
rania mengkondisikan dirnya agar wajahnya yang sedah merona tak terlihat oleh ayahnya. setiap kali kevin menyapanya selalu saja jantungnya lari marathon dan pipinya berubah semerah tomat.
tok..tok..tok...rania mengentuk pintu ruang kerja ayahnya. "masuklah". rania masuk dan sudah mendapati ayahnya duduk santai di sofa, namun auranya sangat serius begitulah suasana ruangan itu yang ditangkap oleh rania.
"ayah memanggil adek?" tanya rania hati-hati. "duduklah" rudi menepuk sofa di sebelahnya, raniapun mematuhinya.
rudi menghela nafas berat sebelum membuka pembicaraan menjadi perantara untuk kedua anaknya yang sedang berselisih paham.
"adek mau sampai kapan marahan dengan abang?". deg! jantung rania seperti ditonjok martil lima kiloan.
"apa mau sampai ayah tiada?". "ayah adek...". "ayah tahu, adek mengetahui tentang penyakit ayah yang semakin hari bukannya membaik tapi sebaliknya" lanjut ayah, rania menangis memeluk ayahnya.
"jika ayah suatu saat nanti tiada dan adek sama abang masih seperti ini, ayah tidak akan tenang karena hanya abang yang bisa ayah percaya untuk menjaga adek". semakin erat rania memeluk ayahnya tanpa bisa berkata-kata menahan pilu yang menyakitkan.
"dek, penyakit sirosis ayah sudah sangat sulit untik disembuhkan obat yang ayah minum hanya untuk mengurangi rasa sakit bukan mengobati" tanpa terasa airmatanya terjun bebas dari muara airmata.
"ayah... adek janji sama ayah, adek akan baikan sama abang tapi gak sekarang, adek..."
"adek, dengerin ayah buanglah sifatmu yang kekanak-kanakan itu karena tidak selamanya ayah maupun abang bisa menjaga adek, abang juga harus menata hidupnya, adek tahu kenapa abang belum menikah sampai saat ini?" rania menggelengkan kepala. " karena abang, ingin adek bahagia dulu sebelum abang, makanya abang memilih untuk bersikap dingin dan acuh terhadap gadis yang ingin mendekatinya" lanjut rudi, airmata rania semakin deras bagai air hujan.
"ayah tidak ingin memaksa adek lagi, setelah ini karena adek sudah dewasa bisa memilih yang baik dan yang buruk. yah percaya sama adek". "sudahlah jangan menangis, ayah akan tetap bertahan dengan sisa waktu ayah" rudi memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang. tiba-tiba pintu terbuka dan memperlihatkan sosok yang tengah menangis di depan pintu.
"bunda" rudi terkejut melihat istrinya dan sintia berlari memeluk suaminya sambil menangis.
__ADS_1
"ayah kenapa gak cerita sama bunda, kalau ayah sedang sakit? maafkan bunda, yang tidak tahu apa-apa sebagai wanita, bunda sudah gagal menjadi istri yang baik buat ayah" sesal sintia.
"tidak bunda, bunda adalah istri yang baik buat ayah selama pernikahan kita bunda tidak pernah mengeluh, bunda selalu memberikan cinta dan kasih sayang bunda kepada ayah dan anak-anak". rudi semakin erat memeluk dua wanita yang sangat dicintai dalam hidupnya.
setelah mengetahui penyakit yang di derita suaminya, sintia lebih posesif mengenai kesehatan suaminya. sintia sudah jarang datang ke boutique miliknya, seluruh pekerjaan sintia sudah dihendel oleh sekretarisnya, kini waktunya sudah diberikan untuk menjaga dan merawat suami tercinta.
***
#sore hari...
setelah menerima nasehat ayahnya beberapa waktu yang lalu, rania lebih sering mengurung diri di kamarnya untuk merenungi setiap ucapan ayahnya. rania merasa sangat menyesal telah menjauhi abangnya yang sudah banyak berkorban untuknya, bahkan abangnya rela untuk mengesampingkan perasaannya demi kebahagiaan dirinya. rania tampak kacau sore itu sampai dia memutuskan untuk keluar rumah sekedar menghilangkan kegundahannya.
