
Tubuh Rania yang lelah membuat tidurnya semakin nyenyak, ditambah lagi dengan kasurnya yang super nyaman, membuat Rania semakin terbuai dalam tidurnya. Malam pun tiba Rania masih juga belum bangun, namun tak satupun dari para maid ada yang berani membangunkannya.
Sekalipun susi yang jelas-jelas akrab dengan Rania pun tak berani untuk membangunkan nona mudanya.
"Biar sajalah mak, nantipun mba Nia kalau lapar pasti bangun, susi ndak berani membangunkannya, kasihan mba Nia pasti capek", ungkap Susi pada ibunya.
"Ya sudah, sekarang kita rapikan saja meja makannya, biar nanti kalau nona muda mau makan, sayurnya tinggal dipanasin di macrowave', ucap bik Ijah.
Benar saja, tengah malam Rania terbangun karena lapar, Rania keluar kamar untuk mencari makan ke dapur. Sesampainya di dapur, Rania melihat ada semangkuk sayur yang sudah dingin di lemari penyimpanan makanan, dan harus dipanaskan dulu jika ingin memakannya, perlu waktu menunggu sampai sayur itu panas, namun perut Rania sudah tidak sabar menunggu.
Rania hanya mengambil sepotong roti untuk mengganjal perutnya agar tidak terlalu lapar hingga esok hari. Setelah perutnya cukup terisi dia kembali ke kamarnya, namun mata Rania enggan terpejam, dibukanya pintu kamarnya yang mengarah ke balkon, Rania duduk sendiri disana.
Ingatan Rania kembali ke beberapa tahun silam, dimana saat itu dia masih duduk di bangku SMA. Betapa indahnya kala itu, tidak terpikir olehnya, jika kehidupannya setelah lulus SMA dan ditinggalkan Ayahnya, akan terpuruk seperti saat ini, dimana dia harus merasakan termusuhi meski tak bersalah dan lebih menyakitkannya lagi, dia ditolak oleh laki-laki yang sempat membuat hatinya bergetar jika bertemu pandang.
'Mengapa aku bisa menyukai pria yang jelas-jelas tidak menyukaiku?, aku penasaran gadis seperti apa yang membuatku harus menelan pahitnya penolakan', Pikirku.
"Rania, lebih baik sekarang move on tata hatimu kembali", ujar Rania pada diri sendiri.
"Sebelum aku move on dan menata hatiku kembali, aku harus membuat perhitungan terhadap Nadia dan kroco-kroconya", lanjutnya.
"Kalian akan tahu, gadis seperti apa yang kalian hadapi, aku cukup bersabar dan bersikap baik terhadap kalian, kini saatnya aku akan menghancurkan kalian, lihat saja nanti", Rania menyeringai licik. Malampun semakin lewat, akhirnya Rania beranjak dari tempat duduknya, masuk kamar dan membaringkan tubuhnya diatas kasur empuknya.
Matanya kembali terpejam, untuk menuntaskan tidurnya yang sempat terusik karena perutnya yang lapar.
****
Dipagi hari yang masih temaram Rania sudah terbangun, ini hari pertama baginya untuk menjalankan segala rencana yang telah tersusun rapi selama liburannya di Kalimantan.
Seperti pagi ini Rania sudah jogging mengitari sekitar halaman belakang rumahnya yang cukup luas, kemudian dilanjutkannya dengan senam ria, senam yang diajarkan di Sekolahnya dulu, masih terekam jelas dalam ingatannya.
__ADS_1
Setelah matahari terbit Rania menghentikan aktivitas olah raganya, lalu kemudian dia pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
"Susi, untuk sarapanku pagi ini, buatkan aku jus alpukat ya", pinta Rania sambil melenggang pergi ke kamarnya.
"Baik mba", saut Susi.
Rania segera membersihkan diri, namun sebelum itu dia menelpon pak Mul supir keluarga Rania.
"Selamat pagi pak Mul", sapa Rania.
"Selamat pagi nona muda, ada yang bisa saya bantu?", saut pak Mul sopan.
"Tolong belikan saya kembang untuk taburan di makam, karena pagi ini saya mau ziarah ke tempat Ayah", perintah Rania.
"Baik nona muda, saya kerjakan", saut pak Mul. Rania lalu menutup telponnya. Rania langsung ke kamar mandi, dia sudah tidak tahan dengan keringat yang membanjiri tubuhnya.
****
Sejenak Rania terdiam penuh kekhusukan, menghaturkan sebait do'a untuk mendiang ayahnya, agar ayahnya selalu mendapatkan kedamaian disisi Tuhan Yang Maha Esa.
