
"Bangun nak, buka matamu sayang, lihat ini bunda jangan buat bunda khawatir nak" oceh Sintia yang panik melihat keadaan putrinya.
"Kenan, cepat panggilkan dokter nak, bunda tidak ingin adek kenapa-napa" pinta Sintia pada putranya.
"Dokter masih dsalam perjalanan menuju kemari bunda" saut Kenan yang sama paniknya.
Sesekali dian menatap wajah cantuk adiknya yang pucat, terdapat cairan bening disudut matanya yang terpejam.
Apa yang terjadi dek? kenapa adek menangis? jangan takut adikku sayang, abang tidak akan meninggalkan dan menyakiti adek lagi, abang akan berusaha membuat adek bahagia. Gumam hati Kenan.
Lalu seraut wajah ayahnya melintas dalam benaknya membuat Kenan semakin takut. Wajah ayahnya yang tampak tenang yang terlihat dalam lamunan Kenan.
Kenan tersentak saat suara dokter membuyarkan lamunannya, rupanya dokter sudah memeriksa keadaan Rania dan Kenan tidak menyadari kedatangan dokter sedari tadi.
"Dokter bagaimana keadaan adik saya dan mengapa dia seperti menangis?".
"Begini tuan, ternyata nona mengalami trauma yang berlebihan, hingga di alam bawah sadarnya nona merasa sangat ketakutan".
"Apa nona sebelumnya pernah mengalami kekerasan fisik atau kekerasan mental?". lanjutnya lagi.
"Tidak pernah dok, tapi dulu saya pernah memarahinya namun tidak sampai terjadi kekerasan fisik, lagi pula kejadian itu sudah lama sekali dok dan beberapa bulan yang lalu adik saya pernah mengalami kecelakaan" jelas Kenan.
"Kecelakaan itu bisa menjadi pemicu otaknya bekerja untuk mengirim signal yang menakutkan ke alam bawah sadarnya".
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang dokter?".
"Tuan tenang saja, saya sudah memberikan obat penenang untuk nona, jika dalam beberapa hari kedepan masih ada kecemasan atau ketakutan dalam diri nona, kita harus segera bawa nona ke psikiater, beruntung nona cepat ditangani kalau tidak kita akan menghadapi masalah".
"Apa dampaknya begitu parah dokter?".
__ADS_1
"Ya sepertinya nona memang mengalami kekerasan beberapa bulan sebelumnya" ungkap dokter.
Ada kemarahan dalam tatapan Kenan, ingtannya kembali kepada Jena yang telah beraninya mencoba untuk mencelakai adiknya.
Bukan hanya sekali bahkan dua kali dan yang fatalnya lagi kamu mencaoba membunuhnya dengan tanganmu sendiri, lihat saja kau ****** tidak akan kuberikan kau dan keluargamu kebebasan untuk bernafas. geram hati Kenan.
"Baik dokter terimakasih karena telah menolong adik saya dan untuk kedepannya akan saya pastikan kejadian ini tidak terulang kembali". Dokter keluarga ATMAJA hanya tersenyum dan mengangguk sopan menanggapi tuan mudanya.
Kenan lalu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Aku ingin secepatnya kau urus berkas-berkas saham kita yang ada di perusahaan keluarga ****** itu" ujar Kenan dalam sambungan telepon.
"Baik tuan, secepatnya akan kami urus" saut seseorang.
"Aku ingin melihat keluarga mereka hancur, sehancur-hancurnya". Kenan lalu memutuskan sambungan teleponnya.
KENAN CAHYA ATMAJA akan selalu melindungi keluarga yang dia cintai. Siapapun yang berani menyentuh keluarganya sekalipun Jena wanita yang pernah dicintainya maka sudah dipastikan orang itu akan habis ditangannya.
****
Di malam yang sama, keluarga Jena telah tiba di rumah sakit. Ayah Jena sudah diletakkan diatas bankar dan didorong ke ruang IGD lalu dokterpun memeriksa keadaan ayah Jena.
"Apa masalahmu antara kau dengan adiknya Kenan hah? mengapa kau begitu beraninya mengusiknya? apa kau tidak tahu bagaimana pengaruh abangnya dalam dunia bisnis dan sepak terjangnya dalam menghadapi musuh-musuhnya?" ujar ibu Jena penuh amarah.
