
"Iya dong, karna adek cantik dan smart tipe cewek kak kenan kan seperti itu, jadi untuk standart tipe cewek kak kenan adek sudah termasuk. memang kak kenan belum jadi CEO tapi sebentar lagikan bakal jadi CEO" oceh rania.
"adek... adek... ini ni yang buat abang kangen nantinya sama adek, ceriwis nya adek" kenan senyum sambil mengusap puncak kepala adiknya.
"kakak lagi ngapain sih? kita ke bawah yuk". ajak rania.
"abang hanya ngecek barang bawaan abang aja, let's go kita ke bawah" sambil menarik leher adiknya kedalam pelukan. "sakit kak..."rengek rania manja.
kakak beradik itupun keluar dari kamar kenan, dan menuju ruang keluarga tempat kedua orang tuanya berada. rania duduk di sebelah ayahnya sementara kenan duduk berseberangan dengan adiknya.
"ayah sakit?" tanya rania pada rudi dan yang ditanya menatap tajam ke arah kenan.
"tidak, ayah sehat dan baik-baik saja". jawab rudi tanpa menoleh pada putrinya dan masih menatap tajam membunuh pada kenan.
sintia merasa aneh dengan sikap suaminya yang seakan-akan marah pada kenan atas pertanyaan putrinya, rania pun menyadari situasi seperti apa yang di hadapi abangnya.
"syukurlah kalau ayah sehat, adek khawatir karena wajah ayah pucat seperti kurang sehat" jelas rania agar ayahnya tidak salah paham pada abangnya.
tatapan rudi menghangat pada kenan setelah tau maksud pertanyaan dari rania putrinya. tetapi, sintia malah penasaran dengan tatapan membunuh suaminya kepada putra sulungnya. karena tidak ingin menimbulkan konflik sebelum keberangkatan mereka sintia mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada rudi suaminya.
"ayah jam berapa kita berangkat" tanya rania mencairkan suasana.
"dua jam lagi kita berangkat" jawab rudi.
"apakah kita akan naik pesawat reguler atau naik jet pribadi yah?"
"jet pribadi nak, karena ayah tahu kamu tidak suka dengan keramaian yang masih sangat asing denganmu" jelas rudi pada putri kesayangannya.
"sebenarnya gak papa juga sih yah kita naik pesawat reguler, selama adek perginya sama ayah" tutur rania manja.
"yah, ternyata collega perusahaan kita yang di malaysia akan hadir di acara peresmian abang besok, dan sekarang mereka sudah tiba di bandara internasional soeta jakarta" ucap kenan memotong percakapan adik dan ayahnya.
"mereka datang juga" senyum rudi mengembang.
__ADS_1
"apakah yang datang itu ounur dan hanum?" tanya sintia antusias
"iya bunda, bahkan kevin putra mereka juga ikut serta" jawab kenan. rania hanya dibuat bingung oleh ketiganya, karena dia sama sekali tidak mengenal nama-nama orang yang tengah dibicarakan.
"apakah kamu tidak ingin tahu dek, siapa orang yang kami maksud?" tanya kenan yang melihat kebingungan di wajah adiknya.
"tidak". jawab rania berbohong padahal rania sangat penasaran karena keluarganya sangat antusias sekali terutama bundanya. kenan tersenyum karena tahu kalau adiknya sedang berbohong namun kenan memilih untuk diam agar adiknya kesal. lama menunggu jawaban yang di maksud, rania mendengus kesal.
"memangnya siapa kak?" akhirnya rania menyerah, rasa penasarannya lebih dominan dari pada gengsinya.
kenan dan kedua orang tuanya tergelak karena sudah tahu sifat rania yang gengsian untuk bertanya.
"mereka itu sahabatnya ayah dan bunda waktu masih tinggal di jakarta, dan anak mereka adalah sahabat kecilnya abang yang sekarang tinggal di malaysia". jelas kenan pada adiknya.
"apa samapai sekarang masih terjalin persahabatan itu?" tanya rania penasaran
"masih dan bunda sering berkomunikasi dengan mereka" kali ini sintia yang menjawab pertanyaan putrinya.
