Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
44. KOMA


__ADS_3

"Kak bagaimana keadaan ayah? apa ayah sudah boleh dijenguk? tanya Rania yang baru saja tiba di rumah sakit bersama Dafa.


"Ayah masih di ruang ICU belum sadarkan diri, hanya satu orang yang boleh masuk sekarang bunda yang ada di dalam" saut Kenan lemah.


"Yang sabar kak, om Rudi orangnya kuat" ujar Dafa menenangkan, Kenan hanya mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.


"Bagaimana ujianmu hari ini dek?".


"Alhamdulilah lancar dan ini hari terakhir adek ujian kak, adek ingin ayah bangun dan melihat adek lulus ujian dengan nilai yang bagus". saut Rania sedih.


"Kita berdoa saja semoga ayah cepat siuman dan baik-baik saja" ucap Kenan memeluk adiknya.


para sahabat Rania berjalan setengah berlari menyusuri koridor rumah sakit mencari letak ruang ICU yang telah ditunjukkan suster jaga dilobby rumah sakit.


Mereka janjian berangkat bareng setelah Dafa mengabari bahwa ayah Rania masuk rumah sakit.


"Nia!" seru Mela setelah melihat sosok sahabatnya dalam pelukkan Kenan.


"Kalian ada disini" saut Rania ketika menoleh semua sahabatnya datang untuk memberikan support.


Kenan beranjak pergi untuk keluar sebentar saat melihat semua sahabat adiknya datang untuk memberi semangat Rania agar tidak terpuruk dalam kesedihan.


"Kakak akan keluar sebentar kalian tunggulah disini bersama Rania" ujar Kenan pada semua sahabat adiknya.


"Baik kak" saut mereka kompak lalu kenan pun pergi.


"Kamu yang sabar Nia dan banyaklah berdoa, aku yakin om Didi pasti akan baik-baik saja" ucap Nathan sembari duduk disamping Rania.


"Makasih Nathan, jujur aku takut kalau..."


"Jangan biasakan hati dan pikiranmu berburuk sangka terhadap takdir Tuhan Nia, sungguh itu tidak baik keadaan itu hanya akan membuatmu semakin terpuruk" potong Dafa.


Rania kembali terisak, betapa dangkal pemikirannya seharusnya saat ini Rania lebih banyak berdoa untuk kesembuhan ayahnya bukan berpikir sesuatu yang belum tentu akan terjadi.


***


"Ayah cepat bangun, kasihan anak-anak terutama adek dia pasti sedih jika melihat ayah seperti ini" ujar Sintia yang duduk disamping suaminya yang terbaring koma.

__ADS_1


Ya, Rudi mengalami koma setelah beberapa jam yang lalu sebelum kedatangan Rania dokter mengatakan bahwa Rudi Atmaja mengalami koma.


Hal ini sengaja tidak di beritahukan kepada Rania mengingat kondisi Rania yang belum sehat. Ingatan Sintia kembali ke beberapa waktu yang lalu saat dokter yang memeriksa perkembangan kaki rania mengingatkannya via telepon.


Saat itu dokter mengatakan jika Rania ingin cepat sembuh sebaiknya rania banyak istirahat jangan berpikir terlalu berat dan banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium agar proses pemulihan tulangnya cepat.


Karena alasan itu Rania sengaja tidak diberitahu perihal kondisi ayahnya yang sekarang koma. Hanya Kenan dan Sintia yang tahu kondisi Rudi sebenarnya.


Sintia terus menangis, bingung jika suatu saat Rania bertanya mengapa ayahnya belum bangun juga, karena cepat atau lambat Rania pasti akan mengetahuinya jika kondisi Rudi tidak ada perubahan.


"Ayah tahukan hari ini, hari terakhir adek ujian Nasional pasti dia ingin bercerita kepada ayah tentang universitas yang ingin dia datangi, jurusan apa yang dia inginkan dan masih banyak lagi yang ingin dia ceritakan perihal masa depannya tentu ayah tidak ingin melewatkannyakan?" tanya Sintia lirih terisak.


"Ayah juga ingatkan dengan janji sahabat? janji yang ayah buat untuk menjodohkan adek dengan Kevin Ounur Bayezid anak sahabat kita, bagaimana mungkin ayah tetap tertidur nyenyak sementara mereka akan datang untuk menagih janjimu, bangunlah yah". Sintia semakin terisak dalam kesendiriran.


