Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
72. PERTEMUAN DI PRAHA


__ADS_3

"Salah? apanya yang salah?". Tanya Dafa heran.


"Aku tidak ingin menghianati sahabatku sendiri, bagaimanapun juga Nia adalah cinta pertamamu. Aku tahu bagaimana kamu dulu sangat mencintainya. Lalu bagaimana sekarang dengan dia di hatimu?". Ungkap Ayu.


"Aku mencoba untuk melupakannya". Saut Dafa.


"Tapi kenapa? alasannya apa? aku tidak ingin, diriku kamu jadikan sebagai pelarian cintamu".


"Jujur Yu, Nia sangat sulit untukku perjuangkan, dia sudah bahagia bersama lelaki pilihannya, dulu sepekan sebelum aku berangkat ke Eropa, tepatnya disaat om Rudi masuk Rumah Sakit, aku ingin menghibur Nia, sekaligus menyatakan rasa cintaku padanya, namun aku terlambat, dia sudah memiliki seseorang yang untuk dijadikannya sandaran, aku kecewa namun bahagia, karena melihat orang yang aku cintai bahagia". Ungkap Dafa.


"Jadi, ini alasan kamu meninggalkan Nia tanpa jejak kabar darimu sampai sekarang? Apa kamu yakin seseorang itu kekasihnya?". Tanya Ayu dan diangguki oleh Dafa.


"Apa kamu sudah memastikannya? setidaknya kamu bertanya sama orang terdekat Nia, jika tidak ingin bertanya langsung kepadanya".


"Untuk apa? jika jawabannya akan menyakiti hatiku".


"Untuk memastikan apa yang kamu lihat, agar tidak salah paham".


"Aku sudah sangat yakin, karena dalam ponsel Nia, orang tersebut memiliki tempat dan makna tersendiri, apalagi dihatinya pasti orang itu memiliki separuh hati Nia".


"Aku harap keputusanmu tidak salah".


"Yakinlah, Nia hanya menganggapku sebagai sahabatnya, kita tidak perlu lagi membahas hal ini, toh Nia juga tidak tahu, jika aku pernah mencintainya lebih dari sekedar sahabat. Yang perlu kita jalani sekarang adalah bagaimana cara kita memupuk benih cinta kita agar tumbuh bersemi seperti bunga yang selalu mekar dimusim semi".


"Dafa, aku harap cinta kita bukan cinta yang sesaat, karena aku sungguh sangat mencintaimu, dan aku juga berharap bukan orang ketiga antara kamu dan Nia".


"Ssstt... Tidak sayang, kamu bukan orang ke tiga diantara kami dan kamu tidak merebut apapun dari siapapun, Nia juga pasti akan bahagia mendengar kita jadian". Dafa meyakinkan Ayu.


Kedua sejoli itupun kembali berpelukan, berusaha meyakini hati masing-masing, bahwa cinta yang bersemi diantara mereka tidak akan menyakiti hati siapapun nantinya.


Setelah merasa lebih baik, akhirnya mereka dapat menikmati musim panas dipertengahan tahun ini. Keduanya mengabadikan moment ini dengan foto bersama, kemudian Ayu mengupload foto kebersamaan mereka ke Medsos, dengan emoji love.


Mela yang saat itu juga tengah menikmati liburan musim panasnya, mengkerutkan dahinya saat ada notifikasi WA dari Ayu digroup mereka. Selama ini group mereka tak pernah rame, semenjak mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.


Mela tidak mempermasalahkan tentang fotonya, namun baground foto mereka yang menjadi alasan dahi Mela berkerut.


"Eh ini baground**nya Charles Bridge kan? gambarnya diambil beberapa menit yang lalu, tapi mereka dimana". Mela ngomong sendiri sambil celingukan mencari dua sosok yang ada difoto.

__ADS_1


"Itu mereka kan? Dafa dengan Ayu, iya itu mereka, Dafaaaa, Ayuuu!". Teriak Mela ditengah keramaian para wisatawan.


Dafa dan Ayu saling pandang, lalu mencari sumber suara yang memanggil nama mereka.


"Dafa, Ayu, ini benarkan kalian". Ujar Mela sambil ngos-ngosan narik nafas.


"Mela!". Keduanya terkejut karena tidak menyangka mereka akan bertemu di Praha.


"Kamu ada disini juga Mel? kamu sama siapa kesini? apa Nia dan Nathan juga ikut bersamamu?". Tanya Dafa sambil mencari sosok yang dimaksud, tanpa menyadari wajah Ayu yang sudah memerah menahan cemburu.


"Tidak, aku kemari sendiri, hanya sekedar liburan dimusim panas". Saut Mela.


"Benarkah? kamu dari Indonesia sendirian berlibur disini?". Ujar Ayu yang masih kesal.


"Aku dari inggris". Saut Mela santai.


