Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
69. HANYA RINDU


__ADS_3

"Jadi cewek seperti itu yang menarik perhatian lo?". Selidik Kenan.


"Lo gak tahu Ken, seperti apa tu cewek, walaupun tampilannya sederhana tapi pribadinya menyenangkan".


"Jadi lo kesini cuma mau cerita itu?".


"Gue bingung, mama menyuruhku agar cepat-cepat menikah".


"Ya sudah nikah aja".


"Nikah sama tembok?".


"Katanya tadi, lo udah punya cewek, emang lo gak serius sama mahasiswi lo itu?".


"Belum jadi cewek gue, baru sekedar menyukai, tapi gue bakal jadiin calon istri tuh cewek, dalam waktu dekat ini".


"Gue dukung lo, semoga berhasil".


Setelah ngobrol hal yang remeh temeh, keduanya langsung istirahat sejenak, lalu kemudian ngobrol tentang kerja sama antara kedua perusahaan yang ditakuti para pesaing bisnisnya.


****


Rania beberapa hari ini terlihat begitu tidak semangat, selain luka ditangannya yang belum kering, masalah perjodohannya juga menjadi beban bagi dirinya.


Sepulang dari kampus Rania langsung masuk kamar dan merebahkan dirinya diatas kasur Queen sizenya. Terngiang kembali perkataan abangnya beberapa hari yang lalu, tak terasa airmatanya berlinang.


Andai saja aku punya kuasa untuk menolak tapi, apalah dayaku, jangankan untuk menolak, bahkan atas hidupku, aku sudah tak memiliki hak lagi. Tangis batin Rania.


Ingatan Rania kembali ke masa-masa SMAnya dulu, masa remajanya yang indah bersama sahabat-sahabatnya.


"Apakah kalian tahu? jika hari ini aku merindukan masa-masa kita dulu, saat kita sering pergi ke Lembah Danau, hanya sekedar untuk melepaskan penat karena tugas sekolah atau hanya untuk menikmati alam semesta. Tapi itu hanya menjadi kenangan bagi kita". Terdengar gumam lirih Rania sambil melihat foto kenangan bersama para sahabatnya.


Rania meraih ponselnya, lalu memutar musik untuk menghilangkan kegundahan hatinya, samar terdengar lirik lagu dari Andmesh Kamelang.


'Saat ku sendiri, ku lihat foto dan video


Bersamamu yang telah lama ku simpan


Hancur hati ini melihat semua gambar diri


Yang tak bisa, ku ulang kembali


Ku ingin saat ini, engkau ada di sini


Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah


Bukannya diri ini tak terima kenyataan


Hati ini hanya rindu


Segala cara telah kucoba


Agar aku bisa tanpa dirimu


Ho-oh

__ADS_1


Namun semua, berbeda


sulitku menghapus kenangan bersamamu


Ku ingin saat ini, engkau ada disini


Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah


Bukan diri ini tak terima kenyataan


Hati ini hanya rindu


Ho-oh


Hanya rindu


Ho-oh'


Rania menangis saat menghayati setiap lirik lagu itu, kini hatinya pilu menahan rindu yang hanya sebatas rindu. Rania yang terbaring kian larut dalam kerinduannya kepada para sahabatnya hingga kantuk menyergap matanya, dia pun terlelap dalam tidurnya.


Keesokan harinya Rania malas untuk pergi ke kampus, dengan muka malasnya Rania menuruni anak tangga.


"Kamu gak ke kampus hari ini nak?". Tanya Sintia saat melihat putrinya.


"Males bun, hari ini Adek gak enak badan". Saut Rania.


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


"Pagi nak, tumben kamu pagi sekali sudah sampai sini".


"Kangen sama tante dan Nia". Ujar Kevin sambil menyenggol lengan Rania.


"Aww". Jerit Rania kesakitan karena lukanya disenggol.


"Kamu kenapa Nia?". Tanya Kevin panik.


"Gak papa". Saut Rania menahan sakit.


"Beneran kamu gak papa?".


"Maaf bunda, adek harus ke kamar dulu". Pamit Rania, lalu dia pun pergi meninggalkan meja makan.


"Loh, adek gak ikut sarapan bareng bunda?". Tanya Kenan yang baru saja duduk untuk sarapan.


"Biar bunda susul ke kamarnya". Saut Sintia.


