
"Adek mau tanya apa?". sambil melepaskan pelukannya.
"Apakah supirnya adek, kak Kenan pecat?". Mendengar pertanyaan dari adiknya timbul niat Kenan untuk menjahilinya.
"Apakah harus ditanyakan lagi?, seharusnya adek berpikir dulu sebelum melakukan suatu pelanggaran, karena suatu pelanggaran ada konsekuensinya yang harus diterima". Kenan menahan senyumnya karena melihat wajah cantik adiknya yang manyun menggemaskan.
"Tapi kak, yang salah itu adek bukan pak supir?". Bela Rania merasa bersalah pada supirnya.
"Itu resiko yang harus ditanggungnya karena tidak dapat menjaga adek dengan baik". Saut Kenan yang masih saja usil dengan santai.
"Seharusnyakan yang dihukum itu adek bukan pak supir kak". Ucap Rania yang mulai frustasi karena belum berhasil membela supirnya.
"Makanya mulai dari sekarang, jika mau melakukan hal yang membuat abang marah, adek harus ingat, setiap adek berbuat kesalahan maka ada orang lain yang akan mendapat hukumannya". Kali ini Kenan serius dengan ucapannya.
"Gak bisa gitu dong kak, is not fair". "Gak adil dari segi mananya? itu aturan abang, mau tidak mau, suka tidak suka, setiap keputusan yang abang ambil sudah final tidak bisa dinego".
"Kak Kenan memang benar-benar egois, posesif, jahat, andai aja kalau ayah...". Kata-kata Rania menggantung.
"Sudah abang katakan, terserah adek mau bilang apa, lagi pula adek juga sudah tahukan alasannya kenapa abang berbuat seperti ini, selama belum ada orang yang bisa menggantikan abang untuk menjaga adek".
Semula Kenan yang hanya ingin menggoda adiknya menjadi terbawa suasana yang sedikit memanas, karena tidak ingin menyakiti adiknya lebih jauh, Kenan pun beranjak dari tempatnya masuk ke rumah.
Tinggalah Rania yang merutuki kebodohannya, karena selalu lupa siapa orang yang dihadapinya. Kenan tetaplah Kenan yang akan membuat aturan semaunya sendiri.
Saat gundah menyelimuti hatinya, ponselnya berdering, dari kejauhan Kenan tetap memantau adiknya. Ada rasa kasihan dihatinya, karena melihat adiknya yang merasa bersalah. Namun itu akan lebih baik, agar Rania tetap berada di dalam garis batas aturan Kenan.
"Hallo Than, ada perlu apa?". Saat panggilan telepon sudah tersambung.
"Apakah sekarang aturannya sudah berganti?".
"Maksudmu apa, aku gak ngerti?".
"Iya maksudku, apakah menghubungi seorang sahabat harus ada alasan atau keperluan? dan jika tanpa itu kita tidak boleh menghubunginya walau hanya sekedar ingin tahu kabarnya?".
"oh.. Ya tentu saja tidak, aku baik Than, sampai saat ini aku baik-baik saja".
"Syukurlah jika kamu baik-baik saja, dengan begitu aku merasa tenang".
"Kamu kenapa begitu baik sama aku Than?".
__ADS_1
"Apakah dalam pershabatan juga harus ada alasan juga?, Nia aku pernah bilang kan, aku akan selalu memastikan kamu hidup bahagia bersama siapapun dan jika memang tidak ada lagi orang yang akan membuatmu bahagia maka...".
"Maka aku akan berusaha membuatmu bahagia, itu yang selalu kamu bilang dan aku bahagia masih punya sahabat yang peduli dengan kebahagiaan aku".
"Sudahlah aku tidak ingin mendengar suara tangismu, lalu bagaiman dengan kelanjutan rencana kuliahmu?".
"Aku sudah daftar, bahkan hari ini tadi, aku baru saja menyelesaikan biaya administrasi kuliahku".
"Semoga sukses Nia, aku yakin masa depanmu akan cerah karena kamu anak yang pintar".
"Kamu terlalu berlebihan Nathan, aku tidak sepintar yang kamu bayangkan, aku masih perlu banyak belajar".
"Ok Nia, ini sudah malam, aku tutup dulu ya telponnya, happy nice dream, bye".
"Bye Nathan, happy nice dream too". Sambungan telpon pun terputus.
udara malam di luar semakin dingin, akhirnya Rania masuk ker rumah.
"Siapa yang telpon tadi?". Suara Kenan mengejutkan Rania yang baru masuk ke rumah.
