
Pagi hari suasana kota Jakarta sudah terasa riuh sekali, banyak kendaraan yang lalu lalang memadati jalanan kota, hingga terjadi kemacetan dititik jalan tertentu. Suasana seperti ini sudah menjadi menu biasa bagi para warga yang tinggal di kota metropolitan.
Keadaan ini bagaikan bumi dan langit, jika dibandingkan dengan suasana di pulau Kalimantan, keadaan alamnya masih sangat asri dan sejuk.
Mela menatap jauh ke luar jendela kamarnya, pagi ini dia telah siap untuk berangkat ke Jakarta menepati janjinya kepada Rania sahabatnya.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sudah hampir dua bulan dia berada di Indonesia, negara yang telah memberikannya kehidupan, yang sebentar lagi akan dia tinggalkan, karena kewajibannya menuntut ilmu di negeri orang.
Mela tinggal bersama ibunya, ayahnya sudah lama meninggal saat dia masih kecil, tekadnya untuk belajar dan ingin membuat perubahan dalam hidupnya ke arah yang lebih baik sudah mulai terlihat, dengan menjadi seorang mahasiswa terbaik di kampusnya dan memperoleh beasiswa penuh merupakan pencapaian prestasi yang gemilang.
"Ibu, pagi ini Mela akan pergi ke Jakarta, karena pekan depan Rania akan mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke 19, setelah itu Mela langsung kembali ke Inggris" pamit Mela pada ibunya.
"Hati-hati nak kamu di jalan, sampaikan salam ibu untuk keluarganya Rania dan jaga dirimu baik-baik jika sudah berada di negara orang, ingat selalu nasehat ibu nak" ucap ibu Mela sambil melepaskan putri semata wayangnya.
Mela lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ibu dan kota kelahirannya. Senyum Mela mengembang dan tangannya melambai ke arah ibunya saat dia hendak masuk ke dalam taksi jemputannya.
****
Rania yang sudah berada di kampus, langsung menuju kelasnya setelah Nathan mengantarnya sampai koridor yang menghubungkannya langsung dengan kelas Rania.
"Ran, aku antar sampai sini saja ya? Aku mau ke sekretariat dulu, mau mengantar LRS yang belum aku kumpulkan" ujar Kenan.
"Ya ampun Than, kamu belum mengantarnya, ini sudah hampir satu bulan loh kita masuk kuliah" celetuk Rania.
"Ya makanya aku mau mengantarnya sekarang" sahut Nathan santai.
"Ya sudah antar sana" sungut Rania.
"Nanti pulangnya tunggu aku ditempat biasa ya," pinta Nathan.
"Hmm" jawab Rania cuek.
Nathan hanya tersenyum melihat sikap cuek dari sahabatnya, kemudian dia bergegas meninggalkan koridor tempat sahabatnya berdiri.
Rania berbalik arah menuju ruang kelasnya namun langkahnya terhenti saat terdengar suara dari arah yang berlawanan.
"Lelaki seperti itu yang kamu pilih, lelaki yang tidak disiplin dengan aturan yang telah ditetapkan untuknya" cerca suara misterius.
Rania berbalik arah dan hendak mengumpat si pemilik suara, namun dia urungkan karena pemilik suara misterius tadi adalah Kevin dosennya sendiri.
Kali ini Rania akan mengikuti alur permainan Kevin, dia ingin tahu apa sebenarnya yang dinginkan dosennya itu.
"Itu bukan urusan anda, saya harap anda mengerti itu" ujar Rania cuek.
Merasa diabaikan Kevin melangkah mendekat, hampir terkikis semua jarak antara mereka.
__ADS_1
"Anda mau apa!" sungut Rania.
cup ...
Bibir Rania yang merona dikecup oleh Kevin, kejadian itu disaksikan langsung oleh Nadia, yang sejak tadi mengikuti Kevin dan tanpa sengaja juga Nathan melihatnya.
Rania yang merasa harga dirinya benar-benar direndahkan oleh sikap Kevin yang semena-mena, membuatnya menjadi berang.
Plak ...
Tamparan itu mendarat di pipi Kevin, kali ini emosi Rania benar-benar memuncak sampai ke ubun-ubun.
"Kamu pikir aku wanita murahan, heh" sungut Rania.
"Mau kamu apa! Belum puas kamu mempermalukan aku malam itu, sekarang kamu juga mau merendahkan ku dihadapan semua orang" cerca Rania.
