Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
58. DUPLIKAT


__ADS_3

Genap setahun Rania menunda belajarnya ke bangku kuliah, banyak kejadian-kejadian setahun belakangan ini yang dihadapi oleh Rania. Kini dia telah menata kembali hidupnya untuk fokus belajar demi masa depan.


Banyak perubahan yang dialami Rania sepanjang setahun ini hidup di kota Metropolitan, hanya satu yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang, yakni sikap posesifnya Kenan terhadap Rania.


Bagi Kenan inilah cara satu-satunya yang paling mutakhir menjaga adik kesayangannya. Padahal tanpa sepengetahuan Kenan, Rania memiliki ilmu bela diri yang dapat melindunginya.


"Kak, hari ini adek akan pergi ke Kampus untuk mengurus administrasi perkuliahan". Rania lalu duduk di samping abangnya untuk sarapan.


"Apa adek udah yakin mau mengambil jurusan bisnis?".


"Iya kak, adek yakin karena adek juga ingin bergelut di dunia bisnis sama seperti kak Kenan".


"Ya sudah kalau itu maunya adek, hati-hati di jalan".


"Kak, apa adek mesti harus pake supir ke Kampusnya?". Rania akan selalu berhati-hati bertanya pada abangnya perihal pengawalannya.


"Iya, kenapa? gak mau? kalau begitu adek di rumah aja gak usah kuliah".


"Ok kalau supir gak apa-apa, tapi kalau bodyguard gak usah ya kak?".


"Gak bisa, abang gak mau ambil resiko. Sekarang habiskan sarapannya jangan berdebat lagi".


Rania memanyunkan bibirnya, membuatnya semakin terlihat menggemaskan. Setelah sarapan Rania tidak langsung berangkat melainkan duduk-duduk santai di depan TV.


"Adek belom berangkat?" tanya Kenan yang melintasi ruang keluarga, namun Rania tidak menjawabnya.


Rania sengaja mengabaikan abangnya karena masih kesal.


Kenan yang merasa diabaikan menjadi gusar atas sikap adiknya.


"Maunya adek apa sih?" Suara Kenan melembut karena dia tahu jika suaranya meninggi hasilnya tidak akan baik, bisa jadi Rania semakin ngambek.


"Adek gak mau dikawal kak, lagi pula di kampus nanti, gak akan ada yang tahu siapa adek, karena identitas adek disembunyikan". Ungkap Rania penuh kekesalan.


"Kenapa begitu?". Tanya Kenan heran. "Kalau identitas adek tersembunyi, itu akan meminimalisir kejahatan yang akan terjadi kak".


"Ya sudah, terserah adek maunya gimana, tapi kalau ada apa-apa cepat hubungi abang dan kalau masalah sopir tidak ada negosiasi, selesai urusan kampus langsung pulang".


"Siap Komandan". Kenan tersenyum melihat tingkah lucu adiknya lalu mencium puncak kepala Rania.


****


Di kampus Rania merasa asing karena dia tidak mengenal siapapun disini. Rania terus menyusuri koridor kampus mencari ruang administrasi untuk registrasi perkuliahan.


Langah Rania terburu-buru hingga pada detik berikutnya terdengar suara BRAAAKKK semua melayang berhamburan dan tubuh Rania terpental ke belakang.

__ADS_1


"Mm..ma..maafkan saya, ss..saya tidak melihat..". Ucap Rania gugup sambil menyusun semua kertas-kertas yang berhamburan.


"Nia!, kamu Nia kan?". Tanya orang yang ditabrak Rania. Rania mengangkat wajahnya kearah suara datang.


"Kak Kevin, kakak ada di kampus ini, ngapain?". Tanya Rania merasa lega karena di kampus sebesar dan semegah ini masih ada orang yang di kenalnya.


"Aku dosen disini, kamu mau kuliah disini?". Rania mengangguk.


"Kak, bisa tunjukkan sama Nia ruang administrasi? Nia belum terlalu hafal denah kampus ini". Pinta Rania.


"Baiklah, akan aku antar, eits kita kan sudah pernah bahas jangan panggil aku kakak".


"Iya, Nia tidak akan panggil kakak tapi bapak". Rania tersenyum karena Kevin menanutkan kedua alisnya.


"Kenapa bisa begitu? makin tambah tua dong kalau di panggil bapak". Saut Kevin yang tidak terima di panggil bapak. Rania hanya tergelak menggelengkan kepalanya.


"Jelas Nia akan panggil bapak karena sebentar lagi kak Kevin akan jadi dosen aku disini". Jelas Rania dan akhirnya Kevin mengerti.


