Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
4. SEMANGAT PAGI


__ADS_3

keindahan alam borneo pagi ini menghipnotis para penduduk bumi udaranya yang sejuk membuat malas. berbeda dengan gadis cantik yang satu ini, pagi ini dia bangun lebih awal menyongsong semangat pagi setelah semalam dia berjibaku dengan airmata.


aku harus semangat mulai hari ini, aku tidak boleh lemah, ayah menginginkah aku untuk tetap bahagia, aku akan selalu bahagia ayah, agar ayah cepat sembuh. gumam rania lirih, tak terasa airmata nya pun berhasil kabur dari persembunyiannya.


sambil mengusap airmata nya, rania pun berkata pada dirinya di cermin.


"rania mulai hari ini jangan perlihatkan airmata mu pada orang yang menyayangimu, kamu harus janji. terutama pada ayahmu anggap saja kamu tidak tahu keadaan ayahmu yang sebenarnya, ok". ucap rania pada dirinya sendiri dengan semangat.


seperti biasa sehabis mandi rania selalu tampak cantik dengan polesan make up naturalnya dan pakaian yang di kenakannya. hari ini dia akan pergi ke suatu tempat bersama sahabatnya yang sekaligus tetangganya setelah janjian melalui via telephone.


rania keluar kamar dan langsung turun menuju ruang makan uantuk sarapan bersama kedua orang tuanya.


"selamat pagi ayah, selamat pagi bunda" sapa rania penuh semangat.


"pagi sayang, tumben jam segini sudah rapi mau ke mana?" tanya sintia pada putrinya.


"adek mau pergi mencari sesuatu". bersamaan dengan itu kenan pun turun sudah rapi dengan pakaian kantornya.


"abang gak bisa nganterin dek, abang hari ini mau ke kantor bareng ayah, mau merasakan suasana kantor seperti apa, sebelum abang terjun sendiri di perusahaan". sahut kenan yang langsung duduk di kursi samping adiknya.


"kamu antar adek saja bang, ke kantornya lain kali saja". pinta ayah, rania yang mengerti maksud ayahnya langsung menoleh pada abangnya.


"adek hari ini tetep akan pergi tapi bukan sama kak kenan, tapi sama dafa" jelas rania dan membuat semuanya terkejut, melihat ekspresi keluarganya rania tersenyum kecut.


"kenapa? apa rania gak boleh pergi sama dafa?"


"nak dafa, anak tante rossi, tetangga kita". tutur sintia


"iya bunda" jawab rania singkat.


"abang gak nyangka aja, anak manja seperti kamu bisa melakukan sesuatu sendirian tanpa didampingi abang". ucap kenan bangga.


"lihat saja nanti, suatu saat adek gakkan bergantung lagi pada kak kenan, dan hari itu juga kakak akan merasa kehilangan adek". sahut rania kesal dan sontak jawabannya membuat rudi menggertakkan rahangnya pada kenan. kenan yang menyadari akan hal itu berusaha merayu adiknya.


"abang cuma bercandak dek, gitu aja diambil hati"


"habis kak kenan nyebelin" gerutu rania.


lihat kak, betapa marahnya ayah saat mendengar adek tidak akan bergantung lagi terhadap kakak. adek pasti lakukan itu karena adek gak mau kakak merasa direpotkan, adek janji adek akan belajar mandiri mulai dari sekarang. gumam rania dalam hati.


saat keluarga ATMAJA sedang sarapan, tiba-tiba terdengar suara pintu depan di ketuk oleh seseorang. bik ijah asisten rumah tangga keluarga ATMAJA hendak membukakan pintu, namun di cegah oleh rania.

__ADS_1


"gak usah bik, bir adek aja yang buka pintunya, bibik ke dapur aja lagi". tegur rania dan diangguki oleh bik ijah.


rania beranjak dari kursi untuk membukakan pintu.


"adek kesambet apa bunda? tumben mau bukain pintu, biasanya juga nyuruh bik ijah". tutur kenan heran.


"sudahlah tuh bang, jangan usilin adikmu terus, ayo kta berangkat ke kantor nanti telat, calan pemimpin harus belajar disiplin waktu agar dapat menjadi contoh yang baik bagi karyawan".


