
Mau kemana lagi mereka, kenapa tidak langsung pulang? mengapa gadis itu terlihat akrab dengan Nathan? apakah dia kekasihnya? Arrgghhh... Ada apa denganku? mengapa aku ingin selalu dekat dengan gadis itu? aku seperti sudah tidak asing lagi dengannya. Kemelut hati Kevin.
Dalam kekalutannya, Kevin terus mengikuti kemanapun langkah kaki para mahasiswanya pergi. Tibalah mereka disalah satu Cafe yang terdekat dengan kampus mereka.
Nathan bersama teman-temannya memilih meja yang cukup luas, namun di Cafe tersebut tidak menyediakan kapasitas yang lebih luas, hanya 4 orang dalam satu meja.
Nathan mempersilahkan teman-temannya untuk duduk kecuali Rania, Nathan membawanya duduk ke meja yang lain, karena ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.
"Mau kemana Than?". Tanya Rio.
"Aku dengan Nia cari tempat yang lain, disini gak muat, havefun ya?".
"Ok, lah". Timpal Rasya.
Apa mereka berdua ada hubungan? selain dari sekedar sahabat?. Bathin Chika bertanya.
"Kita duduk aja disini, gak jauh juga dari mereka". Ajak Nathan.
"Nia, se..".
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, setidaknya jangan dimuka umum". Potong Rania.
"Ok, maafkan Aku, Ni..ehm Ran maksudku, hari ini aku tidak melihat senyummu, kenapa? apa ada masalah?". Tanya Nathan.
"Apakah kamu memperhatikanku?".
"Aku akan selalu memperhatikanmu, karna Aku ingin memastikanmu selalu bahagia".
"Kamu sungguh berlebihan Than, sungguh aku baik-baik saja".
"Tapi Aku tidak melihat itu".
"Maksudmu?".
"Aku yakin, kamu ada masalah Ran, ceritakan saja padaku jangan kamu simpan sendiri, itu akan menyakitimu".
"Ceh, kamu selalu saja tahu Than, Aku bahkan sampai kehabisan cara untuk menyembunyikan masalahku darimu".
"Itu karna aku tulus, ingin melihatmu bahagia".
Apakah kamu sudah mengetahui jika Dafa dan Ayu, sepekan yang lalu sudah menjadi pasangan kekasih?. Bathin Nathan menduga.
"Than, apakah aku masih berhak untuk bahagia?". Tanya Rania menahan airmata yang ingin meloloskan diri.
"Tentu, kamu berhak bahagia Ran, karna sudah seharusnya kamu bahagia, kenapa kamua bertanya seperti itu?".
"Karna Aku sedang dilema Than, satu sisi aku ingin bahagia dengan pilihanku sendiri, tapi disisi lainnya aku tidak berdaya Than".
"Maksudmu?".
__ADS_1
"Aku jatuh cinta pada Dafa, Than".
"Cinta! sejak kapan kamu mencintai Dafa?". Selidik Nathan.
Benar dugaanku, sepertinya Rania sudah mengetahui perihal hubungan Dafa dan Ayu, aku harus bagaimana ini, karna sebelumnya Dafa juga pernah mencintai Rania. Bathin Nathan.
"Sejak SMA, Aku sudah mencintainya tapi hanya dalam diam, Aku tidak berani untuk mengungkapkannya, karna Aku tidak ingin persahabatan kami rusak hanya karna cinta yang bertepuk sebelah tangan, sebab Dafa hanya menganggapku sebagai sahabatnya tidak lebih, itu yang Aku tahu. Setiap harinya Aku berusaha mengabaikan rasaku padanya, karna takut, jika cintaku membuat Dafa menjauh, sungguh aku tidak sanggup untuk kehilangannya. Sampai akhirnya kita lulus dan cinta itu pun masih ada sampai sekarang, meskipun dia pergi meninggalkanku tanpa jejak". Ungkap Rania.
"Ternyata kalian saling mencintai meskipun dalam diam". Ceplos Nathan.
"Apa? Dafa juga mencintaiku?". Rania terkejut, dan Nathan mengangguk.
"Tapi untuk apa cinta itu sekarang, Aku bahkan sudah terlambat".
"Apa! jadi kamu akan menyerah pada cintamu? kamu tidak ingin memperjuangkannya?".
"Aku ingin, tapi percuma, Aku sudah terikat janji?".
"Janji! janji pada siapa?".
"Janjiku pada mendiang ayah, hidupku bukan milikku lagi Than, aku sudah dijodohkan".
Rania tak kuasa lagi menahan airmatanya, kini butiran bening itu terjun bebas karrna tak mampu lagi dibendung.
"Kamu dijodohkan dengan siapa ran?". Tanya Nathan.