"Kata bapak hanya berlaku di sekitar kampus kalau di luar no, paham". Tegas Kevin yang membuat Rania berhenti tertawa.


Glek


Rania menelan kasar salivanya, penuturan Kevin terdengar seperti peringatan keras yang tidak boleh dilanggar olehnya.


"Sekarang masuklah, selesaikan urusanmu, setelah itu telepon aku, kita pulang bareng".


"Tapi kak..". "Jangan menolak, aku tidak menerima penolakan dan apa itu kak? kamu bahkan sekarang sudah berani menetang aku. Ingat jangan lupa telepon aku". Kevin lalu pergi meninggalkan Rania tanpa mau mendengarkan penjelasan darinya.


"Huh menyebalkan, sama seperti kak Kenan". Rutuk Rania lirih, lalu dia masuk untuk menyelesaikan urusannya.


Tanpa disadari oleh Rania banyak pasang mata yang mentapnya tidak suka, karena sok akrab dengan dosen yang menjadi idola mereka.


"Siapa dia? kok bisa akrab sama pak Kevin, kalian lihat gak tadi pak Kevin bisa bersikap santai gitu sama tuh cewek". Ujar gadis yang merasa tidak suka.


"Sepertinya dia anak baru". Saut temennya.


"Anak baru aja belagu, lihat aja lo nanti, yuk kita masuk kelas". Ajaknya kemudian.


Urusan administrasi sudah selesai, Rania melangkahkan kaki menuju parkiran mobil untuk segera pergi dari kampus tersebut. Mobil yang dicarinya tidak ada, tiba-tiba ada orang yang mendekatinya dari belakang.


"Ayo kita pulang". Terdengar suara berat yang sudah dia kenal.


"Tapi kak, sopir Nia nanti nyariin, kalau Nia gak ada dan kak Kenan..". "Sopirnya sudah aku suruh pulang dan tenang aja Kenan gak akan marah, ok?". Potong Kevin.


Ish... nih orang lama-lama bikin aku gedek aja, nyebelin dasar duplikatnya kak Kenan. Rutuk hati Rania.

__ADS_1


"Jangan suka merutuki orang yang mau berbaik hati nganterin kamu pulang loh". Saut Kevin asal.


Rania hanya melongo merasa tidak percaya jika Kevin bisa tahu isi hatinya.


"Aku bisa tahu loh, apa yang kamu pikirkan, udah yuk masuk panas nih, apa kamu mau jadi ikan asin disini?". Lanjutnya. Rania pun masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah terbuka.


*****


Rania pulang terlambat hari ini karena Kevin mengajaknya makan siang dan shopping di Mall. Sementara itu, Kenan uring-uringan menyalahkan sopir yang dipercayainya telah meninggalkan adiknya.


Kenan semakin naik pitam saat mengetahui ponsel rania tidak bisa dihubungi.


"Kamu sama sekali tidak berguna, bagaimana mungkin kamu bisa meninggalkan nona muda sendiri heh?". Bentak Kenan.


"Mm.. ma..maaf tuan, tta..ta..tapi tadi orang itu mengatakan sudah dapat izin dari tuan untuk membawa nona muda". Ungkap pak sopir terbata-bata.


"Bodoh kamu, mengapa kamu begitu saja percaya, bagaimana jika dia menipumu, heh?.


"Apa kamu sudah tidak betah kerja disini?". Lanjut Kenan.


"Ampun tuan, jangan pecat saya, saya janji hal ini tidak akan terulang kembali sebelum saya memastikan mendapat izin dari tuan". Ujar pak sopir sungguh-sungguh.


Saat emosi Kenan yang masih belum mereda, Rania datang dengan wajah sumringahnya karena dia bisa pergi tanpa harus bersama abangnya yang posesif.


"Assalamualaikum.. bunda, adek pulang".


Sintia yang sudah merasa khawatir dan panik sedari tadi, langsung berhamburan setengah berlari kearah datangnya suara.


"Walaikumsalam, sayang kamu tidak apa-apa nak?". Sintia mengabsen seluruh tubuh putrinya.


"Adek baik-baik saja bunda, adek pulang telat karena diajak makan siang dan shopping di Mall sama....".


"Kamu jangan buat bunda khawatir nak, setidaknya kamu menghubungi bunda terlebih dahulu sebelum pergi". Potong sintia.


"Kamu kan tahu sendiri jika abangmu sudah panik, pasti dia akan uring-uringan". Lanjutnya lagi.


Dhumm...


****BERSAMBUNG****


Ayo tinggalkan jejak kalian like, komen dan vote nya jangan lupa, biar author makin semangat nulisnya...


HAPPY READING


"SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA"

__ADS_1


__ADS_2