
Nathan langsung membalas pelukan erat Rania, setelah tahu bahwa cewek Culun yang kini sedang memeluknya adalah Rania sahabatnya waktu di Kalimantan.
Perasaan bahagia menyelimuti hati Nathan, karena semua rindunya selama ini tercurahkan.
"Aku takut sekali Than, aku gak ngerti ada apa dengan kota ini, mengapa kota ini sepertinya memusuhiku, aku sama sekali tidak mengenal mereka, mengapa takdir selalu mempermainkan hidupku Than? apa salahku dengan kota ini?". Ungkap Rania yang terus terisak, membayangkan semua kejadian buruk yang pernah dialaminya di kota ini.
Nathan dapat merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Rania, dia juga tahu bagaimana perjuangan Rania melewati semua kejadian buruk yang menimpanya.
Ingatan Nathan kembali kepada para sahabatnya yang kini telah sibuk dengan urusannya masing-masing, andai saja mereka ada disini, tentu kehadiran mereka akan membuat rania jauh lebih tenang.
Sayangnya, semua itu hanya akan terjadi dalam mimpi yang takkan pernah jadi nyata. Realitanya sekarang yang tersisa diantara mereka hanya Nathan dan Rania.
"Nia, kamu sekarang tidak perlu takut lagi, karena ada aku yang akan selalu ada untukmu". Ungkap Nathan penuh kepastian dan semakin mengeratkan pelukannya.
Aku akan menjagamu buat Dafa, karena aku yakin Dafa sangat mencintaimu dan pasti suatu saat kamu akan mencintainya. Gumam Nathan tulus.
Nathan merasa dibaju lengannya sedikit basah, ketika dilihatnya, ternyata itu rembesan darah dari luka Rania yang menganga. Lalu Nathan pun melepaskan pelukannya.
Syal yang diberikan Chika tidak mampu menghentikan pendarahan diluka Rania, syal itu sudah basah karena darah Rania yang terus merembes. Rania meringis kesakitan, menahan rasa sakit dari luka yang cukup dalam.
"Nia, lukamu, kita harus segera bawa ke rumah sakit untuk segera diobati agar tidak infeksi". Ajak Nathan panik.
"Gak perlu Than, sudah tidak ada waktu lagi, aku harus segera pergi menemui kak Kenan di kantornya".
"Dengan lukamu yang seperti ini? lukamu terlihat sangat parah Nia".
"Kamu tenang saja, luka ini nanti akan aku obati, tapi sekarang aku benar-benar harus pergi, aku tidak ingin membuat kak kenan khawatir akan keterlambatanku".
"Kamu masih saja mengkhawatirkannya".
"Tentu, kamu tahu sendiri jika kak Kenan sudah panik, akan lebih parah dari lukaku ini". rania tersenyum bila mengingat abangnya dengan sikap posesifnya.
"Sepertinya kamu biasa saja sekarang dengan sikap kak Kenan".
__ADS_1
"Aku harus membiasakannya dan ya, aku mulai merasa nyaman dengan sikapnya yang posesif". Rania tertawa melupakan sejenak rasa sakit dilengan atas tangan kanannya.
"Aku ikut bahagia untuk itu, Rania".
"Kamu sungguh berlebihan Nathan".
"Jadi, panggilanmu sekarang Ran?". Rania hanya tersenyum membenarkan.
Chika dan kedua teman Nathan merasa sangat heran, karena Rania dan Nathan bisa seakrab itu, padahal mereka baru bertemu tapi mereka terlihat seperti sudah saling mengenal satu sama lain.
Rio dan Rasya semakin heran, karena selama ini mereka tidak pernah melihat Nathan begitu dekat dengan cewek, sikapnya selalu cuek, padahal banyak wanita cantik yang ingin dekat dengannya.
Tapi, sikapnya begitu berbeda dengan cewek culun yang ada dihadapan mereka saat ini, sikapnya begitu hangat dan bersahabat, tawanya pun begitu lepas.
Siapa gadis culun ini? begitulah kalimat yang ada dipikiran mereka. Sepasang mata Kevin pun masih tetap mengawasi kelima mahasiswinya itu. Ada rasa tidak nyaman dihatinya, ketika melihat Rania gadis yang membuatnya kagum memeluk erat pria lain, yang tak lain adalah Nathan mahasiswanya.