"sejak kapan bunda bersahabat dengan tante hanum?"
"ayah juga sahabat mereka" sambung rania.
"kalau ayah mengenal kami sejak kuliah, ayahmu sahabatnya om ounur"
"jadi ayah dulu sahabat bunda?" selidik rania
"bukan" potong rudi datar. rania menautkan kedua alisnya
"ayahmu itu sahabatnya om ounur, itu yang bunda tahu?" jawab sintia.
"lebih tepatnya bunda hanya berteman dengan ayah" sambung kenan. " kak kenan tahu?" tanya rania makin penasaran.
"bunda pernah cerita sama abang, dulu ketika abang SMA sama seperti adek sekarang" jelas kenan.
__ADS_1
"apa bunda pernah jatuh cinta sama sahabat bunda sendiri?" tanya rania hati-hati dan sukses membuat rudi gusar atas pertanyaan putrinya.
sintia terdiam, tidak menjawab pertanyaan putrinya. khawatir dengan suasana hati suaminya, kenan yang paham dengan diamnya sang bunda lalu mengalihkan fokus adiknya.
"yah sepertinya kita sudah harus berangkat" tutur kenan mencairkan suasana yang sempat memanas sambil melihat arloji di tangannya. sintia tersenyum bangga pada putranya yang berinisiatif mengalihkan pembicaraan namun rania masih penasaran dengan kisah persahabatan bundanya.
apa sebenarnya yang terjadi pada persahabatan mereka, mengapa ayah sepertinya tidak suka mendengarnya? aku harus cari tahu, tapi sama siapa? sepertinya bunda juga enggan untuk bicara. sama kak kenan aja kan bunda juga pernah cerita sama kakak gumam rania dalam hati.
"ayo dek kita siap-siap berangkat ke jakarta" ajak kenan
rania yang masih penasaran terpaksa mengurungkan niatnya untuk mencari tahu. "nanti saja pas sudah tiba di jakarta". gumam rania meyakinkan diri sendiri dalam hati.
"ayo kak" lalu beranjak pergi
***
keluarga ATMAJA telah tiba di bandara internasional soeta jakarta, setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam di udara. polusi langsung menyeruak di kota metropolitan, terlihat padatnya kendaraan mengakibatkan kemacetan yang sangat panjang dan memakan waktu sedikit lebih lama. udaranya yang panas menambah daftar panjang penatnya kemacetan.
perjalanan menuju tempat tinggal kenan di jakarta seharusnya hanya di tempuh dengan waktu satu jam saja dari bandara internasional soeta, namun karena kemacetan yang padat bisa dipastikan waktunya molor setengah jam atau lebih. rania yang sudah penat dengan situasi kemacetan mendengus kesal.
"kenapa harus macet gini sih, apa setiap harinya kota jakarta itu selalu macet?" gerutu rania.
"apa tidak ada jalan lain lagi selain jalan ini, zal?" tanya rudi pada orang yang akan menjadi asisten putranya
"tidak ada tuan, biasanya juga jalan ini jarang terjadi kemacetan" jawab rizal yang baru di ketahui namanya.
"sabar ya dek, nanti juga lelahnya terbayarkan setelah kita sampai di rumah abang dan adek nantinya akan terbiasa dengan suasana seperti ini" bujuk kenan kepada adiknya yang sudah kesal.
"memangnya rumah kakak itu seindah apa sih, awas ya kalau gak seasri rumah kita. selera kakak kan payah kalau soal rumah lagian ogah banget suruh tinggal disini" dengus rania memanyunkan bibirnya.
kemacetan terurai perjalanan pun kembali dilanjutkan, mobil fortuner hitam metalik melaju menuju komplek perumahan ellite, setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya tiba di salah satu rumah yang sangat mewah meskipun tidak terlalu besar namun kelihatan asri dengan taman yang ditata rapi di halaman yang cukup luas.
"waow, amazing" kalimat pertama yang terucap rania, melihat kemegahan dan keasrian rumah baru abangnya.
__ADS_1
***