Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
49. KEBENCIAN RANIA


__ADS_3

Sore itu Rania diantar pulang oleh Nathan, masih terlihat jelas raut kesedihan diwajah Rania. Wajah cantiknya tak lagi ceria, senyum manis yang biasanya menghiasi bibirnya pergi entah kemana.


Matanya yang indah terlihat sebab dengan sisa-sisa rembesan airmata yg masih terus mengalir. Nathan yang melihatnya menjadi tidak tega untuk meninggalkan sahabatnya namun hari ini adalah hari terakhir dia mengirim berkas beasiswanya untuk kuliah.


"Nia aku langsung pulang ya" ucap Nathan ragu.


"Kamu gak mampir dulu, sekedar minum teh?" saut Rania dengan mencoba tersenyum walau dipaksakan.


"Maaf Nia sebenarnya aku ingin, tapi hari ini hari terakhir pemberkasan kuliahku via online" jelas Nathan sungkan.


"Oh, seharusnya aku yang minta maaf Nathan karena aku sudah merepotkanmu" ujar Rania merasa bersalah.


"Tidak Nia, aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu. Keluargamu sudah sangat baik padaku terutama almarhum ayahmu, berjanjilah Nia jika kamu dalam kesulitan akan segera menghubungiku, aku pasti datang karna hanya keluarga ini yang aku miliki sekarang" ungkap Nathan tanpa bisa dibendung lagi airmatanya terjun bebas.


"Nathan aku bersyukur masih punya kamu disaat orang-orang pergi meninggalkanku sendiri" rania terisak lalu memeluk Nathan.


Sintia yang mendengar suara putrinya segera dia mendatangi arah suara yang didengarnya, melihat moment haru antara putri dan Nathan yang kini sudah menjadi anak angkatnya sejak almarhum suaminya membiayai sekolah Nathan, diapun menangis setidaknya masih ada sahabat yang menguatkannya.


"Sering-seringlah kemari nak?" tutur Sintia pada Nathan.


"Terimakasih tante, tapi sekarang Nathan harus pergi dulu setelah semua urusan Nathan selesai, pasti Nathan balik lagi kesini" jelas Nathan.


"Hati-hati di jalan ya nak" ujar Sintia. "good luck ya my brother" ucap Rania tersenyum dan Nathan mengangguk.


Aku akan datang lagi Nia, aku ingin senyum itu selalu ada dibibirmu karena kamu berhak bahagia. Kamu akan menyesal Dafa karena meninggalkan Rania tanpa pamit. Rania sahabat kita dia baik tidak seharusnya kamu menyakitinya tanpa dia tahu kesalahannya. Nathan.


****


Rumah kediaman keluarga ATMAJA kembali sepi, setelah keluarga Ounur Bayezid yang merupakan sahabat, pertner kerja sekaligus calon besan keluarga ATMAJA pulang.


Para pelayan pun hari ini di istirahatkan dari pekerjaannya, rumah utama tampak lengang karena para pelayan kembali ke rumah belakang.

__ADS_1


Hanya besi-besi penyangga tenda yang masih berdiri ditempatnya sebagai saksi bisu duka keluarga ini. Satu jam telah berlalu sejak pemakaman Rudi Atmaja pesohor negeri ini dilaksanakan, Kenan datang dengan wajah keterkejutannya melihat kondisi rumahnya yang sunyi senyap.


Apa aku baru saja melewat moment terpenting di rumah ini ?. Gumam Kenan.


Rasa penasaran menyergap hati dan pikirannya, dipercepat langkahnya masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum bunda, adek, ayah, abang pulang?" sapa Kenan namun tidak ada satupun jawaban.


Para pelayan pun tidak ada yang datang untuk menyambutnya seperti yang biasa dilakukan jika putra sulung keluarga ini datang.


"Kemana para pelayan itu? aku minta jemput saja tidak datang bahkan sulit dihubungi, lalu sekarang mereka tidak menyambut kedatanganku seperti biasa, apa kerja mereka? lalu mengapa rumah menjadi sepi?" ujar Kenan lirih.


"Bunda, adek, ayah" Kenan terus memanggil menyisir seluruh ruangan lantai bawah kemudian dia menuju lantai dua.


Di lantai dua samar-samar Kenan mendengar suara tangis dari dari arah kamar orang tuanya. Kenan langsung menuju kamar orang tuanya.


Diketuk pintu kamar orang tuanya namun tidak ada jawaban dari dalam hanya suara tangis yang mulai terdengar jelas suara khas milik ibunya.


