
kenan terus berlari menyusuri koridor rumah sakit, setelah mendapat kabar bahwa adiknya kecelakaan dan belum sadarkan diri selama dua jam. kenan melihat tubuh adiknya yang terbaring lemah tak berdaya.
saat itu juga kenan menitikkan airmata penyesalan atas musibah yang terjadi pada adiknya.
"maafkan abang dek, tidak bisa menjaga adek dengan baik" sesal kenan dalam tangisnya.
ponsel kenan berbunyi, kekasihnya melakukan video call.
"hallo, sayang kamu dimana dan kamu kenapa menangis?" tanya jena yang terkejut saat melihat kekasihnya dalm keadaan yang buruk.
"aku dirumah sakit" jawab kenan malas.
"dirumah sakit?" ulang jena dan kenan mengangguk malas tanpa memberi penjelasan.
betapa terkejutnya jena saat melihat sosok yang terbaring di ranjang pasien yang tidak sengaja tertangkap camera ponsel kenan.
jadi kamu menangisi wanita yang akan merebutmu dariku, apa hebatnya wanita itu sampai bisa membuatmu sekacau ini. jena
****
sahabat-sahabat jena kini sudah ada di rumah sakit mereka terlihat sangat khawatir dan cemas dengan keadaan rania.
"kalian gak usah khawatir aku masih bisa jalan, kakiku hanya retak" celetuk rania memecah kesunyian setelah sadar satu jam lalu.
"lo masih bisa santai setelah apa yang lo alami nia, ingat lo tu hampir mati tau gak?" kesal mela
"gimana kejadiannya nia?" tanya nathan
"saat itu aku haus dan ingin membeli minum, namun pada jarak sekitar empat meteran ada mobil jeep melaju kencang menghantam tubuhku".
"lain kali lo harus hati-hati nia" ujar ayu.
"maaf" rania menyesal
"maaf untuk apa nia?" selidik dafa
"maaf karena rencana refreshing kita berakhir sebelum dimulai akibat kecelakaan ini".
"nia!" para sahabat nia bersamaan
"wih kompak banget" canda rania tersenyum usil.
"gak lucu nia, lo tu bener-bener ya gak mikir apa gimana frustasinya abang lo saat tahu lo kecelakaan" saut mela yang mulai gedeg.
"sekarang kak kenan mana?" tanya rania karena abangnya tidak terlihat.
__ADS_1
"sepertinya abang lo ke kantor polisi mau memperkarakan kejadian tabrak lari yang lo alami" jelas dafa.
"syukurlah kalau abangmu memperkarakannya". celetuk ayu.
"apa lo disini punya musuh nia? tanya nathan.
"apa maksud lo nanyain itu than?" saut mela heran.
"ya maksud gue, kalau gak ada masalah tertentu gak mungkin dong ada yang ingin mencelakakan nia secara sengaja dan gue rasa ini bukan kebetulan tapi disengaja". jelas nathan
rania berpikir mencerna semua ucapan sahabatnya.
"sepertinya nathan bener ada yang ingin gue celaka..."
"apa mereka tahu identitas lo? apa mungkin juga itu saingan bisnis abang lo? karena mereka tahu lo bagian dari perusahaan yang punya pengaruh besar di negeri ini". oceh mela.
"bisa jadi" celetuk dafa.
"kayaknya gak mungkin, sebab tadi siang di kantor kak kenan ada perempuan yang gak gue kenal maki-maki gue dan hampir membuat tangan gue terbakar" rania menunjukkan bekas luka bakar ringan di lengannya.
"apa masalahnya?" tanya nathan, rania menggelengkan kepala pelan.
"ini sudah tindak kriminal, lo harus hati-hati mulai sekarang nia". ujar ayu mengingatkan.
****
"tidak sayang, aku sedang membuat laporan ke kantor polisi memperkarakan kasus tabrak lari, oya sayang apakah kamu sibuk?".
jena yang masih terkejut dengan apa yang didengarnya, tidak menyangka kalau kekasihnya akan memperkarakan insiden kecelakaan kemarin.
"sayang apa kamu mendengarkanku?" tanya kenan
"oh... iiyyyaa, ada yang?" jawab jena gugup.
