
"Assalamu'alaikum... Bunda, adek pulang". Panggil Rania namun tidak ada jawaban dari sang bunda.
"Nyonya besar ada di halaman belakang nona muda". Tutur Ratih saat mengetahui nona mudanya sudah pulang.
"Bik Maya, barang-barangnya langsung bawa ke atas, saya mau menemui bunda dulu". Ujar Rania pada maid yang mengurusi segala keperluannya.
"Baik nona muda". Maid itupun langsung pergi ke kamar nona mudanya.
"Ratih, bawakan minuman untuk saya ke halaman belakang". Perintah Rania. Ratih mengangguk sopan.
"Bunda!". Panggil Rania.
"Sayang, kamu sudah pulang, tidak mengabari bunda, kan bunda bisa tunggu kamu di depan".
"Gak perlu bunda, kan sudah ada bik Maya dan mang Ujang yang nyambut adek datang".
"Abang mana?".
"Kak Kenan langsung istirahat ke kamarnya bun, capek katanya".
"Bunda sedang apa disini?".
"Ya beginilah bunda, kalau kalian tidak ada, duduk sendiri menikmati udara disore hari".
"Maafin adek ya bunda, adek tidak bisa menunaikan janji adek terhadap mendiang ayah".
"Tidak sayang, itu bukan salah kamu, hanya waktunya saja yang belum tepat".
"Maksud bunda apa? apa bunda masih tetap melanjutkan perjodohan ini?".
"Tante Hanum, memohon untuk memberikan waktu yang cukup untuknya meyakinkan Kevin".
"Bunda tahu sendirikan, Kevin gak suka sama adek".
"Tapi nak, bunda mohon berikan kesempatan buat keluarga om Ounur sekali ini saja, setelah itu terserah kamu".
"Bunda yang mau menjalani kehidupan berumah tangga itu adek dan Kevin, bukan bunda atau keluarganya om Ounur, jika dia menolak adek, itu artinya dia gak mau membina rumah tangga dengan adek, bunda ngerti gak sih?". Ungkap Rania Kesal.
"Tapi nak, gak ada salahnya kan memberikan kesempatan sekali lagi?".
"Tau ah bun, capek ngomong sama bunda!". Rania meninggalkan Sintia sendiri tanpa menunggu minuman yang dibuat Ratih terhidangkan.
"Nona muda, ini minumannya..". Ujar Ratih saat berpapasan dengan Rania yang hendak masuk rumah.
"Minum aja sendiri, udah gak haus". Saut Rania ketus.
Rania terus berjalan masuk menaiki anak tangga menuju kamar abangnya.
Tok..Tok..Tok..
"Masuk". Jawab Kenan dari dalam.
__ADS_1
"Lagi ngapain kak?". Tanya Rania setelah berada didalam kamar abangnya.
"Santai aja, ada apa?".
"Kak, adek bosen di rumah, boleh gak adek pergi liburan?". Tanya Rania manja.
"Bosen di rumah! baru aja beberapa menit yang lalu adek di rumah udah bilang bosen".
"Adek perlu udara segar, di rumah bawaannya panas".
"Kenapa lagi?".
"Kak, adek mau tanya boleh?".
"Boleh, adek mau tanya apa?".
"Ehmm.. Kakak kenapa sih, belum menikah?".
"Abang akan menikah nanti setelah adek bahagia, kenapa adek bertanya seperti itu?".
"Gimana kalau adek sampai nanti gak bahagia, apa kakak juga tidak akan menikah? kasihan bunda kak, sendirian di rumah, kalau kakak menikah tentu istri kakak akan menjadi temen bunda, jadi bunda gak harus sibuk kerja hanya untuk menghilangkan rasa sepi". Ungkap Rania.
"Adek pasti bahagia, percayalah sama abang".
"Apa kak Kenan akan tetap menjodohkan adek dengan Kevin?".
"Kenapa adek bertanya seperti itu?". Kenan mengernyitkan dahi.
"Apa adek mau?". Rania menggidikkan bahu.
"Kalaupun bunda tetap kekeh meminta adek untuk memberikan kesempatan, tidak akan mudah bagi adek bisa menerimanya kembali". Kenan menatap lekat wajah cantik adiknya, sorot matanya memberikan keteduhan penuh kedamaian.
"Kak, menikahlah karena adek gak yakin dengan kebahagiaan adek".
"Kenapa adek ngomong seperti itu?".