"dafa... ayo masuk, aku ambil tas dulu ya, kamu mau minum apa?" tawar rania sambil mempersilahkan sahabatnya untuk duduk


"gak usah repot-repot nanti kalau aku mau bisa ambil sendiri". "ok terserah" rania berlalu ke kamarnya


"eh ada nak dafa" sapa sintia yang keluar dari ruang makan bersama rudi dan kenan.


"pagi tante, om, kak kenan"


"hemm" jawab kenan tanpa ekspresi dan berjalan mendahului ayahnya.


"pagi dafa, kalu pergi hati-hati jangan ngebut ya?" ucap rudi


"baik om" jawab dafa singkat


"itu tante, nia mengajak dafa ke pusat latihan be.."


"ke bimbel bunda" potong rania cepat seraya mengedipkan mata kirinya ke arah dafa.


"eh..ee iya tante ke bimbel" jawab dafa kikuk.


"loh katanya tadi ke pusat latihan be.. be apa?" tanya sintia penasaran, kenan dan rudi sudah berangkat ke kantor.


"pusat latihan belajar bunda, itu maksud dafa, iyakan?"


"iya tante, benar yang dikatakan nia"


"oh ya sudah hati-hati di jalan".


***


pusat latihan bela diri PSHT


"Dafa, tolong rahasiakan dari keluargaku kalau aku ikut latihan bela diri di sini ya?"

__ADS_1


"apa mereka belum tahu? kenapa nia?"


"suatu saat nanti aku pasti cerita, tapi tidak sekarang, apa kamu mau ikut juga bersamaku?" tanya rania.


"baiklah aku akan ikut daftar, agar setiap saat kamu mau latihan selalu aku yang jemput biar keluargamu gak curiga".


"kamu memang sahabatku yang is the best dafa, kamu memang bisa diandalkan"


"dafa gitu lo".


"oya... apa sudah ada kabar dari mela dan ayu?"


"belum, memangnya mereka kemana?" tanya dafa yang tidak mengetahui rencana liburan sahabatnya.


"memangnya mereka tidak ngabari kamu kalau mereka mau liburan ke tempat keluarga mereka"


"kalau ayu, aku tahu dia mau pergi ke bali tapi kalau mela aku gak tau"


"oh..." jawab rania sambil manggut-manggut.


setelah mereka mendaftar untuk jadi peserta anggota latihan bela diri, keduanya langsung pergi ke cafe untuk makan siang, meskipun rania horang kaya, dia tidak harus pilih tempat makan yang elite yang penting cocok di lidahnya dan terasa enak hayu sikat aja yang penting perut kenyang.


sikap rania yang bersahaja membuat dia disenangi banyak orang, berteman sama siapa saja tidak memandang status keluarga, bagi masyarakat luas tidak ada yang tidak kenal dengan keluarga ATMAJA namun rania tidak pernah sedikitpun menyinggung tentang dirinya yang berasal dari keluarga kaya raya.


hanya sahabat terdekatnya saja yang mengetahui tentang diri dia sebenarnya dan tentunya para guru di sekolahnya karena sekolah elite yang tempat dia menimba ilmu adalah sekolah milik keluarganya.


sekalipun sekolah itu milik keluarganya, tapi rania tidak di perlakukan secara istimewa, yang membuat dia istimewa karena kecerdasannya, kecantikannya, dan kebaikan hatinya. itu yang membuat dia diistimewakan oleh para guru.


terbukti dengan rania beberapa kali menang mengikuti lomba olimpiade tingkat kabupaten, provinsi, bahkan tingkat nasional. dengan segudang prestasi yang dia miliki rania tumbuh menjadi primadona di sekolahnya.


"setelah ini, kita kemana lagi?" tanya rania.


"hei nona muda, ini sudah sore lebih baik kita pulang, sebelum satu pleton di turunkan untuk mencari nona mudanya yang masih keluyuran". canda dafa.


"dafa....!" bentak rania dengan mata melotot tajam membunuh kearahnya.


dafa yang mengerti maksuddari rania. langsung mengacungkan dua jari membentuk huruf V tanda damai...


****


dukung terus author ya gaess.... mohon like dan vote nya.

__ADS_1


__ADS_2