
Rania terharu mendengar ucapan abangnya.
Terimaksih ya Allah, Engkau telah mengabulkan doa-doaku selama ini. Engkau telah mengembalikan kak Kenan ku yang dulu, kak Kenan yang baik, penuh cinta dan kasih sayang. Derita seberat apapun yang akan aku alami, jika ada kak Kenan yang selalu mendukung dan menyayangiku, in sha Allah aku akan sanggup menjalaninya. Bathin Rania.
"Tidak kak, adek akan tetap melanjutkan perjodohoan ini, adek tidak ingin mengingkari janji adek dan membuat mendiang ayah kecewa". Rania melepaskan pelukannya dan mengambil pigura yang ada ditangan Kenan.
"Apa adek yakin?". Tanya Kenan ragu.
"Adek tidak pernah seyakin ini sebelumnya".
"Baiklah, sebaiknya adek bersiap untuk kedatangan keluarga yang akan menjadi besan keluarga kita".
"Apa! memangnya acaranya malam ini? bukankah acaranya baru pekan depan, setelah adek libur semester?". Saut Rania terperanjat.
"Hahaa.. Yang bilang malam ini juga siapa, abang hanya bilang adek bersiap, itu artinya adek harus mempersiapkan diri dan mental adek". Jelas Kenan tertawa.
"Ishh.. kak Kenan apaan sih, gak lucu tahu. Kak, sebenarnya siapa sih yang akan menjadi calon suami adek?". Selidik Rania.
"Tidak tahu".
"Tidak tahu! jadi kak Kenan juga belum tahu siapa orangnya? ceroboh sekali sih, masa calon untuk adiknya sendiri kakak tidak menyelidikinya, ternyata kakak sama aja, masih nyebelin, udah gak sayang adek". Cerocos Rania.
Kenan hanya menahan bibirnya untuk tidak tertawa.
"Gak mungkinlah abang gak sayang sama adek, abang tahu siapa yang bakal jadi calonmu, mereka dari keluarga baik-baik, sekarang itu hanya masalah perasaan, setelah bertemu nanti kalian saling suka atau tidaknya, kalian yang menentukan". Jelas Kenan.
"Jika kak Kenan sudah menilai keluarga itu dengan baik, adek siap kak".
"Jika suatu saat adek tak bahagia, maka ceritalah sama abang". Rania hanya menganggukkan kepala tanda setuju.
"Astaghfirullah, hampir lupa". Kenan menepuk jidatnya.
"Ada apa kak, apa ada yang terlewatkan?". Tanya Rania.
"Ya, abang hampir melewatkannya, kenapa adek tidak kuliah hari ini?". Tanya Kenan kemudian.
"Apa kakak mengawasiku?". Rania tanya balik.
"Jawab aja pertanyaan abang, jangan bertanya balik". Kenan berubah dingin.
Rania mengangguk, dia tidak ingin abangnya akan semakin berang terhadapnya.
"Kenapa?". Tanya Kenan belum merubah sikapnya.
__ADS_1
"Adek gak suka sama dosennya".
"Apa! hanya karna gak suka dengan dosennya, lalu kamu seenaknya tidak kuliah, belajar profesional Rania, karena tidak selamanya orang-orang disekeliling kamu itu sesuai dengan kehendakmu, jika kamu seperti ini terus lebih baik kamu berhenti kuliah".
"Tapi kak, adek masih mau kuliah". Ucap Rania sedih.
"Untuk apa kuliah kalau hanya untuk buang-buang biaya, kalau hanya untuk terlihat seperti anak kuliahan kalau hasilnya nol, abang menguliahkanmu bukan untuk hal seperti itu, abang ingin kamu dapat membantu abang mengembangkan perusahaan mendiang Ayah secara bersama-sama, jika kamu ingin tetap kuliah, belajar disiplin dan beradaptasi dengan lingkunganmu". Tegas Kenan.
"Adek janji kak, hal ini gak akan terulang lagi".
Aduh dek, kamu kenapa bisa gak suka sama Kevin sih, dia itu calon imammu. Bukannya kalian sudah akrab banget ya..aduh PR nih, buat abang kalau kamu sampai bener gak suka sama Kevin. Bathin Kenan.
"Adek kenapa sih gak suka sama dosennya? memangnya siapa dia?". Selidik Kenan kepo.
"Sombong, dingin, pokoknya sebelas dua belas dengan kak Kenan". Saut Rania kesel jika mengingat pertemuan pertamanya dengan Kevin.
"Hati-hati loh, biasanya suka jadi jodohnya". Ledek Kenan sambil memainkan alisnya.
"Ish.. Kak Kenan nyebelin, mendingan kakak keluar aja deh dari kamar adek". Rania mendorong tubuh abangnya.
"Iya-iya abang keluar, awas ya, jodoh beneran loh". Kenan masih meledek adiknya.