"Karna dulu waktu SMA, adek pernah jatuh cinta dan merasa bahagia, walaupun adek mencintainya hanya dalam diam, saat itu kakak tidak mengizinkan adek untuk pacaran, selain itu juga adek takut dia menjauhi adek, jika dia tahu adek mencintainya. Tapi adek tidak pernah menyesal, mencintainya dengan cara seperti itu, adek selalu merasa bahagia meski hanya menyebut namanya. Akhirnya kita lulus SMA, cinta itu masih ada dengan harapan suatu saat kami akan bersatu. Namun, harapan adek pupus saat adek tahu, ternyata adek sudah dijodohkan dan takdirpun berkata lain orang yang adek cintai telah memilih wanita lain sebagai tambatan hatinya, jadi untuk adek bahagia itu sepertinya akan sulit".
"Siapa laki-laki itu?".
"Kak Kenan, ingat sama Dafa sahabat SMA adek waktu di Kalimantan?". Kenan mengangguk.
"Dialah orangnya, cinta pertama adek".
"Maafkan abang jika selama ini abang terlalu posesif sama adek"
"Gak apa-apa kak, adek mengerti, kak Kenan melakukan ini untuk kebaikan adek".
Kenan memeluk adiknya, hatinya sakit melihat keadaan adiknya saat ini.
"Kak sudahlah, jangan menyesali semua yang sudah lewat, kita hanya perlu belajar dari pengalaman agar kita tidak mudah untuk tersakiti lagi".
__ADS_1
"Kamu sudah semakin dewasa dek, sekarang semua keputusan ada ditanganmu, kamu bebas menentukan jalan hidupmu sendiri, abang hanya akan mendukung keputusanmu jika memang itu baik untukmu".
"Makasih kak, adek akan pegang kepercayaan kakak, lalu masalah liburannya gimana?".
"Memangnya adek mau kemana?".
"Adek mau menemui Mela di Kalimantan, boleh?". Kenan mengangguk tanda setuju.
"Yee.. Kak Kenan memang yang terbaik, cup". Ujar Rania sambil mencium pipi abangnya.
****
Keesokan harinya, Rania bersenandung ria, karena dia sudah mengantongi izin dari abangnya, untuk pergi ke Kalimantan menghabiskan sisa waktu liburannya.
Rania berencana untuk berangkat siang ini, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya. Senyum bahagia terpancar dari wajah cantiknya, seolah kesedihannya pudar hanya karena seulas kata izin . Bagaimana tidak, liburan kali ini dia akan menemui sahabat yang telah lama meninggalkannya.
Namun Rania tidak memberitahukan perihal liburannya kali ini kepada ibunya. Rania masih kesal sama ibunya atas kejadian kemarin.
Rania sudah duduk manis di meja makan untuk sarapan, diambilnya sepotong sandwich sebagai menu sarapannya pagi ini.
"Kamu terlihat bahagia sekali pagi ini nak". Tegur Sintia.
"Iya dong, hidup hbarus dibawa happy". Saut Rania santai.
Kenan pun ikut bergabung untuk sarapan bersama ibu dan adiknya.
"Apa karena tawaran bunda, kamu sampai sehappy ini?".
"Udah deh bunda, jangan rusak mood adek pagi ini, dan asal bunda tahu, ini gak ada hubungannya dengan tawaran bunda, adek jadi kenyang". Rania meninggalkan meja makan begitu saja.
"Adek! Nia! Rania!". Panggil Sintia sedikit emosi dengan perangai putrinya yang tak biasa.
"Bunda, cukup".
"Kamu lihat sendirikan perangai adikmu sekarang, mulai gak sopan sama bunda".
"Bunda juga jangan terlalu memaksakan kehendak, kita semua tahukan Kevin menyukai gadis lain".
"Makanya cari tahu siapa gadis itu, buat dia menjauhi Kevin, bila perlu buat gadis itu menjauh dari pulau ini". Emosi Sintia.
"Tapi bunda, bukannya itu..".
"Bunda tidak mau mendengar bantahan, karena bunda tidak terima jika putri bunda menjadi bandingan gadis yang tidak berkelas!".
"Bunda kenapa menjadi arogan? Kemana bunda yang selalu lembut dan sabar setiap menghadapi masalah". Ungkap Kenan.
"Bunda, yang terpenting itu kebahagiaan adek, percayakan kebahagiaannya pada dirinya sendiri bunda, kita hanya mengawasinya saja".
"Apa kamu sepercaya itu?". Kenan tersenyum lalu mengangguk. emosi Sintia pun mereda.
****BERSAMBUNG****
__ADS_1