****


Diluar Kenan mencoba menghubungi keluarga Kevin karena dengan kedatangan keluarga sahabatnya akan membuat sedikit beban ibunya berkurang karena sahabat akan selalu memberikan kekuatan dan semangat disaat kita terpuruk, begitu juga dengan dirinya yang sangat membutuhkan sahabatnya untuk berbagi duka.


"Hallo bro apa kabar?" sapa Kevin dari seberang telepon.


"Ada apa ini, apakah Kenan Cahya Atmaja sekarang sudah main hati?" tawa kevin menggema.


"...." diam tak ada jawaban dari kenan. Kevin menghentikan tawanya sadar bahwa ucapan sahabatnya tidak bercanda.


"Apakah Rania baik-baik saja? tanya Kevin karena hanya Rania yang bisa membuat mood sahabatnya berubah.


"Ceh, apakah hanya adikku yang ada di otakmu?" saut Kenan yang sedikit kesal.


"Sorry bro, lalu apalagi yang membuatmu kacau seperti ini jika bukan karena adikmu?" saut Kevin yang mulai serius.


"Ayahku koma vin" ucap Kenan dan tangisnya pun pecah.


Kenan taklagi sanggup menyembunyikan airmatanya dari sahabat kecilnya itu, rasa sakit yang coba dia simpan sendiri tak mampu membuatnya bertahan. Dia membutuhkan sahabatnya saat ini.


"apa? om Rudi koma? sejak kapan? apa yang sudah terjadi ken? kenapa kau memberitahukannya baru sekarang?. pertanyaan kevin memberondong dalam keterkejutannya.


"Iya vin, ayahku koma, aku juga tidak tahu kejadian yang sebenarnya saat itu Nia orang pertama yang melihat ayah pingsan kejadiannya baru tadi malam karena tidak kunjung sadarkan diri, tadi pagi dikter menyatakan bahwa ayah koma" jelan Kenan yang masih terisak.

__ADS_1


"Kamu yang sabar ken, aku beserta keluargaku sore ini juga akan datang ke indonesia, apa Rania tahu hal ini?".


"Tidak, aku harap kamu jangan memberitahukannya karena kondisinya sekarang tidak memungkinkan untuk menerima kabar buruk" jelas kenan.


"Mengapa begitu? bukankah jika dia tahu akan lebih baik?".


"adek baru saja mengalami kecelakaan pekan lalu yang mengakibatkan retak yang cukup parah di kakinya, jadi untuk kesembuhannya dokter menyarankan agar dia tidak diberitahu berita buruk ini" ungkap kenan.


"Kecelakaan, kamu tidk menjaganya dengan baik ken" ucap Kevin sarkas.


"Ya sudah aku tutup dulu teleponnya, aku takut Rania mencariku jika terlalu lama meninggalkannya" saut Kenan tanpa ingin meladeni ucapan sahabatnya.


"Ok salam untuk tante Sintia dan Rania" ujar Kevin.


Kenan lalu memutuskan sambungan teleponnya dan berbalik badan ingin segera menemui adiknya, namun Kena dibuat terkejut saat di depannya sudah ada Dafa yang berdiri mematung.


"Sejak kapan kamu ada disitu?" selidik Kenan.


"Sejak kak Kenan teleponan dan aku tidak sengaja mendengar percakapan kak Kenan di telepon".


"Apa kau mendengarkan semuanya". Dafa mengangguk.


"Apa itu benar?" Dafa balik bertanya.


"Kakak harap kamu tidak memberitahukannya pada Nia, jika kamu ingin melihatnya cepat sembuh" saut Kenan berubah dingin. Dafa mengangguk mengerti maksud Kenan. Kemudian Kenan lalu pergi menemui adiknya.


Takdir apa yang sedang kamu jalani sekarang ini Nia, mengapa begitu banyak duka yang harus kamu hadapi, semoga kamu kuat menghadapinya, aku yakin Tuhan sedang merencanakan takdir baik untuk hidupmu dimasa depan. Gumam dafa lirih dengan airmata yang rembes dari sudut matanya.


"Kak Kenan kenapa lama sekali?" tanya Rania yang melihat abangnya datang disusul Dafa kemudian.


"Kakak harus mengisi amunisi dulu kampung tengah sudah pada demo" Saut kenan berbohong sambil mengelus perutnya yang datar.


"Adek sudah makan? lebih abik sekarang adek makan dulu ajak temen-temnnya kakak mau bertemu dengan dokter dulu".


***BERSAMBUNG***


ayo bergabung di group cahatku rose_daylin banyak hadiah menantimu...

__ADS_1


__ADS_2