
"Iya aku! ada apa dengan kalian? mengapa terkejut melihatku?", ujarnya.
"Aku heran aja, kenapa kamu bisa ada disini? bukankah kamu..", ucapan Rania menggantung.
"Di Bandung? mana mungkin aku akan melewatkan moment kebersamaan ini, begitu aku mendengar Mela pulang ke Indonesia, aku langsung meninggalkan teman-temanku hanya untuk bertemu denganmu", sautnya.
"Kamu jahat Than, bagaimana bisa kamu meninggalkan mereka begitu saja", ujar Mela menggelengkan kepala.
Ternyata yang datang ke makam itu adalah Nathan, sahabat yang selalu care kepada sahabat-sahabatnya.
"Aku tidak jahat Mela, karna sebelum kami berangkat berlibur, aku sudah memberitahukan kepada mereka, jika ada sahabatku yang datang dari Luar Negeri maka aku akan datang menemuinya meskipun kita sedang berlibur", jelas Nathan.
"Lalu?", ujar Rania ambigu.
"Maksudnya?", Nathan bingung.
"Iya lalu, temen-temen kamu komentar apa?", Mela menjelaskan.
"Mereka setuju-setuju aja, gak keberatan", ungkap Mela.
Tak terasa hari mulai beranjak siang, ketiga sahabat itupun melenggang pergi meninggalkan area pemakaman, setelah sebelumnya berpamitan mengucapkan salam.
Setelah mereka berada di Parkiran yang jaraknya cukup jauh dan melelahkan dari area TPU, mereka berencana makan siang bersama.
"Sekarang kita mau kemana?", tanya Rania.
"Kita makan siang dulu yuk? perutku laper", saut Mela.
"Ok, gimana kalau kita pergi ke tempat biasa kita nongkrong dulu?", ajak Nathan.
"Setuju", saut Nia dan Mela bersamaan.
Mereka lalu pergi ketempat yang dituju, *C*afe tempat mereka kumpul-kumpul bareng saat SMA.
"Selamat siang mbak, mas, mau pesan apa?", tanya pelayan *C*afe.
"Seperti biasa mbak, tapi jangan terlalu pedes ya", saut Nathan. Pelayan Cafe itu mengerutkan dahi tidak mengerti menu apa yang biasa dipesan.
"Maaf mbak, maksud temen saya, kita disini pesen ayam penyetnya 3 porsi jangan terlalu pedas dan minumnya es lemon tea", jelas Rania. Pelayan cafe itupun mengerti.
__ADS_1
"Kamu gimana sih Than, memangnya kamu masih sering datang kesini ya?", celetuk Mela.
"Sorry, aku lupa, kirain aku dia itu si Sofi anak pemilik Cafe ini, kemana ya dia sekarang? habisnya sudah terbiasa", ujar Nathan. Ditanggapi kedua sahabatnya dengan senyuman.
Senyuman itu yang aku rindukan Nia, jika hal-hal sederhana bisa membuatmu tersenyum, aku akan berusaha untuk itu. Ungkap hati Nathan dengan tatapan penuh cinta membuat kedua sudut bibir Nathan tertarik.
Haduh Than, senyummu bikin aku meleleh, bisa gak sih kamu ngelirik aku, bukan sebagai sahabatmu tapi sebagai gebetan, aduh aku mikir apa sih, otakku kongslet ya! tapi apa arti tatapanmu itu Than, apa kamu menyukai Nia?, bathin Mela.
"Eh gimana kalau sambil nunggu pesanan datang, kita foto-foto dulu, spotnya indah banget nih, pohon yang itu dulukan belum serindang sekarang", ujar Rania menunjuk salah satu pohon yang ada didekat mereka biasa nongkrong.
"Oke, not bad lah", saut Mela dan Nathan mengangguk setuju. Mereka pun berfoto ria, setiap jepretan yang dihasilkan, tatapan Nathan selalu mengarah pada wajah Rania yang tertawa. Tanpa disadari Mela terus memperhatikan Nathan dan Rania asyik jepret-jepret kamera.
Ditempat lain, tepatnya di dapur Cafe, pelayan yang tadi membawa catatan pesanan Rania dan kedua sahabatnya ngedumel kesal.
"Memangnya dia siapa? pelanggan tetap! untung aja dia ganteng, kalau gak udah aku unyel-unyel tuh muka, emosi aku, kayak orang **** aku dibuatnya", omel pelayan.
"Kamu itu kenapa? ngomel-ngomel gak jelas", saut anak pemilik Cafe.
