
tidak perlu menunggu waktu lama informasi yang diinginkan rudi sudah dikantongi oleh orang-orang kepercayaanya. ponsel rudi berdering.
"hallo tuan besar, kami sudah mendapatkan informasi tentang kejadian yang menimpa nona muda ternyata nona muda tidak terjatuh melainkan kecelakaan tabrak lari dengan unsur kesengajaan yang mengakibatkan kaki nona muda retak".
"apakah pelakunya sudah tertangkap?"
"sudah tuan, namun yang tertangkap bukan dalang dibalik insiden itu mereka hanya suruhan dari seseorang".
"cari tahu siapa orangnya dan apa motifnya mengincar nyawa putriku".
"sudah tuan, namun mereka tetap bungkam. menurut informasi dari sumber yang dapat dipercaya, otak dibalik insiden nona muda adalah perempuan".
"apa ada lagi?".
"sampai saat ini hanya itu saja tuan informasi yang dapat saya sampaikan".
"kerja yang bagus, untuk sepekan ini kalian berliburlah bersama keluarga kalian".
"terimakasih tuan". lalu rudi memutuskan sambungan teleponnya.
jadi kamu perempuan, orang yang sudah mencoba bermain-main dengan keluargaku, apa mungkin pelakunya jenahara sumaki?. rudi.
****
ujian nasional dihari pertama sungguh sangat menguras otak, banyak siswa yang mengeluh dengan banyaknya soal yang hampir tidak mereka pahami.
untuk menghilangkan rasa penat diotak mereka, banyak diantaranya yang pergi keluar hanya sekedar nongkrong dan ada yang ingin langsung pulang untuk istirahat, termasuk rania yang memilih untuk langsung pulang.
"nia lo kok langsung pulang sih, kita ke cafe yang biasa tempat kita nongkrong yuk?" ajak mela.
"gue lagi gak mood mel"
"sebentar aja nia, gue janji gakkan lama deh" rayu mela.
"janji ya cuma sebentar?"
"iya gue janji" ucap mela sambil mengacungkan dua jari membentuk huruf V.
"ok let's go"
"gue hubungin temen-temen dulu ya, biar rame" ujar mela.
akhirnya kelima remaja yang bersahabat itu telah berkumpul dicafe tempat biasa mereka nongkrong sambil membahas ulang materi ujian yang baru saja mereka lewati.
semuanya begitu antusias namun hanya rania yang memilih untuk diam.
"lo kenapa dari tadi hanya diam nia?" tanya nathan.
"dia lagi badmood" tukas mela.
"apa kamu sakit? lalu bagaimana hasil cek up kakimu?" tanya dafa.
"aku baik-baik saja, kata dokter kakiku masih bisa sembuh seperti semula, hanya perlu waktu jadi harus sedikit bersabar".
"memang berapa lama waktu yang ditentukan dokter?" tanya ayu.
"enam bulan" jawab rania singkat.
__ADS_1
"apa! enam bulan?" saut mereka kompak.
"itu waktu yang gak sebentar nia dan perlu extra sabar" ungkap mela geram.
"ya mau gimana lagi, gue harus ikutin saran dokter biar kaki gue benar-benar sembuh"
"sekarang lebih baik kita pulang, biar nia banyak istirahat kalau kakinya sering digerakin nanti lama sembuhnya" ajak nathan.
"bener kata nathan lebih baik kita pulang, nia biar aku yang antar karena kita searah. kamu masih bisakan naik motor?" tanya dafa lalu rania mengangguk.
kelima remaja akur itupun pulang ke rumah masing-masing. setibanya di rumah rania, dafa langsung pulang agar rania bisa cepat istirahat.
"aku langsung pulang, kamu istirahat ya biar kakinya cepat sembuh" ucap dafa dan rania mengangguk setuju.
setelah dafa menghilang dari pandangannya baru rania masuk rumah. rania menaiki anak tangga namun belum separuh jalan kaki rania terhenti karena rudi memanggilnya.
"adek, baru pulang?" tanya rudi kemudian rania berbalik ke arah suara datang.
"maaf ayah, adek terlambat pulang".
"hmm, sekarang duduklah disini ayah mau bicara" rudi menepuk sofa disebelahnya, rania menuruti ajakan ayahnya.
"ada apa yah? apa yang ayah keluhkan?" selidik rania.
"apa benar kakimu retak karena kecerobohanmu?" rania terperanjat dengan pertanyaan ayahnya.
apa kak kenan memberitahukan yang sebenarnya pada ayah? rania.
