
"Nadia siapa?". Rania heran karena dia tidak pernah merasa punya masalah dengan siapapun.
"Itu loh, kakak tingkat yang tadi pagi menyerangmu ke dalam kelas". Jelas Chika.
"Lalu, siapa calon suaminya yang katanya aku deketin, karena aku tidak pernah merasa dekat dengan cowok manapun". Ungkap Rania.
"Atau jangan-jangan cowok itu pak Kevin?". Celetuk Chika
"Kevin! ehm maksudku pak Kevin?, aku tidak pernah mendekatinya". Sungut Rania.
"Iya kalau kamu tidak, tapi kalau pak Kevin, dia sering memperhatikanmu tatapannya bukan seperti dosen ke mahasiswa tapi seperti tatapan laki-laki yang sedang kasmaran". Jelas Chika.
"Lalu hubungannya dengan Nadia apa?". "Siapa tahu dia jelous, karna tidak terima pak Kevin memperhatikanmu bukan dia".
"Kenapa jelous?, kan penampilanku kurang menarik dari pada dia".
"Itulah akar permasalahannya Ran, kamu cewek culun sementara dia cewek cantik, kenapa pak Kevin ngelirik kamu bukan dia".
"Ucapanmu terlalu jujur nona". Sungut Rania penuh penekanan. Semua temen-temen Rania tertawa karena tingkah Rania Yang menggemaskan.
"Maaf sepertinya aku harus segera pergi". Pamit Rania, tawa itupun terhenti.
"Perlu kami antar?". Tawar Rasya. "Tidak, terimakasih, aku bisa sendiri".
"Bagaimana dengan lukamu?". "Aku bukan anak kecil lagi Than, aku bisa singgah di klinik terdekat untuk mengobati lukaku".
"Hati-hati di jalan, jika tidak ingin kami mengantarmu". Ujar Chika.
"Berjanjilah kamu akan baik-baik saja". Ucap Nathan sendu.
"Aku janji padamu, aku akan berhati-hati". Saut Rania.
Rania segera menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Sementara teman-teman Rania pergi menuju tujuannya masing-masing.
***
Rania telah sampai di gedung kantor milik abangnya. Bangunannya megah dan mewah, menjulang tinggi bak gedung pencakar langkit.
__ADS_1
Desaign interiornya sangat rapi dan indah, membuat para karyawan betah dan nyaman dalam menjalankan rutinitas kerja yang padat. Sesampainya di meja recepsionist dengan sopan Rania menanyakan tentang keberadaan abangnya.
"Selamat siang mba, pak Kenannya ada?".
"Maaf, anda sudah membuat janji dengan beliau?". Saut recepsionist tidak suka.
"Belum, tapi katakan saja, adiknya sudah datang dan menunggu".
"Memangnya siapa kamu? berani-beraninya mengaku sebagai adik dari big boss kami, eh culun kalau mau halu jangan disini, noh di luar sana. Beli kaca yang besar biar kamu tahu diri". Bentak new recepsionist itu.
Semua para karyawan yang mendengar suara bentakan new recepsionist itu, spontan menoleh mereka, diantara mereka ada yang menatap sinis dan ada pula yang iba, semua terekam jelas dimata rania.
"Jaga bicara anda dan hormati aturan batasan perusahaan in , sebelum anda menyesalinya, karna bisa saja anda kehilangan pekerjaan ini". Rania berang.
"Kamu mengancam saya? hu.. takut, jangan ngimpi kamu jadi nona muda disini ya, nona muda kami sangat cantik tidak seperti kamu culun". Sungutnya.
"Anda benar-benar menguji saya, sudah cukup saya bersikap sopan terhadap anda, karyawan seperti kamu yang hanya melihat orang lain dari penampilannya saja tidak pantas bekerja di perusahaan milik keluarga saya". Ungkap Rania yang sudah tersulut emosi.
"Lihat saja, apa yang bisa saya lakukan terhadap kehidupan kamu, dan saat kamu menyesalinya kamu sudah tidak dapat maaf dari saya". Lanjutnya.
Semua karyawan yang tadi melihat perdebatan mereka, menjadi tertegun karena tidak mungkin ada orang lain yang mampu mengancam karyawan perusahaan ini, selain pemilik perusahaan itu sendiri.
