Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
81. PERGI BERLIBUR part 1


__ADS_3

Rania masih kesal dan merasa bosan di rumah, setelah kejadian di meja makan ketika sarapan pagi. Rania mondar-mandir seperti setrikaan, berusaha mencari cara untuk menghilangkan kejenuhannya, karena saat ini ibu dan abangnya tidak ada di rumah.


"Bik Maya, bik!", panggil Rania.


"Iya, nona muda".


"Suruh mang ujang siapkan mobil, antarkan saya ke Kentor kak Kenan!", Perintah Rania.


"Baik nona muda".


Pagi ini Rania akan menemui abangnya di kantor sebelum berangkat ke Kalimantan, masih ada waktu sekitar empat jam sebelum keberangkatannya. Rania berencana menghabiskan sisa waktu liburannya bersama sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa.


Sesampainya di kantor, Rania langsung menemui resepsionist dengan sopan dan anggun.


"Selamat pagi mba, kak Kenan nya ada?", tanya Rania sopan.


"Selamat pagi nona muda, tuan Kenan ada di ruangannya, mari saya antar!", saut resepsionist ramah.


"Ah.. Tidak usah, biar saya sendiri saja yang menemui kak Kenan, kamu lanjutin kerja aja". Resepsionist itu pun mengangguk sopan. Rania berlalu menuju lift khusus CEO.


Tok.. Tok.. Tok... Pintu diketuk, saat Rania sudah berada di depan ruangan kerja Kenan.


"Masuk", jawab Kenan yang tidak mengetahui jika adiknya yang datang tanpa menoleh.


"Assalamu'alaikum kak, sibuk ya?". Kenan menoleh ke arah suara datang.


"Adek!, tumben datang kemari mau ngapain?", tanya Kenan heran.


"Memangnya, adek harus punya alasan untuk datang kemari?", tanya Rania cemberut.


"Tidak, abang heran saja, bukannya adek siang ini mau pergi ke Kalimantan, apa gak siap-siap?".


"Sudah kak, adek hanya bawa satu tas gendong kecil saja, gak perlu bawa pakaian, jadi santai aja".


"Apa bunda sudah tahu, kalau adek mau pergi ke Kalimantan siang ini?".


"Gak". Rania menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa?".


"Mood adek lagi gak baik kak, nanti bunda ngelarang adek untuk pergi, apalagi kalau tahu adek perginya sendiri".


"Lebih baik, kakak aja deh yang ngasih tahu".


"Dek,..". "Apa! kakak juga mau bilang, kalau omongan bunda ada benernya, gitu!", Rania kesal.


"Lama-lama adek bisa gila, kenapa sih, harus maksa besanan sama keluarga Kevin?, apa kita bakalan jatuh miskin kalau gak besanan dengan keluarga Kevin? iya!". Lanjutnya.


"Adek jaga ucapannya!", tegas Kenan.


"Adek capek kak ngikutin semua kemauan kalian, kakak bisa tenang karena tidak pernah berada diposisi adek, yang selalu jadi tumbal akibat kesalahan yang tidak pernah adek perbuat, kakak jangan lupa, adek terikat dengan janji mendiang ayah juga karena siapa?".


"Gak sepatutnya kakak memaksakan keinginan bunda terhadap adek". Rania beranjak pergi meninggalkan Kenan sendiri di ruangannya.


Ketika hendak membuka pintu, ternyata pintu itu telah dibuka oleh seseorang.


"Hai, apa kabar Nia?", tanya Kevin yang sengaja datang ke kantor Kenan untuk menemui sahabatny. Rania hanya tersenyum kecut dan menatap malas ke arah Kevin, lalu Rania meninggalkannya tanpa bicara sepatah katapun.


"Hai Ken, Nia kenapa? seperti gak suka gitu sama gue?".


"bagus dong dia tahu, kalau gue hanya menganggapnya adik, dari pada gue harus berpura-pura suka padanya, Lo tahu sendirikan gue sudah memiliki pilihan sendiri, gue curiga, jangan-jangan Lo dan Nia sudah tahu dengan rencana perjodohan ini".


"Lo jangan bawa-bawa Nia, dia gak tahu apa-apa, dia hanya tahu kalau dia akan dijodohkan tapi dia gak tahu jika orangnya itu adalah Lo, kalau gue emang udah tahu".


"Parah Lo Ken, padahal Lo tahu gue suka sama cewek lain", Kevin menggelengkan kepala tidak percaya.