"jawab nia" bentak ayah. "iy..iy..iya ayah?" saut rania gugup.
"iya adek terjatuh ka...". "apa yang mau kamu sembunyikan nia? bahkan ayah sudah tahu semuanya, masi mau berbohong?" potong rudi dengan wajah tak bersahabat.
"maafkan adek yah, adek hanya tidak ingin ayah terbebani, adek takut ayah tambah sakit" ungkap rania dengan terisak.
"tapi kebohonganmu membuat ayah semakin sakit, apa sebegitu lemahnya ayah dimatamu nak?"
rania hanya menangis airmatanya semakin deras membanjiri wajah cantiknya, tak mampu untuk berkata apa-apa.
rudi tidak tega melihat putri yang dikasihinya menangis, airmata rania mampu meredamkan emosinya.
"siapa perempuan yang sudah mencelakaimu nak? kenapa polisi menutup kasus ini?" suara rudi merendah.
"adek gak tahu yah siapa perempuan itu, polisi menutup kasus ini karena adek yang minta agar perempuan yang mencelakai adek mendapat hukuman dari kak kenan, tapi..."
"tapi apa?" potong rudi.
"tapi sampai sekarang kak kenan belum menemukan perempuan itu". jelas rania.
rudi mendengarkan semua penuturan dari putrinya, namun rudi tidak sepenuhnya yakin jika putrinya berkata jujur.
"ya sudah sekarang adek istirahat"
setelah kejadian siang ini, rania semakin cemas takut kalau ayahnya akan mengetahui siapa perempuan itu sebenarnya.
****
kenan yang sudah berada di jakarta sejak pagi tadi terlihat sibuk menemani dan melayani kekasihnya yang sedang sakit.
__ADS_1
"yang, sekarang kamu makan dulu ya?"
"gak mau yang, mulutku terasa pahit" ucap jena manja.
"pacarku manja banget sih" kenan mencubit hidung mancung jena lembut.
"yang, kamu kenapa sih tiba-tiba pergi ke kalimantan tanpa mengabari aku?" selidik jena.
"ayahku sakit, aku panik jadi gak sempat ngabarin kamu sayang".
"oh... adikmu tidak cerita apa-apa?"
"tidak, memang cerita apa yang mau kamu dengar? ayo makan dulu" sambil menyuapkan bubur ke mulut jena.
"ya siapa tahu dia menceritakan perempuan yang mencelakainya".
"memang rania tahu siapa perempuan itu?" kenan balik bertanya.
"tahu... emm...eng..gak eeehh mmm mak..maksudku siapa tahu aja dia tahu, iya gitu" saut jena gugup.
"oh... adikku sama sekali tidak pernah menyinggung soal perempuan itu".
kenapa dia tidak memberitahukannya saja? apa ada yang sedang dia rencanakan? jena.
"makanlah yang banyak agar cepat sembuh karena besok pagi aku harus kembali lagi ke kalimantan".
jena hanya mengangguk menuruti lelaki tampan yang sangat dicintainya.
***
ketika makan malam bersama kedua orang tuanya, rania tidak menikmati makanannya pikirannya dirundung kecemasan.
rudi memperhatikan perubahan sikap putrinya dan semakin yakin dengan kecurigaannya ada sesuatu yang masih disembunyikan oleh putri kesayangannya.
"adek kenapa makanannya cuma diaduk-aduk aja? ayo dimakan" perintah sintia.
"lagi gak nafsu makan bunda, sepi gak ada kak kenan" saut rania berbohong.
"tumben gak seperti biasanya kangen sama abang?" goda sintia.
"ihh bunda, memang adek gak boleh kengen sama abang sendiri?"
"boleh dan itu gak salah, lagi pula besok pagi abang datang jadi sekarang kamu makan ya?" bujuk sintia.
rania mengangguk dan tanpa sengaja matanya tertuju pada ayahnya yang sedang menatap ke arahnya.
"ayah kenapa? apa ada yang salah dengan adek?" tegur rania sambil menyuapkan makanannya.
"pola pikirmu yang salah" saut ayah singkat, rania yang tahu maksud ayahnya hanya bisa terdiam dan melanjutkan makannya.
sementara sintia tidak tertarik dengan obrolan yang terjadi antara suami dan anak perempuannya.
malam semakin larut, rania tidak dapat memejamkan matanya pikirannya melayang tertuju pada seseorang yang membuat hatinya menjadi dilema.
***BERSAMBUNG***
ayo ramaikan komentarnya, dukung author dengan like dan votenya, klik tombol favoritnya agar tidak ketinggalan cerita jika author up.
__ADS_1