Menit berikutnya Rania kemudian menangis menumpahkan segala kerinduan dihatinya untuk mendiang ayahnya, dan bercerita tentang kehidupannya setelah ditinggalkan pergi oleh ayahnya.
"Assalamu'alaikum Ayah, maaf adek baru sekarang bisa berkunjung kemari, karena jarak kita sekarang yang tidak memungkinkan dan adek sekarang disibukkan dengan kuliah, Ayah tenyunya tahu kan?", ucap Rania ndidekat makam ayahnya dengan derai airmata.
"Yah, Ayah jangan marah sama adek ya!, selama ini adek sudah berusaha menepati janji adek terhadap Ayah, tapi yang terjadi tidak sesuai harapan ayah", Rania menghentikan ucapannya, mengatur hatinya agar tidak kembali perih, ketika dia menceritakannya kepada ayahnya.
"Ayah tahu, mereka yang Ayah percaya untuk memberikan kebahagiaan kepada adek, justru merekalah yang membuat putri Ayah ini menderita Yah, mereka menolak adek yah, perjodohan ini ditolak oleh mereka Yah", akhirnya airmata Rania membanjiri wajah halusnya.
"Tentu Ayah tahu, bagaimana adek sangat berat menerima perjodohan ini, namun karena adek terikat janji kepada Ayah, dengan terpaksa adek menerima perjodohan ini dan melepaskan cinta adek, melupakan perasaan adek demi Ayah, tapi apa yang adek dapat dari pengorbanan adek? gak ada Yah, hasilnya nol karena adek ditolak Yah, ditolak, putri ayah ditolak", Rania menangis sesenggukan.
__ADS_1
Mata lain pun ikut menangis, kala mendengar betapa getirnya kehidupan sahabatnya setelah lulus SMA. Mata yang turut menangis itu adalah mata indah milik Mela, yang memang sejak tadi ikut hadir bersama Rania, namun sahabatnya itu tidak tahu akan keberadaannya.
'Nia, ternyata kehidupanmu sepahit ini, siapa pria yang sudah menolakmu? dan kamu Dafa, sungguh tidak punya hati, sedikitpun kamu tidak berjuang untuk mendapatkan cinta Rania', rutuk Mela dalam hati.
"Sabar Nia, kebahagianmu kini sedang Tuhan persiapkan, biarkan saja mereka menyakitimu, tentu mereka akan mendaptkan karmanya masing-masing, jika diantara mereka memang jodohmu, biarkan dia datang dengan caranya sendiri, sekarang hiduplah dengan baik", Mela menangis dan memeluk sahabat yang telah lama ditinggalkannya.
"Mela, aku..'. "Cukup Nia, kamu jangan menangis lagi, selama ini kamu banyak menangis, jangan kamu sia-siakan airmatamu untuk orang-orang yang tak pernah menghargai perasaanmu, airmatamu sangat berharga, biarkan dia jatuh disaat hari bahagiamu", jelas Mela.
"Dan hari ini aku bahagia, karena bertemu denganmu Mela, sungguh aku rindu", ujar Rania.
"Aku juga rindu padamu Nia, lihatlah dirimu Nia, kamu begitu terpuruk, bangkitlah Nia, tunjukkan pada semua orang jika dirimu pantas untuk diperjuangkan, ayo Nia semangat, aku yakin kamu bisa", ungkap Mela.
"Mela, apa masih pantas untukku bahagia setelah apa yang terjadi pada diriku? aku rasa tidak, aku bahkan tidak berani menatap dunia Mela".
"ceh, mana Nia yang pernah aku kenal dulu, nia yang kuat, yang tangguh, dan mandiri, aku tidak melihat semua itu ada pada dirimu yang sekarang', ucap Mela kesal dan menangis.
"Nia, semua orang akan menertawakanmu, mereka akan merasa puas dengan keterpurukanmu, tapi jika kamu bangkit dan kuat, maka dunia akan mudah untuk kamu genggam dan orang-orang yang menertawakanmu dengan sendirinya membungkam mulut mereka".
"Kamu benar Mela, aku harus bangkit dan kuat, tapi aku butuh kamu untuk selalu mendukungku".
"Aku akan selalu mendukungmu Nia".
"Aku juga!".
"Kamu!", ucap Nia dan Mela secara bersamaan.
***BERSAMBUNG***
Hayo menurut kalian siapa yang datang ke makam selain Nia dan Mela?
__ADS_1
Ikuti terus ya ceritanya.. di epidsod selanjutnya, ceritanya akan lebih menarik.
jangan lupa like, komen dan vote untuk mendukung author agar semangat lagi nulisnya...