"Gue sudah pernah sampaikan ini ke mama Lo, tapi beliau meyakinkan gue, kalau semua akan berjalan sesuai dengan harapan, gue bisa berbuat apa? mama Lo yang maksa". Kevin terdiam seribu bahasa.


******


Sebelum Rania berangkat ke Kalimantan, Sintia sudah berada di rumah. Rania sebenarnya malas untuk memberitahukan perihal liburannya ke Kalimantan, pasti sangat alot untuk mendapatkan izin dari ibunya. Namun, dia tidak sampai hati untuk pergi begitu saja tanpa ibunya tahu.


"Bunda, boleh adek masuk?", tanya Rania saat didepan ruang baca milik ibunya.


"Masuklah nak, ada apa mencari bunda sampai kemari?".

__ADS_1


"Bunda, adek cuma mau bilang, siang ini adek akan berangkat ke Kalimantan untuk menghabiskan sisa masa liburan adek", saut Rania.


"Apa! ke Kalimantan?", tidak, Bunda tidak mengizinkan.


"Sudah adek duga, tapi sayangnya adek kemari bukan untuk meminta izin, lebih tepatnya berpamitan", Rania kemudian berbalik arah dan melenggang pergi.


"Rania, stop! kamu jangan pergi nak", Rania tak menghiraukan ibunya.


"Rania! kenapa sekarang menjadi gadis yang susah diatur, apa kamu mau menjadi gadis liar?", teriak Sintia.


Seketika itu juga airmata Rania meloloskan diri, tak bisa dihadang untuk tidak keluar, namun sesegera mungkin airmata itu ditepisnya.


"Bundalah yang membuat adek menjadi seperti saat ini, keinginan Bunda untuk tetap menjodohkan adek, membuat adek seperti di Neraka berada dalam rumah ini", ucap Rania saat berbalik arah menghadap ibunya.


Lidah Sintia kelu, tanpa bisa untuk berkata-kata, Rania lalu meninggalkan ibunya sendiri.


"Rania! tunggu nak, kamu jangan pergi! apa kamu mau menjadi anak yang durhaka pada ibunya?", teriakan Sintia kali ini mampu menghentikan langkah Rania.


"Bunda, sekarang adek mau tanya sama Bunda, apakah selama ini Bunda perduli dengan perasaan adek? tidak, apakah Bunda pernah bertanya apa adek bahagia dengan perjodohan ini?, meskipun adek terikat janji dengan ayah", Rania menggelengkan kepala.


"Kebahagian seperti apa yang Bunda tawarkan dalam perjodohan ini? sementara kita semua mendengar, jika Kevin tidak tertarik sama adek, seorang adik dari CEO terkenal seantero negeri ini, RANIA CAHAYA ATMAJA, jangankan tertarik!, untuk melirik adek saja ketika dia menyatakan penolakannya, tidak dia lakukan", Bunda masih kekeh berharap dia menjadi menantu di rumah ini?", tanya Rania.


Sintia terdiam tak mampu untuk menanggapi ataupun sekedar memberi alasan atas pertanyaan Rania.


"Cukup Bunda, jangan dijawab, diamnya Bunda sudah menunjukkan jawaban Bunda, adek hanya bisa bilang, bunda sungguh tidak memiliki perasaan, adek semakin gak kenal dengan Bunda yang sekarang", lanjutnya.


Rania melangkahkan kakinya menjauh dari ibunya, niatnya semakin mantap untuk pergi ke Kalimantan, tanpa rasa takut, karena dia sudah mengantongi izin dari abangnya.


Saat Rania berada di teras, bersiap untuk pergi ke Bandara, orang tua Kevin datang berkunjung, setelah kejadian di Cafe malam itu, beberapa hari yang lalu.


"Assalamu'alaikum nak, Bunda mu ada di rumah?", tanya Hanum lembut.


"Wa'alaikumsalam, Bunda ada di dalam, Om dan Tante langsung masuk aja", sambut Rania sopan.


"Kamu mau kemana nak?", tanya Ounur.


"Biasa Om anak muda, refeshing", saut Rania tersenyum.

__ADS_1


"Maaf Om, Tante, Nia harus berangkat sekarang, maaf juga gak bisa menemani", lanjutnya dengan senyum mengembang. Kedua orang tua Kevin mengangguk lalu Rania pergi menuju bandara.


****BERSAMBUNG*****


__ADS_2