"Inggris?". Dafa heran.


"Ceh, kalian segitu tidak pedulinya lagi dengan kami, terlebih kamu Dafa, kamu sahabat yang sangat buruk, kemana kamu saat Nia butuh sahabatnya? Nia harus menghadapi masa tersulitnya sendirian, tanpa kamu sebagai sahabat terbaiknya". Ungkap Mela.


"Maaf? apa dengan maafmu keadaan Nia bisa seperti sediakala, ayahnya bisa hidup kembali, keluarga Jenahara Sumaki terhindar dari kehancuran, hingga berujung kematian terhadap Jena, lalu kabar terakhir, Nia kembali terluka karena ada segerombolan orang yang tidak dikenal menyerangnya hingga tangannya tersayat pisau sepanjang sepuluh jahitan. Apa kalian berdua tahu itu? tidakkan? sahabat macam apa kalian".


"Nia mengalami itu semua? dan om Rudi sudah meninggal?". Ujar Ayu terisak.


"Buang air mata palsumu, kami tidak perlu sahabat macam kalian, meskipun aku tidak berada disamping Nia saat dia terpuruk, tapi aku masih sering menghubunginya, sekedar untuk menguatkannya, agar dia tidak merasa sendiri". Hardik Mela.


"Selama ini aku kuliah di Universitas Oxford, Britania Raya, Inggris, tapi aku masih berhubungan baik dengan Nia dan Nathan, tapi kalian malah menghilang dan saat aku temukan, kalian sedang berpacaran menikmati keindahan kota Praha, aku tidak masalah dengan hubungan kalian, aku ikut senang, tapi apakah kalian pernah untuk beberapa saat terlintas rasa rindu untuk Nia dan Nathan yang ada di tanah air? aku rasa tidak". Lanjut Mela.


Mela kemudian pergi dari hadapan mereka, setelah mengucapkan selamat atas hubungan mereka. Meninggalkan Dafa dan Ayu yang menyesali sikapnya terhadap semua sahabatnya. Sebenarnya Mela tidak marah terhadap mereka berdua, dia hanya kesal karena sikap mereka yang tidak perduli lagi dengan para sahabatnya.


***


Sepekan telah berlalu, sudah saatnya bagi Mela untuk kembali ke Inggris. Selama di Praha dia tinggal bersama Ayu. Meskipun sebelumnya mereka sempat bersitegang, namun akhirnya mereka baikan.


Siang ini pukul 01.45 waktu Praha, Mela berangkat dengan penerbangan pertama. Mela sengaja mengambil penerbangan pertama di siang ini agar tiba di Inggris tidak terlalu sore, karena penerbangan memakan waktu dua jam.


"Ayu, gue berangkat ya, kalian berdua baik-baik ya disini, harus akur". Pamit Mela saat di Bandara Praha.

__ADS_1


"Iya, itu pasti, kamu juga hati-hati ya, kabarin kami setelah sampai tujuan". Ujar Dafa.


Mela bergegas masuk karena sebentar lagi pesawatnya akan berangakat. Dia pun melambaikan tangannya kepada dua sahabatnya yang telah mengantarkannya ke Bandara.


Ditempat lain, tepatnya di Jakarta, Rania mendapat jam kuliah sore yang membuatnya harus pulang malam seperti saat ini. perbedaan waktu antara kota Jakarta dan kota Praha selisih lima jam, dengan waktu Jakarta lebih dulu.


Sebelum pulang, Rania mengajak Chika dan Nathan bersama teman-temannya untuk mampir ke Cafe langganannya. Namun sebelum itu dia menelpon abangnya terlebih dahulu untuk meminta izin.


"Hallo kak, adek kuliahnya sudah selesai, tapi adek mau izin pulang agak telat, karena adek mampir dulu ke Cafe bareng temen-temen, ada Nathan juga, boleh ya kak?".


"Hmm, tapi jangan terlalu larut pulangnya".


"Makasih kak, kakak udah pulang?".


"Belum, sepertinya abang lembur lagi".


"Jaga kesehatan kak, jangan terlalu diporsir tenaganya, lagian kak Kenan bekerja di Perusahaan sendiri, santai aja kak, tapi pasti".


"Iya, adikku sayang".


"Adek sayang kakak, emmuaacch". Rania lalu mematikan ponselnya.


Lalu menuju parkiran, ke tempat teman-temannya berkumpul, menunggu kedatangannya.


"Gimana?". Tanya Nathan.


"Boleh, asal pulangnya tidak terlalu malam".


"Siap, kita juga bukan anak badung yang hobby nongkrong gak jelas". Celetuk Rio.


Mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang terus memperhatikan gerak-gerik mereka.


***BERSAMBUNG***


Dukung terus author ya readers.


Terimakasih untuk yang sudah mendukung..

__ADS_1


__ADS_2