"Kakak!". Teriak Rania sambil menutup pintu kamarnya setelah abangnya berada di luar kamar. Kenan hanya tertawa melihat wajah adiknya yang bersemu merah.
****
"Selamat pagi Tuan, ada yang bisa kami bantu?". Tanya resepsionist ramah.
"Hmm.. Apa Kenan ada di ruangannya?". Saut Kevin bertanya.
"Apa Tuan sudah membuat janji untuk bertemu hari ini?".
"Belum, tapi katakan padanya, sahabatnya Kevin ingin bertemu".
"Baik Tuan". Resepsionist itu lalu menghubungi ruangan CEO dan Kevin dengan sabar menunggu.
"Tuan dipersilahkan untuk masuk". Ucap resepsionit itu.
"Terimakasih nona". Resepsionist itu mengangguk sopan.
Kevin berlalu menuju lift khusus yang menghubungkan langsung dengan ruangan CEO. Kevin mengetuk pintu ketika sudah tiba di depan pintu ruangan CEO. Kevin langsung masuk ketika sudah dipersilahkan masuk.
"Selamat pagi Ken". Sapa Kevin.
__ADS_1
"Hai Kev, tumben sepagi ini kamu ke kantorku, tidak ke kampus?'.
"Tidak, aku sudah meminta cuti lebih dulu".
"Kenapa?".
"Aku mau pulang ke Malaysia, mama dan papa memintaku untuk pulang, katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan penting katanya, mungkin tentang perjodohanku". Ungkap Kevin.
Uhuk..uhuk... Kenan terbatuk.
"Kamu jangan meledekku Ken". ucap Kevin dengan wajah kesalnya.
"Sorry, aku gak bermaksud untuk meledekmu, tapi bukannya kamu sudah punya pilihan, lalu bagaimana dengan nasib pilihanmu jika kamu dijodohkan?". Selidik Kenan.
"Aku bahkan belum memulainya, tapi aku sungguh menyukai gadis itu, makanya aku ingin pulang lebih awal, agar bisa merundingkan hal ini lebih dulu, siapa tahu perjodohanku ini bisa dibatalkan". Jelas Kevin.
Vin, jika kamu tahu bahwa gadis yang dijodohkan denganmu adalah adikku, apa kamu masih ingin menolaknya demi gadis itu? ingin rasanya aku memberitahumu, tapi aku belum siap mendengar jawabanmu, biarlah orang tuamu sendiri yang akan meyakinkanmu. Kenan membathin.
"Hey.. Aku yang akan dijodohkan kenapa kamu yang ngelamun".
"Apa kamu yakin dengan gadis itu?". Selidik Kenan.
"Ya, aku yakin, bahkan Aku rela meninggalkan segala kehidupan mewahku demi gadis itu, jika orang tuaku menentangnya".
Kenan sulit sekali menelan salivanya setelah mendengar jawaban sahabatnya itu.
"Apa dia sesederhana itu?".
"Ya, dia gadis yang dangat sederhana, mandiri dan tangguh, dia mampu melindungi dirinya sendiri, itu yang membuat aku jatuh hati padanya, aku akan berjuang untuk mendapatkannya, aku akan berusaha meminta restu dari orang tuaku, berusaha merebut hatinya dan menjauhkan dia dari laki-laki yang akan mendekatinya". Jelas Kevin penuh semangat.
Siapa gadis itu, mengapa Kevin begitu menyukainya, apakah adikku pantas dibandingkan dengan gadis sederhana itu? aku jadi penasaran. Lagi-lagi pergulatan bathin Kenan.
"Apakah gadis itu cantik? jika dengan Nia cantik mana? kamu kan tahu sendiri, jika kecantikan adikku sulit untuk mendapat saingannya". Ujar Kenan menyelidiki.
"Kalau dibandingkan dengan kecantikan Nia, gadis ini tidak sebanding, kecantikannya jauh dibawah NIa, tapi yang aku suka selain dari kepribadiannya adalah sorot matanya yang teduh, sangat mendamaikan, sorot matanya seperti tidak asing lagi bagiku". Ungkap Kevin.
"Ceh, itu karena kamu melihatnya dengan cinta". Kesal Kenan.
Apa adek akan hidup bahagia nantinya jika tetap bersama Kevin? aku yakin pasti om Ounur dan tante Hanum akan tetap kekeh dengan perjodohan ini, tapi tidak mudah juga membuat Kevin luluh, aku tahu pasti bagaiman Kevin, jika dia sudah memiliki keinginan maka dia akan memperjuangkannya sampai dapat, arrgghh... Mengapa semakin rumit sih. Geram bathin Kenan.
****BERSAMBUNG***
Jangan lupa dukung terus Author dengan memberikan like, koment dan votenya.
__ADS_1
Terimakasih untuk para readers yang sudah memberikan dukungannya.
HAPPY READING