Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
43. KE RUMAH SAKIT


__ADS_3

"kamu tidak seharusnya bersikap seperti itu kenan, apa kamu lupa dengan janji kamu?" rudi mengingatkan.


"maaf ayah, abang hanya mengajari adek untuk bisa sopan dan menghargai keputusan orang lain, agar adek tidak menjadi gadis yang egois" ungkap kenan.


"ayah, sebaiknya ayah istirahat jangan terlalu letih, anak-anak sudah dewasa jangan terlalu mencemaskan mereka" jelas sintia lembut.


"berikan kesempatan kepada mereka untuk belajar mengatasi masalahnya sendiri" imbuh sintia.


rania menangis, jujur sebenarnya dia ingin sekali mengatakan yang sebenarnya namun nuraninya yang selalu mencegahnya.


aku yakin pasti ada jalan untuk semua ini. rania.


****


saat makan malam rania tidak ikut makan bersama, kakinya kebas untuk melangkah. rania meminta susi untuk membawakan makananya ke kamar.


"susi, biar saya saja yang membawanya" ucap kenan saat melihat susi membawakan makanan untuk rania.


kenan sudah selesai makannya.


"ayah, bunda, abang ke kamar adek dulu' pamit kenan sambil membawa makan malam untuk rania.


tok... tok... tok... suara pintu di ketuk.


"masuk" rania mempersilahkan.


"kok kak kenan yang ngantar makanannya?" ucap rania setelah melihat abangnya yang mengantar makanan.


"kenapa, apa abang gak boleh ngantar makanan untuk adiknya?"


"boleh kok kak, ayo sini duduk sini" sambil menepuk sofa disampingnya.


"abang suapin ya?" rania mengangguk.


"kak, apa kakak bener mencintai kak jena?" ujar rania saat disuap abangnya.


"iya, abang tidak pernah seyakin ini sama gadis manapun, kenapa?"


"apa abang sudah mencaritahu tentang kehidupannya?" kenan hanya terdiam apa yang dikatakan adiknya memang belum pernah di lakukannya.


"kak, sebelum kakak melangkah lebih jauh, coba deh kakak cari tahu tentang kehidupan jena, pahami dia seperti apa orangnya, adek tidak akan ikut campur masalah kakak kalau adek tidak sayang sama kakak".


"tapi adek yakin kakak tidak akan menjadi bucin, adek gak masalah kakak belum menemukan perempuan itu karena cepat atau lambat, Allah pasti akan menunjukkan jalannya".


"maaf dek, kalau selama ini abang belum bisa menjadi abang yang baik".

__ADS_1


"bagi adek, kakak sudah menjadi abang yang terbaik" rania tersenyum.


"ya sudah sekarang makanannya habiskan dulu setelah itu istirahat karena besok masih ada ujian terakhir".


****


malam ini udara sangat sejuk sekali seperti akan ada badai yang datang. hal ini diacuhkan kenan karena saat ini sedang duduk santai di halaman belakang sambil melakukan video call dengan kekasihnya.


sementara penghuni yang lain sudah pada tidur di kamarnya masing-masing kecuali rudi yang belum bisa tidur. sudah dua malam ini rudi selalu mengeluhkan sakit di dadanya namun dia tidak mau terlihat sakit dihadapan keluarganya terutama di hadapan putrinya.


hal serupa dirasakan oleh rania malam ini dia tidak bisa tidur, untuk menghilangkan penatnya dia keluar kamar menuju balkon.


matanya langsung tertuju ke halaman belakang rumahnya di samping kolam sebab kamar rania menghadap kolam renang. tampak abangnya yang sedang tertawa bahagia.


"jika abang bahagia bersam jena dan jena mencintai abang, adek akan melupakan masalah ini kak, selama dia tidak mengusik ketenangan adek, jika dia mencoba melakukannya sekali lagi maka tidak ada ampun baginya, akan adek selesaikan dengan cara adek sendiri" ujar rania lirih.


rania berniat mengambil air minum ke dapur namun dilihatnya pintu ruang kerja ayahnya terbuka. rania memberanikan diri melihat ke dalam ruangan alangkah terkejutnya rania melihat ayahnya pingsan dengan mulut yang bersimbah darah.


