Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
25. MENYESAL


__ADS_3

#jakarta


sementara rania yang masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri di rumah sakit, kenan sedang menikmati setiap jengkal kebahagiannya bersama kekasihnya melupakan adiknya yang sudah beberapa pekan terakhir ini tidak di hubunginya. namun berbeda dengan hari ini, tiba-tiba saja rasa rindu menyergap hatinya, wajah adik kesayangannya itu menari-nari di pelupuk matanya.


"kenapa aku sangat rindu pada adek, apa adek juga rindu sama aku?" gumam kenan. lalu dia mengambil ponsel kemudian menghubungi nomor adiknya. terdengar nada sambung dari sambungan telphone di seberang.


"hallo, kak kenan" sapa seberang telphone dan kenan mengernyitkan dahi karena yang menjawab suara lelaki.


"siapa kau? kemana adikku?" tanya kenan dingin. "maaf kak, ini aku dafa". "dafa! kemana adek?" dafa tidak langsung menjawab. "dafa! kemana rania?" ulang kenan dengan suara meninggi. "nia sekarang berada di rumah sakit kak" suara dafa lirih.


"adek sakit apa dan ada dirumah sakit yang mana?". "kakak mau apa? kalau ingin menjenguk nia apa kakak sudah baikan dengan nia?". "apa maksud dan pedulimu heh" kenan gusar. "aku harap kakak jangan marah dulu, jika kalian belum baikan, aku takut rania akan bertambah marah sama kak kenan". "apa maksudmu heh?" kenan tambah kesal.


"kak, nia masuk rumah sakit dari kemarin dalam keadaan pingsan sudah tiga belas jam belum sadarkan diri akibat dehidrasi karena tubuhnya kurang istirahat" jelas dafa. "kenapa bisa begitu?" kenan masih terdengar kesal. "kemari sore kami bertemu di taman dia menceritakan semua kegelisahan hatinya yang menanggung rindu terhadap kak kenan karena kakak sudah dua pekan tidak menghubunginya, sementara nia takut untuk menghubungi kakak duluan karena kakak pernah bilang ingin menjauh darinya dan rania semakin bersalah terhadap kakak karena sikapnya. itulah yang nia ceritakan". jelas dafa.


"apa?! jadi adek sakit karena aku? arrghhh... kenapa aku bodoh, abang seperti apa aku ini bukan membuat adiknya bahagia malah membuatnya menderita, maafkan abang dek, abang menyesal disini abang malah asyik sendiri" bathin kenan.


kenan lalu memutuskan panggilan telphonenya. ketika dafa berbicara ditelphone dengan kenan, rupanya rudi mendengarkan apa yang diceritakan dafa.


"jadi semua ini ulah kenan, apa yang ada dipikiran kenan?" gumam rudi kesal, lalu ponsel rudi berdering ternyata kenan yang memanggil. lalu rudi menjawab panggilan telphone dari putranya dengan menahan amarah.

__ADS_1


"hallo, ayah apa kabar?" sapa kenan tenang. "baik, ada apa?" jawab rudi dingin, kenan merasa ada yang aneh dengan nada bicara ayahnya. "ayah, maafkan abang?" haru kenan yang tak bisa lagi menahan diri menyesali kesalahannya.


"maaf? maaf untuk apa? abang punya salah apa?" tanya rudi dingin, kenan bisa saja untuk bersikap dingin terhadap semua orang namun jika kepada keluarga tanpa segan dia bisa dengan mudahnya menangis jika merasa bersalah dan rudi sangat tahu betul dengan semua sifat kedua anaknya.


namun rudi ingin memberikan sedikit pelajaran pada putranya agar dia lebih sabar dan sedikit mengalah terhadap adiknya. bukan rudi ingin memanjakan putrinya namun akhir-akhir ini rudi perhatikan putrinya sudah mulai menampakkan perubahan sikap yang lebih dewasa.


"yah, apa yang terjadi sama adek sekarang itu karena....". "adek ternyata benar, ayah salah menggantungkan kebagiaan adek di tangan abang" potong rudi. "yah, abang mohon maafin abang, abang salah abang menyesal yah" tangis kenan pecah saat ayahnya meragukan tanggung jawabnya, perih menyayat hati. "abang gak salah, tapi ayah yang salah begitu percaya diri" jawab rudi datar, kenan semakin bersalah.


