
Makan malam yang direncanakan kenan pun berjalan dengan baik, tinggal beberapa jam lagi menuju makan malam bersama dua keluarga.
Sebenarnya Sintia tidak ingin mengambil bagian untuk acara dinner malam ini namun Rania mencegahnya karena ini adalah moment bahagia abangnya.
"Jangan rusak suasana hati kak Kenan bunda, adek mohon" ujar Rania memelas.
"Tapi perempuan itu yang sudah membuat ayah pergi meninggalkan kita nak" geram Sintia.
"Bunda kepergian ayah memang sudah takdir dari Tuhan kita harus ikhlas".
"Tapi perempuan itu penyebab jalannya ayah pergi, kamu harus ingat itu" bentak Sintia.
"Adek ingat bahkan masih sangat jelas dalam ingatan adek bun, bagaimana ayah pingsan dihadapan adek dengan bersimbah darah, tapi adek mohon jangan isi hati bunda dengan kebencian, biar adek yang cari jalan keluarnya bun untuk masalah ini, bunda ikutin aja permainan adek" ungkap Rania.
Hati sintia basah mengingat semua kejadian yang terjadi dalam keluarganya bahkan terhadap anak-anaknya akibat ulah perempuan itu.
Tiba-tiba Kenan masuk kamar Sintia tanpa mengetuk pintu karena dia tahu adiknya ada di dalam bersama ibunya.
"Bunda apakah sudah siap? keluarga Jena sudah dalam perjalanan menuju kemari" tanya Kenan antusias.
"Apakah keluarga Jena benar-benar tidak tahu kalau kami ada disini?" selidik Rania.
"Sudah berapa kali abang bilang panggil Jena dengan sebutan kakak".
"Adek belum terbiasa" saut Rania malas.
"Makanya biasakan, karena setelah malam ini abang berencana akan melamar Jena. Bagaimana bunda setuju kan?".
"Apa tidak terlalu cepat nak" Sintia berusaha mencegah secara halus.
"Tidak bunda, semua sudah abang pikirkan dengan baik ini juga demi bunda, karena sebentar lagi adek mau masuk kuliah pasti bunda sendirian di rumah kalau ada Jena bundakan tidak kesepian lagi sambil menunggu adek pulang kuliah". ungkap Kenan pasti.
"Pertanyaan adikmu belum kamu jawab nak" Sintia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sesuai keinginan adek keluarga Jena tidak tahu kalau bunda sama adek ada disini".
"Ya sudah sekarang kakak keluar dari kamar bunda biar bunda siap-siap dulu" tutur Rania.
Kenan pun melenggang pergi meninggalkan kedua wanita yang sangat disayanginya.
__ADS_1
"Untuk apa bunda bersiap, bunda enggan menyambut mereka" ujar Sintia malas.
"Jangan bunda, bunda harus tunjukkan seperti apa keluarga kita kepada mereka agar ke depannya mereka bisa tahu diri" ungkap Rania Kesal.
"Bunda harus dandan seelegan mungkin tunjukkan kalau bunda itu ibu dari CEO sang penguasa negeri ini jangan permalukan kakak dengan penampilan bunda yang biasa saja" katanya lagi.
Kekesalan Rania bukan tanpa alasan karena beberapa hari sebelum mereka memutuskan untuk pindah ke Jakarta Rania mendapat informasi yang mengejutkan dari orang kepercayaan mendiang ayahnya bahwa Kenan sudah menanamkan sahamnya sangat besar di perusahaan keluarga Jena.
Lebih mengejutkannya lagi sebagian dari para investor perusahaan keluarga Jena adalah klien besar perusahaan keluarga ATMAJA.
Sungguh mengejutkan namun Rania seperti mendapat angin segar ketika mengetahui jika Kenan menarik seluruh sahamnya maka perusahaan kelurga Jena akan mengalami kebangkrutan dan bisa di pastikan keluarga mereka akan sulit untuk bangkit lagi.
Bagaimana caranya supaya kakak menarik seluruh sahamnya dari perusahaan keluarga Jena? ayo Rania berpikirlah. Gumam hati Rania pada diri sendiri.
Melihat gelagat aneh dari putrinya Sintia menjadi penasaran dengan apa yang dipikirkan Rania.
"Apa yang sedang adek rencanakan?" selidik Sintia.