"bunda, adek mau jalan-jalan sebentar ke taman komplek dekat sini" pamit rania kepada ibunya yang sedang menemani ayahnya membaca buku dengan wajah kusutnya.
"tapi nak...". "hanya sebentar bunda". rudi mnyentuh tangan istrinya lembut sebagai kode untuk mengizinkan putrinya. "baiklah nak, jaga diri baik-baik". rania hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
sore itu ramai terlihat orang yang sedang jalan santai mengitari taman, ada pula yang jogging, atau sekedar duduk manis seperti yang rania lakukan saat ini. dari arah belakang ada sosok yang mendekati rania, dengan perlahan tapi pasti sosok itu hendak menggapai bahu rania namun dengan sigap rania menepis tangan itu penuh kewaspadaan.
sekali gerakan rania mampu membekuk tangan tersebut dan membuat si empunya meringis kesakitan.
"nia sakit, aww" seru orang tersebut. "dafa!" rania terkejut ternyata tangan yang berhasil dia bekuk tangan sahabatnya dengan cepat dia lepaskan. "wah sudah semakin tajam ya insting mu nia, padahal aku tadi berusaha sepelan mungkin untuk mengejutkanmu tapi ternyata aku yang terkejut dengan kewaspadaanmu, hebat" puji dafa sam bil menahan sakit.
"berarti latihan bela diriku beberapa waktu ini gak sis-sia". dafa mengangguk mengakui ilmu bela diri sahabatnya akhir-akhir ini mengalami peningkatan yang sangat baik.
__ADS_1
rania bukan lagi gadis manja seperti beberapa waktu yang lalu, masalah yang di hadapinya mengenai kesehatan ayahnya yang semakin memburuk, masalah dengan abangnya yang tak kunjung usai membuat pemikirannya semakin dewasa.
"kamu sering jogging disini?". dafa mengangguk. "lalu kamu sendiri disini ngapain?". rania terdiam lalu menghempaskan nafas kasar solah membuang beban yang menghimpit.
"kamu ada masalah?". rania mengangguk. "aku akan menunggu sampai kamu siap untuk cerita" sambung dafa lalu duduk disalah satu ayunan, rania pun ikut duduk bersama.
"kesehatan ayah semakin memburuk, sementara aku dengan kak kenan belum baikan, akhir-akhir ini kakak jarang menghubungiku, apakah kak kenan benar-benar ingin menjauhiku?" rania membuka pembicaraan lalu menyandar dibahu sahabatnya dengan airmata yang mulai rembes.
"cobalah memulainya lebih dulu nia, jika tentang kesehatan ayahmu jangan khawatir bundamu dan dokter ahli selau memantau kesehatannya" jawab dafa lalu memeluk sahabatnya.
"aku takut fa, takut kalau kak kenan benar-benar menjauhiku, ini semua kesalahanku karena sifatku yang sangat kekanak-kanakan". tangis rania pecah.
dafa mengerti kegelisahan sahabatnya, selama dia tidak bisa memberikan solusi, dia hanya akan memasang badan untuk sahabatnya bersandar.
"jangan terlalu kamu fikirkan nia, sebentar lagi kita akan ujian fokuslah dulu pada pelajaran, aku yakin kak kenan disana juga sedang sibuk dengan pekerjaannya". ujar dafa menenangkan. "terimakasih dafa".
andai saja kita bisa saling mencintai lebih dari sahabat, aku pasti akan selalu menjaga dan membuatmu tersenyum nia. dafa
dafa jangan memberikanku perhataian yang berlebihan aku takut tidak bisa mengendalikan perasaanku, karena aku semakin jatuh hati pada perhatianmu, tapi aku tidak bisa mengungkapkan kalau aku mencintaimu karena kamu hanya menganggapku sahabat tidak lebih. rania.
begitulah perasaan keduanya yang tidak tahu takdir seperti apa yang akan membawa cinta mereka berlabuh.
***
__ADS_1
hubungan kenan dengan jena semakin hari semakin dekat, banyak orang yang mengharapkan termasuk para karyawan perusahan ATMAJA COMPANY hubungan mereka lebih dari sekedar partner kerja. harapan itu pula yang bersarang di hati jena. sikap dingin kenan rupanya mampu meluluhkan hati jena yang membatu.
**BERSAMBUNG**