Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
64. DI BULLY


__ADS_3

"Iya kak, saya disini". Jawab Rania santai lalu berdiri.


"Jadi lo, cewek ganjen yang suka godain calon laki gue!". Teriak Nadia.


Semua mahasiswa yang ada di dalam kelas menjadi riuh, ada yang percaya dan ada yang tidak, bahkan ada yang terdengar ngegosip menghinanya.


"Gak nyangka ya Culun-culun gitu kegatelan". Ujar salah satu mahasiswi berbisik namur masih dapat terdengar.


"Ya jelaslah, kalau gak pasang badan mana ada cowok yang mau sama cewek seperti dia". Saut yang lain.


"Baru masuk saja sudah bikin scandal". Cerca mahasiswi lain.


Nadia merasa puas, niatnya untuk membully Rania berjalan dengan baik.


"Kalau ngomong jaga tu lidah ya". Chika emosi.


"Sudahlah Chik, biarin aja, aku juga gak merasa menggoda siapapun, jadi mungkin kakak ini halu".


Nadia meradang karena bullyan untuk menjatuhkannya di depan teman-teman sekelasnya, hanya dianggap angin lalu.


"Kurang ajar lo ya, belagu banget jadi cewek, lo brasa cantik? ngaca dong lo".


"Justru aku ngaca, makanya aku gak halu, apalagi berniat ngegoda calon suami orang, calon kakak aja kali yang ke GeEran, selama aku kuliah disini, gak ada cowok yang aku deketin apalagi ngedeketin aku, siapa sih calon suami kakak?".


Nadia terperanjat, dia tidak mengira gadis Culun yang akan dibullynya berani menjawab tanpa rasa takut sedikitpun.


Karena tidak jawaban, Rania kembali bersuara.


"Siapa kak calon suaminya? kasih tahu kami, agar kami bisa tetap jaga jarak untuk menghindari masalah dengan kakak".


"Iya, kasih tahu kami kak". Sahut mahasiswa lain turut membela Rania.


Nadia semakin terpojok, karena tidak mungkin baginya untuk mengaku-ngaku jika, Kevin dosen ganteng itu calon suaminya.


"Atau jangan-jangan kakak sendir yang halu?". Celetuk Rania kemudian


Nadia tak lagi mampu menjawab dan merasa semakin terpojok, lagi pula suasana kelas semakin tak terkendalikan, Dia pun akhirnya pergi dengan nada penuh ancaman.


"Awas lu ya!". Ujar Nadia sebelum pergi dan disoraki mahasiswa lainnya.


"Huuuuuuuu". Ledek para mahasiswa.


"Sial tu cewek, berani banget dia, lihat aja lo bakal nyesel Culun". Rutuk Nadia saat sudah di luar kelas.

__ADS_1


Nathan yang tak sengaja melihat Nadia dkk, menjadi berpikir untuk mengikuti kamanapun perginya cewek Culun yang sedang viral dikalangan anak kampus.


"Jadi penasaran, sama tuh cewek". Ujar Nathan yang didengar oleh teman-temannya.


"Sama siapa? Nadia?". Karena hanya Nadia dkk yang mereka lihat saat Nathan berujar.


"Yang bener aja, penasaran sama tu cewek bengis". Ujar Rio menimpali ucapan Rasya.


"Gak mungkinlah, hanya aku penasaran sama cewek yang lagi viral dikalangan mahasiswa, gue salut karena cewek bengis itu jadi terusik tapi apa yang membuatnya terusik". Saut Nathan.


"kalian tahu nama cewek itu?". Lanjutnya.


"Yang gue denger, dia sering dipanggil Ran, itu aja". jelas Rio.


"Nanti sepulang sekolah, kita ikutin tuh cewek karena gue yakin tiga cewek bengis itu pasti sudah merencanakan sesuatu seperti yang sudah-sudah". Kedua teman Nathan pun mengangguk setuju.


*****


Rania masih menunggu taksi di halte seberang sekolah, setelah sebelumnya dia menolak ajakan Chika. Rania merasa bosan menunggu, akhirnya dia memutuskan untuk berjalan menyusuri trotoar, sambil menunggu taksi lewat.


Karena hari ini dia tidak mendapatkan Taksol. Langkah kakinya semakin jauh menyusuri jalanan kota, lalu Rania beristirahat untuk membeli minuman karena haus.