"yah, abang..". "semua keputusan ada di tangan adek, jika dia memilih untuk mengabaikanmu ayah sudah tidak bisa menolong, berdo'alah semoga abang masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan adek dan meminta maaf padanya karena salah abng bukan sama ayah tapi sama adek, sekarang sudah empat belas jam adek belum sadarkan diri" jelas rudi lalu memutuskan sambungan telphonenya membuat kenan semakin menyesali perbuatannya.


"aarrrgghhhh....." teriak kenan dan memporak porandakan semua berkas-berkas penting yang ada di meja kantornya. karyawan yang mendengar teriakan bossnya tidak berani mendekat, mereka semua tahu jika mood bossnya sedang tidak baik pasti akan kena damprat jika menghampiri, rizal yang biasanya berani mendekat kini mengurungkan diri takut.


****


"dafa!" panggil ayu, dafa menoleh ternyata sahabatnya sudah pada kumpul semua. "kalian sudah datang semua" tanya dafa. "iya kita janjian berangkat bareng" jawab nathan. merekapun berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit setelah sampai di depan ruangan VVIP tempat rania dirawat mereka masuk.


"kalian sudah datang" sapa tante sintia, mereka tersenyum dan terlihat rudi duduk di sofa dengan wajahnya yang pucat. "sebaiknya tante dan om pulang saja istirahat di rumah, biar nia kami yang jaga nanti kalau nia sudah bangun kami pasti kabari tante dan om" tutur dafa yang mulai khawatir dengan kesehatan rudi karena dafa sudah tahu mengenai penyakitnya rudi dan sahabatnya yang lain membenarkan ucapan dafa. orang tua rania pun menyetujuinya karena sebenarnya rudi sudah merasakan sakit di dadanya sejak tadi.


pukul sepuluh pagi tepatnya enam belas jam rania tertidur akhirnya gadis cantik itu perlahan membuka matanya dan menggeliatkan badan layaknya orang yang bangun tidur. mela yang melihat rania terbangun untuk yang pertama kali lalu berteriak kegirangan.

__ADS_1


"temen-temen nia sudah bangun, dokter... dokteerrr nia sudah bangun" teriak mela tanpa sadar kalu dirinya berada di rumah sakit. sahabat dan dokter yang menangani rania lalu bergegas menghampiri rania.


"dokter saya kenapa?" tanya rania dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"tenang dulu nia, biar saya periksa dulu keadaanmu" jawab dokter.


dokter menjelaskan bahwa keadaan rania baik-baik saja dan dinyatakan sehat serta sore ini sudah boleh pulang. dafa lalu mengabari kedua orang tua rania dan mengatakan kepada mereka tidak perlu menjemput karena dia dan para sahabatnya yang akan mengantarkan pulang.


"nia syukurlah kamu sudah siuman, aku dan temen-temen sangat khawatir" ucap mela semabari memeluk rania. "maafkan aku sudah membuat kalian khawatir dan repot". saut rania. "yang penting buat kamu sekarang harus jaga kesehatan" ujar ayu dan rania terharu melihat kepedulian para sahabatnya.


aku bersyukur punya kalian disaat aku merasa sendiri karena terabaikan. bathin rania.


"kamu jangan bersedih, nanti cantiknya hilang" celetuk nathan. "nathan kamu disini juga?". "dia bantu jagain kamu juga nia selama kamu pingsan enam belas jam" jelas ayu. "makasih ya than, kamu baik sama aku". "kebaikanku itu gak sebanding dengan kebaikan orang tuamu nia". "maksudnya?". "ya nia, ternyata dia itu jojo orang yang pernah kamu ceritain yang pernah ditolong orang tuamu". jelas dafa yang baru masuk setelah mengabari orang tua rania. "jadi kamu jojo?" rania tersenyum dan nathan mengangguk.


sore harinya rania diantar sahabatnya pulang ke rumah menggunakan mobil milik mela.


****


**BERSAMBUNG**

__ADS_1


__ADS_2