
Sintia melihat perubahan di wajah putranya, wajah yang penuh dengan rasa cemburu.
"Apakah putraku sudah mulai membuka hati lagi?" bathin Sintia.
Lalu untuk mencairkan suasana, Sintia mengajak semua sahabat putrinya untuk makan siang bersama.
Mereka pun menyetujuinya tanpa banyak membantah, karena sudah sejak tadi perut mereka keroncongan berdemo.
Makan siang bersama hari itu terasa hangat, namun menyisakan perasaan yang tidak nyaman dihati Mela. Kejadian yang tidak disengaja terlintas kembali dibenaknya.
Tanpa disadari oleh siapapun kecuali Sintia, Kenan menatap lembut kearah gadis cantik yang kini sedang duduk dihadapannya, sesaat tatapan itu bertemu dengan manik mata berwarna kecoklatan milik Mela.
Keduanya tersenyum, namun tidak dapat diartikan maksud dari Senyuman itu.
"Habiskan dulu makanannya, nanti baru dilanjutkan kembali apa saja yang harus dibenahi," ujar Sintia.
Tentu saja membuat Kenan dan Mela yang sempat beradu pandang menjadi gelagapan, seperti maling yang ketahuan. Rupanya mereka baru menyadari ternyata aksi mereka diketahui oleh Sintia.
Makan siang bersama pun telah selesai, obrolan receh seputar pesta ulang tahun Rania kembali dilanjutkan. Namun, kali ini Sintia dan Kenan tidak ikut serta, karena masih banyak pula tugas mereka yang harus segera dilaksanakan.
"Aku ingin pesta ulang tahunku kali ini meriah dan berkesan bagi para tamu undangan, terutama bagi keluarga Nadia bersama teman-temannya," ujar Rania.
"Apa yang ingin kamu lakukan pada mereka dan keluarganya, Nia," celetuk Nathan.
"Nia,?" ucap Rio heran.
"Nia itu panggilan kami bagi Rania, sementara Ran panggilannya dikampus," jelas Nathan.
"Siapa Nadia? Apa yang telah dia lakukan? Sehingga membuat kamu begitu menakutkan Nia," tanya Mela.
"Apa! Ran menakutkan, Aku rasa dia terlihat lebih manis," sahut Rasya tiba-tiba dan diangguki kepala oleh Chika.
"Berarti kalian belum mengetahui sisi kejamnya gadis yang ada dihadapan kalian ini," tutur Mela sambil menunjuk menggunakan dagunya.
Untuk sesaat, para sahabat baru Rania merasa tertegun, dihati mereka seakan-akan bertanya. "Bagaimana mungkin! Gadis selembut dan sebaik itu bisa terlihat sangat menakutkan"pikir mereka dibenak masing-masing.
"Nadia itu seorang gadis yang selalu mengusikku, bahkan disaat aku berpenampilan culun seperti sekarang ini," ungkap Rania.
"Apa sampai sefatal Jena?" tanya Mela penasaran.
__ADS_1
"Dia tidak seceroboh ****** itu, tapi lidahnya pedes banget, hampir setiap hari kalimat hinaan selalu bermunculan dari bibirnya dan ditujukan untukku," jelas Rania.
"Jena! Apakah yang kalian maksud Jenahara Sumali? yang mati bunuh diri beberapa tahun silam!" tanya Chika.
"hmmm" gumam Nathan.
Seketika itu juga bulu kuduk ketiga sahabat baru Rania meremang, pikiran mereka kemudian flasback pada peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam. Kejadian mengerikan, yang pernah dialami seorang gadis cantik yang karirnya bagus, harus berakhir tragis berujung kematian.
"Apakah kejadian beberapa tahun silam itu akan terjadi kembali?" tanya Rio hati-hati.
"Lihat saja nanti" sahut Rania santai.
Tidak terasa waktu terus bergerak merangkak maju hingga ke sore. Satu persatu sahabat Rania mulai pamit undur diri. Kini tinggallah Mela dan Rania yang masih setia duduk di halaman belakang rumah, sambil mengenang kembali masa-masa sekolah mereka.
****
Persiapan pesta ulang tahun Rania sudah hampir selesai, hanya tinggal membagikan kartu undangan.
Hari ini, Rania membagikan kartu undangan pesta ulang tahunnya.
Semua mahasiswa yang sekelas dengannya diundang tanpa terkecuali, begitu juga dengan Nadia dkk serta Kevin sang dosen. Para sahabatnya sudah tentu diundang karena, secara tidak langsung mereka pun terlibat dalam perencanaan pesta ulang tahunnya Rania.