Kevin segera pergi menjauh, karena takut tidak bisa mengontrol hatinya yang mulai memanas. Apakah Kevin cemburu? Ya, Kevin saat ini sedang cemburu.
"Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya?". Tanya Chika yang tak lagi mampu menahan rasa penasarannya.
"Iya, apa kamu mengenali cewek culun ini Than?". Saut Rasya menimpali dan Rio hanya mengangguk membenarkan pertanyaan Rasya dan Chika.
Keduanya terdiam tidak langsung menjawab. Nathan melihat kearah Rania meminta persetujauan untuk memberikan jawaban karena Nathan yakin dibalik penyamarannya pasti ada alasan yang kuat. Namun dari tatapan Rania seolah timbul pertanyaan, Apa mereka bisa dipercaya? begitulah kira-kira arti dari tatapan Rania.
Nathan mengangguk dan Rania tersenyum tanda mengiyakan, Dia percaya sahabatnya tidak akan membohonginya.
"Aku dan Nia, eh Ran maksudku, sudah saling mengenal, dia sahabatku sejak kami masih sama-sama tinggal di Kalimantan".
"Jika memang dia sahabat lo, kenapa lo tidak langsung mengenalinya tadi? bahkan ada keterkejutan diwajah lo saat Ran memeluk lo?". Tanya Rio.
"Sebenarnya Nia eh Ran, itu tidak culun, dia menyamar, sesungguhnya dia gadis yang tercantik diantara ketiga sahabat wanitaku".
"Apakah dia salah satu sahabat wanitamu yang fotonya ada di ponselmu?". Ungkap Rasya yang pernah secara tidak sengaja melihat foto Nathan bersama keempat sahabatnya.
__ADS_1
"Iya, dia salah satu diantara mereka".
"Apa yang membuat kamu harus menyamar Ran?". Tanya Chika.
"Setahun lalu tepatnya seminggu sebelum kami ujian, aku dan keempat sahabatku pernah datang ke kota ini untuk pertama kalinya, aku kemari untuk menemui kakak ku, tapi karena sebuah kesalah pahaman, di kota ini aku mengalami insiden yang mengerikan hingga menyisakan trauma yang berlebihan, aku berjuang melawan rasa traumaku, hingga setahun itu berlalu dan aku sehat kembali". Rania menghela nafas panjang seolah ingin menghempaskan beban hidup yang menghimpitnya.
"Lalu aku memutuskan untuk kuliah, awalnya aku tidak pernah berpikir untuk menyamar tapi karena ada sedikit masalah yang harus aku hindari saat OSPEK, jadi terpaksa aku menyamar". Lanjutnya.
"Apa kamu gadis itu? gadis yang sempat menghebohkan kampus saat OSPEK?". Tanya Rio karena dia pernah melihat wajah cantik Rania. Rania mengangguk.
"Lalu siapa kakak mu? laki-laki apa perempuan?". Tanya Rasya masih penasaran.
"Kakak ku laki-laki, namanya kak Kenan". Saut Rania singkat.
"Kenan? apa Kenan yang kamu maksud adalah Kenan Cahya Atmaja CEO ATMAJA COMPANY?". Selidik Chika.
"Iya, dia kakak ku satu-satunya yang ingin aku temui sekarang, apa dia begitu hebat sehingga dia sangat terkenal, karena menurutku dia biasa-biasa saja". Senyum Rania mengembang.
"Kamu bercanda nona muda, siapa yang tidak mengenal penguasa negeri ini dengan segala yang dimilikinya". Saut Rio.
"Apa kamu adiknya yang mengalami cidera kaki itu?". Ungkap Chika.
"Apa cidera di kakiku juga menjadi berita viral?". Rio dan Rasya terkejut dengan pertanyaan Chika, karena yang mereka tahu akhir dari nasib orang yang menyakiti adik pengusaha muda billionere itu sangat buruk.
"Apakah nasib Nadia dkk akan sama seperti nasib keluarga gadis yang mati bunuh diri setahun lalu?". Pertanyaan itu lolos dari mulut Rasya tanpa sadar.
"Apa? jadi ini semua ulah Nadia dkk?". Teriak Chika, seolah tak percaya jika masih ada perempuan sekejam itu.
***BERSAMBUNG***
Kirim terus vote, like, dan komentarnya agar author tambah semangat menulis dan rajin Up.
HAPPY READING
__ADS_1