"tolong belikan bubur ayam di warung depan kantor, antarkan ke rumah sakit di ruang VVIP" pinta kenan.
"untuk siapa?" jena pura-pura tidak tahu dan berusaha tenang karena menahan emosi.
"oh iya aku sampai lupa untuk memberitahumu, dia rania adikku satu-satunya yang paling aku sayangi" jelas kenan.
"adik? apa dia adik yang sering kamu ceritakan padaku?" selidik jena dan kenan membenarkannya.
"iya sayang, dia orangnya dan aku harus mencari tahu siapa yang sudah berani mencelakakan adikku, aku tidak akan memberinya ampun sedikitpun, aku pasti menemukan orang itu kamu doakan aku sayang agar masalah ini cepat selesai" ujar kenan penuh penekanan di setiap katanya.
jena seketika bagai tersambar petir di siang bolong, menangis dalam diam menyesali semua perbuatannya.
__ADS_1
bagaimana aku begitu gelap mata menyakiti wanita yang menjadi semangat hidup kekasihku, bagaimana jika kenan tahu apa yang akan terjadi padaku. jena.
bulu kuduk jena bergidik membayangkan kejadian paling buruk yang akan terjadi kepadanya.
"aku akan membelikan bubur ayam kesukaannya" saut jena lalu memutuskan sambungan telepon.
****
jena berjalan gontai dilorong koridor rumah sakit tubuhnya tak lagi dapat merasai rasa penat yang menghampiri semuanya terasa kosong. rasa cemas, bersalah dan khawatir ketahuan menjadi satu membuat tubuhnya yang semampai semakin menggigil ketakutan.
saat tiba di depan pintu kamar rawat inap, jena berusaha setenang mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan, rania yang sedang terbaring sendiri sedangkan sahabatnya pergi sarapan di kantin rumah sakit, lalu pura-pura tidur karena terdengar derap langkah seperti mengendap-endap.
pintu terbuka jena pun masuk lalu duduk di kursi samping ranjang tempat rania pura-pura tertidur. jena lalu meletakkan bubur ayam yang dibawanya diatas nakas. aroma bubur ayam menyergap hidung rania yang membaui rantang bawaan jena.
rania ingin membuka matanya namun diurungkan karena terdengar ponsel jena berdering. sebelum menjawab panggilan telepon jena memastikan rania benar-benar tertidur setelah memastikannya jena pun menjawab telepon dari seseorang.
"sudah saya bilang jangan hubungi saya lagi, saya tidak akan membayar separuhnya lagi, karena kamu tidak mematuhi perintah saya, sudah saya bilang kasih pelajaran agar dia jera bukan membunuhnya"
"...."
"jika kenan menemukan kalian, jangan pernah kalian sebut namaku mengerti!"
"...."
"sebelum kenan menemukan kalian, lebih baik segera menjauh dari kota ini".
jena menyudahi panggilannya lalu berbalik menghadap ke arah rania, betapa terkejutnya jena karena melihat rania dengan tatapan membunuh.
"siapa kamu? kenapa kamu ingin mencelakaiku? apa yang kamu rencanakan heh?" tanya rania berteriak.
"kamu tidak akan pernah selamat, akan aku pastikan kak kenan akan membuatmu membusuk di penjara, aku mendengar semua apa yang kamu bicarakan". imbuh rania.
jena menjadi kalap mendengar rania menyebut nama kenan, lalu dia membekap mulut rania membuat rania meronta karena pasokan oksigen dalam tubuhnya mulai berkurang.
kaki rania yang masih sakit untuk digerakkan membatasi ruang geraknya, lalu tangan rania mencoba meraih tombol darurat yang ada di samping kanannya lalu di tekannya tombol tersebut.
sirine alarm tanda darurat berbunyi dari arah kamar rawat inap rania. jena semakin panik lalu pergi sambil meraih rantang bubur yang dia bawa, dia berlari ke arah yang berlawanan agar tidak bertemu dengan para tenaga medis.
nafas rania tersengal karena hampir kehabisan oksigen dalam tubuhnya, keringat membanjiri tubuhnya saat tenaga medis datang.
***
**BERSAMBUNG**
ayo dong mana nih vote dan likenya, biar author tambah semangat nulisnya...
__ADS_1