"Maafkan Jena ma, Jena hanya terlalu cemburu melihat Kenan tertawa bersama wanita lain yang tak lain adalah Rania adiknya, Jena pikir itu wanita yang akan merebut kenan dari Jena" ungkap Jena merasa bersalah.
"Kau memang gadis bodoh Jena, kau terlalu ceroboh dalam bertindak lalu apa dengan kata maafmu sekarang dapat merubah keputusan Kenan, bahkan kau telah dibuangnya bagaikan sampah. Kami tidak pernah merasa sehina ini Jena tapi malam ini kau mencoreng harga diri kami" sungut ibu Jena.
Lalu dokter pun keluar dari ruang IGD dan menjelaskan jika ayah Jena terkena serangan jantung ringan namun dokter menyarankan agar ayah Jena jangan terlalu banyak berpikir yang membuatnya terbebani atau akibatnya akan fatal jika sampai terulang kembali.
__ADS_1
Dokter berlalu pergi setelah memberikan penjelasan kepada keluarga Jena. Ibu Jena termenung sejenak memikirkan nasib suaminya, bagaimana suaminya akan tenang sementara ancaman Kenan masih terngiang-ngiang di telinganya.
Ibunya Jena semakin frustasi mengingat keadaan suaminya, melihat kekacauan diraut wajah ibunya, Jena pun mendekat.
"Ma.. Jena tahu ini sangat berat bagi kita tapi..."
"Tapi apa heh? semua ini terjadi karena kau Jena, karena Kau yang begitu bodoh" teriak ibu Jena lalu menampar putrinya.
Semua orang yang ada di koridor rumah sakit merasa terganggu dengan teriakan ibu Jena dan melihat kearahnya.
Merasa mendapat tatapan buruk dari mereka ibu Jena pun pergi dari tampatnya dan masuk ke ruang IGD tempat suaminya terbaring, namun sebelum pergi ibu Jena berbisik kepada putrinya.
"Sekalipun kau mati tidak akan merubah keadaan suamiku" ujar ibu Jena penuh kebencian.
Jena yang masih merasai sakit di pipinya akibat tamparan dari sang ibu, kini harus menelan kenyataan pahit dari kebencian ibunya. Sesal Jena pun tiada berguna.
****
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit ayah Jena akhirnya di perbolehkan untuk pulang. Meskipun mendapat penolakkan dari kedua orang tuanya, Jena tetap berusaha menjadi anak yang baik walaupun keadaannya tak seperti dulu lagi, Jena ingin menebus semua kesalahannya.
Jena merasa khawatir jika ayahnya keluar dari rumah sakit pasti ayahnya akan mengetahui kabar terbaru tentang perusahaannya.
Setelah beberapa hari yang lalu Kenan mencabut seluruh saham yang ada diperusahaannya perlahan-lahan para investor pun menarik diri hingga saat ini tidak ada satu pun investor yang ingin join dengan perusahaannya.
Alasan para investor menarik diri karena mereka menganggap perusahaannya tidak memiliki etos kerja yang baik sehingga sang penguasa negeri ini harus menarik diri dari perusahaannya dan para investor tidak ingin mengalami kerugian yang lebih besar lagi.
Hari ini para karyawan berdemo di depan gedung kantor perusahaan keluarga Jena, mereka ingin mengundurkan diri dan menuntut pesangon di bayar penuh. Belum lagi royalti yang harus diberikan kepada perusahaan Kenan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.
Keluarga Jena kini berada diambang kebangkrutan, usaha yang diperjuangkan Jena untuk tetap menjaga perusahaan keluarganya tidak mengalami kebangkrutan ternyata sia-sia.
__ADS_1
Pengaruhnya tidak mampu melawan sang penguasa negeri ini, sehingga membuat perusahaannya ditinggal oleh para partner kerjanya baik yang sudah lama bergabung maupun yang baru bergabung. Kali ini Jena benar-benar menyesal ternyata Kenan tidak pernah main-main dengan ancamannya.
***BERSAMBUNG***