"Bunda, kenapa bunda menangis?". Masih saja belum ada jawaban, Kenan semakin frustasi karena bingung tidak tahu apa yang terjadi.


Percuma baginya mengajak bundanya yang sedang menangis untuk bicara, karena itu tidakkan membuahkan hasil. Kenan segera menuju kamar adiknya untuk mencari tahu.


Alangkah terkejutnya Kenan melihat adiknya dengan kondisi yang sangat buruk. Rambut, baju dan wajah Rania tampak kusut berantakan jauh dari kesan rapi dan wangi seperti biasanya dengan sisa-sisa airmata yang belum mengering.


Matanya yang indah terlihat sembab dengan tatapan yang kosong, kondisi Rania saat ini sangat menyedihkan.


Kepergian ayahnya untuk selamanya menjadi pukulan terberat dalam diri Rania, separuh jiwanya pergi.


"Adek, kamu kenapa?" ujar Kenan yang semakin bingung dengan kondisi ibu dan adiknya.


Kenan mendekat dan ingin memeluk Rania yang terkulai lemah di lantai, namun dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Rania menepis tangan Kenan. Ada tatapan nanar penuh amarah dimata Rania, manik mata indah itu menyimpan sejuta kebencian mengarah kepada Kenan.

__ADS_1


"Untuk apa kau pulang? apa kau ingin masih ingat pada kami? sudah puas kau bersenang-senang dengan perempuan itu? seharusnya kau tidak perlu datang lagi kemari" cerca Rania penuh kebencian.


"Apa maksudmu dek, jaga batasanmu semarah apapun kamu. Aku tetap abangmu, abang tahu adek kecewa karena abang tidak menepati janji tapi coba adek mengerti, abang disana sedang mencoba untuk menata hidup abang, orang tua Jena meminta abang untuk tetap tinggal beberapa hari saja agar kami cepat akrab karena waktu mereka di indonesia tidak lama" ungkap Kenan.


Rania hanya mendengarkan penuturan abangnya dengan tatapan dingin penuh kebencian.


"Abang pulang hari ini juga memaksa kepada orang tua Jena karena abang teringat ayah" imbuh Kenan. Mendengar kata ayah keluar dari mulut Kenan nafas Rania memburu penuh amarah, kebenciannya terhadap Kenan semakin memuncak.


"Sekarang ayah dimana dek? tadi di kamar bunda abang tidak melihat ayah". Rania tersenyum sinis.


"Untuk apa kau mencarinya, kau tak perlu tahu ayah ada dimana, yang pasti sekarang ayah sudah tidak merasakan lagi kesakitan, ayah sekarang sudah bahagia ditempatnya sekarang". Airmata Rania kembali berguguran.


"Cukup ya dek, abang gak bisa lagi menahan sikap kamu yang melampaui batas". Emosi Kenan tersulut.


"Kau mau apa heh? Kau mau menamparku atau mau membunuhku, lakukanlah toh hidupku sekarang juga sudah gak ada artinya tanpa ayah". tangis Rania pecah.


"Apa maksudmu tanpa ayah?". Rania semakin meraung tanpa mampu untuk menjawab tenaganya habis terkuras karena duka yang mendalam.


"Suamiku, ayahnya Rania sudah meninggal enam jam yang lalu dan pemakamannya selesai satu jam yang lalu" ungkap Sintia datar di depan pintu kamar Rania.


"Apa bunda mengapa kalian tidak memberitahuku?".


"Apa katamu? kami tidak memberitahumu bahkan kami menghubungimu saat suamiku terbangun dari komanya, bahkan dua hari setelahnya suamiku masih saja menanyakan keberadaanmu, hingga akhirnya suamiku menghembuskan nafas terakhirnya bahkan sampai hari ini tadi kami masih menunggumu selama empat jam lamanya, tapi kamu kemana? gak ada. Masih kamu bertanya kami tidak menghubungimu?". Ujar Sintia dingin.


Kenan menangis teringat akan mimpinya semalam ayahnya datang dalam mimpinya memintanya untuk pulang karena ayahnya merindukannya.


"Bunda..". "Kamu sudah kehilangan hak untuk memanggil kata itu" potong Sintia lalu pergi meninggalkan Kenan dengan membawa duka dihatinya.


Kenan semakin menangis menyesali semua apa yang telah dilakukannya terhadap keluarganya terutama ayahnya. Seharusnya dia ada disaat-saat keluarganya membutuhkannya bukannya memilih untuk dekat bersama keluarga yang lain.


"Adek maafin abang" ratap Kenan dalam tangisnya penuh penyesalan yang tiada berujung.

__ADS_1


***BERSAMBUNG***


__ADS_2