
Beberapa menit kemudian Rania muncul kembali dengan pakaian yang berbeda dan aroma farfum yang berbeda pula.
"Farfum apa yang kamu pakai ini dek, aromanya gak enak banget sih". Kenan mengibas-ngibaskan tangannya, seolah mengusir angin yang beraromakan farfum aneh Rania.
"Adek pakai farfumnya Ratih kak, ya lumayan wangi dari pada bau keringat". Saut Rania santai.
"Kenapa gak pakai farfum kamu aja sih dek, setidaknya ada nilai plusnya gitu, udah penampilan culun gini ditambah farfumnya gak berkelas, makin ambles kamu dek".
"Itu memang tujuan adek, dengan begitu orang tidak akan mengira kalau adek ini cantik dan adik satu-satunya dari penguasa Negeri ini dan adek kuliah merasa tenang karena tidak ada yang ngusilin adek atau mau mencelakai adek". Jelas Rania.
"Gak akan, kejadian setahun lalu bisa abang pastikan tidak akan terulang kembali". Ungkap Kenan pasti.
"Adek percaya sama kak Kenan, kakak tidak akan membiarkan hal buruk terjadi sama adek".
"Iya, tapi bisa gak farfumnya diganti? gak enak banget dek aromanya".
"Kak, justru itu akan mengundang kecurigaan mereka, sudahlah percaya sama adek ok!". Rania memasang senyum termanjanya dan itu membuat Kenan luluh.
Semua yang dikatakan Rania benar adanya, jika dia harus menyamarkan penampilannya maka dia juga harus menyamarkan aroma tubuhnya.
Selama ini Kenan sangat menyukai aroma farfum yang dipakai oleh adiknya, aromanya lembut dan sangat feminim, dengan membaui aromanya saja orang akan mudah menebak jika itu farfum yang sangat mahal harganya.
Bagaimana tidak, farfum yang digunakan Rania merupakan farfum yang limited edision dari brand merk perusahaan terkenal.
Penampilan Rania yang menggunakan kacamata bulat tebal, rambut kepang dua, dengan pakaian yang biasa saja, tidak akan dipercaya orang jika dia masih menggunakan farfum mahalnya.
"Tapi adek harus tetap hati-hati". Akhirnya Kenan mengalah, lalu Rania mengangguk setuju.
"Nona, pak supir sudah menunggu nona di luar". Ucap Ratih saat memasuki ruang makan.
"Pak supir, maksudnya adek punya supir lagi kak?". Tanya Rania bingung, yang belum tahu jika supirnya tidak dipecat karena waktu dia OSPEK selalu diantar dan dijemput oleh Kenan, sedangkan supirnya menjalani masa skorsing tanpa gaji dari Kenan.
"Supir lagi". Ulang Kenan. "Sejak kapan adek ganti supir?". Lanjutnya.
"Jadi kak Kenan gak jadi pecat supir adek?". Senyum Rania mengembang.
"Lagi pula siapa yang bilang abang mau pecat supir adek?". "Eits.. Tapi ingat apa yang pernah abang sampaikan jangan sekalipun berani melanggarnya, ingat!". Kenan memastikan ingatan adiknya.
"Siap komandan, adek berangkat dulu ya takut telat, da bunda, da kak Kenan, cup". Rania pergi setelah mencium pipi kedua orang yang paling dicintainya.
__ADS_1
*****
Wajah baru Rania membuatnya sulit untuk bersosialisasi namun dia sangat senang karena tidak ada yang mengganggunya dengan begitu dia bisa fokus dengan belajarnya.
Saat ini Rania merasa sendiri, karena sahabat-sahabatnya pergi meninggalkannya demi masa depan mereka masing-masing. Keadaan ini membuat dia semakin rindu pada keempat sahabatnya, terlebih pada Ayu dan Dafa sudah setahun ini tidak ada kabar dari mereka.
Kalian ada dimana? tidakkah kalian merindukanku sepertiku saat ini merindukan kalian?, andai saja kalian ada disini bersamaku seperti dulu, mungkin aku tidak akan merindu seperti sekarang ini. Apakah kamu marah padaku Dafa? karena aku pernah mencintaimu, jika karena ini kamu menjauhiku, aku akan memilih untuk tidak mencintaimu, agar aku bisa selalu bersamamu, tapi aku bisa apa, hatiku yang memilih untuk mencintaimu tapi cinta ini kan tidak pernah terucap, lalu apa yang membuatmu menjauhiku?. Bisik hati Rania.