"Maaf, bukan maksudku untuk merendahkan mu, tapi jujur aku cemburu saat aku harus melihat kamu bersama lelaki lain, dan kamu bilang aku mempermalukan mu malam itu, malam mana yang kamu maksud?" tanya Kevin heran.
"Sudahlah lupakan, intinya saya tidak suka dengan sikap anda yang seenaknya" ucap Rania lalu pergi.
Kevin masih termenung sendiri, dengan kejadian yang baru saja dia alami, pipinya masih terasa panas akibat tamparan yang baru saja mendarat diwajahnya.
Pandangannya terus tertuju pada sosok Rania yang semakin menjauh meninggalkannya. Rania terus saja melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke belakang.
"Apa aku tidak salah mendengar? Dia barusan bilang cemburu melihatku bersama lelaki lain, rasanya mustahil sekali dia menyukaiku. Sedangkan aku berpenampilan cantik saja dia menolak, apalagi dengan penampilanku seperti ini, apa dia hanya ingin membuat si Nadia cemburu? Sialan! Awas saja kalau memang dugaanku ini benar, kamu akan menyesal Kevin" rutuk Rania dalam hati.
****
Mela telah sampai di bandara Jakarta, lalu diapun segera memesan taksi untuk mengantarnya ke alamat rumah Kenan.
Udara Jakarta yang sangat panas, terasa membakar kulit putih bersih milik Mela. Wajahnya yang cantik terpapar sinar matahari sehingga kulit wajahnya seperti kepiting rebus, merah merona.
Dari bandara menuju rumah Kenan hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit perjalanan. Namun karena Mela datang ke Jakarta dalam waktu jam sibuk, jadi perjalanan menuju rumah sahabatnya sedikit terhambat karena terjebak macet.
Hampir satu jam perjalanan, akhirnya mobil taksi yang membawa Mela tiba di halaman rumah yang luas dan megah.
Kemudian Mela keluar dari mobil, pelayan yang melihat kedatangan mobil taksi yang masuk ke halaman rumah majikannya, langsung mengenali sosok wanita cantik yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Nona Mela" sapa Ratih.
"Hai Ratih, apakah Rania ada di rumah?" tanya Mela setelah membayar ongkos taksi.
"Nona muda belum pulang dari kampus, tapi nyonya dan tuan muda ada di rumah" jawab Ratih sopan.
"Terimakasih Ratih, bisa kamu antarkan saya kepada mereka?" pinta Mela.
__ADS_1
"Tentu nona, mari!" ajak Ratih.
Mela lalu menarik koper yang di bawanya, menuju rumah utama keluarga Atmaja.
"Assalamu'alaikum Tante" sapa Mela saat berada di dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam" jawab Sintia bersamaan dengan Kenan menoleh ke arah sumber suara.
"Mela!" seru Sintia.
"Iya Tante, ini Mela" sahutnya.
"Kamu cantik sekali sekarang nak, ayo duduk disini" Sintia menunjuk sofa di sampingnya.
Kenan hanya terdiam seribu bahasa, kala melihat sosok cantik yang kini ada dihadapannya. Namun sebisa mungkin dia menutupi rasa kagum terhadap kecantikan yang dimiliki oleh sahabat adiknya.
"Kak Kenan gak kerja?" tanya Mela saat sudah duduk di sofa. Kenan hanya menggeleng cuek.
Bukan Kenan namanya, jika dia tidak bersikap dingin terhadap orang lain.
Mela yang sudah faham akan sifat Kenan, hanya tersenyum melihat jawaban yang diberikan oleh abang dari sahabatnya.
"Rania belum pulang, Tante?" tanya Mela.
"Belum, tapi biasanya jam segini dia sudah pulang, barangkali dalam perjalanan" jawab Sintia.
"Apa adek tahu kalau kamu mau datang hari ini?" tanya Kenan.
Mela dan Sintia sedikit terperanjat, saat mendengar Kenan turut serta dalam percakapan receh mereka.
"Tidak, Mela bahkan memberi kabar kepada Nia, akan datang tiga hari sebelum ulang tahunnya" sahut Mela.
"Jadi kamu memberi suprise untuknya?" tanya Kenan lagi.
"Iya kak, tolong jangan beritahu Nia jika saya sudah ada di Jakarta" ucap Mela memohon.
Kenan hanya memberikan anggukan kepala sebagai jawabannya
****BERSAMBUNG****
Hai readers dukung mohon dukungannya ya..
Jangan lupa like, vote dan kirim krisannya.
salam manis
__ADS_1
rose_daylinππ