"Bukan urusan kakak". Saut Rania yang masih kesal dengan abangnya.
"Itu tadi telpon dari Nathan". Saut Rania gedek dengan kelakuan abangnya karena kalau tidak dituruti, bisa saja abangnya benar-benar mengiyakan ancamannya.
"Nathan, pacar adek? tapi namanya seperti tidak asing".
"Dia bukan pacar adek, tapi sahabat adek, itu loh anak angkatnya mendiang ayah".
"Oh.. Iya bener, abang baru ingat, eh tapi ngomong-ngomong kenapa selalu Nathan yang ngubungin adek? kemana tuh di Dafa? sama sahabat adek yang lain".
"Mereka sudah pada sibuk dengan urusannya masing-masing, lagi pula adek gak tahu kemana perginya Dafa, kalau Mela, baru minggu kemarin dia mengirim e-mail sama adek, katanya dia dapat beasiswa kuliah di Oxford University".
"Sudah malam kak, adek mau istirahat besokkan adek harus bangun pagi, kampus ngadain OSPEK dan adek harus pesen taksi pagi-pagi kalau gak gitu gak bakal dapat, pakai mobil sendiri gak boleh, supir adek udah kakak pecat". celoteh Rania sambil neloyor pergi.
Kenan hanya tersenyum, karena jika adiknya ngambek terlihat sangat menggemaskan dan dia masih saja beranggapan kalau abangnya bener-bener memecat supirnya.
******
Sudah dua pekan kampus Rania memulai aktifitas perkuliahan. Setelah sepekan yang lalu, kampus ini mengadakan OSPEK. Selama itu pula Rania belum mendapatkan teman satu pun.
__ADS_1
Sungguh mengherankan bukan, gadis secantik dan setajir Rania tidak ada yang mau berteman dengannya. Apakah ini ada hubungannya dengan penampilan Rania saat ini? entahlah. Rania memutuskan berpenampilan seperti saat ini juga bukan tanpa alasan.
Alasannya simple, penampilannya yang sekarang, akan membuat dia lebih fokus pada tujuannya masuk kuliah yaitu belajar, demi mewujudkan harapannya menjadi pengusaha yang sukses. Sungguh pilihan sulit bagi Rania.
Dua pekan sebelumnya, pagi ini merupakan hari pertama Rania masuk kuliah, pagi-pagi sekali Rania sudah mempersiapkan diri memulai harinya.
Seperti biasanya, dia tidak ingin melewatkan moment sarapan pagi bersama keluarganya. Rania segera turun menuju meja makan, abang dan ibunya sudah berada di kursinya masing-masing.
"Selamat pagi semuanya". Rania lalu duduk mengambil kursi disebelah abangnya.
"Selamat pagi nak". Saut Sintia santai yang merasa tidak terganggu dengan penampilan putrinya, karena sebelumnya Rania sudah meminta pendapat ibunya atas keputusannya beserta alasannya.
Ketika Rania akan mengambil sarapannya, Kenan menyemburkan air kewajahnya, dia terkejut dengan penampilan adiknya.
"Kak Kenan, memangnya wajah adek wastafle?, bunda lihat wajah adek jadi berantakan gini". Rania mengerucutkan bibirnya menjadi satu, dan itu membuat Sintia harus menahan tawanya, karena wajah Rania yang terlihat lucu.
Sebelum melanjutkan sarapannya, Rania membasuh wajah dan merapikan kembali penampilannya, yang sebelumnya sempat berantakan karena ulah abangnya.
"Awas jangan nyembur lagi". Ujar Rania yang sudah selesai dengan penampilannya.
"Penampilan apaan sih ini dek? abang hampir gak ngenalin loh, untung saja abang mengenali aroma farfum adek, kalau tidak sudah abang usir adek dari rumah ini". Ujar Kenan sedikit kesal.
"Yassalam, untung saja kakak bilang, kalau tidak mereka pasti akan mencurigai untuk mencari tahu yang siapa adek". Sambil menepuk jidatnya.
"Makasih ya kak, adek mau ke atas dulu". Rania berlari menuju kamarnya.
"Dek mau kemana? habiskan dulu sarapannya, awas jangan aneh-aneh lagi loh". Teriak Kenan kepada adiknya namun diacuhkan Rania.
****BERSAMBUNG****
Kira-kira penampilan Rania berubah seperti apa ya?
Ada yang mencoba ingin menebak?
Jika ingin tahu... terus ikuti cerita selanjutnya ya?
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak like, vote dan komentarnya...
TERIMAKASIH...
__ADS_1