Suara derap kaki yang mendekat membuyarkan lamunan Rania.
"Kamu kenapa masih disini?". Tanya dosen yang melintasinya. Rania tersenyum karena mengenali suara berat dosen itu.
"Kak kevvv...". Kata-kata Rania menggantung.
"Siapa kamu? berani lancang memanggil nama saya dengan panggilan seperti itu, saya ini dosen kamu paham!". Ujar dosen itu yang ternyata Kevin.
"Maaf pak". Rania tertunduk sedih, ternyata Kevin pun tidak mengenalinya.
Apa yang kamu harapkan Rania, jelas-jelas kak Kevin tidak mengenalimu. Bathin Rania.
Rania melangkahkan kaki gontainya menuju kelas. Di kelasnya pun dia merasa terkucilkan, mungkin karena penampilan culunnya.
Rania duduk di kursi belakang karena teman-teman sekelasnya menjauhinya. Namun ada seseorang yang mendekatinya, Gadis itu cukup cantik dan modis sepertinya dari kalangan orang yang berada.
"Hai.. kenalin aku Chika, kamu siapa?". Mengulurkan tangan.
"Rania, panggil saja Ran". Tersenyum lalu menerima uluran tangan gadis itu.
"Bolehkah aku duduk bersamamu?".
"Oh.. Tentu jika kamu tidak merasa malu".
"Kenapa harus malu?".
"Iya, kamu bisa lihat sendiri penampilanku sangat buruk".
"Kamu jangan merendah, aku tidak peduli dengan penampilanmu, dalam menjalin hubungan pertemanan penampilan itu nomor sekian, yang penting itu hatinya, baik atau tidak". Ungkap Chika tulus.
"kamu beda sama yang lain, dimana mereka hanya ingin berteman dengan sesama mereka". Sambil mengarahkan pandangannya keseluruh ruangan.
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir, jika ada yang menjahilimu, bilang saja sama aku, kita berteman?". Rania mengangguk tanda setuju.
"Kenapa aku harus bilang padamu?".
"Pertama, kita berteman, kedua, aku memiliki paman yang kenal dekat dengan pemilik kampus ini". Ujar Chika bangga.
"Paman, pemilik kampus, maksudnya?". Selidik Rania yang ingin tahu siapa teman barunya ini.
"Iya pamanku bekerja di perusahaan pemilik kampus ini, kamu pernah dengar perusahaan ATMAJA COMPANY? nah CEO nya itu big bossnya pamanku".
"Pernah sih aku mendengar nama perusahaan itu, memangnya siapa pamanmu?".
"Om Rizal". "Oh.. jadi pak Rizal itu pamanmu".
"No, bukan pak tapi om, emang sih dia sudah berumur tapi wajahnya masih ganteng kok". Saut Chika.
"Iya aku tahu". Ujar Rania keceplosan.
"Tahu, maksudnya kamu tahu om Rizal? darimana?". Chika terkejut.
"Hmm.. Gak maksudku aku tahu jika kampus ini milik ATMAJA COMPANY". Rania sedikit gugup.
"Oh.. kirain aku, kamu kenal sama om Rizal".
Lalu kelaspun hening, karena ada dosen yang masuk yang tak lain adalah Kevin, banyak mahasiswi yang tidak fokus pada materi kuliah statistik karena gagal fokus oleh ketampanan dosennya.
Berbeda dengan Rania yang tetap fokus menerima materi kuliah yang disampaikan, dan ini tidak luput dari pengawasan Kevin.
Siapa mahasiswi itu, sungguh mengagumkan dia bisa tetap fokus pada materi kuliah, dimana yang lain kasak kusuk gak jelas. Kevin.
"Ran, kamu dilihatin dosen ganteng tuh?". Bisik Chika menyenggol dengan sikunya.
"Biarin aja, aku kesini mau kuliah bukan mau cari cowok". Saut Rania masih kesal mengingat kejadian sebelum masuk kelas.
***BERSAMBUNG****
Dukung author terus ya readers, jangan lupa vote, like dan komentarnya biar author tambah semangat.
Doakan author juga semoga novel ini lulus Kontrak.
__ADS_1
HAPPY READING