"Hallo kak Kenan, sekarang kakak ada dimana?".
"Ya di kantorlah, memang abang mau dimana lagi? adek sudah pulang dari kampus belum? cepat datang ke kantor, sudah hampir waktunya makan siang, abang laper".
"ceh, menyebalkan, adek sekarang sudah berada di kantor kak Kenan, tapi adek dipersulit untuk bertemu kakak sama pegawai baru kak Kenan".
"Dipersulit, gak mungkin karyawan abang itu baik semua".
"Apa, baik semua? lalu kalau ada karyawan kakak menghina adek, bahkan adek sampai dipermalukan di kantor ini, apa itu juga baik, heh?". Teriak Rania emosinya memuncak.
"Dek, kamu serius? ada karyawan abang yang berani menghina adek?".
Rania yang sudah emosi memutuskan teleponnya secara sepihak, yang sebelumnya tidak menjawab pertanyaan abangnya.
"Kamu akan benar-benar menyesal". Rania menunjuk new recepsionist itu dengan kesal.
__ADS_1
Baru saja new recepsionist itu ingin menghampiri Rania untuk meminta maaf atas kesalahannya, tidak lama kemuadian sudah terdengar suara denting pintu lift terbuka dari lift khusus untuk CEO. Keluarlah sosok Kenan yang gagah dan tampan namun dengan wajah yang tak bersahabat.
"Dek, siapa yang berani menghina adek?".
"Maaf tuan, saya tidak tahu jika itu adalah nona muda karena penampilan nona tidak dikenali".
"Apa kamu lupa, salah satu peraturan perusahaan ini? 'jika sudah berada di dalam perusahaan ini seluruh karyawan harus bersikap sopan terhadap tamu yang datang tanpa membedakan status' lupa dengan aturan ini? dan saya rasa kamu sudah melanggar aturan ini, terlihat dari cara kamu membela diri tadi". Kenan kesal
"Semua terserah adek, untuk memberinya hukuman, setelah itu kita makan siang".
"Adek ingin, kak Kenan pecat dia tanpa pesangon sepeserpun dan pastikan dia, tidak akan mendapatkan pekerjaan di perusahaan mana pun?".
"Lakukan semuanya sesuai keinginan adikku, dan masukkan keputusan adikku ini ke dalam peraturan ketat perusahaan ini". perintah Kenan pada asistennya.
Para karyawan yang menyaksikan dan mendengarkan keputusan yang diambil Rania bergidik ngeri, ternyata kemarahan nona muda perusahaan ini dapat menjadi boomerang bagi para karyawan. Mulai dari sekarang mereka akan menjaga sikap dan menghormati siapa saja tanpa memandang status.
New recepsionist itu pun sudah tidak dapat berbuat apa-apa, kesombongannya telah menghancurkan hidupnya sendiri, dan dia pun menyesalinya.
****
Ketika sudah berada di dalam ruangan Kenan, Rania langsung duduk di sofa dengan wajah yang ditekuk. Rania masih kesal dengan sikap pegawai baru itu, meskipun sekarang pegawai itu sudah dipecat secara tidak hormat.
Kenan yang memperhatikan wajah adiknya yang ditekuk terlihat sangat menggemaskan, ingin rasanya dia tertawa namun itu tidak mungkin karena akan membuat adiknya semakin sedih.
"Adiknya abang yang cantik ini kenapa lagi sih, kok wajahnya ditekuk?". Tanya Kenan lembut sambil memeluk erat Rania.
"Aww...". Teriak Rania saat lukanya tertekan tangan Kenan.
"Ada apa dek?". "Gak ada apa-apa, hanya ingin menjahili kakak saja". Rania tersenyum sambil menahan sakit, lukanya kembali berdarah.
Duh gimana ini? mana lukanya berdarah lagi. Gumam Rania.
"Kak, adek mau ke toilet dulu, mau cuci muka biar gak suntuk lagi". Alasan Rania.
Di dalam toilet Rania membuka blezernya yang baru dibelinya, ketika akan ke kantor kenan untuk menutupi lukanya dan sobek dibajunya. Rania melihat lukanya yang mengeluarkan darah segar, otaknya terus berpikir untuk mencari solusi agar luka ditangannya tidak diketahui abangnya.
***BERSAMBUNG***
__ADS_1
dek jangan manja