Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
54. TERUNGKAP


__ADS_3

Kenan melihat kearah Rania yang sedari tadi diam tak bergeming seperti sedang asyik menyaksikan suatu pertunjukkan.


Rania tak sengaja melihat kearah Kenan yang kini sedang menatapnya, dari raut wajahnya seperti ingin meminta pertolongan pada adiknya agar keadaan ini segera berakhir.


Rania akhirnya tidak tega melihat wajah memelas abangnya, lalu dia pun membuka suara.


"Bagaimana kalau ngobrolnya kita lanjutkan saja nanti setelah kita makan malam, sekarang kita cicipi dulu hidangan yang sudah tersaji di meja makan" ajak Rania dan Kenan pun mengiyakan ajakan Rania.


"Emm.. Ajakan Rania ada benarnya juga, mari kita makan dulu". Lalu semuanya pun menuju ruang makan dan duduk di kursi masing-masing.


Suasana makan malam di rumah Kenan berasa di kuburan kutub utara dingin mencekam, tidak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara hanya dentingan suara sendok yang beradu dengan piring.


Setelah aktifitas di meja makan selesai, dua keluarga yang beda kasta itu kembali ke ruang tamu sekedar untuk berbincang tentang hal yang remeh temeh.


Namun tidak untuk Rania, dia langsung pergi ke halaman belakang karena ponselnya berdering. Dilihat olehnya ternyata Nathan yang menghubunginya.


"Hallo Than, apa kabar?" sapa Rania ramah.


"Baik, Nia sendiri apa kabar dan apa kesibukannya sekarang?".


"Aku baik, kesibukanku gakda, aktifitasku baru dimulai kalau aku sudah masuk kuliah".


"Kamu mau kuliah? dimana dan kapan?".


"Iya aku mau kuliah, tempatnya masih dinegara sendiri dan mulai tahun ajaran baru tahun ini".


"Semoga sukses Nia, aku hanya ingin tahu kabarmu saja, ok bye". Nathan menutup sambungan teleponnya.


"Bye Nathan, justru kamu sahabatku yang selalu ada disaat-saat tersulitku" gumam lirih Rania.


Ketika Rania ingin berbalik arah ternyata Jena sudah ada di belakangnya.

__ADS_1


"Astaga, kau mengagetkanku Jena". Rania lalu membelakangi tak ingin melihatnya.


"Mau apa kau kemari?" dengan nada suara yang tidak bersahabat.


Sementara ditempat lain, Kenan merasa tidak nyaman berada diantara dua keluarga yang hanya ngobrol hal remeh temeh. Meskipun obrolannya santai namun ada kecanggungan yang tercipta diantara mereka karena sikap Sintia yang dingin.


Rasanya Kenan ingin segera pergi dari tempat itu, matanya liar menyisir kesegala penjuru mata angin setiap sudut rumahnya mencari seseorang yang dikasihinya namun dia tidak menemukannya.


Kenan baru menyadari ternyata adiknya pun tidak ada diantara mereka, Kenan mulai gelisah dan cemas karena yang dia tahu Rania tidak menyukai kekasihnya.


Kenan beranjak dari tempatnya, segera mencari keberadaan adik dan kekasihnya meninggalkan dua keluarga yang beda generasi.


Di halaman belakang Kenan menemulan keduanya, ada rasa lega dihatinya karena keduanya tidak lagi baku hantam seperti dalam pikirannya.


Kenan ingin menyapa keduanya namun niatnya itu diurungkannya, dia ingin tahu apa alasan adiknya tidak menyukai kekasihnya. Kenan mencari tempat yang cukup aman untuk mengawasi keduanya dan menguping apa yang dibicarakan.


"Kau masih tidak tahu diri bertanya seperti itu kepadaku" geram Rania.


"Menurutmu apa hubungan kalian akan sampai sejauh ini jika kak Kenan tahu kalau kau adalah perempuan yang dicarinya selama ini heh?". Jena terdiam seribu bahasa.


"Bahkan kau mencoba kembali untuk membunuhku dengan tangan mu sendiri saat aku berada di rumah sakit waktu itu, kau masih ingat?".


"Diammu itu menunjukkan semua kesalahanmu tapi aku tidak yakin diammu dapat meredakan amarah kakakku".


"tentu kau masih ingat juga kan, empat bulan yang lalu ayahku meninggal. Kau tahu apa sebabnya?" suara Rania meninggi. Jena sedikit tersentak tangannya mulai berkeringat.