"itu loh mbak, ada costumer yang nyebelin, aku tanya mau pesen apa, malah dia jawab 'seperti biasa, tapi jangan terlalu pedas', nyebelin gak? mending kalau dia sering datang kemari, lawong ini *costu*mer baru, aku aja gak pernah lihat mereka sebelumnya", jelas pelayan. Dahi Sofi berkerut.
"Memangnya mereka pesan apa?", tanya Sofi
"Apa minuman pesanannya es lemon tea dan mereka duduk dimeja pojok dekat pohon rindang?", tanya Sofi lagi.
"Iya, kok mbak bisa tahu, apa mereka pelanggan tetap Cafe ini?", saut pelayan heran. Sofi pun bergegas keluar untuk menemui mereka, tanpa menjawab pertanyaan pelayannya lebih dulu.
"Mba Nia, mba Mela, mas Nathan.. Apa kabar? dah lama ya kalian ndak kesini", sapa Sofi dengan logat jawanya yang kental.
"Sofi" jawab mereka berbarengan dan menghentikan sejenak aktiftas foto-fotonya.
"Alhamdulilah kami baik, kamu apa kabar? kelas berapa sekarang?", tanya Rania.
"Hmm, baru kelas sebelas mba", jawab Sofi sopan.
"Gak kerasa ya, udah gede kamu sekarang, cantik lagi", puji Mela tulus.
"Ahh.. Mbak Mela bisa aja", saut Sofi tersipu.
"Eh gabung sini yuk, kita foto-foto bareng, buat kenang-kenangan, selagi kita liburan di Kalimantan", ujar Nathan.
__ADS_1
"A.. Iya, bener kata Nathan", timpal Rania. Mereka kembali sibuk dengan pose-pose unik agar menghasilkan jepretan yang bagus. Setelah itu mereka ngobrol bareng Sofi tentang hal yang remeh temeh.
"Jadi sekarang mbak-mbaknya dan mas ganteng, kuliah dimana", tanya Sofi.
"Kamu masih ingat saja ya dengan panggilan khususmu buat Nathan", ujar Nia tersenyum.
"Gimana ya mbak, sudah terbiasa e, gak papa toh mas?", tanya Sofi polos.
"Iya gak papa", jawab Nathan.
"Kita berdua kuliahnya di Jakarta dan di kampus yang sama", ujar Rania menunjuk dirinya sendiri dan Nathan.
"Kalau saya di Inggris, Sof", saut Mela.
"Wuih, pasti mbak Mela pinter bahasa inggrisnya ya!, yes no, yes no, gitu terus ya mbak!", ucap Sofi lucu.
Tentu saja tingkah lucu Sofi membuat Rania dan kedua temannya tertawa terpingkal, hingga para pengunjung Cafe yang lain menoleh ke arah mereka namun tidak merasa terganggu dengan celotehan mereka.
"Lalu itu si mbak Ayu sama mas baik hati, siapa tuh sssshh..hmm mas Dafa,! iya mas Dafa, itu kuliahnya dimana?", tanya Sofi lagi.
Rania terdiam, wajahnya berubah mendung, Mela menggenggam erat tangan Rania, seolah memberi kekuatan.
"Mereka kuliahnya paling jauh, di Praha", saut Nathan.
"Ooo.. di itu ya, di kota paling cantik di dunia, apa to julukannya, ehmm kota seribu menara, bener to?", saut Sofi antusias.
"Iya kamu bener Sof", ujar Rania yang kembali tersenyum melihat Sofi dengan kelucuannya dan logat bahasa jawanya yang kental.
"Yeee.. Makanannya udah dateng, aku udah gak sabar pingin makan, laper", celetuk Mela.
Pelayan yang membawakan pesanan mereka, menjadi tambah bingung melihat keakraban bosnya dengan pengunjung yang baru dilihatnya.
"Silahkan dimakan mbak, mas, ayo jangan sungkan-sungkan kalau kurang boleh nambah, tak gratisin", ujar Sofi, setelah makanan tersaji di meja.
"Mana boleh gitu Sof, kita kesini bukan mau minta makan", ujar Rania.
"Ndak apa-apa mbak, hitung-hitung Sofi lagi bahagia, karena bertemu lagi dengan mbak Rania dan para sahabatnya, ya meskipun belum lengkap semua, tapi setidaknya mengurangi rasa rindu Sofi sama mbak Rania, mbak Mela dan mas ganteng", ujar Sofi tulus.
"Makasih ya Sof", ucap Nathan. Sofi hanya mengangguk sopan.
__ADS_1
***BERSAMBUNG***