"ayaaahh!" teriak rania mengejutkan penghuni rumah yang sedang tidur lelap.


"kak kenan, kak, cepat kesini kak, tolongin ayah, kak kenan, bundaaa... hiks..hiks..hiks".


kenan dan sintia berlari menuju sumber suara yang datang dari ruang kerja rudi.


"adek gak tahu kak, begitu masuk ruang kerja ayah, adek sudah melihat ayah seperti ini, cepat bawa ayah ke rumah sakit kak, adek gak mau ayah kenapa-napa, hiks..hiks..hiks"


"tenang ya dek, abang ambil mobil dulu" kenan berlari ke garasi mobil lalu dihidupkan mesin mobil lamborghini nya.


sementara para pelayan menyiapkan segala keperluan tuan besarnya selama di rumah sakit.


saat masuk kembali ke dalam rumah, dia sudah melihat bundanya sedang menangis memangku kepala ayahnya yang masih belum sadarkan diri.


lalu kenan mengangkat tubuh ayahnya ala bridal membawanya masuk ke dalam mobil.


"adek tunggu di rumah ya, biar abang sama bunda yang ke kerumah sakit, besok setelah ujian selesai baru adek jenguk ayah" perintah kenan setelah membaringkan ayahnya di pangkuan ibunya di dalam mobil.


"tapi kak...". "ingat kaki adek masih sakit" potong kenan, akhirnya raniapun mengalah.


jalanan kota di borneo menjelang malam sedikit lengan beda dengan di ibu kota yang semakin malam semakin ramai. kenan membawa mobil lamborghininya dengan kelajuan diatas rata-rata agar cepat sampai tujuan.


****


malam ini orang rumah terutama rania tidak bisa tidur hingga pagi menjelang. mata kantuk rania tergambar jelas di raut wajahnya.


wajah cantiknya kusut kantung matanya sedikit gelap karena kurang tidur meskipun dia sudah mandi dan rapi namun tidak bisa menghilangkan rasa kantuknya yang mendera.

__ADS_1


rania turun dengan tubuh yang kurang semangat, pagi ini dia hanya minum segelas susu hangat saja untuk mengganjal perutnya.


"nona harus sarapan, nanti sakit" tutur bik ijah.


"aku gak nafsu makan bik, kalau bukan hari terakhir ujian terakhir aku di sekolah, aku gak mau sekolah bik" rania meangis.


"nona jangan menangis, nona harus kuat agar tuan besar tetap semangat".


"aku takut ayah akan meninggalkan aku bik, aku belum siap untuk kehilangan ayah".


sekelebat bayangan tentang ayahnya menari-nari di pelupuk mata rania, terlihat tertarik kedua sudut bibir rania mengingat kenangan manis bersama ayahnya.


motor dafa terparkir di halaman rumah rania lalu klakson motornya berbunyi tin..tin..tin..


"dafa ngapain kamu kesini bukannya hari ini kita masih ujian?"


"kak kenan menghubungiku suruh mengantarmu ke sekolah, ayo kita berangkat sekarang" ajak dafa.


"sekolah kita berlawanan arah fa, biar aku naik taksol aja nanti ngerepotin kamu".


"aku harus memastikan kamu selamat sampai tujuan, aku gak mau ada kejadian yang gak diinginkan".


"huh punya sahabat posesif banget sih, udah kayak pacar aja".


"kalau mau juga gak apa-apa" gumam dafa lirih.


"aku denger lo fa".


"ah sudahlah lupakan saja".


mereka akhirnya berangkat, dafa memang memenuhi janjinya dia mengantarkan rania sampai kedepan pintu kelas.


"ciee nia dianter sapa tuh?" goda temen satu kelasnya.


"doi cakep banget lagi tuh" celetuk temennya yang lain.


rania cuek tidak menanggapi ledekan teman-teman sekelasnya.


"makasih ya fa udah nganterin aku sampai kelas"


"iya, nanti pulangnya aku jemput kita barengan pergi ke rumah sakitnya". rania mengangguk setuju, lalu dafa pergi setelah mengelus puncak kepala rania.


***BERSAMBUNG***


mana nih like, vote dan commentnya, ayo donk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2