayah, adek berangkat dulu ya, takutnya nanti adek telat kasihan dokternya lama nunggu, cup" ujar rania sambil mengecup kening kedua orang tuanya.
"hati-hati nak di jalan" ucap sintia pada putrinya yang sudah hampir tak terlihat.
"ya sudah, sekarang ayah makan dulu nanti setelah itu baru kita cari tahu" bujuk sintia pada suaminya.
****
kenan telah tiba di bandara setelah beberapa puluh menit yang lalu kenan melakukan perjalanan dari ibu kota jakarta menuju pulau borneo.
lalu dia meraih ponselnya menghubungi seseorang untuk menjemputnya.
"hallo tuan muda" sapa pak sopir dalam panggilan telepon.
"jemput saya di bandara sekarang"
"maaf tuan tapi saya sekarang ada di rumah sakit mengantar nona muda cek up kakinya" saut pak sopir hati-hati.
"setelah urusan adek selesai, segera kamu jemput saya". "baik tuan".
"siapa pak yang telpon?" tanya rania mengejutkan pak sopir.
"ini nona muda, tuan muda meminta saya untuk menjemputnya di bandara".
"kak kenan ada di kalimantan? oh.. ya sudah kita jemput kak kenan di bandara" ajak rania.
"apa tidak sebaiknya nona saya antar dulu ke rumah?".
__ADS_1
"apa bapak sudah bosan kerja di rumah saya? karna saya yakin setelah ini bapak akan di pecat karena membiarkan kak kenan menunggu lama" ujar rania sarkas. 'baik nona mari kita jemput tuan muda".
****
"apa kakak tahu kalau ayah sakit? apa bunda yang mengabari kakak?"
"siapa lagi kalau bukan bunda, apa adek ada ngabarin abang?" ketus kenan.
"adek minta maaf" rania cemberut.
"apa susahnya sih dek ngabarin abang? apa adek masih marah sama abang karena sampai sekarang abang belum menemukan perempuan itu, picik sekali pikiranmu".
"cukup ya kak gak usah bahas perempuan itu lagi, adek muak dan ingat jangan pernah kakak ceritakan kejadian yang sebenarnya sama ayah dan bunda" rania kesal.
"kenapa? bukankah lebih baik kalau ayah sama bunda tahu".
"apa otak kakak udah gak waras, kalau ayah tahu kejadian yang sebenarnya menurut kakak ayah akan sembuh atau tambah parah?" rania geram.
"apa maksud adek?"
"bunda gak mungkin gak ngasih tahu keadaan ayah yang sebenarnya sama kak kenan, apa perlu adek ingatkan kalau ayah saat ini sangat mustahil untuk bisa sembuh, sekarang siapa yang egois dan picik?"
sepanjang perjalanan pulang rania membuang muka tak sudi menatap wajah abangnya, kekesalannya menumpuk pada abangnya.
"abang minta maaf, abang salah bahkan sampai sekarang abang belum bisa menghukum perempuan itu karena abang belum menemukannya".
"sudahlah bang jangan dibahas, adek capek lagi pula ini bukan salah abang".
"adek bilang apa sama ayah dan bunda perihal kaki adek?".
"untuk apa abang tahu? masi peduli sama adek?".
"dek, ayah nanti pasti nanya sama abang, kalau jawabannya gak sama ayah akan curiga".
"bilang saja adek jatuh dari tangga karena adek gak hati-hati, tapi kakak harus siap pasti kakak dimarahi sama ayah karena gak jaga adek dengan baik".
"gak apa-apa dek" kenan tersenyum sambil mengusap puncak kepala rania.
"apakah adek sudah gak pakai kursi roda lagi?" tanya kenan karena tidak melihat kursi roda yang dipakai rania.
"adek sekarang pakai tongkat tangan kak, jadi lebih keren kalau ada yang mencoba jahil sama adek tinggal pukul aja pakai tongkat ini" sambil menujukkan tongkatnya.
***BERSAMBUNG***
ayo dong vote, like dan komentarnya biar author tambah semangat nulisnya...
jangan lupa baca juga novel author yang lain ya judulnya
NAMEERA SASMITHA
di jamin seru...
__ADS_1