Terpaksa dia harus menapaki jalanan yang cukup sepi namun masih ada kendaraan yang lalu lalang, karena dijalan utama tidak ada yang menjual minuman di pinggir jalan.


"Siapa kalian dan mau apa kalian?". Teriak Rania waspada.


"Kau tak perlu tahu siapa kami, kami akan membuatmu merasa senang". Ucap salah satu dari mereka sambil mendekat ke arah Rania.


"Jangan mendekat, aku akan berteriak". Gertak Rania.


"Silahkan, bahkan suaramu tidak akan terdengar karena jalanan ini cukup sepi".


Ketika salam satu dari mereka ingin meraih tangan Rania dengan sigap Rania melayangkan pukulannya, cukup membuat lelaki itu meringis kesakitan.


Merasa mendapat perlawanan, akhirnya keempat orang yang lain turun membantu. Secara jumlah memang tidak fair, karena Rania sendirian.


Tapi Rania cukup tangguh untuk melawan mereka, sampai perkelahian sengit pun tak terelakan lagi. Perkelahian mereka disaksikan oleh Nathan dkk yang sejak tadi mengikutinya, namun mereka tidak menolong karena merasa takjub dengan kelincahan rania dalam berkelahi.


Nathan terus memperhatikan setiap jurus yang digunakan Rania, dia mengenali gerakan itu seperti milik kelompok silatnya.


Sementara mata lain yang tak kalah kagumnya adalah Chika teman barunya, gadis itu berdecak kagum karena dia sangat piawai dalam menghindari serangan.


Kevin pun yang turut menyaksikan semakin dibuat kagum oleh keberanian Rania dalam menghadapi kelima lelaki yang berbadan besar, bila dibandingkan dengan tubuhnya yang kecil.

__ADS_1


Chika merasa harus menolong Rania, karena terlihat gerakannya sedikit terpojok.


"Hiaa..' Bugh


Satu badan tersungkur oleh tendangan Chika, Rania merasa sedikit lega karena ada temannya yang dapat membantu.


Kini perkelahian itu menjadi dua lawan lima, kelima lelaki itu sudah babak belur dan makin terdesak, kemudian salah satu diantara mereka dengan gesit menarik pisau lalu melukai lengan atas Rania.


Ssseett.... Pisau itu akhirnya merobek baju dan kulit putih rania.


"Aww...". Jerit Rania kesakitan.


Nathan terkejut melihat darah segar yang mengalir dibalik baju Rania, Kevin yang melihat itupun ingin datang menolong namun kalah cepat, Nathan dkk sudah lebih dulu datang menyerangmereka.


Baku hantam perkelahian manjadi seimbang, meski dalam keadaan terluka Rania masih sanggup untuk menumbangkan salah satu diantara lelaki yang menyerangnya.


Kelima leleki itu akhirnya kabaur dengan banyak luka lebam, teman-teman rania tidak mengejarnya karena kasihan melihat Rania yang semakin terluka.


Chika segera memberi pertolongan kepada Rania, dengan memberikan syalnya kepada Rania untuk menghambat laju darahnya.


"Terimakasih Chika kamu datang tepat waktu". Ujar Rania tulus.


"Kamu berlebihan, aku pas lewat saja, kamu hebat juga ya? aku gak nyangka ternyata kamu jago juga bela dirinya". Saut chika santai.


"Kamu yang berlebihan, itu hanya sekedar untuk melindungi diri saja, karena sebelumnya aku pernah..". Mata Rania berkaca-kaca seolah kesedihan enggan menjauh darinya.


"Apa lukanya parah". Tanya Nathan ngos-ngosan karena sempat ingin mengejar mereka namun diurungkan mengingat ada yang terluka.


Rania mendongakkan kepalanya melihat sosok yang bertanya. Rania terkejut karena yang bertanya adalah Nathan sahabatnya, jadi benar sosok yang dilihatnya waktu dikantin itu benar-benar sahabatnya.


Rania berdiri langsung memeluk erat tubuh Nathan, tangis Rania pecah, membuat yang lain sangat terkejut begitu juga dengan Nathan yang juga terkejut.


"Nathan, untung ada kamu, aku benar-benar takut, maksih kamu selalu ada untuk aku". Ucap Rania sambil terisak.


"Rania? apakah kamu benar Rania?". Tanya Nathan dalam pelukan Rania.


***BERSAMBUNG****


Hai reader tinggalkan jejakmu...


(Like, vote, dan komentar Krisan)


HAPPY READING

__ADS_1


__ADS_2