"Apakah kali ini juga kamu akan berbuat ulah, Nad?" tanya Jessie.
"Disana tentu banyak orang-orang penting, lihat saja undangannya mewah sekali, aku yakin dia orang yang punya pengaruh di negeri ini" timpal Karel.
"Itulah tujuanku, karna disana banyak orang-orang penting, aku ingin lihat bagaimana keluarganya akan menghadapi rasa malu, sebab dalam undangan itu tidak tercantum siapa saja keluarganya, jadi aku ingin tahu sehebat apa keluarganya itu," ungkap Nadia.
"Aku hanya berharap, kau tidak kelewat batas, Nad," ujar Karel.
"Tenang saja, ayahku akan ada melindungiku, apa kalian lupa siapa ayahku dan siapa yang berdiri dihadapannya? Dialah sang penguasa negeri ini sesungguhnya yang akan selalu melindungi keluarga kami" ujar Nadia sombong.
"Terserah kamu saja Nad, asalkan ketika kamu menemui kesulitan jangan catut nama kami, sebab kami sudah mengingatkanmu," jelas Jessie.
Sementara Karel telah memasang wajah ketidaksukaannya terhadap ide Nadia sahabatnya.
****
Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, pesta ulang tahun termegah yang pernah ada di kota ini, sungguh mengagumkan dan mengundang decak kagum bagi para tamu undangan yang turut hadir memeriahkan acara malam ini.
__ADS_1
Gedung yang disewa untuk pesta malam ini, sungguh megah, dekorasinya yang begitu elegan dan serta para tamu undangan merupakan orang-orang penting dari kalangan pebisnis.
Satu per satu para tamu undangan mulai berdatangan, begitu juga dengan teman-teman sekelas Rania juga sudah mulai tampak. Diantara mereka banyak yang berbisik-bisik, mempertanyakan siapa sebenarnya gadis culun yang menjadi teman mereka.
"Sebenarnya, siapa si Ran? Pesta ulang tahunnya aja semegah dan semewah ini, kalau bukan orang yang tajir banget belum tentu bisa ngadain pesta seperti ini," tanya salah seorang teman sekelas Rania.
Sementara teman yang lainnya hanya menjawab dengan gidikan bahu saja, sebagai jawabannya. Tak lama kemudian sahabat Rania berdatangan, diantaranya Chika, Rio, Rasya. Sedangkan Nathan, telah datang lebih awal karena Rania dan Mela yang memintanya.
Ketiga sahabat Rania, telah dipersilahkan duduk ditempat para tamu undangan penting. Awalnya mereka merasa sungkan namun, saat melihat Sintia datang menghampiri, mereka yakin jika ini memang telah disediakan khusus untuk mereka.
"Mengapa kalian masih berdiri? Ayo duduk karena acaranya sebentar lagi akan dimulai," ujar Sintia.
"Kami merasa sungkan Tante, sebab kami tidak pantas duduk disini," celetuk Chika.
"Kalian jangan merasa sungkan, sahabat Rania merupakan tamu kehormatan bagi keluarga kami," sanjung Sintia tulus.
"Terimakasih Tante, lalu kemana Ran, Tante?" tanya Rio.
"Mereka masih di dalam," sahut Sintia.
"Mereka?" tanya Rasya bingung.
"Iya, Rania, Nathan dan Mela" jawab Sintia.
"Itu Nathan dan Mela! Pantas saja Nathan tidak bisa datang bersama kami, ternyata dia telah datang lebih awal," ujar Chika.
"Mela yang meminta Nathan untuk datang lebih awal, karena dia merasa asing ditempat ini," jelas Sintia.
"Apakah kamu memang ada perasaan khusus buat Mela, Than?" gumam Chika lirih hampir tidak terdengar.
"Apa katamu nak?" tanya Sintia yang samar mendengar Chika bergumam.
"Tidak apa-apa, Tante" jawab Chika gugup.
Semua teman-teman sekelas Rania, merasa heran terhadap Chika yang merupakan teman mereka juga, kenal dengan wanita cantik paruh baya yang tak lain adalah ibu dari pengusaha tampan yang sukses di negeri ini.
Tatapan tak suka terhadap Chika pun mulai membanjirinya, termasuk dengan Nadia dkk yang menyorotinya sejak tadi.
Pandangan yang sama pun tampak dari mata hitam penuh pesona milik Kevin, namun pandangannya bukan tatapan yang tak suka melainkan hanya heran saja.
__ADS_1
"Mengapa gadis itu bisa kenal dengan Tante Sin?" gumam Kevin lirih.