"Ayahku terbebani pikirannya karena calon menantunya adalah penyebab kecelakaan yang menimpa putrinya, bisa kau bayangkan betapa sulit pilihannya satu kau adalah kekasih putranya dan disisi lain kau penyebab kecelakaan putrinya".


"Hingga ayahku koma, kau pun masih menjadi alasan kakakku meninggalkan ayahnya yang terbaring tak berdaya sampai pada saat ayahku bangun dari komanya, dia mencari putra sulungnya yang tak kunjung datang setelah dua hari tersadar lalu pagi yang kelam pun datang ayahku meninggal dengan membawa kerinduan dihatinya untuk putranya yang masih kau tahan" suara Rania bergetar menahan tangis.


"Aku mencoba untuk menunggu agar kakakku bisa melihat ayah untuk terakhir kalinya sebelum dibawa ketempat peristirahatannya yang terakhir, tidak ada tanda-tanda kedatangannya setelah empat jam kami menunggu".

__ADS_1


"Apa sampai disitu kau masih punya keberanian untuk tetap berada disamping kakakku?". Airmata yang dijaganya akhirnya terjun bebas.


"Maafkan aku Rania, sungguh aku menyesal, aa..aku tidak bermaksud untuk membunuhmu, aa..aku hanya menyuruh orang untuk memberimu pelajaran saja agar kau tak lagi berani mendekati Kenan". Ungkap Jena terbata-bata.


"Apa kak Kenan tidak pernah menceritakan tentang aku heh?".


"Dia menceritakan semua tentangmu, tapi aku tidak pernah tahu wajahmu sekalipun hanya fotomu, aku begitu cemburu ketika Dia bisa bahgia bersama wanita lain" jelas Jena.


"Kau wanita bodoh Jena, membiarkan pikiran egois menguasai dirimu, kau belum mengenal kakakku Jena, dia lelaki yang setia bahkan demi kau dia rela meninggalkan aku dan bunda dalam kedukaan". Tangis Rania pecah mengingat duka ibunya.


"Aku membencimu sampai urat nadiku Jena, tapi aku mencintai kakakku, aku rela menahan rasa sakit dihatiku karena melihatmu seumur hidupku demi melihatnya bahagia bersamamu, karena aku tahu kau adalah hidupnya. Aku tidak ingin melihat duka yang sama dimata kakakku saat kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya".


Ternyata kamu sangat menyayangi abang dek, maafkan abang yang selalu menyalahkanmu, adek tenang saja masalah ini akan cepat selesai, awas kamu Jena!. Geram hati Kenan.


"Kehilangan ayah cukup membuatnya terpukul, aku tidak mau menyakitinya lagi karena kehilanganmu, itu sebabnya aku tidak pernah menceritakan keburukanmu kepadanya, aku menyayanginya lebih dari diriku sendiri, dia adalah semangatku pengganti ayah yang sudah tiada".


Ya Tuhan perbuatan bodoh apa yang telah aku lakukan untuk keluarga ini? sungguh aku menyesal aku ingin memperbaikinya, ya Tuhan ampuni aku. Jena menangis dalam hati.


Melihat Rania yang menangis, Jena semakin merasa bersalah dan mendekatinya ingin memeluk wanita yang akan menjadi adik iparnya.


"Jangan sentuh adikku dengan tangan kotormu!" teriak Kenan yang melihat Jena ingin memeluk Rania.


Keduanya terkejut dan menoleh kearah sumber suara. Rania merasai dirinya ketakutan karena mendengar suara suara Kenan yang meninggi dan semua orang yang mendengarnya berhamburan kehalaman belakang, kecuali para pelayan yang tidak berani ikut campur dengan urusan majikannya.


"Oh.. Jadi kamu perempuan ****** yang sudah menyulitkanku selama ini heh?"


"Kenan jaga bicaramu, kau tidak berhak berkata seperti itu pada putriku" saut ayah Jena.


"Kau diam saja, jika tidak bisa mendidik perempuan ****** ini" dengus Kenan.


"Cukup Kenan, papa ku tidak tahu apa-apa dalam urusan ini, masalahmu denganku bukan dengan papa ku" teriak Jena.

__ADS_1


***BERSAMBUNG***


ayo readers like dan kirimkan votenya lalu sertakan komentarmu.


__ADS_2