Sintia penasaran terhadap tingkah putrinya yang tak biasa, sehingga dia memutuskan untuk menanyakan langsung perihal rasa penasarannya.


Saat Sintia berada di depan pintu kamar Rania yang sedikit terbuka, sangat terkejut melihat luka robek dilengan kanan atas putrinya.


"Adek, tangannya kenapa?". Tanya Sintia.


"Bunda!". Saut Rania terkejut saat melihat bundanya menghampirinya.


"jadi ini alasan kamu beberapa hari ini minta disuapin oleh abangmu? apa abangmu tahu tentang ini?".

__ADS_1


"Bunda, adek mohon jangan beritahu kak Kenan, bunda tahu sendirikan jika kak Kenan sudah marah?".


"Baiklah, tapi ceritakan sama bunda yang sebenarnya, bagaimana kamu bisa terluka seperti ini".


Rania menghela nafas yang sangat panjang, mencari kata-kata yang tepat untuk memulai ceritanya, baginya lebih baik menceritakan kepada bundanya ketimbang pada abangnya.


"Adek juga gak tahu bunda, kenapa kelima orang yang tidak adek kenal tiba-tiba menyerang adek secara membabi buta, adek hanya berusaha mengelak pukulan demi pukulan dari kelima orang itu sebisa adek, sampai akhirnya adek terkena sabitan pisau salah satu dari mereka". Ungkap Rania memulai ceritanya.


"Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api nak".


"Tapi sungguh bunda, adek tidak kenal dengan mereka, bahkan mereka menyerang adek ketika adek dalam penyamaran".


"Lalu apa alasan mereka, siapa yang menyuruh mereka?".


"Adek juga tidak tahu bunda, sepertinya kota ini memang tidak mau menerima kehadiran adek bunda, setiap adek berada di kota ini, selalu saja ada kejadian yang mengerikan terjadi pada adek, kali ini untung saja Nathan datang tepat waktu, kalau tidak, adek gak tahu apa yang akan terjadi pada adek mungkin saat ini adek sudah bersama ayah".


"Kamu tudak boleh bicara seperti itu nak, bunda tidak suka. Tunggu, katamu tadi Nathan? dia ada di kota ini?".


"Iya bunda, bahkan dia teman satu kampus adek, sayangnya dia satu tingkat diatas adek".


"Apa lukamu masih terasa sakit nak?".


"Masih, bunda jangan terlalu khawatir, adek baik-baik saja selama kak Kenan tidak tahu". Ujar Rania penuh kecemasan takut jika abangnya mengetahui tentang lukanya.


"Bunda, hari ini adek gak masuk kuliah dulu ya, lukanya tersa nyeri kesenggol kak Kevin tadi". Lanjut Rania.


"Ya sudah, biar nanti bunda menghubungi Nathan agar dia memberitahukan dosenmu untuk mengizinkanmu tidak kuliah hari ini".


"Terimakasih bunda".


"Sekarang kamu istirahat ya, bunda mau ke bawah dulu".


Sintia berlalu meninggalkan Rania, dan kembali merasa sepi sendiri.


****


Seharian Rania hanya berjibaku di dalam kamarnya, meskipun begitu dia tetap mengerjakan tugas dari kampus, yang sudah dikirim oleh Chika melalui e-mail.


Kamar Rania diketuk, Rania lalu mempersilahkan masuk orang yang mengetuk pintu kamarnya, karena memang tidak dikunci.


"Adek sedang apa?". Tanya seseorang yang baru masuk.


"Sedang ngerjakan tugas kampus kak, tumben kakak jam segini sudah di rumah, biasanya malam pulangnya".


"Abang sengaja pulang awal, kata bunda hari ini adek gak masuk kuliah, kenapa? apa adek sakit?". Tanya Kenan penuh perhatian.


"Adek cuma gak enak badan kak, dibawa istirahat pasti sudah enakan".


"Ya sudah jangan terlalu memaksakan diri". Saut Kenan sambil melirik Rania yang masih berkutat dengan tugas kampusnya. Rania mengetahui maksud abangnya.


"Ya kak, sebentar lagi tugasnya selesai".


"Adek sudah makan?". Rania menggelengkan kepala.


"Kita makan yuk, abang laper nanti abang suapin mau gak?".


Rania mengangguk dan menyimpan tugasnya, lalu pergi ke bawah menuju meja makan bersama abangnya.

__ADS_1


__ADS_2