"Kamu harus kuat Ran, jangan menangis, sungguh Aku tidak sanggup jika harus melihat airmata dukamu". Ujar Nathan berempati.
Ya Tuhan, jangan biarkan sahabat cantikku ini bersedih, Aku yakin dibalik kesedihannya ini, Engkau telah mempersiapkan kebahagiaan untuknya. Do'a hati Nathan.
"Yang sabar Ran, Aku yakin kamu pasti akan bahagia". Nathan menguatkan.
"Aku sudah tak mau lagi berharap untuk hidup bahagia Than, sepertinya kebahagiaan enggan berpihak padaku". Saut Rania.
"Ya sudahlah Than, anggap saja hidupku sekarang sudah tidak berarti lagi, dengan begitu aku tidak akan berharap untuk hidup bahagia, aku capek berharap terus, yang ku dapat selalu derita dan kesedihan". Lanjutnya.
"Tapi...". Tangan Rania terangangkat pertanda stop.
"Cukup Than , jangan dibahas lagi, perasaanku kini sudah jauh lebih baik, dan Aku harap hanya kamu yang tahu tentang ini".
"Baiklah, kamu bisa percaya padaku". Setelah makan malam selesai, merekapun langsung pulang.
****
Libur semester genap tahun ini sebentar lagi, banyak para mahasiswa yang telah merencanakan liburannya, termasuk dengan para sahabat Rania.
"Ran liburan sesmester tahun ini kamu mau pergi kemana?". Tanya Chika.
"Aku gak tahu, belum terencanakan, kalau kamu mau ke mana?". Rania balik bertanya.
__ADS_1
"Aku mau ke Bandung, tempat nenekku".
"Semoga liburanmu tahun ini menyenangkan". Chika hanya mengangguk menanggapi.
Dari kejauhan sudah terlihat, Nathan Cs mendekat ke arah Rania. Saat mereka berjalan menyusuri koridor kampus, banyak mahasiswi yang mengelu-elukan macan kampus itu, begitulah julukan ketiga pria tampan tersebut, selain tampan mereka juga terkenal cerdas dan tegas.
"Hai Ran, apa kabarmu?". Tanya Rio.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja". Jawab Rania jujur.
"Liburan tahun ini kamu mau kemana Ran?". Tanya Rasya. Rania hanya menggidikkan bahunya.
"Ada apa?". Timpal Nathan yang sudah mengetahui ada sesuatu yang tersembunyi.
"Ish.. Selalu saja". Rania menatap malas Nathan.
Dari jarak yang tidak begitu jauh, terdengar gemeretak rahang gigi milik Kevin yang kini sedang menahan kesal, melihat kedekatan Rania dan Nathan.
Apa ini, gak mungkin aku cemburu dengan mahasiswaku sendiri, Ran sebenarnya siapa kamu, mengapa wajahmu selalu mengalihkan duniaku? bagaimana caranya mendekatimu, kesan pertama kita bertemu saja sudah gak baik. Bathin Kevin.
Selain itu, mata sangar yang menatap tajam tak suka pun turut andil melihat kebersamaan Rania dan Nathan.
"Lihat, dia boleh saja, tertawa sekarang, tapi itu tidak akan bertahan lama, anggap saja yang kemarin itu baru permulaan". Ujar Nadia yang tidak suka melihat kedekatan Rania dan Nathan.
"Sudahlah, jangan cari masalah lagi sama mereka, gue takut kita ketahuan". Ujar Karel.
"Ceh, jadi nyali lo menciut?". Saut Nadia berang.
"Maksud Karel, kalau kita ketahuan, kita bukan hanya diskors tapi diDO langsung dari kampus tanpa penghormatan, ngert lo?". Ungkap Jessie.
"Lo gak kenal bokap gue, dia itu partner kerjanya pemilik kampus ini, CEO tampan, pengusaha muda billionere yang berdarah dingin dan penguasa Negeri ini. Itu artinya apa? kita akan aman dan tidak akan terjadi masalah, Jadi lo gak usah khawatir.
"Lo yakin jika pemilik kampus ini akan berpihak pada kita?". Tanya Karel.
"Tentu, karna bokap gue partner bisnisnya dia". Saut Nadia.
"Sudah ah, main-mainnya dengan gadis culun itu dilanjutkan besok". Lanjutnya. Merekapun berlalu pergi.
****BERSAMBUNG****
Maaf ya temen-temen UPnya lama, karna ada hal di dureal yangtidak bisa ditinggal.
Tetep semangat ya membacanya, selalu dukung Author..
Tinggalkan jejak, like, vote kan krisannya ya...
Terimakasih.
HAPPY READING
__ADS_1