"Entahlah bunda, adek gak tahu" saut rania menggidikkan bahu.
****
Orang tua Jena berdecak kagum saat melihat rumah Kenan yang begitu besar dan mewah.
"Kamu memang pintar nak mencari pasangan, calon suamimu bener-benar pengusaha konglomerat" ujar ibu Jena.
"Sayang calon besan mama tidak ada disini" katanya lagi.
Tidak lama kemudian Kenan turun dengan penuh percaya diri cara berpakaiannya sangat elegan, wajahnya yang begitu tampan membuat kedua orang tua Jena semakin terpukau dengan penampilannya calon menantunya.
"Selamat malam nak" sapa ayah Jena. "Selamat malam om, tante".
"Happy birthday sayang, Kamu sangat tampan sekali malam ini" puji Jena sambil cupika cupiki. "Kamu juga cantik".
"Apakah itu perempuan yang selama ini sudah berhasil memporak porandakan keluarga kita?" dengus Sintia kesal.
"Beraninya dia menyentuh wajah putraku" katanya lagi.
"Sabar bunda, tahan emosinya ingat bunda harus tetap terlihat cantik dan elegan tunjukkan kesan yang berkelas" bisik Rania saat mereka tercegat di tangga.
__ADS_1
Malam ini Sintia dan Rania terlihat sangat cantik dan modis penampilannya menunjukkan kasta paling tinggi dan berkelas. Hingga orang yang melihatnya akan berdecak kagum.
keluarga seperti apa yang sedang kami hadapi sekarang ini, sungguh sangat berkelas beruntungnya kami memiliki calon besan seperti keluarga ini. Gumam hati ayah Jena.
"Itu siapa nak?" tanya ibu Jena saat melihat Sintia dan Rania menuruni tangga. Semuanya menoleh kearah yang ditunjukkan oleh ibu Jena.
"Oh.. itu bunda dan adik saya" jawab Kenan lugas.
"Sayang kenapa kamu gak bilang kalau keluargamu ada disini juga?" bisik Jena.
"Ini suprise buat kamu dan orang tuamu" ujar Kenan sedikit menggoda.
"Oh.. tante selamat malam" sapa Jena ramah hendak bersalaman dengan Sintia namun Sintia tidak segera menyambutnya,
"Jangan tunjukkan kebencian bunda" bisik Rania. Lalu Sintia pun menyambut tangan Jena yang masih menggantung dengan ujung jarinya.
Melihat sikap ibunya terhadap kekasihnya membuat Kenan merasa heran, tidak pernah dia melihat sikap bundanya yang seperti itu terhadap orang yang baru ditemuinya.
Apa yang membuat bunda seperti tidak menyukai Jena, apa Rania mencuci pikiran bunda untuk membencinya, apa sebenarnya yang kamu inginkan dek?. Geram hati Kenan.
"Selamat malam nyonya" sapa kedua orang tua Jena bersamaan.
"Malam kenalkan saya Sintia nyonya besar di rumah ini dan ini putri saya Rania adik Kenan" ucap Sintia memperkenalkan diri dengan penuh penekanan disetiap katanya.
"Kami kedua orang tua Jena kekasih putra anda nyonya" ujar ayah Jena.
"Lalu kemana Tuan besar, nyonya mengapa kami tidak melihatnya?" ucap ibu Jena.
"Suamiku sudah meninggal empat bulan yang lalu, apakah putri kalian tidak mengatakannya atau dia juga tidak tahu kalau calon mertuanya sudah tiada?" ungkap Sintia sinis menatap Jena.
Suasana yang tadinya terasa hangat kini berubah menjadi canggung dan dingin. Kenan sungguh merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini, sementara Rania begitu menikmatinya.
"Ma..maaf nyonya saya lupa memberitahukannya kepada orang tua saya" ujar Jena gugup gemetaran melihat sikap calon mertuanya.
Kenan semakin dibuat frustasi dengan sikap ibunya, sementara dia sendiri tidak memiliki keberanian untuk menegur ibunya karena takut menjatuhkan harga diri ibunya di depan keluarga Jena.
Kenan tidak ingin membuat keluarganya kecewa untuk yang kedua kalinya, namun dia juga tidak ingin menyakiti keluarga kekasihnya karena tidak mendapat perlindungan darinya.
***BERSAMBUNG***
__ADS_1
Ayo like dan votenya jangan lupa.